
“Tak ada mimpi yang tidak akan terwujud. Satu-satunya yang menjadi jaminan dan penentu hanyalah seberapa kuat keinginan kita untuk mencoba mewujutkannya” (Kura-kura Ninja).
---
“Cantiknyaaa...” ucap Riana seraya merampungkan riasan tahap terakhir di wajah dan rambut gadis itu.
“Ma-Makasih, mbak...” ucap gadis itu pelan. Jantungnya kini berpacu lebih cepat dari yang seharusnya, sehingga tangan gadis itu terasa basah dan gemetar hebat.
“Santai, Hanum. Semua akan baik-baik aja. Nanti mbak dan yang lain datang...” ucap Riana seraya menepuk hangat pundak gadis itu. Iya, kalian gak salah baca kok, itu Hanum. Dan pada edisi khusus kali ini, Riana kembali didaulat sebagai team make-up dan hairdo untuk gadis itu. Tapi yang kali ini bukan untuk acara perform atau kompetisi kayak biasanya, kali ini Hanum didandani untuk menjalani prosesi wisuda.
“Hah wisuda? Kok cepet?” ya iyalah Supri, namanya juga cuman cerita, step by step alur hidupnya harus dibuat seringkas mungkin dong biar pembacanya gak lari karena bosen!
“Oh iya juga ya. Ya udah, gih lanjut cerita sana...” Yeee, dasar, maaf ya readers, isi kepala saya sedang berbuat ulah, jadilah begini akhirnya.
***
Hanum *******-***** jemarinya di pangkuan. Dia grogi luar biasa. Prosesi wisuda sudah berlangsung selama setengah jam ; sekarang lagi sambutan dari pak rektor. Teman-teman dan pacarnya berada jauh di sana, di tribun. Masnya, ayahnya dan kakak perempuannya sudah hadir tadi, tapi nggak lama lagi paling pulang, soalnya kakaknya juga sedang mempersiapkan pernikahannya. Di sebelahnya, sekarang cuma ada Dian, sahabat terbaiknya sejak semester satu. Dian yang juga tak kalah tegang darinya saat ini sedang benar-benar tidak bisa diajak bicara. Ayah, ibu, oma, opa dan guru vocal gadis itu juga sengaja datang jauh-jauh dari Solo khusus untuk gadis itu.
“Acara selanjutnya adalah penyerahan toga dan selempang untuk para wisudawan-wisudawati terbaik...” ucapan MC perhelatan acara siang ini mengagetkan Hanum – menggugah gadis itu dari lamunan super panjangnya. Satu-persatu nama mahasiswa dan mahasiswi disebutkan. Dan Hanum begitu terkejut ketika namanya ikut-ikutan dipanggil.
“Hanum Maisha Kartika, dengan perolehan IPK maksimal 4, cumlaude...” Dengan kaki gemetaran ia berdiri dari kursi tribun – membawa tongkatnya, lalu berjalan perlahan menuju podium untuk menerima toga. Beberapa orang membantunya, dan Hanum cuma bisa mengangguk dan tersenyum sopan sebagai tanda terima kasih. Ibu Mira – dosen pembimbing skripsinya, menanti gadis itu di bawah podium ; menepuk pelan pundaknya sebelum mepersilakan gadis itu naik ke atas. Selanjutnya MC membacakan profil lengkap Hanum berikut prestasi-prestasinya, dan memberikannya kesempatan untuk berpidato singkat pada siang hari ini. Meski gemetaran setengah mati, tapi Hanum tetap berusaha menjalankan tugas dadakan ini dengan baik. Lagian, dia mana tau kalau dia jadi harus berpidato segala. Kan dia taunya wisuda itu cuman dipakaikan toga, lalu selesai semuanya, nggak ada acara pidato-pidatoan kayak gini.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...” meskipun tak yakin pada awalnya, tapi suara Hanum yang mengandung ketenangan itu justru mampu menghipnotis para hadirin untuk tetap terfokus kepadanya.
“Sebelumnya, saya bener-bener terkejut karena di hari yang sangat istimewa bagi para wisudawan dan wisudawati ini saya berkesempatan untuk menyampaikan sepatah-dua patah kata, well, semoga tidak terlalu panjang seperti naskah cerita Harry Potter, ya...” canda Hanum untuk mencairkan suasana. Para hadirin tertawa atas lelucon singkat itu, dan Hanum kembali melanjutkan speech-nya.
