
Masa-masa ospek adalah masa melelahkan sekaligus membahagiakan. Soalnya, di masa ini, kita bisa berteman dengan siapa saja, tanpa pandang bulu. Lagian, tempat-tempat yang berbulu itu biasanya tertutup kok, ngapain dipandangi? (Lho!). Nggak lho, maksudnya gini. Di masa ospek ini, semuanya guyup rukun, senasib seperjuangan, gak ada perbedaan status dan kasta. Kayak sekarang, nih, Hanum lagi ngobrol sama beberapa maba sepertinya, menghabiskan waktu istirahat sebelum masuk kelas lagi dan melanjutkan kegiatan.
“Kamu jurusan musik?” tanya seorang cowok yang duduk di sebelahnya.
“Iya. Masnya jurusan apa?” tanya Hanum balik.
“Sama kok musik juga. Panggil aku Andre aja, jangan mas. BTW salam kenal ya, Hanum...” kata Andre seraya menjabat tangan gadis itu.
“Nggih, mas, salam kenal kembali... BTW aku kesana dulu ya, dipanggil temen-temenku soalnya...” pamit Hanum seraya bangkit dari duduknya.
“Lho, kamu kakak tingkat po? Soale pakaiannya kok beda?” tanya Andre.
“La iya, aku angkatan 2021 soalnya...”
“Weh, lak kurangajar tenan aku, kakak tingkat og tak cekeli... Maaf ya mbak...”
“Nggih santai mawon. Wes aku tak mrono yo...” kata Hanum seraya buru-buru pergi. HP-nya bergetar dari tadi, dan dia harus kembali ke rombongannya.
“Dari mana je Han?” tanya Dian, teman seangkatannya.
“Tadi aku jajan di kantin, ketemu anak baru jenenge Andre...”
“Oh, yang tadi duduk sebelah kamu ta mbak?” pertanyaan seseorang mengejutkan Hanum.
“Wealah, kok Ganesh isok tekan kene lapo Yan?” Hanum kaget.
“Nggoleki kowe iki mau, terus tak bilang nggak ada, yowes lungo maneh...” jelas Dian.
“Kamu dituntun siapa kesini, Nesh?” tanya Hanum.
“Mas Muara.” jawab Ganesh dingin.
“Lho, habis ini kamu nyimak materinya siapa?” tanya Hanum.
“Itu, perkenalan para madif angkatan atas, kalau gak salah di ruang 8.” jawab Ganesh.
“Oh iyo deng sama aku sama Dian ya. Nanti barengan aja...”
“Bareng Andre aja mbak, orang dia tunanetra og koyok awak dewe, tapi low vision,”
“Halah-halah jebule kowe ki cemburu ta Nesh?” Hanum ketawa.
“Woi, jomblo menyingkir dulu aja lah, perih matanya melihat per-ayangan ngeneki...” sungut Dian.
“Hahaha ora Yan ora, aku gak pacaran disini wes, gak usah ngambek. Tapi sek yo, iki kudu tak gowo mlaku sek, ngobrol,” kata Hanum.
“Yowes gowonen, wong sek sak jam meneh kok...” kata Dian. Hanum mengangguk. Maka setelah berpamitan dengan Dian, ia mengajak Ganesh berjalan menuju taman kampus.
***
__ADS_1
“Ayo, diminum itu es cokelatnya. Kamu suka kan?” tanya Hanum. Mereka sedang duduk-duduk di taman kampus, menanti pemaparan materi berikutnya pada kegiatan ospek hari ini. Hanum terlibat dalam pemaparan materi nanti. Soalnya, hari ini khusus pemaparan untuk para madif alias mahasiswa difabel. Ini masih ospek kampus, belom ospek fakultas dan jurusan. Jadi di hari ini, nanti mereka akan ketemu anak-anak baru lainnya dari berbagai fakultas, jurusan dan program studi.
“Ya mbak,” jawab Ganesh pelan, seraya meminum es cokelatnya perlahan.
