MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 50, PENGUNTIT MISTERIUS (TEROR, PART 2)


__ADS_3

Dua minggu pasca lomba, bertepatan juga dengan liburan semester. Tapi semuanya gak ada yang pulang, karena mereka udah terlanjur ambil banyak kerjaan. Dian sudah resmi bergabung dengan band mereka. Nyatanya, nggak susah kok ngajarin anak itu nyanyi pop, soalnya dasar suaranya udah bagus, dan dia termasuk anak yang cepat beradaptasi juga, jadi enak lah.


“Bestie... Akhirnya kita selesai perform juga,” kata Dian seraya menghempaskan pantatnya di sebuah kursi.


“Ya ALLAH, pegel gue...” keluh Hanum seraya melakukan hal yang sama dengan Dian.


“Hey, Lady’s, kalau kalian pulang duluan aja gimana?” tanya Wisnu tiba-tiba seraya menghampiri mereka.


“Ya nggak papa sih, tapi emang kenapa, Nu?” tanya Riana.


“Kita mau beres-beres dulu, sekalian Mas Ra mau ada pembicaraan dengan beberapa orang dari sebuah instansi yang mau mengadakan fam gath gitu. Kemungkinan kita disuruh ngisi lagi,” jelas Wisnu.


“Oh, ya udah, nggak papa... Naik taksi online aja kalau gitu. Tolong pesen, Yan, HP-ku lowbatt...” kata Riana.


“Oke... Ke kost aja kan?” tanya Dian.


“La kemana lagi, aku pengen sih punya penthouse, gitu, tapi mahal...” kelakar Riana. Dian ikut tertawa.


“Yuk, udah mau nyampe nih taksi online-nya,” kata Dian. Riana dan Hanum mengangguk.


***


Riana menoleh ke belakang. Dari tadi perasaannya gak enak, seperti ada yang mengikuti. Kompleks menuju kos-kosan, malam hari. Biasa, kalau jam sepuluh ke atas kayak gini pasti udah diportal, kendaraan gak bisa masuk, mau nggak mau mereka harus jalan.


“Kenapa mbak?” tanya Dian heran.


“Perasaan kayak ada yang ngikutin kita gak sih?” tanya Riana seraya celingukan.


“Hah? Ngikutin gimana?”


“Ya diikutin, diawasin, kayak ada orang yang ngikutin gitu lho...” jelas Riana.


“Masak sih? Kok tumben Mbak Ri takut? Kan biasa kita juga pulang malam kayak gini...” Dian heran.


“Itu dia masalahnya, aku juga heran, nggak biasanya aku ketakutan kayak gini walaupun pulang malam juga. La sekarang gini e situasinya...” jelas Riana.


“Sek talah, ndang mlaku rek, aku kebelet pipis nih...” ucap Hanum memelas. Aduh elah ni anak, situasi lagi tegang begini, dia malah pake acara kebelet pipis segala.


***


Ternyata kejadiannya tidak hanya pada hari itu. Kejadian serupa terus berulang bahkan ketika Riana baru pulang sore-sore dari kegiatannya. Saking khawatirnya dengan bahaya yang bisa saja mengancam, Riana sampai nggak berani pulang bareng Hanum ; dia takut anak itu ikut terkena imbasnya. Walhasil setiap pas mereka ada jadwal harus pulang bareng, Riana langsung meminta temannya – atau siapapun untuk mengantar gadis itu lebih dulu, bahkan memastikannya sampai masuk dengan selamat ke kos-kosan. Dan parahnya, kejadian ini bahkan sudah terjadi selama hampir satu bulan, dari mulai masih liburan semester, sampai sekarang sudah masuk lagi.


