MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 30, HANUM, SANG RATU PERTUNJUKAN


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu. Rasanya, author baru saja menceritakan tentang mereka yang menghabiskan waktu berlibur mereka di Jogja, sekarang, mereka sudah akan berlibur lagi. Tapi permasalahannya bukan itu. Ada sesuatu yang lebih pelik yang harus kita ketengahkan disini, yakni rintangan sebelum liburan (baca : ujian akhir semester). Buat yang semester satu sih UAS-nya enak-enak aja, jarang praktiknya. Paling yang praktik itu – seingat author, Cuma dua, solfegio, sama PPDI (Pengantar Praktik Dasar Instrument). Nah yang semester 2 ini, ngeluuu alias pusiiiing sangat. Dari 10 matkul yang ada, sebagian besar itu praktik soalnya ; Akustik Organologi, Harmoni, Statistik, PJOK (matkul umum), Instrument Pokok Tingkat Indria, hampir semuuuuaaaanyaaa praktik. Termasuk yang satu ini, nih. Dalam prodi alias program studi seni musik murni, kita mengenal matkul yang namanya MSP (Manajemen Seni Pertunjukan). Dan ini adalah matkul ter-huah dari semua matkul yang ada. Selain dosennya agak-agak killer (maafkan saya, pak, hehe), tapiiii tugas akhirnya-pun gak kira-kira lho. Bayangkan saja, bagaimana coba seandainya satu angkatan dapat tugas memproduksi sebuah pagelaran/pertunjukan seni (musik tentunya), dan hanya diberikan deadline persiapan dalam waktu kurang dari dua bulan? Nah, sekarang, itulah yang terjadi pada tokoh kita yang... Mmm, bolehlah kita sebut sebagai bakpau karena bentuk pipinya yang nggak nguati.


“Ck, thor, kalau mendeskripsikan orang tuh yang bener dikit po-o, lagi capek nih!”


Wah, aku diamuk sama cast, guys, yowes langsung ke cerita aja yuk. Go!


***


“Baru pulang Han? Malem banget,” kata Riana yang menyambut gadis itu di depan pintu.


“Iya mbak, rapat koordinasinya baru selesai nih,” kata Hanum.


“Mau maem apa? Nanti mbak buatkan atau mbak belikan...”


“Nanti ae mbak, aku tak tidur aja, biar maemnya besok aja sekalian sarapan...”


“Ojok tho nok, nanti sakit kamu. Yowes istirahat sek diluk, ya, nanti mbak panggil lagi...” kata Riana. Meskipun kelelahan, tapi Hanum tetap  mengangguk, mengapresiasi bentuk perhatian dari calon kakak iparnya itu. Ia tak henti memijat pelipisnya, sambil berjalan ke arah kamarnya. Riana melihat itu, dan benar, dia harus melakukan sesuatu kali ini.


***


Riana mendesah gusar di antara notif telepon WhatsApp-nya yang Cuma “memanggil”, dan bukannya “berdering” kayak biasanya.


“Aduh kemana sih ni anak? Nggak biasa-biasanya telepon dimatiin kayak gini. Yowes tak telepon Muara sisan ae, siapa tau tu anak lagi sama dia.” Kata Riana, lebih kepada dirinya sendiri. Maka sekali lagi, jemari gadis itu bergerak, mencari sebuah kontak di ponselnya, lalu menekan lambang call disana. Syukurlah, kali ini berdering.


“Halo sayang, kenapa?” tanya suara di seberang sana.


“Ganesh ada sama kamu gak?”


“Ada, ini di sebelahku anaknya. Kebetulan mau pulang bareng, dia nggak bareng Wisnu hari ini, Wisnu lagi latihan sama temen-temen kelompoknya untuk PPDI...”


“Kok HP-nya mati? Tumbenan banget sih tu anak!” omel Riana.


“Lowbatt sayang... Emang ada apa sih? Dungaren kamu telepon...”


“Ke kost ya, someone need him now...”


“Maksudnya Hanum? Kenapa?” mendengar nama Hanum disebut, Ganesh yang lagi asyik menikmati nasi gorengnya menoleh, terkejut.


“Mbak Hanum kenapa, mas?”


“Sek, lagi tak tanya... Halo, Hanum kenapa Ri?”


“Nggak papa sih, tapi kalau dilihat-lihat dari betapa dia baru sampe kost jam segini dan dalam keadaan yang berantakan pula, dia pasti sedang super capek.  Tadi tak tawari makan yo gak gelem, pengen langsung tidur aja katanya. Makanya, coba, Ganesh bawakan dia sesuatu, siapa tau dia mau makan walaupun Cuma dikit,” kata Riana.


“Yowes ngko aku tak ngomong sama anaknya. Ditunggu ya, dua puluh menit lagi kami nyampe,” kata Muara.


“Oke...” -klik—sambungan terputus.


