
Hi, readers, masih ingat pembahasan kita soal cara kerja otak cewek dan perunutan detail-nya yang super rapi gak? Sebentar lagi, bakal ada contoh konkretnya nih, langsung dijalani sama dua cewek sekaligus, pula. Mau tau kayak gimana? Cuss kita simak cerita selanjutnya.
***
Kos-kosan Riana, sore hari. Alhamdulillah, mereka bisa kumpul lagi, nonton TV sambil ngobrol-ngobrol di ruang tengah berdua. Soalnya, setelah Hanum mengurus KRS (Kartu Rencana Studi), dan perkuliahannya dimulai lagi, Hanum jadi super sibuk. Kadang pulang ke kost aja pas sore dan atau menjelang maghrib. Sudah itupun, biasanya cewek bakpau itu akan mengurung diri di kamarnya untuk mengerjakan tugas. Nah alhamdulillah, sekarang ada beberapa matakuliah yang kosong, jadi Hanum tidak ke kampus hari ini.
“Han, mbak mau cerita...” kata Riana serius seraya mengganti-ganti saluran televisi.
“Sama, aku juga mau cerita. Jangan-jangan yang mau kita ceritain samaan lagi?” kata Hanum seraya mengambil toples keripik singkong di atas meja.
“Tentang Wisnu?” tanya Riana dan Hanum, kompak.
“Nah kan... Ya udah mbak duluan aja deh,” Hanum meringis.
“Mbak rasa ada sesuatu yang salah ni sama dia... Apa lagi, dia udah jarang banget kemana-mana sama Mayang kan akhir-akhir ini,” kata Riana memulai ceritanya.
“Iya sih, Mayang udah gak keliatan dari semenjak festival waktu itu... Masak iya urusan gak ada kelar-kelarnya...” Hanum membenarkan.
“Kurasa ada yang salah deh sama mereka...” Riana mulai menganalisa. Sementara itu, Hanum diam. Dia asyik menikmati toples, eh, keripik singkong yang ada di dalam sana.
“Oh iya, aku ingat!” seru Hanum tiba-tiba.
“Ingat apa?” tanya Riana.
“Ingat kamu... Eh bukan, maksudnya, inget soal... Bentar, aku ngambil HP dulu,” kata Hanum seraya tergesa bangkit dari sofa menuju kamarnya. Riana Cuma geleng-geleng kepala. Dasar, lagi serius begini juga, masih sempet aja dia becanda.
“Nih, look at this!” seru Riana sekembalinya ia dari kamar. Di tangannya ada ponsel yang di layarnya tengah menampakkan laman instagram. Itu instagram milik Mayang.
“Lihat langsung ke postingan terbarunya aja,” kata Hanum seraya melanjutkan aktifitas ngunyahnya.
“Talkback?”
“Udah tak matiin,” jawab Hanum. Riana melanjutkan aktifitas skroling-skroling instagram milik Mayang tadi. Dan matanya membulat begitu melihat 5 postingan teratas dari instagram itu adalah potret Mayang bersama seorang cowok yang bukan Wisnu.
“Sama siapa ini dia?” tanya Riana.
“Gak tau, emang keterangannya apa?” tanya Hanum.
“Gak ada, Cuma thanks for today, gitu. Yang di-tag sama dia kalau gak salah namanya... Arvin...”
“Wah... Indikasi gak beres ini sih...” kata Hanum. Jiwa detektifnya sudah mulai muncul. Tapi Riana sependapat. Mereka harus menemukan jawaban atas semua kejanggalan ini.
***
“Guys, aku mau cerita...” Wisnu memecah kesunyian. Kost Riana, malam hari. Setelah kekenyangan karena menghabiskan tiga box pizza, kelima orang itu duduk-duduk di ruang tengah, seraya mendengarkan siaran televisi dengan volume sayup-sayup. Sebenernya tayangannya juga gak begitu menarik, tapi gak papa, lumayan lah buat mengusir kekosongan hati *eh, mengusir kekosongan ruangan ini.
“Kenapa, Nu?” tanya Muara.
“Aku pen cerita tapi takut e, masalahnya ada dua cewek disini...” kata Wisnu terus terang.
“Cerita-o tah, tenang, kita gak gigit kok,” kata Hanum seraya membenarkan posisi duduknya.
“Emang ini ada kaitannya soal kaum cewek ta?” tanya Riana lebih lembut. Maapkeun ya, bestie, Hanum tu bar-bar soalnya.
“Aku cuma takut dikira nuduh...” kata Wisnu seraya menghela napas. Dia terdengar begitu putus asa.
