MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 3, TEMAN PERJALANAN DI PESAWAT (MENGENANG ABHI)


__ADS_3

Riana melepaskan diri dari rengkuhan orang-orang yang mengantarkannya ke Bandara International Soekarno-Hatta. Hari ini, resmi sudah Riana meninggalkan Jakarta ; meninggalkan pekerjaannya, teman-temannya, tempat kost-nya, dan semua kisah yang telah memenuhi album ingatannya di ibukota Indonesia ini. Sebentar lagi, dalam waktu kurang dari 60 menit, ia segera akan tiba di kota dan tempat baru ; merajut semua kisah yang tersisa disana, mengejar impiannya.


“Permisi...” sapaan sopan nan halus mengusik Riana dari lamunan panjangnya.


“Eh iya, ada yang bisa saya bantu?”


“Sepertinya saya duduk di deretan kursi sebelah sini...” Dejavu! Walaupun kalimatnya tidak sama, tapi miriplah. Riana otomatis menoleh seratus persen, dan terlihatlah seorang gadis dengan wajah yang bulat, matanya yang indah dan lentik tampak tak fokus dan bergerak-gerak, lalu sebuah tongkat di tangannya. Riana sudah bisa menyusun kesimpulan yang rapi di otakknya, berdasarkan semua ciri-ciri yang sudah ia lihat beberapa saat yang lalu.


“Maaf... Kamu... Tunanetra ya?” tanyanya hati-hati.


“Iya mbak, bener.” Jawabnya riang.


“Boleh lihat tiketnya?” tanya Riana lagi. Gadis itu mengangguk. Diberikannya tiket miliknya tersebut kepada Riana, untuk dicek nomor kursinya.


“Oh iya benar, kamu di sebelah saya duduknya... Sini, disini, biar saya bantu,” kata Riana seraya berdiri, dan menuntun gadis tunanetra cantik itu menuju kursinya.


“Terima kasih mbak,” ucap gadis itu sopan seraya menundukkan wajahnya. Sepertinya ia merasa sedikit rikuh dan malu bila berbicara kepada orang asing.


“Nama kamu siapa?” Riana memecah kebekuan. Barangkali lumayan juga, pikirnya. Dapet temen seperjalanan, kalau asyik, kan temenannya bisa dilanjutin.


“Nama saya Hanum, mbak. Tapi sih biasa dipanggil Hani. Terserah mbak, maunya manggil apa,” jawab Gadis itu lagi. Riana mengerutkan dahinya. Siapa tadi namanya? Hanum? Hani? Apa jangan-jangan...


“Kamu mau kemana?” tanya Riana lagi.


“Mau ke Surabaya mbak, mau kuliah. Alhamdulillah semester 2 dikasih kuliah offline...” jawabnya.


“Oh\, sama dong\, saya juga mau kuliah\, tapi kalau saya masih mahasiswa baru nih. Kamu kuliah dimana? Jangan-jangan di U***?”


“Iya, mbak...” jawab Hanum seraya mengangguk pelan. Riana memutar otak. Ia merasa tidak asing sama sekali dengan nama dan wajah ini. Apa benar yang dimaksud adiknya dalam percakapan-percakapan mereka biasanya adalah gadis itu?


“Kamu kenal Ganesha, gak?” tanya Riana tiba-tiba. Sengaja ia tidak menyebut dengan Ganesh, karena adiknya sendiri bilang, kalau di dunia pergaulannya dia lebih akrab disapa Ganesha.


“Ganesha Dwi Pradana?” Hanum memastikan. Soalnya sosok bernama Ganesha yang dia tahu ya Cuma itu.


“Iya bener...”


“O-Oh, i-itu teman dekat saya, mbak. Memang ada apa?” tanya Hanum.


“Saya Riana, kakaknya Ganesha, atau Ganesh...”


“L-Lho... Te-Temen ta?” Hanum tidak percaya. Matanya yang gagal fungsi itu mengerjap-ngerjap.


“Iya, saya... Eh, kok formal amat yak? Ganti aku aja opo-o?” seloroh Riana. Hanum tersenyum. Dalam sekejap saja ia sudah bisa menyimpulkan bahwa gadis yang sedang duduk di sebelahnya ini adalah seorang yang baik.


“Aku Riana, mbaknya Ganesh,” kata Riana lagi.


“Oh, iya mbak. Aku sering diceritain soal mbak kok sama Ganesh, Ganesh tu sayang banget sama mbak katanya,” ujar Hanum antusias.


“Seriusan dia ngomong gitu? Nggak ngomongin yang jelek-jelek?” seloroh Riana.