“Terlahir sebagai penyandang disabilitas – apapun itu bentuknya, tentu bukanlah hal yang diharapkan oleh semua orang. Tak terkecuali saya, Hanum Maisha Kartika, seorang tunanetra yang alhamdulillah masih diberi kesempatan bernapas sampai di usia yang sekarang, dua puluh empat tahun. Perjalanan pendidikan saya juga gak mudah, minimnya support dari lingkungan juga hampir menjadi penghambat segalanya. Tapi saya adalah type orang yang percaya, bahwa tidak ada mimpi yang tidak terwujud. Dan salah satu penentunya adalah seberapa kuat kita menggenggam dan berusaha keras mewujudkannya.” kata Hanum lagi. Tepuk tangan menggema di seluruh auditorium yang sangat luas itu.
“Tapi itu bukan kata saya pribadi, itu kata seseorang, tapi saya meyakini dan meresapi baik-baik setiap frasa dari kata-kata itu. Karena apa? Karena setiap manusia itu punya mimpi, dan semua mimpi itu pasti bisa terwujud. Tapi soal berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk itu cuma indifidunya aja yang tau, soalnya, mimpi itu kan ada di tangan mereka masing-masing...” kata Hanum lagi. Tapi ia tidak berhenti, ia keburu melanjutkan pidatonya dengan serangkaian kalimat serta penutup, jadi dia bisa turun dan duduk kembali, karena terus terang aja, dia pegel berdiri terus kayak gini.
“Akhir kata, saya mau mengucapkan selamat kepada kita semua ; selamat karena telah dapat menaklukkan diri sendiri, selamat karena telah melakukan yang terbaik untuk diri sendiri, dan selamat atas penerimaan hal terbaik yang ada dalam diri sendiri. Jadilah terbaik versimu, jangan mengikuti standar hidup orang lain, karena manusia tercipta beragam dan tidak untuk jadi seragam. Ukuran sepatu kita juga belum tentu sama dengan orang lain, jadi, jangan memaksa jika kamu tidak ingin dipaksa. Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi, kalau ada umur panjang, boleh kita berjumpa lagi. Dan pidato ini saya akhiri, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...” jawaban salam sekaligus gema tepuk tangan memecahkan ruangan auditorium itu. Semua orang merasa termotifasi dan terinspirasi atas hal-hal sederhana tapi relate yang disampaikan oleh gadis tunanetra ini. Dan sebelum Hanum benar-benar melangkahkan kakinya untuk turun dari atas podium, MC keburu menahannya.
__ADS_1
“Saudari Hanum, sebentar, jangan turun dulu...” katanya.
“Kenapa kah?” tanya Hanum kebingungan.
“Ini ada permintaan khusus dari pak rektor untuk kalian bernyanyi bersama, dan diiringi oleh team orchestra yang sudah siap sedia di bawah sana...” kata MC lagi. Dan Hanum tidak bisa lebih terkejut lagi ketika Wisnu, Muara, Riana, dan bahkan ganesh muncul dengan membawa alat musik masing-masing. Sebelum mereka beranjak ke posisi, sempet-sempetnya juga mereka menyalami Hanum yang sudah berkaca-kaca. Lalu menyusul Pak Rektor naik ke atas, berdiri di sebelah hanum. Dan mereka pun bernyanyi bersama.
***
Prosesi wisuda sudah selesai sepenuhnya. Kini mereka tinggal berfoto bersama. Hanum bersama keluarganya, kini ada di tengah-tengah rombongan Muara CS.
“Hanum, kenalkan dong, siapa pria tampan yang ada di sebelahmu itu?” tanya ayahnya.
“Ini Ganesha, yah, pacarku...” jawab Hanum penuh percaya diri seraya mengajak Ganesha – membawanya tepat ke hadapan sang ayah. Awalnya,Seno – ayahnya sempat marah begitu tahu dari Alit, putri bungsunya telah berpacaran, dengan seorang tunanetra pula, tapi amarah itu berhenti dan reda dengan sendirinya, ketika Alit terpaksa mengatakan hal yang sesungguhnya sangat ia benci :
“Tapi dia kaya, yah, aku yakin Hanum bisa bahagia sama dia,”
“Selamat siang, om...” sapa Ganesh dengan suara berwibawa. Dan ternyata, tempaan waktu telah membuatnya bertransformasi dari pemuda ganteng dan imut, hingga menjadi sosok mature dan berwibawa seperti sekarang.
