MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 47, PANIK DISERBU KENANGAN (WHEN I SEE YOU AGAIN)


__ADS_3

Kembali lagi di kota dinginnya Jawa Timur, di mana lagi kalau bukan Malang? Sekarang, keenam sahabat itu (ketambahan anggota vocal group tentunya), sudah tiba di stasiun kereta Kota Baru.


“Aiiii, Malang nggak pernah berubah ya. Masih sedingin ini...” ucap Hanum seraya merentangkan tangannya lebar-lebar, menghabiskan sisa kantuk yang terbawa dari dalam kereta.


“Iya non, Malang ya begini ini, senantiasa dingin... BTW, ini tas kamu say...” kata Riana seraya memberikan koper Hanum yang berwarna pink.


“Makasih Mbak Ri...” ucap Hanum tulus.


“Sama-sama. Oh iya, ayok kita langsung ke pintu keluar aja, soalnya akan ada mobil carteran yang menjemput kita,” kata Riana. Kembali semua menjawab dengan anggukan. Maka kembali mereka semua berjalan beriringan keluar stasiun, menuju mobil sewaan.


***


Riana tak melepas pandangannya, bahkan ketika baru beberapa detik ia melihat pintu hotel tempaatnya akan stay bersama delegasi dari kampusnya di kota ini. Matanya memerah. Kilasan kenangan seperti berputar – berkejaran, kacau, mengguncang sanubarinya. Bahkan entah sejak kapan, matanya sudah berkaca-kaca, dan langkahnya terhenti persis di depan pintu masuk. Otomatis, langkah orang-orang dalam rombongan juga terhenti. Dan Muara – yang berada persis di belakangnya mengerti akan hal ini, dan dia juga merasakan hal yang sama.


“Masuk dulu, deh, yuk,” kata Muara pelan. Semua mengangguk. Setelah mereka semua masuk dan berpencar, tinggal Riana dan Muara yang masih terpana menatap bangunan megah ini.


“Kamu inget sesuatu?” tanya Muara lembut. Riana tidak menjawab, justru air matanya mulai mengalir.


“Abhi?” tanya Muara pelan. Riana hanya mengangguk. Muara paham akan hal ini, namun egonya sebagai seorang laki-laki – untuk kali ini menjadi sedikit lebih tinggi. Itu sudah jelas, karena ia tidak ingin ada nama, rupa dan cerita lain yang mengisi hati dan mengusik pikiran wanitanya.


“Ayo masuk, kasihan yang lain,” kata Muara pelan. Riana mengangguk.


***


Sesampainya di bagian dalam hotel, ternyata Wisnu dan Ganesh sedang membicarakan hal yang sama. Ya, tentu saja, ini adalah hotel yang sama tempat zamannya mereka semua ada di Festival Pekan Budaya Pelajar dulu (untuk info lengkap, baca Mentari Untuk Muara Season 1).


“Bisa nggak usah bahas masa lalu dulu nggak sih? Inget, disini kita mau kompetisi, bukan mau nostalgia!” ketus Muara. Wisnu melongo. Wah, kenapa ini? Biasanya sahabatnya yang paling cool ini nggak pernah tiba-tiba emosi dan marah secara mendadak kayak gini.


“Cemburu itu Nu...” bisik Hanum.


“Oh, ho oh paling... Habis gimana ya, dulu itu yang namanya Mas Abhi...”


“Sst, iyo aku ngerti, wes diceritani karo Ganesh kok. Jangan cerita lagi, ngko ndak ngamuk itu Mas Ra...” Hanum cepat memotong. Wisnu mengiyakan.


“Udah pada dapet kamar masing-masing, kan?” tanya Muara.


“Udah,” jawab semuanya.


“Yowes ayo, istirahat...” titahnya. Semua mengangguk dengan patuh. Kali ini suasana tidak terlalu kondusif, jadi mereka memutuskan untuk menaiki lift – menuju kamar masing-masing tanpa suara.


***


“It’s been a long day without you, my friend


And I’ll tell you all about it when I see you again


We’ve come a long way from where we began


Oh, I’ll tell you all about it when I see you again” Suara Charlie Puth mengalun merdu dari speaker di bagian restaurant hotel – di bawah. Muara melempar pandang dari balkon kamarnya, dan lagu itu menyentak kesadarannya. Lagu See You Again ini menceritakan tentang sebuah kehilangan ; kehilangan seorang teman – sahabat, lebih tepatnya. Muara merenung. Abhi temannya, Abhi sahabatnya. Dan posisinya, dia kehilangan ; kehilangan Abhi yang merupakan sahabatnya.