“Ya ALLAH, ini fix beneran ada yang ngincer gue... Gue harus ngelakuin sesuatu, gue juga khawatir sama Hanum, kalau sampe dia ikutan kena imbasnya padahal gak tau apa-apa kan kasian juga...” Riana menghentikan sepeda motornya di depan gang menuju kos-kosannya. Ziiiinggg... Sesuatu melintas cepat, nyaris mengenai tubuh gadis itu, Riana refleks melompat dari atas sepeda motornya, saking terkejut dan ketakutan. Lalu matanya membulat sempurna melihat sebuah belati kecil yang menancap di atas sebatang pohon yang berjarak hanya 10 meter dari posisi Riana sekarang. Pada tangkai senjata tajam itu – yang mengarah ke bawah, Riana melihat sepucuk surat yang diikat oleh seutas tali. Meski gemetaran dan takut setengah mati, tapi karena rasa penasarannya lebih tinggi, gadis itu mendekati pohon itu, dan melepas simpul tali yang mengikat kertas di pucuk belati itu. Dia sudah pasrah jika saja hari ini merupakan akhir dari hidupnya. Toh sekarang, Ganesh sudah dijaga oleh orang-orang baik, dia tidak perlu mengkhawatirkan adiknya itu lagi.


“Finally, I found you...” Hanya itu, hanya empat kalimat itu. Dan Riana masih tidak bisa menerka. Singkat, padat, dan jelas, tapi misterius.


Drttt... Drttt... Drttt... Riana mendesah frustasi, ponselnya bergetar. Ini pasti Hanum yang menelponnya karena khawatir. Daripada membuat gadis itu tambah panik, mending Riana segera pulang saja.

__ADS_1


***


Hari-hari terus berganti, dan kejadiannya tetap saja sama. Dan jelas, ini mulai mengganggu Riana, dia sanpai gak nyaman melakukan apapun ; panik setiap saat, merasa cemas berlebihan juga setiap waktu. Jelas ini sangat mengganggu kestabilan mentalnya yang baru saja membaik, sehingga Yura menyarankannya untuk bertemu dengan seorang psikolog hari ini juga. Adalah Tante Verro, orang yang sama yang menolong mamanya Nico waktu itu (untuk lebih jelas mengenai siapa sosok Tante Verro ini, silakan baca season 1 yaa).


“Selamat sore, Riana...” sapanya ramah.


“S-Sore, tante...”


“Nggak usah gugup begitu, dan jangan panggil tante. Semua client – mm, bukan, sahabat saya memanggil saya dengan mbak atau bunda. Terserah kamu saja, nyamannya gimana...” Riana meneliti penampilan wanita anggun itu. Dia memang tampak lebih muda dari usia yang sebenarnya sih, mungkin karena rajin perawatan. Tapi penampilan yang seperti ini juga mengingatkannya pada... Aunty Aline. Ada hubungan apakah keduanya?


“Maaf... Mmm, mbak. Saya merasa, Mbak Verro kok mirip dengan seseorang ya?” tanya Riana hati-hati.


“Pasti Alina, atau Aline?” tebak Tante Verro langsung.


“Kok...”


“Nico pernah cerita tentang kamu... Aline sendiri pun masih  berkomunikasi dengan baik sama saya. Kasihan ya, musibah yang menimpanya beberapa tahun yang lalu ternyata benar-benar menghancurkan jiwanya...” ucap Tante Verro sedih. Hati Riana mencelos. Ternyata benar, kan, ada koneksi tak terduga kembali yang menghubungkan dirinya dengan Nico dan Aunty Aline – yang sudah hampir lekang dari ingatannya.


“Sudahlah, lupakan dulu tentang itu. Sekarang saya ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi sama kamu?” tanya Tante Verro perlahan. Dan mengalirlah cerita itu pelan-pelan dari Riana ; tentang penguntit misterius yang sudah hampir satu bulan ini mengganggu kenyamanannya.


“Sebelumnya apa kamu pernah ada masalah dengan seseorang?” tanya Tante Verro.


“Entah ya mbak, saya merasa tidak pernah mengganggu siapapun, saya cuma pendatang dan pengin belajar disini...” jawab Riana. Tante Verro mengangguk-angguk, paham.


“Apa ada yang dendam sama kamu, mungkin?” tanya Tante Verro lagi. Riana mengaduk-aduk benaknya, mencari-cari beberapa kepingan kejadian terakhir dalam hidupnya, dan mencoba merangkainya. Surat-surat misterius itu, lalu pesan WhatsApp yang diterimanya...


“Memang siapa kira-kira orang yang paling dekat sama kenyataan ini?” pancing Tante Verro. Riana menimbang-nimbang sebentar. Sebenarnya nggak apa-apa kalau dia harus terbuka sama Tante Verro ini, tapi kok sungkan ya rasanya?


