
Menjadi announcer atau penyiar radio adalah cita-cita dua gadis yang seperti kembar ini. Siapa lagi kalau bukan Riana dan Hanum? Sebagai sebuah, eh, seorang penyiar radio (radio FM atau streaming ya, bukan radioaktif), mereka juga bukan type pemilih, mereka suka membawakan program acara apapun, kecuali, ya, kecuali ini, nih, ada satu genre program acara yang membuat mereka terkurung di sebuah ruangan bersama boss mereka yang berjudul *eh, bernama Yura. Ibu muda satu anak itu telah aktif bekerja lagi, setelah Baby Adam lepas dari ASI exclusive.
“Mbak, lo yang bener aja dong, masak manggil kita berdua Cuma buat ngajuin ide gila lo ini?” omel Riana.
“Ini bukan ide gila Ri, ini peluang besar untuk radio kita. Sekarang, konten horror kan lagi diminatin banget tuh sama anak kucing, eh, anak muda. Jadi, D FM itu dulu sempat punya program horror namanya Gost Hunter...”
“Aduh, ngapain itu mbak? Berburu hantu?” Riana cepat memotong.
“Ck, jangan dipotong dulu dong omongan gue. Jadi Gost Hunter itu biasanya, kita berburu cerita-cerita horror gitu, biasanya pengalaman pribadi sih, dan terus dibacain deh. Nggak lama-lama kok, cuman dua jam, kan program penghantar tidur...”
“Penghantar tidur your eyes, mbak, apa ada orang yang bisa tidur setelah dengerin program horror begitu?” omel Riana.
“Eh, your eyes itu apa sih?” Yura nggak ngerti.
“Your itu apa?” tanya Riana.
“Kata ganti kepemilikan untuk kamu, dalam bahasa inggris...”
“Eyes?” tanya Riana lagi.
“Mata...”
“Nah, coba yang Your Eyes tadi diterjemahkan ke bahasa indonesia...”
“Mata... Mu... Oalah, misuh tho asline mau? Asem!” omel Yura. Riana ngakak.
“Tapi gimana, Ri? Apa lo tertarik dengan ide gue ini?” tanya Yura, mengembalikan fokus mereka.
“Aduh, kalau gue kayaknya sih enggak deh mbak, soalnya gue bukan story teller yang baik... Mungkin Hanum tertarik...”
“What? Kok aku?” Hanum kaget.
“Yang ahli soal cerita dan menceritakan sesuatu itu kan kamu, Han...”
“Ya tapi ini horror lho mbak, please deh!” sungut Hanum.
“Hanuuuum, Cuma kamu satu-satunya harapan mbak... Please mau yaa, nanti bayarannya double deh... Mbak janji akan usahain antar-jemput tiap pas program itu, biar kamu ngerasa tenang dan aman. Pleaseee...” bujuk Yura. Hanum meletakkan kepalanya di atas meja. Tiba-tiba, dia merasa pusing gara-gara memikirkan ini semua.
“Tapi kamis itu kuliahku sampe sore mbak, aku ikut latihan choir kampus juga...”
“Han, please... Mbak janji, ini nggak akan sampai ganggu kuliah kamu. Mbak akan jemput kamu satu jam sebelum program, biar kamu punya waktu buat istirahat sebentar di kosan. Yaa, please yaaa? Kan Cuma kamis doang...” Yura tak menyerah dengan bujukannya.
“Hadeeeh... Gini aja deh, win-win solution, itu pun kalau mbak mau,” kata Hanum akhirnya, yang sudah hampir kehabisan akal.
“Kita buat program ini satu minggu live, satu minggu rekaman. Jadi misal, kamis ini aku udah buat live-nya nih, nanti di hari Jumat po sabtu, atau hari lain, pokoknya sebelum kamisnya, aku buat rekaman yang akan diputar untuk kamis berikutnya. Gimana? Sepakat?” tanya Hanum. Yura menimbang-nimbang sebentar. Kayaknya ini bukan masalah juga, apa lagi, kan nanti ada rencana pengembangan buat jadi podcast audio juga, jadi mereka bisa take record kapan aja. Lagian, dia juga nggak bisa memaksa Hanum, karena posisi anak itu masih kuliah, dan punya banyak kerjaan lain.
“Oke, mbak setuju. Thanks for helping me, Han...” kata Yura tulus seraya memeluk gadis yang hampir berusia 21 tahun itu.
“Iya mbak, sama-sama. Semoga aku bisa melakukan yang terbaik...” jawab Hanum pelan.
“Pasti bisa kok... Ya udah yuk, kita ke kantin bawah aja buat makan siang ya, guys,” ajak Yura akhirnya.