“Gak usah cemburu, ya... Aku lagi jadi panitia disini, bakal banyak ketemu madif iki ngko, dan gak cuma cowok aja, cewek juga pasti banyak...”
“Mbak juga pasti bakal cemburu nanti kalau aku dapet kenalan madif cewek kan?” ketus Ganesh.
“Ya iya sih, tapi ora lah...”
“Kamu itu cemburuan, ngamukan, sebel tau gak...” omel Ganesh tiba-tiba. Hanum jadi cengo. Ini kenapa? Ada apa?
“You okay?” tanya Hanum pelan. Ganesh tidak menjawab. Dan Hanum mengerti kini, bahwa Ganesh tengah benar-benar jengkel.
“Ya ampun... Gimana ini? Yowes ndang dientekno esnya, nanti ke kelas bareng aku ya...” kata Hanum. Ganesh cuma mengiyakan. Aslinya Hanum jengkel banget. Dia lagi capek, soalnya semenjak hari ospek dimulai, segala jadwal dalam hidupnya terrampas, termasuk jadwal tidur. Hampir seminggu ini tidurnya tidak jangkep, tidak genap delapan jam. Dan terus tau-tau malah diambekin kayak gini. Asli dia pengen ngomel banget, tapi nggak boleh. Semua harus tetap berada di bawah kendali. Apa lagi dia akan menjadi relawan para madif dalam beberapa hari ini.
“Ya udah, tinggal 20 menit lagi nih. Ke kelas yuk,” ajak Hanum. Kembali, Ganesh cuma menjawab “ya”. Dan sekali lagi, Hanum menghela napasnya. Sabaaaar, sabaaar.
***
“Ngopo iki ki, ket mau sore, muleh bareng tapi do meneng-menengan?” tanya Riana seraya menyediakan lauk makan malam untuk mereka berlima.
“Padu kui mbak,” jawab Wisnu.
“Weh? Tengkar po? Kenapa Nu?” Riana heran.
“Sek ta, lanang?” tanya Riana. Wisnu mengangguk. Riana geleng-geleng kepala. Padahal yang berantem adiknya sama pacarnya, tapi admosfer seluruh circle bisa benar-benar berubah hanya karena hal itu.
“Nesh, beres makan, temenin mbak di dapur ya, mbak mau bicara,” kata Riana pelan. Ganesh mengangguk. Lalu mereka semua memulai aktifitas makan malam itu dalam keheningan.
***
“Cemburu, Nesh?” tanya Riana to the point, saat mereka berdua sudah ada di dapur. Hanum sudah ke kamar lebih dulu, soalnya dia merasa sakit kepala. Mungkin efek kelelahan, karena dia mengurus banyak hal untuk penyambutan para maba angkatan tahun ini. Ganesh cuma mengangguk. Riana tersenyum, lalu mengusap kepala adik lelakinya tersebut.
“Ojo diteruske, sayang. Sakno Hanum, dek-e capek lho nyiapin semua perhelatan ospek ini...” bujuk Riana. Ganesh masih diam. Kejengkelan dan kekessalan masih menguasainya secara penuh.
“Adeeek... Aku tau Mbak Hanum nek cembuiruan karo kowe mesti yo ra ukuran, sama seperti mbak. Mbak dan Hanum itu punya personality yang hampir mirip ; kami cemburuan, kami moody juga. Tapi kami akan selalu berusaha memperbaiki dengan cepat kalau ada yang salah yang kami buat dengan pasangan. Eh kok kami. Mbak sih, nggak tau kalau Hanum gimana, kalau mbak gitu, ada salah apa, ada masalah apa, langsung diomongin, selesaikan. Emang selama ini Hanum gimana nek kalian padu ki?” tanya Riana.
“Persis, dia ngejar terus mbak, gak akan berhenti sampai kita luluh dan memaafkannya lagi. Dia selalu bilang...”
“Saat nggak sengaja nyakitin kamu, rasanya aku kayak nyakitin diri aku sendiri...” ucap Ganesh dan Riana, nyaris bersamaan.