“Iya kok mbak, paling sejelek-jeleknya, dia bilang mbak itu endut, berisi kayak aku, sama tukang makan katanya...” Hanum nyengir, merasa bersalah. Riana ketawa, lalu menepuk pundak Hanum.


“Wah, gitu ya dia? Awas aja, mbak kerjain nanti dia. Eh, kan nanti dia bakal ada di Surabaya juga untuk kuliah... Dia nggak tau ta kamu udah berangkat?” tanya Riana.


“Nggak tau mbak, emang belom tak kasih tau sih. Kenapa?”

__ADS_1


“Kita jadiin ini sebagai kejutan. Nanti ikut rencana mbak ya...” kata Riana. Entah kenapa, walaupun belum lama kenal, tapi dia sudah bisa merasa nyaman dan tidak canggung sama sekali dengan gadis di sebelahnya itu. Dan sekarang, dengan mudahnya ia merencanakan sesuatu, mengerjai sang adik bersama pacarnya.


“Emang rencana mbak gimana?” tanya Hanum. Dalam bisikan, Riana menjelaskan rencananya, dan Hanum mendengarkan. Nanti, mereka tinggal eksekusi aja pas udah sampai di tempat tujuan.


***


Bandara Juanda, Kota Pahlawan, Surabaya. Alhamdulillah, akhirnya, setelah satu jam perjalanan. Setelah urusan bagasi keduanya selesai (dan ternyata mereka sama-sama membawa banyak barang dari Jakarta), keduanya memutuskan untuk memesan taksi online plus mobil box untuk mengangkut semua barang-barang itu. Hanum bilang, dia udah dapet kos-kosan, yang lokasinya deket sama kampus. Hanum sih udah manjerin, dan kata dia, masih ada satu kamar lagi, kalau Riana mau. Dan Hanum bilang, kos-kosannya juga udah lengkap ; tempat tidur, meja belajar, AC, dll.


“Waaah, masih ada kesempatan manjerin sekarang gak, Han?” tanya Riana.


“Lebih cepat lebih baik mbak. Aku emang udah bilang juga sama ibu kost-nya, kalau bisa, kamar itu jangan disewakan dulu, aku mau bawa temen. Enak lagi mbak kamarnya gede. Sebenernya aku agak nekat sih bilang begitu, orang temen aja gak ada, atau kalau ada, rata-rata mereka udah sewa kost duluan juga...”


“Kan sekarang ada aku. Aku sing ngepek wes...” canda Riana. Hanum mengangguk. Tak terasa, kedua mobil yang mereka pesan sudah datang semua. Dan mereka akan bersama-sama berangkat menuju lokasi yang sudah ditentukan.


***


Pemilik kost yang sekarang namanya Bu Rizka dan Pak Dahlan. Keduanya sudah punya anak yang sudah besar-besar, dan merantau lalu menikah, tinggal menyebar di berbagai kota di Indonesia. Mereka sudah merintis kos-kosan ini selama 15 tahun. Dan Riana, begitu melihat kedua pasutri itu pertama kali, turut merasa nyaman juga. Rasanya tak beda jauh mereka ini dengan Bu Dian dan Pak Fakhry, orang-orang baik yang baru ditinggalkannya di Jakarta sana.


“Yeeeeeay, se-kost sama Mbak Riri!” seru Hanum girang, usai mereka selesai menata barang-barang di kamar masing-masing. Alhamdulillah, rejeki Riana jatuh lewat perantara gadis ini.


“Hanum... Eh, nyamanmu piye, tak panggil Hanum atau Hani aja?” tanya Riana.


“Panggil apa aja senyaman mbak, asalkan dipanggilnya pelan, ngko ndak pengeng kupingku nek banter...” seloroh Hanum.


“Yeee, dasar, botol kecap. Ya udah, maem yuk, udah siang je, masak mie instant dulu aja ya, mbak buatin, soalnya belom tau disini mau makan dimana.” Kata Riana seraya membongkar kardus yang dibawanya.


“Lho, aku aja mbak yang masak,” hanum Menawarkan diri.


“Isok ta awakmu?” Riana ragu.


“Jangan baper ya, Han...” kata Riana.


“Wooo santuy, mbaknya ragu karena belum tau. Ya udah, aku masak dulu ya.” Kata Hanum. Riana mengiyakan. Kini ia tengah tenggelam dalam aktifitas bersama ponsel pintarnya. Banyak chat berdatangan, rata-rata dari teman-teman se-kost-nya. Yang menanyakan dia sudah sampai atau belum, terus stay dimana setelahnya. Ada juga chat dari Bu Dian yang banyak banget, menanyakan hampir semua hal secara detail seperti :




Udah sampai?