__ADS_1
“Baby Adam sama siapa mbak di rumah?” tanya Hanum penasaran.
“No, dia nggak di rumah, dan gak ada satupun babysitter yang mbak pekerjakan untuk dia...”
“La piye terusan? Dia dititip di mamanya mbak?” tanya Hanum lagi.
“He is here, in his box...”
“What? Serius lo bawa anak lo kesini mbak?” Riana shock.
“Let me show you guys...” kata Yura. Ia bangkit dari kursinya, lalu mengajak mereka menuju belakang meja kerjanya. Dan begitu ia menggeser bagian belakang meja itu, ada sebuah pintu yang begitu dibuka, langsung mengarah kepada sebuah ruangan yang didesain seperti sebuah kamar, dan box bayi milik Baby Adam ada disana, dan dia sedang asyik tertidur, ditemani dengan botol susu yang tergeletak di samping tubuhnya.
“Ya ALLAH cute banget ini anak... Beli satu kek beginian dimana yak?” tanya Riana pelan seraya mengamati wajah imut Baby Adam yang sedang tertidur.
“Nggak ada yang jual, gituan mah custom kan...”
“Ampun dah bocah, ini bukan barang woi, malah custom...” protes Yura.
“Piye lehmu nggawe iki mbak? Mbok aku diajari...” ucap Riana asal.
“Hus! Moh! Kuliah sek sing genah, ngko ndak malah praktek sebelum sah, repot...”
“Amit-amit jabang batita, mbak... Yowes yo, jare arep maem? Iku anakmu gawanen mbak, ngko ndak nangis ditinggal.” Kata Riana. Yura mengangguk. Ia segera mengambil kain jarik, dan mengangkat putranya secara hati-hati – memastikan agar ia tidak terbangun, sebelum menggendongnya.
“Yuk, berangkaaaat!” seru Yura riang. Kedua gadis itu mengangguk. Maka, pada siang hari yang panas itu – dan sedikit diwarnai dengan aksi mode ngambeknya Hanum yang “dicemplungin” secara paksa ke dalam idenya Yura, ketiga gadis beda usia itu memutuskan untuk pergi makan siang, dan dilanjutkan dengan membahas seputar agenda mereka kedepan.
***
“Pokoknya aku sebel sama Mbak Ri...” ucap Hanum, sesampainya mereka kembali ke kost.
“Biariiin, ngambek mode on pokoknyaaa!” rajuk Hanum seraya menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
“Alamaakk, ngambek tenan iki kethok-e... Yowes kamu mau apa dek? Nanti mbak belikan...” bujuk Riana akhirnya.
“Mau tidur!” seru Hanum galak. Nah lho. Pusing dah tuh Riana. Selamat membujuk.
***
“Baby, lagi kamu tuh gimana sih, nyemplungin anak orang secara paksa kayak gitu, kan kasihan...” ucap Jeremy pada Yura – istrinya, yang lagi menerima telepon dari Riana, yang protes karena idenya ibu satu anak itu, Hanum jadi ngambek sekarang.
“Eh ada suami lo ya. Ya udah, sana kalian ngobrol dulu, deh, gue lagi nyari ide buat ngebujukin Hanum nih. Gimana yak?”
“Sorry deh, Ri, nanti kalau sempet, biar gue sama Mas J ke kost kalian aja ya...” kata Yura merasa bersalah.
“Eh, nggak usah mbak, tega emang lo ngajak Baby Adam keluar malam begitu?”
“Ya entah, gue baru tau kalau keinginan gue ternyata ada yang bisa berakhir kayak gini...”
“Santai mbak, let me handle this. Udah ya, kayaknya ojek online gue udah datang nih. Bye...”
“Bye...” -klik – sambungan terputus.
__ADS_1
***
Yura memandangi Baby Adam yang sudah tertidur pulas di dalam box-nya. Tapi besok kayaknya dia akan mengganti box itu dengan kasur yang lebih rendah saja, supaya pergerakannya bisa lebih bebas, karena putranya ini sudah mulai aktif, sudah enam bulan.
“Sayang, belum tidur?” tanya Jeremy lembut, seraya memandangi istrinya yang begitu asyik memandangi putra mereka yang lucu.
“Belum, yang. Kok kamu juga belum tidur sih? Emang besok gak ada jadwal pagi?” tanya Yura seraya bersandar manja di bahu suaminya.
“Nggak ada, besok Cuma ngecek cabang aja sebentar terus pulang. Kamu ke radio besok?”
“Iyalah yang, banyak pembaharuan yang harus dilakukan, terutama untuk program... Tapi kok, aku masih kepikiran sama Hanum, ya?” ucap Yura pelan.
