
“Duh Riii, HP lo bisa dikondisikan gak sih? Berisik banget, mengganggu konsentrasi orang yang lagi bikin konten aja!” omel Maura dari dalam kamarnya. Sementara itu, Riana – si empunya HP, lagi asyik aja ngobrol sama Milia di balkon deket kamarnya.
“Heh, HP-mu tuh ditaroh mana tho? Kok Maura bisa se-emosi itu?” tanya Milia.
“Eh, dimana ya?” Riana garuk-garuk kepala.
“Lah, piye tho ki? Kamu lho lupaan, mestiii...” omel Milia.
“Oh iya inget, tadi aku pas main-main di kamarnya kan numpang nge-charge. Bentar tak jupuk...” kata Riana seraya buru-buru turun dari kursi balkon. Tak lupa, Milia menghadiahkannya pelototan dulu sebelum bener-bener berjalan ke kamar Maura.
“Sorry, Ra, udah penuh ta nih HP?” tanya Riana.
“Uwes yo ket mau, muna-muni ae ora mbok jupuk, berisik yo!” omelnya.
“Hihi sorry, yowes, gue ke kamar dulu ya. BTW lagi bikin konten apa sih?” tanya Riana penasaran.
“Make up tutorial nih. Dari kemarin banyak yang request...” jawab Maura.
“Oalah, yowes maaf yo, lupa gue kalau bawa HP kesini...” Riana meringis. Maura cuma mengangguk. Setelah mengambil HP beserta charger-nya, Riana segera kembali ke kamarnya sendiri, mengecek siapa yang menelepon.
“Alamakkk, 15 panggilan tak terjawab? Dari Muara semua...” Riana menggumam sendirian. Jujur, selama dia di Jakarta, dia hampir lupa menanyakan kabar laki-laki itu. Apa lagi, satu kabar buruk langsung menerpa dan menimpanya. Dan baru hari kemarin Riana kembali mengaktifkan ponselnya, lalu mem-posting ucapan dukacita untuk Nico di instagramnya.
“Wah, tak telepon wae po? Piye ki?” Riana bingung. Tapi sebelum tangannya bergerak menekan lambang gagang telepon di ponselnya, ponsel itu sudah berdering lebih dulu, atas nama penelpon yang sama.
“Halo Ra...”
“Adakah sesuatu yang tertinggal di Jakarta sana, sehingga kamu lupa sama aku?” tanya Muara. Suaranya terdengar tajam dan dingin, dan itu mengejutkan Riana.
“R-Ra... Kamu...”
“Nicolas Fernandes itu siapa?”
“R-Ra... Aku...”
“Apakah aku... Aku... Aku udah nggak penting lagi buat kamu? Terus apa artinya... Artinya...”
“Ra, ngopo je kamu?”
“Shit, gue cemburu. Ngerti nggak?” Prangg!
“Astaghfirullah Ra... Ka-Kamu oke kan?” Riana gelagapan. Tuuuut... Tuuuuttt... Sambungan terputus. Mampus kuadrat... EH, ini Muara kenapa ya?
“Ah, telepon Ganesh aja...” kata Riana. Ia segera mencari kontak adik lelakinya tersebut dan menekan tombol hijau, menelepon sang adik.
“Mbak, ngopo? Aku ket tangi...”
“Nesh, Muara ada menghubungi kamu?” tanya Riana.
“Ada beberapa kali ke kost... Dia ngomong HP mbak gak bisa dihubungi. Emang kenapa mbak?” tanya Ganesh.
__ADS_1
“Kayaknya dia marah deh sama mbak,” ucap Riana pelan.
“Ya mbak sih, setiap ada masalah HP dimatiin, ngilang. Emang dikira aku nggak jengkel? Khawatir yo mbak kene ki!” omel Ganesh.
“I-Iya Nesh, iya, mbak salah...”
“la terus apaan tuh Nicolas Fernandes? Siapa dia?” tanya Ganesh menginterogasi.
“Panjang Nesh ceritanya, mbak masih gak ngerti harus mulai dari mana...”
“Ya dari intro, nanti interlude-nya kita pikirin...”
“Ish, Ganesha!” seru Riana jengkel.
“Ya mulai dari permulaan banget lah, jelasin sampai kita bener-bener ngerti semuanya. Aku aja yang adikmu gak tau siapa itu Nicolas Fernandes...” kata Ganesh.
“Iya-iya, fix ini mbak yang salah, karena masih ada hal yang mbak tutupin dari kalian...” kata Riana putus asa.
“kalau aku sih nggak peduli soal di masa lalu mbak mau sama siapa aja, sekalipun mbak mantannya genderuwo penghuni pohon rambutan yang ada di depan rumahnya si mbah pun aku gak peduli...”
“Ih, amit-amit, masak mbak mantannya genderuwo sih? Parah kamu...”
“Ya bodo, habis mbak ngeselin. Gini deh, intinya aku sebagai adik itu nggak akan peduli, mau di masa lalu mbak ada hubungan sama siapapun, toh itu kan privasinya mbak. La Mas Muara lho pasangan mbak, masio gak secara langsung dia cerita, tapi mbak kan udah tau mantannya dia tuh siapa, saling terbuka aja kenapa sih?” omel Ganesh.