“Nggak papa, kamu mungkin belum berada pada situasi yang nyaman. Saya nggak bisa maksa kamu bercerita. Nanti kalau sudah siap, kabari saya...” ucap Tante Verro seraya menepuk ringan pundak Riana.


“Te-Terima kasih, mbak, maaf, karena jumpa dengan psikolog ini adalah sebuah hal yang benar-benar pertama kali dalam hidup saya, jadi saya bingung harus bagaimana,” aku Riana.


“Santai Ri, ketemu psikolog itu nggak sama sama situasinya dengan ketika kamu ketemu dosen pembimbing. Jadi, next time, try to relax yaa...” kata Tante Verro seraya tersenyum. Dan senyum wanita cerdas itu tak ubahnya virus saja – menular, jadi mau tak mau Riana pun ikut tersenyum. Selanjutnya, Tante Verro mengantar gadis itu sampai ke luar ruangan. Dan di depan, telah menanti Muara, yang telah dikabari untuk datang ke lokasi dan menjemputnya sejak satu jam yang lalu, ketika sesi konsultasi masih berlangsung.


“Sudah selesai?” tanya lelaki itu seraya bangkit dari duduknya.


“Sudah.” jawab Tante Verro dan Riana kompak. Sebelum kedua sejoli itu benar-benar meninggalkan ruangan, Tante Verro memberikan pesan penting – terkhusus kepada Muara, yang telah dianggap dan diasumsikan sebagai “pendamping” dari Riana.


“Pokoknya ajak dia bicara terus, jangan pernah biarkan dia sendirian, apa lagi sampai pikirannya kosong dan alam bawah sadarnya nggak terkontrol...”


“Siap, Mbak Ver. Kalau begitu, kami pamit dulu ya,” kata Muara.


“Ya, hati-hati...” jawab Tante Verro. Dan mereka berjalan keluar ruangan dengan saling bergandengan tangan.


***


“How’s your day, dear?” tanya Muara, sesampainya mereka di parkiran.

__ADS_1


“Yah, gini-gini aja. Aku mengidap gangguan kecemasan, serangan panik, merasa diawasi setiap saat... Capek, Ra...” ucap Riana lelah.


“Sssssttt... Kan ada aku, kita akan hadapin ini sama-sama, ya...” kata Muara seraya mengelus puncak kepala gadis itu, lalu merangkulnya dengan sebelah tangan. Sementara tangan satunya yang bebas, membuka pintu mobil.


“Lho, sejak kapan, Ra?” Riana terheran-heran. Kok tau-tau ni anak udah bawa mobil setelah sebulan gak ketemu dia? Apakah dia meminjam ini kepada seseorang?


“Udah tiga harian, Ri. Mas Jeremy sama Mbak Yura mau ganti mobil yang lebih luas katanya, soalnya Adam kan udah aktif banget. Nah pas juga aku punya tabungan yang cukup lah untuk beli cash, hasil kerja kerasku berkeliaran dari satu hotel ke hotel lain selama tiga tahun, ditambah freelance-an-ku di cafe yang alhamdulillahnya selalu adaaa aja...”


“Selamaaaat!” seru Riana bahagia seraya memeluk erat-erat kekasihnya tersebut. Dia bahagia karena Muara sudah mulai perlahan meraih satu-satu mimpinya ; menyembuhkan sang ayah, lalu kuliah (yang sudah hampir berjalan beberapa semester), dan sekarang... Yeah, meskipun ini mobil second, tapi, percaya deh, segala sesuatu yang didapatkan atas hasil jerih payah sendiri itu rasanya lebih memuaskan.


“Makasih, sayang, ini juga berkat do’a dan support dari orang-orang sekitar aku juga... Yuk, masuk, kita makan terus pulang ya, princess. Silakan...” kata Muara seraya membukakan pintu penumpang untuk Riana. Riana tersenyum, lalu memasuki mobil tersebut. Dan setelah semuanya siap, si roda empat itu akhirnya melaju ; membelah jalanan Kota Surabaya yang padat di sore hari.


***


“Astaga, Han, kenapa ini kamu nelpon sambil nangis gini? Ada apa tho sebenernya?” tanya Riana panik seraya menjauh dari keramaian. Saat ini dirinya dan Muara sedang menikmati makan malam mereka.