“Selamat ya om, Mbak Hanum sudah menjadi sarjana,” kata Ganesh seraya menjabat erat-erat tangan sang calon ayah mertua.
“Terima kasih, Nak Ganesha. Nah sampean sendiri sudah semester berapa, ya?” tanya Om Seno menyelidik.
“Sedang menyelesaikan skripsi, om, sebentar lagi wisuda juga. Angkatan saya di bawah Mbak Hanum satu tahun...” jawab Ganesha.
“Sukses nak, semoga semuanya dilancarkan...” ucap Om Seno tulus.
“Terima kasih, om...” jawab Ganesha.
“Yuk foto-foto, cepetan, pesawat kita jam lima lho, ini udah hampir jam dua...” kata Alit. Semua mengangguk, lalu memasang pose, dan kilatan lampu blits menjadi pengganti dari pertanyaan-pertanyaan penuh intimidasi.
“Hanum, ayah langsung pulang ya, soalnya Mbak Tasya kan mau nikah. Kamu bisa datang kah?” tanya sang ayah.
__ADS_1
“Hanum lihat nanti, kalau Hanum akan datang nanti pasti ngabarin ayah kok,” jawabnya. Sang ayah mengiyakan. Setelah saling berjabat dan melambaikan tangan, akhirnya rombongan keluarga Hanum pergi, menyisakan Hanumnya yang segera digandeng oleh Riana.
***
“Gue udah ketemu sama...” Wisnu dan Ganesha saling diam, setelah mengutarakan kalimat dengan isi yang hampir sama secara berbarengan.
“Bonyoknya Mbak Dian?” tanya Ganesh.
“Keluarganya Mbak Hanum?” Wisnu balik bertanya. Lalu mereka tertawa ngakak bersama, membuat para ciwi yang lagi ada di dalam kamar untuk membersihkan make-up dan mengganti pakaian jadi heran sendiri. Apa-apaan itu mereka berdua.
“Han, habis ini kamu mau ngapain?” tanya Riana.
“Ya kerja mbak, mumpung masih jadi fresh graduate, nanti kalau ada kesempatan s 2 ya kuliah lagi. Tapi Bu Mira bilang bakal carikan kesempatan itu buat aku...” jawab Hanum.
“Hah... Kalau mbak sih bisa s 1 aja untung-untungan, Han, gak tau gimana nanti, bisa s 2 apa enggak...” jawab Riana.
“Pasti bisa kok mbak, nggak usah pesimis gitu...” kata Hanum seraya mengusap lengan Riana.
“BTW keluarga lo beneran langsung balik Jakarta ta, Han?” tanya Dian seraya merapikan kapas yang sudah ia pakai untuk membersihkan wajah.
“Ya iya, soalnya Princess Tasya mau nikah. Ini aja kalau Mas Alit nggak bujukin gak mungkin mereka mau kesini. Yup, dan setidak penting itulah seorang Hanum Maisha Kartika untuk mereka...” jawaban getir Hanum membuat mata Riana berkaca-kaca.
“You have us, dek, selamanya kita akan jadi keluarga...” ucap Riana, dan dibenarkan oleh Dian.
“Iyaa. Udah ah, gak usah sedih-sedihan gini. Mending order apa gitu kek, laper aku...” kata Hanum. Semenjak proses skripsi hingga wisuda, pola makan anak ini emang jadi gak bener akibat terlalu cemas. Sekarang, napsu makan si chubby telah kembali, dan rasanya dia akan sanggup menghabiskan apa saja yang terhidang saat ini juga.
“Iya wes, nanti kita tanya para cowok-cowok, mereka mau makan apa. Sekarang, mari kita pingsan berjamaah dulu, aku ngantuk...” kata Riana seraya merebahkan badannya di kolong *eh, di atas kasur.
“Sama, aku juga ngantuk aslinya...” kata Hanum seraya menyusul untuk roboh kemudian. Dian pun begitu, setelah meletakkan HP-nya di atas meja, diapun mengikuti jejak kedua sahabatnya. Lalu bagaimana dengan para cowok-cowok? Ya, sama, mereka juga tidur bergelimpangan di ruang tengah. Yah, dasar, pada mendadak jadi kebo semua!
(TBC).
__ADS_1