***


Ganesh memasuki rumah kost Riana dengan perasaan khawatir. Sejak tadi, sejak pertama kali kabar itu sampai di telinganya, ia benar-benar tidak fokus. Pikirannya hanya tertuju pada Hanum dan tempat kostnya.


“Masuk, Nesh...” kata Riana.

__ADS_1


“Mana Mbak Hanum, mbak?” tanyanya langsung.


“Ada di kamarnya. Itu kamu bawa apa, Nesh?” tanya Riana.


“Aku bawa nasi goreng, mbak, orang tadi lagi disitu kok kitanya...”


“Yowes, bangunin sana, keburu pulas nanti...” kata Riana. Ganesh mengangguk. Dengan langkah pelan, ia menuju kamar Hanum dan membangunkannya.


***


Hari-hari selanjutnya terjadi dengan ritme yang sama ; Hanum yang kelelahan, dan para support system-nya yang selalu nyiapin macem-macem yang enak untuk menyambut kepulangannya.


“Ya ALLAH, you make my day banget guys... Selama hampir 21 tahun aku hidup, aku gak pernah nemuin support system yang sampai segininya...” kata Hanum, yang sudah berkaca-kaca di depan pintu. Dari kemarin, ada saja makanan enak dan sehat yang disediakan untuknya ; salad buah, sandwich telur, dan lain-lain, yang simple, tapi gizinya cukup lengkap, sehingga Hanum bisa tetap menjaga kondisi tubuhnya di hari-hari sepadat dan secapek ini.


“Kami tuh sayang sama kamu, cantik. Yowes gek cuci tangan, nanti maem pasta habis ini...”


“Apa mau dulangan?” tanya Ganesh yang baru saja muncul dari dapur.


“Eh ora, dewean wae. Aku udah gak terlalu capek kok, hari ini semua berjalan lebih cepat, besok tinggal pancal...” jawab Hanum.


“Besok kita scan barcode-nya dimana?” tanya Riana.


“Barcode apa?” tanya Hanum balik.


“Ish, itu, tiket konser, kita udah beli online lho berempat...”


“Hah? Iya ta?” Hanum kaget.


“Hubungi Mas Putra aja, dia humasnya...” kata Hanum. Riana mengiyakan. Akhirnya mereka memulai aktifitas makan malam mereka.


***


Hari yang ditunggu itu pun akhirnya tiba. Hanum terbangun dalam keadaan sangat fresh dan segar, karena semalam Riana memaksanya berbaring – bahkan tertidur, sementara dia mengaplikasikan masker ke wajah ayu gadis itu. Sekarang dia sudah mandi, dan bersiap-siap menikmati sarapan paginya bersama Riana.


“Dek, mbak udah order salon buat kamu hari ini,” kata Riana sambil menata sarapannya di atas meja.


“Salon? Buat apa?” Hanum heran.


“Ya biar kamu lebih fresh aja. Acaranya masih nanti malam kan? Pokoknya habis sarapan, kamu istirahat aja, gak usah ngapa-ngapain, entar jam sepuluh mbak antar ke salonnya,” kata Riana.


“Duh si mbak, ngerepotin aja, pake nge-booking salon segala...”


“Halah nggak repot, kalau buat adikku sing ayu dewe. Yuk, ndang maem, terus di kamar aja gak usah kemana-mana. Oke?” Hanum mengangguk. Mulutnya sudah penuh dengan nasi goreng. Alhamdulillah, sebentar lagi telurnya pecah. Dia sudah mulai bisa menikmati makanannya lagi, setelah hampir sebulan penuh didera dan disiksa sedemikian rupa oleh urusan pagelaran ini.


***


Malam hari, gedung pertunjukan. Hanum tampak begitu berkilau dan terang dengan kostum serba putih yang dipakainya. Ia berjalan dengan anggun didampingi oleh Riana, Ganesh, Wisnu dan Muara, yang benar-benar bersikap seperti membawa seorang putri dari suatu kerajaan.


“Guys, jalannya bisa pada biasa aja ga seh? Kok aku isin dewe yo?” tanya Hanum pelan seraya meringis.


“Wes talah, kan kita ngawal orang cantik, yo kudu ngene ta...” kata Riana.


“Ho-oh, uwes tho rasah protes,” timpal Ganesh.

__ADS_1


“Ora cah, diluk neh volunteer-ku teko, wes do scan barcode sana!” seru Hanum.


“Oh iya, kita belom scan barcode guys... Piye iki terusan?” Riana nyengir.


“Gak papa, tinggalin aja aku disini. Wes, kono, hus!” usir Hanum main-main. Riana tertawa, lalu menjawil sebentar rambut panjang Hanum, sebelum akhirnya ia bergabung kembali dengan Muara CS, karena mereka akan berpisah arah dengan Hanum.