“Makanya babe, kamu tuh harus sedikit mengurangi keinginan kamu, apa lagi kalau itu nggak sejalan sama orang lain. Kalau Riana, mungkin udah paham karakter kamu, la kan kalian emang udah sahabatan dari SMA. Tapi Hanum kan istilahnya orang luar lho, kamu juga baru setahun kenal dia kan? Kalau dia berpikir yang enggak-enggak tentang kamu setelahnya ya, bukan salah dia, kan dia nggak kenal kamu luar-dalam, nggak kayak aku atau Riana. Sampai disini paham gak?” tanya Jeremy lembut.
“Iya yang, aku paham. Pantes ya banyak orang yang gak suka sama aku, kebanyakan bilang aku diktator, tukang atur. Dari SMA, mungkin aku gak punya terlalu banyak teman karena itu, yang bisa terima semuuuuuaaaanyaaa dari diriku ya Cuma Riana itu... Baik banget dah tu orang.”
“Kamu memimpin, menginginkan adanya suatu perubahan, ingin melakukan yang terbaik untuk apa yang sedang kamu kerjakan, semua itu nggak salah, sayang, sama sekali nggak salah. Yang bikin semuanya jadi salah kalau kamu terlalu keras untuk semua hal itu, sampai-sampai mengorbankan orang lain...” terang Jeremy lagi.
“Iya sih yang... Terus aku harus gimana?” Yura kebingungan.
“Yang kayak gini, ambisi kamu, semangat kamu, gak usah dihilangkan. Tapi cara kamu melakukan semuanya aja yang harus dirubah. Pikirkan orang lain dulu sebelum punya keputusan, karena hidup bukan Cuma tentang kamu dan dirimu, tapi dirinya, mereka, dan orang-orang lain di sekitarmu. Dah, ah, ayo tidur. Nggak usah terlalu dipikir. Nanti stress kamu. Yuk!” kata Jeremy seraya membopong tubuh istrinya itu, nenggendongnya ala-ala bridal style. Monmaap, para jomblo, para pejuang LDR, para buciners yang belom halal, minggir dulu yuk, ini adegan selanjutnya kagak usah diceritain ya, bahaya soalnya.
***
“Jadi kamu tuh sebenernya gak ngambek, Han?” tanya Riana seraya mengambil kotak donat – eh, donatnya, dan memakannya.
“Enggak lah mbak, masak perkara gitu aja aku ngambek?” ucap Hanum santai seraya menikmati keripik singkong faforitnya.
“Sialan, bikin mbak panik aja kamu tu tau nggak!” protes Riana.
“Hehehe, kalau mbak nggak panik dan nelpon Mbak Yura kayak tadi, aku yakin,, pasti sampai sekarang, Mbak Yura nggak tau apa kesalahan dia...”
“Maksud kamu?” Riana nggak ngerti.
“Aku ngasih pelajaran kecil-kecilan aja mbak buat orang itu, aku tau setiap orang pasti pengen yang terbaik untuk apapun yang sedang dia kerjakan dan menjadi tanggungjawabnya. Tapi, dia nggak bisa menganggap semua orang tuh bisa mengikuti semua maunya dia, pasti ada juga yang gak sejalan. Kalau model-model aku sih ya gak papa lah, toh aku juga pernah megang program horror di radio streaming, Cuma ya, aku pengen kasih tau sama Mbak Yura, kalau nggak semua orang bisa digituin, ngikut caranya dia.” Jelas Hanum.
“Bener juga kamu... Terus, rencana selanjutnya gimana?” tanya Riana.
“Besok jumat kan aku kosong, aku ke kantor pagian, mau bawain makanan kesukaan Mbak Yura, tuh udah aku siapin di kulkas, tinggal pancal aja. Terus, udah deh...”
“Ah, kamu emang adik mbak yang pintar, Han. Pantes Ganesh tuh sayang sama kamu. Kamu tuh selalu bisa diandalkan dalam hal apapun, baik, cantik juga...”
“Duh mbaaak, hoooop, jangan diterusin, nanti aku terbang lho. Mending tidur aja yuk, udah malem nih,” kata Hanum.
“Oke cantik. Kalau gitu, masuk kamar terus bobok ya. Selamat malam, princess...” kata Riana seraya mengelus rambut panjang Hanum.
“Malam, mbak baik. Have a nice dream...”
“You too, sweetie.”
(TBC).
__ADS_1
Hai readers... Maaf lama gak up ya, maklum, baru pindahan jadi super sibuk deh, ngurus ini, itu dan anu yang terasa begituuu panjang dan melelahkan.
Masih pada ingat sama cerita ini kan? Yuk, kita lanjutkan lagi keseruannya 🤗🤗