“Iya Nesh iya... Ya udah, sekarang mbak harus gimana?” tanya Riana.
“Mbak pulang kapan?” tanya Ganesh.
“Ya selesaikan aja nanti disini... Sekarang, patenono sek, aku tak lanjut turu, ah mbak i lho...” rutuk Ganesh.
“Ck, yowes turuo kono, ah kowe, dicurhati kok malah ngunu i...” sungut Riana. Ia segera mematikan sambungan, menyimpan kembali ponselnya di atas nakas dekat tempat tidurnya.
***
“Kenapa sih Ri, dari tadi kok gelisah banget?” tanya Bu Dian seraya mengupas buah mangga yang akan digunakan sebagai campuran rujak yang hendak mereka buat. Hari ini pohon mangga dan pohon jambu depan kost lagi berbuah banyak. Dan berhubung seluruh penghuni kost srikandi ini adalah penggila pedas, maka diputuskanlah untuk membuat rujak dalam porsi besar sebagai suguhan perayaan pesta panen tahun ini.
“Nggak ada kok bu,” jawab Riana.
“Oh iya, jadi pulang ta kamu sore ini?” tanya Bu Dian lagi.
“Insya ALLAH jadi bu...”
“Waduh, ibu sama bapak baru kedatangan barang-barang baru di toko e nduk, jadi nggak bisa nganter kamu... Nggak papa ta?” tanya Bu Dian khawatir.
“Halah yo ra popo ta bu, Riri nanti naik taksi aja...”
“Lho, kok naik taksi? Mau kemana?” tanya Maura yang tiba-tiba lewat. Kali ini, ia sudah memakai stelan rapi, entah mau kemana.
“Ke bandara, Ra, kan sore ini gue pulang...” jawab Riana seraya tetap melanjutkan kegiatannya membuat rujak.
__ADS_1
“Eh, ntar sore gue kesini lagi kok sama cowok gue. Nggak mau kita anter aja?” tawar Maura. Riana menimbang-nimbang sebentar. Sebenernya nggak ada salahnya sih nerima ajakan dan niat baik Maura untuk mengantarnya ke bandara. Tapi kalau dia inget ceritanya Milia tadi pagi...
“Gue ngeri deh sama cowoknya Maura tuh, soalnya kayak kelihatan badboy banget gitu lho...”
“Badboy gimana?”
“Dia itu kalau ngeliatin cewek kayak gak nyantai gitu lho, kayak... Apa ya? Kayak kucing dikasih ikan, pokoknya gitu deh. Gue udah pernah beberapa kali mendapat tatapan kurangajar dari dia, makanya gue saranin jangan sampai elo terlibat apapun dengan Maura dan cowoknya. Masalahnya, gue tau elo, nanti kalau lo kelepasan ninju anaknya orang kan bisa bahaya...” jelas Milia.
“Bener juga,” gumam Riana.
“Apanya, Ri?” tanya Maura.
“Eh, enggak kok...” jawab Riana.
“Gimana, soal tawaran gue?” tanya Maura lagi.
“Nggg... Nggak usah deh Ra, lo kan pasti ada agenda juga sama cowok lo, gue nggak enak nanti kalau sampai ngeganggu...” jawab Riana.
“Beneran nih?” tanya Maura sekali lagi.
“Iya beneran, santai. Gue naik taksi aja nanti...” kata Riana.
“Yowes, gue duluan deh kalau gitu...”
“Nggak ngerujak dulu, Maura?” tanya Bu Dian.
“Hehe nanti aja bu, udah ditunggu soalnya. Pamit ya bu, permisi...” kata Maura. Bu dian dan Riana hanya mengangguk, lalu melanjutkan aktifitas mereka membuat rujak.
***
Sore hari, masih di Kost Srikandi. Riana sudah siap dengan segala buntelan dan barang-barang bawaannya. Dan begitu dia keluar pintu, dia langsung disambut sama Maura yang lagi santai-santai di sofa sama cowoknya.
“Jalan sekarang, Ri?”
“Ho oh, pesawatku jam delapan soalnya,” jawab Riana.
“Eh, kenalan dulu lah sama cowok gue, jauh-jauh lho dia datang ke sini...” kata Maura.
“Oh, iya, mana?” tanya Riana. Sejujurnya, dia penasaran juga, siapa cowoknya Maura sekarang, soalnya, dia nggak ada cerita apa-apa soal love life-nya.
“Yang, kenalin, ini sahabat aku. Dulunya dia se-kost sama aku, tapi dia pindah ke kota lain untuk kuliah...” Riana dan cowoknya Maura sama-sama menganggukkan kepala sebagai salam pembuka. Tapi begitu mereka saling berbalik dan hendak menjabat tangan, Riana secara refleks menarik tangannya. Begitupun cowoknya Maura.
“Ka-Kamu...”
“Ka-Kamu?”
(TBC).
Hayo siapa hayo ituuu? Jawaban ini akan kalian temukan di part... Mmm, pokoknya masih lama deh 😂
__ADS_1
Makanya ikutin terus aja novel ini ya, jangan lupa di-vote dooong, dikasih love juga, biar aku semangat buat nulis dan up part-nya ☺