“Lho, kok?” Ganesh heran.
“Dibilangin, aku sama hanum itu satu frekuensi, satu server. Kami tuh hampir bisa dikatakan sama. Kayak kembar tapi tak kembar. Halah, apa sih, belibet banget bahasaku...” Riana meringis. Ganesh garuk-garuk kepala.
“Kalau saran mbak, temui dia walau sebentar. Setidaknya sebelum kamu pulang, yakinkan dia bahwa dia masih berarti dan masih penting buat kamu. Mbak tau, kejengkelan kamu ini bersumber dari kecemburuanmu sama sosok Andre ini. Tapi kalau kamu ngeliat dia yang selelah itu sekarang, kamu pasti gak tega mau jengkel, mau marah, mau ngambek sama dia...” ucap Riana lembut.
“Dari tadi sebenernya udah nggak tega, mbak. Aku mana pernah sih bisa marah lama sama dia,” Ganesh meringis.
__ADS_1
“La yowes tho, sana ke kamarnya!” usir Riana. Ganesh mengangguk. Dengan langkah pelan, ia meninggalkan dapur dan pergi ke kamar Hanum.
***
Riana sedang menyusun list barang yang akan ia bawa untuk kegiatan ospek hari kedua besok, terkejut ketika tiba-tiba Muara mencolek bahunya.
“Opo Ra?”
“Ganesh kok gak metu-metu... Opo-o iku wong loro ndek kamar?”
“Halah, sini kulihat. Terusin catatanku, sekalian dilihat, takutnya barangmu ada yang ketinggalan...” kata Riana. Muara mengangguk.
***
“Weh, ngopo Hanum, Nesh?” tanya Riana.
“Masuk angin iki ki, habis muntah tadi...” kata Ganesh seraya terus memijat pelipis Hanum yang tampaknya sudah terlelap.
“Wes turu kae dek,” ucap Riana pelan.
“Ho oh mbak, wes turu. Aku wedi sakit e wonge...” lirih Ganesh seraya mengusap pelan rambut gadis itu yang telah benar-benar tertidur.
“Ah kan, mulo ojo dijak padu tho dek, sesok masih ada ospek lho, awas nganti dek-e semaput tak gigit kupingmu,” ancam Riana serius.
“Iyo mbak iyo... Yowes aku muleh. Nanti kalau ada apa-apa, kabari aku...” kata Ganesh. Riana mengiyakan. Kemudian mereka berdua keluar dari kamar, pergi ke teras karena Wisnu sudah siap-siap dengan sepeda motornya.
“Pulang dulu mbak. Mas Ra masih nanti ta leh muleh ki?” tanya Wisnu.
“Masih, mau beli perbekalan buat besok dulu kitanya. Yowes ati-ati ya Nu, jangan ngebut-ngebut lho...” peringat Riana.
“Siap, komandan! Yowes, cabut dulu ya mbak. Assalamu’alaikum...”
“Waalaikum salam...”
***
Angkringan, malam hari. Habis berbelanja buat keperluan ospek, mereka memutuskan untuk singgah sebentar disana. Sekedar menikmati aneka jajanan dan susu jahe.
“Kangen Jogja gak sih kalau ngeliat beginian?” tanya Riana seraya menatap jajaran aneka sate di depannya.
“Iya sih. Nanti liburan kesana lagi ya... Mau berdua apa rame-rame?” tanya Muara modus.
“Heh, nackal ya kamu. Rame-rame dulu aja laaah...” kata Riana.
“Nanti kalau honeymoon beda lagi ya... Mau tetep Jogja apa destinasi lain?” tanya Muara seraya merangkul Riana.
“Awak deweki kuliah lagi arep semester satu cah, kok malah wes ngomongin rabi...” Riana tersenyum. Wajahnya memerah, dan Muara jadi kepengen khilaf. Ambil sekarang apa nanti, nih? Mumpung suasananya mendukung. Menurut kalian gimana, readers? Kita sambung besok yaa.
(TBC)
__ADS_1