“Innalillahi, terus? Kalian gak papa kan? Ya ALLAH!” Riana merosot di tepi trotoar. Lututnya lemas seketika.


“Ri... Kenapa?” Muara memburu gadis itu, menopang tubuhnya. Makanan yang rencananya mau mereka nikmati di tempat kini berubah menjadi mode take away.


“Pulang, Ra... Aku mau pulang...” pinta gadis itu – yang kini tak bisa menahan geletar tubuhnya. Riana begitu ketakutan sampai ia tak bisa menopang dirinya sendiri. Tulang kaki – yang sedianya bertugas untuk menopang bentuk tubuhnya seperti telah kehilangan fungsi.


“Ssssttt, aku taro ini ke mobil dulu, nanti aku balik lagi. Wait!” seru Muara seraya berjalan cepat – tidak, dia benar-benar berlari, membuka pintu penumpang bagian belakang, meletakkan bungkusan makanan take away-nya dengan asal, sebelum akhirnya kembali untuk menjemput Riana.


“Kamu bisa jalan?” tanya Muara. Dan gelengan lemah dari gadis itu menjadi suatu pertanda bahwa Muara harus berjuang sekali lagi untuk membawa gadisnya menuju mobil.


“Ceritakan pelan-pelan, dear. Ada apa? Kamu terima telepon dari siapa tadi?” tanya Muara sesampai mereka di mobil. Mereka sudah duduk di kursi penumpang masing-masing dan sudah sama-sama memakai sabuk pengaman.


“Ha-Ha-Hanum... Ha-Hanum te-te-telepon, te-te-terus bi-lang...”


“Minum dulu. Atur napasmu, aku gak bisa nangkep cerita kamu kalau kondisinya begini. Kita sambil jalan aja ya, biar cepat sampe...” kata Muara seraya mengulurkan botol air kemasan yang langsung diterima Riana. Ia membuka tutup botol itu dengan tangan gemetar, lalu langsung menenggak setengah dari isinya. Sementara sisanya dicipratkannya ke wajah, supaya memberi efek segar dan menenangkan. Entah teori dari mana itu, tapi, ya sudahlah.


“Hanum telepon, ada yang lempar batu ke area kost. Posisi dia cuma berdua sama Ganesha karena Wisnu masih nemenin Dian jenguk omanya yang sakit di Solo. Mereka sempet ditemenin Bu Rizka ibu kostku, tapi dia harus segera kembali ke resto yang dikelolanya karena ada barang baru masuk...”


“Astaghfirullah... Biar nanti aku yang ngomong sama beliaunya supaya dipasang CCTV aja disana. Terus adik-adik gimana keadaannya?” tanya Muara khawatir.


“Ya itu dia, Hanum nelpon aku sambil ketakutan. Dan begitu telepon beralih ke Ganesh, itu anak malah bilang jendela depan yang mengarah ke ruang tengah itu pecah gara-gara terkena lemparan batu tadi...”


“Ya ALLAH!” Muara geram. Ini udah jelas-jelas meresahkan dan membahayakan. Sebulan yang lalu, saat Riana pertama kali menceritakan perihal penguntit misterius dan sederet teror yang dialaminya, Muara sudah menyarankan untuk memasang kamera CCTV dan sederet alat pengamanan lainnya, tapi Riana belum ingin melakukan itu.


“Halah, positive thinking aja, paling cuma orang iseng,” tapi kenyataannya, teror yang sudah dialami gadis itu lebih dari sekadar keisengan dari seseorang. Pasti ada sesuatu yang sedang diincar dari gadis itu.


“Pokoknya mau nggak mau, kamu, Hanum, Ganesha harus punya alat pengamanan diri, itu yang pertama. Kedua, aku akan bilang sama Bu Rizka supaya kos-kosan dipasangi kamera CCTV. Ini demi keselamatan kalian semua...” ucap Muara. Kali ini, Riana mengangguk tanpa membantah. Karena akhirnya, dia sendiri sadar kalau ini bukan cuma sekadar kerjaan dari orang iseng, dia sedang mengalami sesuatu yang disebut sebagai...


T E R O R


(TBC)

__ADS_1


__ADS_2