Kamu dapet hotel atau penginapan yang baik gak?




Udah makan?



__ADS_1


Nanti nyari kost ditemanin siapa?




Udah dapet temen? Banyak banget kan! Riana sampai kewalahan sendiri jawabnya.




“Mbak, udah jadi nih mie-nya,” Hanum telah kembali, dengan membawa baki berisi dua mangkuk mie rebus di tangannya. Hati-hati ia meletakkan nampan itu di lantai di depannya dan Riana.


“Anjrit enak e wanginya, bikin tambah laper aja...”


“Iya dooong, ini mie rebus ala Chef Hanum!” ucapnya seraya tertawa, berpura-pura jumawa dengan menepuk dadanya.


“Iya-iya percaya, cantik, yowes ndang maem, kerjaan kita masih banyak nih. Paling habis beberes dikit lagi kita langsung tepar tanpa interupsi...” kata Riana. Hanum mengiyakan. Akhirnya, mereka melanjutkan acara makan siang sambil terus memperbincangkan banyak hal.


***


Alhamdulillah, tempat baru yang nyaman. Suasananya mirip dengan rumah kost terdahulunya di Jakarta. Yang membedakannya hanyalah, kini ia sendiri, tanpa kedua sahabat setianya, Maura dan Milia. Lagi apa kedua anak itu sekarang? Iseng, Riana melirik jam dinding yang tertempel di sebelah kalender ; pukul 14:55. Pasti yang ada di rumah baru Selena, karena dia baru pulang kuliah. Biasanya, jam-jam segini, anak itu akan mengetuk pelan pintu kamarnya, dan membawakannya camilan, entah gorengan, entah keripik, apa saja yang bisa diperolehnya dari perjalanan sepulang kuliah.


[Sel, wes muleh ta?] tanpa sadar, tangan Riana telah bergerak sendiri, mengetik pesan WhatsApp untuk teman rasa adik perempuannya itu.


[Udah mbak, ini lagi makan. Mbak lagi ngapain?]


[Ini baru nata barang di kost...] Selena is typing.


[Wiii, jek cepete... Kok bisa cepet dapat kost?]


[Rejeki dari temen seperjalanan, Sel...]


[Eh gimana-gimana? Dapat temen perjalanan model apa kali ini?] Selena antusias. Akhirnya Riana menceritakan semuanya kepada Selena, tentang teman perjalanan barunya yang seorang perempuan, namun dia merupakan penyandang tunanetra, sama seperti Abhi. Mengingat Abhi, tanpa sadar jemarinya berlari menuju galeri. Foto demi foto ia lihat, memastikan bahwa seluruh kenangan yang ada tetap terpatri dalam ingatannya dengan sempurna.


“Ku jatuh


Ku jatuh kembali padamu


Hanya denganmu


Ku lepas semua raguku


Hatiku


Hatiku jatuh kepadamu


Sungguh semangatku jatuh dan jatuh kepadamu


Kau nyali terakhirku...” suara Abhi terdengar dari rekaman video yang terputar. Riana menangis, mengenang sahabatnya yang diam-diam mencintainya, dan tetap begitu hingga akhir hayatnya.


“Bhi, sebentar lagi aku kuliah... Kamu bahagia, kan?” tanyanya tanpa sadar. Riana menghapus air matanya. Ia tidak boleh menangis, pokoknya tidak boleh. Biar bagaimanapun, babak baru dalam hidupnya baru saja dimulai. Tidak ingin berlama-lama dengan jerat kenangan, Riana memutuskan untuk keluar dari kamar kost-nya, menengok tetangga sekaligus teman pertamanya Hanum, yang tinggal hanya berjarak dua kamar dari kamarnya. Riana berjalan mengendap-endap menuju kamar gadis itu. Pintu kamarnya ternyata tidak tertutup dengan baik, buktinya semilir dinginnya angin AC muncul dari celah pintu. Riana masuk ke dalam kamar itu, lalu mengintip. Disana, di balik sebuah selimut berbulu, tampak Hanum yang tertidur dengan begitu damai, cantik sekali. Riana mengamati gadis yang tampak tenang dalam tidurnya itu. Dan satu hal yang dia yakini dan dia tahu akhirnya adalah, ada sesuatu yang salah dengan kekasih adiknya itu. Bukan, bukan berarti Hanum ini sejenis penjahat atau semacamnya, tapi dia tahu, bahwa Hanum tidak pernah benar-benar bahagia, sama seperti dirinya dulu. Atau mungkin sampai sekarang, entahlah. Yang jelas, dia berjanji akan menjaga gadis itu semampunya.


(TBC).

__ADS_1


__ADS_2