***


“Demikianlah penampilan penutup pada acara kita malam hari ini. Saya Hanum Kartika mewakili all crew yang bertugas, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada audiens, dan mohon maaf apabila ada banyak kekurangan, salah kata dan perbuatan, baik yang disengaja ataupun tidak. Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi. Kalau ada umur panjang, boleh kita berjumpa lagi. Saya pamit undur diri, Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...” Perfect! Sempurna! Selesai sudah rangkaian acara yang mendapuk Hanum sebagai MC-nya pada malam hari ini. Saking senangnya, begitu lagu terakhir dimainkan, segenap jajaran panitia langsung memburu Hanum ke atas stage – menyerbunya dengan pelukan, lalu ramai-ramai mengangkatnya ala-ala bridal style.


“Woiiii! Edan cah doan, Gustiii turunin woi!” jerit Hanum saat ia merasakan tubuhnya semakin tinggi di antara gendongan anak-anak.


“Hap!” sesaat sebelum Hanum diturunkan, Ganesh maju dan menangkap gadis itu, melanjutkan menggendongnya sampai ke tengah ruangan besar itu.


“Astaga dragonball! Hooop, turuniiin, buset dah!” Hanum masih terus menjerit-jerit. Tapi hal manis dilakukan Ganesh sebelum menurunkan gadis itu kembali kelantai. Ia mengecup lama kening gadis itu – hingga ke rambutnya, sebagai pengganti ucapan selamat.


“Cieeee!” seru rekan-rekan panitia yang lain, yang ternyata masih ada di sana.


“Astaga, ide siapa ini? Sumpah aku shock.” Kata Hanum seraya berdiri di sebelah Ganesh.


“Ide Nathan, tuh...” Deg! Hanum mencelos. Siapa juga yang tau kalau ide ini adalah ide Nathan? Nathan, kan...


“This is for you,” ucap lelaki itu seraya menyerahkan sebuket mawar besar ke pelukan Hanum.


“O-Oh, thank you, Nat... Ya udah semuanya, aku ganti baju dulu ya. Thanks for today, kita semua keren...” ucap Hanum yang mulai gelisah, merasakan gestur aneh Ganesh yang masih berada di sebelahnya.


“Foto dulu po-o!” ucap Dian, sang ketua pelaksana. Yang lain mengiyakan. Maka sekali lagi, Hanum ditarik ke tengah-tengah mereka, untuk diajak foto bersama, sebelum akhirnya mereka berganti pakaian, bersih-bersih, lalu pulang.


***


“Cowok mana sih mbak yang tahan ngeliat ceweknya dikasih bunga sama cowok lain? Aku di sebelahnya lho mbak!”


“Nesh, gak usah teriak-teriak,” peringat Riana.


“Mbuh wes mbak, aku muleh!”


“Nesh, tunggu!” seru Hanum tiba-tiba. Wajahnya sudah nyaris bersih dari make-up, dan dia berlari mengejar lelakinya tersebut.


“Aku minta maaf...”


“Lupain aja. Ndang istirahat, besok kita ketemu lagi,” kata Ganesh seraya buru-buru keluar pintu, membuat Riana geleng-geleng kepala.


“Astaga tu anak... Udah-udah Han, gak usah nangis ya. Mukamu masih penuh cleanser, entar matamu perih malahan. Yuk lanjut bersih-bersih dulu...” kata Riana. Hanum Cuma mengangguk lemah.


***


Kamar kost, malam hari. Hanum merebahkan badannya dengan rasa frustasi yang memenuhi kepala. Baru saja ia merasa bahagia karena telah menyelesaikan tugasnya dengan baik hari ini, Tapi ledakan amarah Ganesh seperti menghancurkan semuanya. Tapi sudahlah, ia juga akan semarah itu pasti kalau melihat Ganesh diperlakukan “something different” sama wanita yang bukan dirinya. Sudahlah, daripada dia jadi tambah stress terus berakhir dengan sakit, mending dia buka instagram aja, lihat-lihat IG story, siapa tau ada story dari idola kesayangan sepanjang masanya. Nah kan bener, baru aja dibuka, story-nya beliau udah muncul paling atas. Sambil senyum-senyum sendiri, Hanum membuka IG story itu. Tapi dia jadi heran sendiri begitu pertama kali membukanya,  kenapa penggambaran video-nya persis sama suasana yang belum lama dirasakannya? Penasaran, Hanum terus membuka halaman demi halaman story itu. Dan dia semakin kaget saja, karena hampir semua rangkuman pertunjukan tadi benar-benar terrekam dan terrangkum sempurna dalam video-video itu. Apa jangan-jangan, ini ada hubungannya sama apa yang dikatakan para panitia (stage crew), tadi?


“Hati-hati, ada orang yang misterius dan tak terduga juga hadir dan menonton pertunjukan ini,” tapi masak iya, sih?


(TBC).


Haaayoooo, siapakah orang misterius itu? Nantikan kelanjutannya aja deh yak 😂

__ADS_1


__ADS_2