__ADS_1
“Ya cerita dulu, kita gak tau lho kalau kamu gak cerita...” kata Riana. Semua mengangguk membenarkan.
“Oke langsung aja ya... Jadi... Kurasa, Mayang selingkuh...”
“As just I guest,” kata Hanum refleks.
“Maksudnya?” Wisnu kaget.
“Aku sama Mbak Riana udah menganalisa itu. Emang mungkin kayaknya ada indikasi ya... Tapi kita gak bisa mastiin kalau gak ada penyelidikan berkelanjutan,” kata Hanum tenang seraya menyeruput ice lemon tea-nya yang tinggal setengah.
“Kok kayak detektif yak?” Muara meringis. Kini ia mengerti sisi seremnya makhluk indah bernama cewek, apa lagi kalau udah memanfaatkan otak mereka yang ajaib.
“Jadi kalian udah menduga itu ya?” tanya Wisnu pelan.
“Iya... Tapi mudah-mudahan enggak ya, Nu,” kata Hanum serius.
“Iya pun enggak apa-apa kok mbak, kethok-e dek-e yo gak gelem serius karo aku...” kata Wisnu sedih.
“Aih, jangan pasrah begitu dong. Perjuangin kalau emang lu sayang... Gimana sih?” kata Ganesh berapi-api.
“Nesh, dikhianati itu nggak enak. Kenapa juga lagian kita harus memperjuangkan yang tidak mau diperjuangkan? Buang-buang waktu yang ada,” ucap Hanum pelan.
“Tapi ini kan masalahnya beda, mbak...”
“Nggak ada yang beda, Nesh. Siapapun bisa jadi toxic dalam sebuah hubungan. Nggak cowok, nggak cewek, semua punya potensi yang sama...” kata Hanum.
“Aku kira Mbak Hanum bakal menggugat aku, makanya gak berani cerita...” Wisnu meringis. Hanum menjewer pelan telinga sahabat pacarnya itu, lalu tersenyum.
“Semua orang itu bisa melakukan kesalahan apapun, Wisnu, pokoknya gak cewek, gak cowok, semua punya porsi dan kesempatan yang sama untuk itu. Jadi salah banget kalau sampai suatu ketika ada cewek yang bilang “semua cowok tuh sama aja”, gitu juga sebaliknya...” jelas Hanum.
“Ya udah, terus yo opo saiki?” tanya Ganesh.
“Kenapa Ra?” tanya Riana.
“Aku ada janji harus ketemu orang di Sakura Cafe... Mau ikut ta kalian? Siapa tau cerita disana malah lebih enak.” Kata Muara.
“Ya udah boleh, mumpung belom malem juga...” kata Hanum.
“Ya udah, aku pesen taksi online dulu,” kata Riana. Semua mengangguk. Akhirnya telah disepakati, bahwa mereka berlima akan keluar malam ini.
***
Sakura Cafe. Keempat orang remaja itu duduk menghadap sebuah meja panjang dan memesan vanila latte sebagai teman mengobrol mereka. Sejak setengah jam yang lalu, Muara meeting dengan sekelompok orang-orang yang mau mengajaknya manggung di sebuah event, sementara mereka berempat meneruskan perbincangan yang sudah dimulai sejak mereka masih di kost-nya Riana.
“Hhh, gue harus gimana guys?” Wisnu mengacak rambutnya, frustasi. Vanila latte-nya tidak disentuh sama sekali. Mungkin kini pikirannya tengah gelap, segelap warna minuman itu.
“Kamu terakhir komunikasi kapan sama dia?” tanya Hanum.
“Dua hari lalu mbak. Tapi kayak gak efektif gitu. Setiap aku tanya kamu kenapa sih? Ada masalah apa? Aku salah apa? Dianya diem...”
“Kalau begitu... Itu sih indikasinya udah jel... Eh, wait!” seru Riana tiba-tiba. Tatapannya mengarah ke depan pintu cafe, dan ya, disitu ia melihat sosok itu ; Mayang, sedang bersama, seorang cowok.
“Kenapa Mbak Ri?” tanya Hanum.
“Sssstt, diem,” bisik Riana. Riana mengintip lagi, mengikuti kemana kedua sejoli itu berjalan. Disana... Baris ke-2, meja nomor 5, deket jendela. Riana berusaha mengingat dengan baik setiap detail itu. Tapi dia tidak mau memberitahukannya dulu kepada Wisnu. Karena siapa tau, yang dia lihat tadi salah kan?
__ADS_1
“Lho Guys, wes mari aku...” kata Muara seraya menghampiri meja mereka. Riana memberikan kode dengan matanya, tapi Muara malah bingung.