“Why’d you have to leave so soon?


Why’d you have to go?


Why’d you have to leave when I needed you the most?


‘Cause I don’t really know how to tell you

__ADS_1


Without feeling much worse


I know you’re in a better place but it’s always gonna hurt” Muara memikirkan ulang kembali tentang semua hal ; apa iya dia kehilangan? Apa ia dia merasakan betul hal itu? Bagaimana jika seandainya Abhi masih ada, dan Riana masih peduli kepadanya, disaat posisinya sudah berpacaran dengan Muara, apa lelaki itu masih tetap menerima kondisi tersebut?


“So let the light guide your way


Hold every memory as you go


And every road you take will always lead you home”


***


[Ra, aku di depan kamarmu.] Muara melihat notifikasi dengan matanya. Tanpa membalas, ia langsung berjalan keluar, membuka pintu, menyambut kekasihnya yang tengah menunggu.


“Hai...” ucap Riana pelan.


“Masuk, Ri,” kata Muara. Gadis itu mengangguk, lalu langsung duduk di sofa yang memang posisinya pas pintu.


“Belum tidur?”


“Belum, aku belum ngantuk.”


“Kamu mau minum atau makan sesuatu?” tanya Riana penuh perhatian.


“Mmm... Gimana ya?” Muara tampak berpikir.


“Gimana kalau kita keluar aja, jalan-jalan?” tanyanya kemudian.


“Ya nggak papa, mumpung temen-temen udah pada tidur... Yuk.” Kata Riana riang seraya menyambut tangan Muara untuk digandeng. Muara mengangguk, tersenyum dan balas menggenggam tangan Riana. Setelah pintu kamar dikunci, mereka berjalan menuju lift untuk turun ke lantai bawah.


***


“Ri...” panggil Muara.


“Dalem... Opo Ra?” sahutnya.


“Aku boleh tanya?”


“Tentu, tanyakanlah apapun yang mau kamu tanya...” jawab Riana pelan.


“Ngg... Gini... Seandainya masih ada Abhi sekarang, dan posisinya kamu sudah menjadi pacarku, apa yang kamu lakukan dengannya? Masihkah kamu akan peduli kepadanya?” tanya Muara hati-hati. Riana menatap dalam-dalam mata kekasihnya. Jujur ia sedikit tersentak dengan pertanyaan kekasihnya itu. Sepertinya, Muara sedang ragu padanya.


“Aku akan tetap peduli, Ra, dan memang seharusnya begitu. Apapun yang aku lakukan kepada Abhi, akan terasa sama saja dengan apa yang aku lakukan kepada Ganesh...”


“Begitukah? Kurasa Abhi lebih tahu cara memperlakukanmu daripada aku...” ucap Muara pelan. Riana terkejut. Ia menatap semakin intens mata pemuda di hadapannya ; berusaha menyelam hingga ke dasar alam pikiran sang pujaan. Tapi sekejap kemudian, Riana merasa buta ; ia tak bisa memahami sama sekali apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh Muara. Dan juga, apa penyebab semua keraguan ini?


“Apa kamu sedang meragukan aku sekarang, Ra?” tanya gadis itu akhirnya.


“Maaf, Ri, tapi aku berhak tahu siapa yang ada di hati kamu sebenarnya. Mata kamu nggak bisa bohong Ri, matamu memancarkan kerinduan untuk Abhi...”


“Ra...” Riana tak kuasa lagi menatap mata tajam kekasihnya. Ia memilih menunduk, menikmati rasa ngilu akibat sayatan sembilu yang merajah hatinya.


“Aku butuh jawaban kamu, Ri...” lirih Muara.


“Tanpa aku bilang...” gadis itu kembali mengangkat wajahnya, membiarkan Muara melihat jejak air mata di wajahnya. “Kamu tentu tau jawabannya...” lanjutnya seraya kembali menunduk. Muara tersentak. Sepertinya ia telah bersalah kepada gadis itu ; membiarkan keraguannya melukai hatinya. Memang benar, segala sesuatu yang terlalu itu bisa mengacaukan segalanya ; benci yang terlalu, cinta yang terlalu, lalu... Cemburu yang juga terlalu.


“Ri, maaf...”

__ADS_1


“Bahkan harusnya kamu udah tau dari pembicaraan aku dan Abhi di rumah sakit waktu itu, dan semua gak berubah, semua masih tetap sama...” ucap Riana pelan, namun tangisnya sudah tak lagi bisa ditahan.