“Kenapa sayang? Kelilipan?” tanyanya. Riana tidak menjawab. Ia terus mengedip-ngedipkan matanya.
“Sayang, kenapa?” Muara heran. Riana masih tidak menjawab. Bingung dengan apa yang terjadi kepada Riana, Muara memutuskan untuk melihat-lihat ke sekeliling cafe, dan hal yang tidak diinginkan oleh Riana pun terjadi.
“Lho, Mayang? Sama siapa?” Wisnu menoleh ke arah tatapan Muara, dan sesuatu terasa memedihkan matanya, sehingga ia berpaling. Sementara itu, Riana menatapnya dengan tatapan horror.
“Kenapa”
“Kamu mah... Gimana nih?” Riana panik.
“Sebenernya ada apa sih?” Muara nggak ngerti. Akhirnya, Riana menceritakan semuanya. Tentang apa yang dilihatnya tadi. Tapi sebetulnya ia masih sangsi, apakah itu Mayang atau bukan. Dan sekarang, aksi pengintaian Riana kacau sudah gara-gara ketidak tahuan Muara.
“Itu Mayang, mbak...” ucap Wisnu pelan.
“Belum tentu dek, siapa tau cuma mirip...” kata Riana.
“Enggak, itu beneran...” kata Wisnu lagi.
“Kamu tau dari mana?” Riana heran.
“Gelang yang dia pakai...” kata Wisnu seraya menunjuk tangan gadis itu yang kini berada di atas meja. Sepertinya dia belum menyadari kalau perbuatannya sudah diketahui oleh para sahabat dan pacarnya. Riana akhirnya mengikuti arah tatapan Wisnu tadi, dan melihat juga ke tangan gadis itu. Lalu kemudian, tatapannya beralih kepada Wisnu yang sudah mencopot gelangnya, dan iapun meletakkan gelang tersebut di atas meja.
“Kalian pake gelang couple?” tanya Riana polos. Wisnu mengangguk. Tiba-tiba, ia memegangi kepalanya, membuat Riana dan Muara jadi panik.
“Nu... Kamu kenapa?” tanya Muara khawatir.
“Vertigo...” jawab Ganesh.
“Maksudnya?” Riana nggak ngerti.
“Dia punya vertigo, dan sekarang kambuh itu penyakitnya...” jelas Ganesh.
“Waduh... Gimana nih terusan?” tanya Riana.
“Ya pulang mbak, sebelum nanti...” belum rampung ucapan Ganesh, tiba-tiba Wisnu terjatuh dari kursinya, dan tidak sadarkan diri.
“Kan, apa kataku juga... Nu... Wisnu...” Ganesh mulai panik. Muara buru-buru mengangkat cowok itu, sementara Riana memesan taksi online untuk mereka semua. Dan hingga mereka tiba pada detik yang benar-benar menegangkan itupun, Mayang masih tidak melihat ke arah mereka. Entah dia benar-benar tidak tahu, atau hanya berpura-pura saja.
***
“Tuuu kan, mbak, bener kan dugaan kita...” kata Hanum, sesampai mereka kembali di kost. Ganesh dan Wisnu dipulangkan ke kost mereka, tapi masih dalam pengawasan Muara.
“Iya... Tapi mbak nggak nyangka bakal secepat ini terbongkarnya...” Riana merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tengah yang bisa diubah jadi tempat tidur,.
“Sudah takdirnya sih mbak kalau itu... Cuma, efeknya jadi fatal ke Wisnu i lho, hadeeeh...” Hanum ikut merebahkan dirinya di sebelah Riana.
“Ya udah lah, gak usah dipikir dulu. Istirahat aja mending. Udah jam sebelas nih...” kata Riana seraya melirik ke arah jam dinding yang tertempel manis di sebelah kalender.
“Tidur sini a?” tanya Hanum.
“Terserah kamu, mau disini bareng-bareng atau di kamar?” tanya Riana.
“Disini aja wes... Ngantuk aku wesan...” kata Hanum seraya mengambil posisi ternyaman untuk memejamkan mata.
__ADS_1
“Sebentar. Kalau gitu, mbak ambil selimut dulu...” kata Riana seraya terbang menuju kamarnya. Kemudian, ia kembali lagi seraya membawa dua buah selimut untuk mereka. Riana tersenyum begitu melihat Hanum telah lebih dulu memejamkan matanya, dengan posisi meringkuk. Ia semakin menyadari bahwa dibalik sifat dewasanya, Hanum ternyata masih benar-benar butuh dijaga. Ya sudah, deh. Selamat tidur ya kalian berdua...
(TBC).