“Ri... Sa-Sayang...” Muara terkejut. Diraihnya tubuh gadis itu ke dalam pelukan. Ia membiarkan gadis itu menangis sepuasnya dalam pelukannya. Ia tahu – sangat tahu, bahwa apa yang dilakukannya kali ini tentulah melukai hati Riana.


“Kamu kenapa ragu sama aku sekarang Ra, disaat kita bahkan udah mau hampir dua tahun jalan? Kenapa kamu nggak mempertanyakan ini semua sesaat setelah kita jadian? Toh waktu itu adalah fase setelah kematian Abhi kan? Kenapa...” Riana tidak sanggup lagi meneruskan kata-katanya. Bicaranya yang cepat dengan amarah yang bercampur tangis membuat gadis itu kesulitan mengatur nafasnya, sehingga ia terengah-engah seperti kehabisan pasokan oksigen. Dan muara menangkap gejala fital nan fatal itu. Setelah membayar makan mereka (yang sama-sama tidak dihabiskan), cowok itu segera menggendong Riana, membawanya kembali ke hotel.


***


“Weh, ada huru-hara apa ini?” tanya Wisnu yang terheran-heran melihat Muara yang super panik menggotong Riana yang terkulai.


“Apa Nu?” tanya ganesh seraya mengucek-ucek matanya.


“Kakak lo pingsan...”


“Hah? La kok isok?” Ganesh segera bangkit dari kursinya, lalu menghampiri Muara yang membopong Riana dengan ekspresi entah.


“Kenapa Mas Ra?” tanyanya pelan.


“Apa kakakmu punya riwayat asma?”


“Setahuku iya, tapi udah lama gak kambuh.. Apa ini kanbuh lagi ta?” tanya ganesh.


“Panggilin anak-anak cewek, Nesh, tolong... Aku gak bisa ngatasi...” pinta Muara lirih.


“Opo, aku wes teko... Sini, dibawa masuk aja... Ambil minyak, minyak cepet!” seru Hanum seraya mengambil alih Riana dari bopongan Muara.


“Jangan panik, Han. Itu dibaringkan dulu Mbak Ri-nya...” ucap Dian. Hanum mengangguk. Ganesh kembali dengan sebotol minyak kayu putih di tangannya.


“Nesh, bantuin aku. Jangan planga-plongo aja kamu...” omel Hanum yang setengah panik itu seraya mulai mengolesi hidung Riana dengan minyak kayu putih.


“Ini tak bantu mbak... Sabar, jangan panik...” ucap Ganesh seraya memberikan pijatan-pijatan ringan kepada Riana, hingga akhirnya gadis itu kembali membuka matanya. Tapi sesaat kemudian, dia kebingungan ; kenapa jadi banyak orang? Bukannya tadi dia hanya berdua dengan Muara ya?


“Ssst, jangan dikerubutin dulu. Mbak Ri masih shock ini...” kata Hanum begitu merasakan teman-temannya yang hendak merangsek mendekati Riana.


“Mbak... Semua oke?” tanya hanum pelan seraya memijat lengan Riana.


“Aku lemes, dek. Muara mana?” tanya Riana.


“Hanum melambaikan tangannya, meminta Muara – yang ternyata sudah ada di belakangnya – untuk mendekat.


“Aku disini, Ri... Maafin aku...” ucapnya sungguh-sungguh. Bukannya menjawab, Riana kembali menangis. Ia menatap cowok itu dengan sorot terluka, sehingga Muara tak mampu membalas tatapan mata itu.


“Maaf Ri, maaf...” ucapnya, semakin merasa bersalah.


“Sebenernya kalian berdua tuh habis pada ngapain sih? Dan kenapa harus sampe ada insiden kayak gini segala?” tanya Hanum heran.


“Panjang Han ceritanya... Boleh dibahas lain kali?” tanya Muara pelan.


“Oke, karepmu. Yang penting kalau sampai besok Mbak Riana gak bisa pulih, ini salae sampean.” Kata Hanum marah. Muara tertunduk, pasrah. Hanum benar, ini salahnya.


“Wes talah, jangan pada ribut sendiri-sendiri gini. Kasihan Mbak Ri-nya...” kata Dian bijak, dan diangguki semuanya.


“Yowes istirahat lagi aja yuk, masih malem juga ini...” kata Wisnu.


“Terus Mbak Ri gimana?” Ganesh khawatir.


“Aman, biar aku yang handle...” kata Hanum. Semua akhirnya setuju. Sebaiknya memang mereka segera beristirahat kembali, lagian ada-ada aja, baru aja sampai, sebagian dari mereka sudah panik diserbu kenangan.

__ADS_1


(TBC).


__ADS_2