
Kawasan kantor D FM, malam hari. Lima orang pemuda turun dari dalam mobil dengan perasaan cemas sekaligus penasaran yang luar biasa. Hari ini sudah ditetapkan sebagai “hari investigasi”, dimana mereka semua akan datang kesini dan mengungkap ada cerita apa di balik megah dan gemerlapnya gedung D FM ini.
“Semua siap?” tanya Yura, yang bertugas sebagai kompor gas, eh, komandan dalam kegiatan kali ini.
“Bentar, nungguin Hanum dulu, katanya dia mau nyusul?” kata Riana.
“Ndek ndi sih arek iku?” tanya Muara,
“Tadi katanya ada acara sama Dian barang og...”
“Opo, aku wes teko ki!” seru sebuah suara yang tiba-tiba sudah ada di belakang mereka.
“Anjir lo, Han, ra sah nge-get-get-i, yo!” sungut Muara.
“Lho, aku gak niat ngageti lho mas,” jawab Hanum santai. Sekadar informasi, bestie, Muara itu penakut orangnya. Jadi harap maklum yak, ini aja untuk investigasi horror ini dia ditarik paksa sama Riana, baru mau.
“Lagian kamu penakut sih, Ra!” protes Riana.
“Lho, masak sih Mas Ra penakut? Kan yang nolong aku pingsan pas gedungnya kosong itu Mas Ra perasaan?” kata Hanum setengah tak percaya.
“Iku wes ketutup panik Dek Han, ora mikir wedhi aku,” jawab Muara.
“Oh, jadi aslinya penakut tho... Mas, awas nang mburimu!”
“Huaaaa!” Muara segera mengambil langkah seribu, dan segera saja jidatnya yang selebar samudra itu menghantam pagar besi yang mengarah ke bagian dalam kantor D FM.
“Mas, sampean iku ndak bisa nembus pintu, mbok sing ati-ati talah!” kata Hanum seraya tergelak.
“Ini kan gara-gara elu, anjir!” sungut Muara.
“Yowes-yowes, ayo cepetan, selak bengi ki lho!” omel Riana. Semua mengangguk.
***
Mereka memasuki gedung perkantoran D FM yang gelap dan sunyi. Disitu Cuma ada Alif dan Sammy yang memang bertugas sebagai operator program malam. Oh ya, ini mereka orang beneran ya, bukan jelmaan seperti di episode sebelumnya.
“Malam, Ko Sam!”
“Malam Han, kok tau aja ada aku...” jawab Sammy riang seraya turun dari meja operatornya.
“Wangi parfummu kan beda sendiri, ya cepet aku ngenalinnya,” jawab Hanum seraya tertawa.
“Sam, hari ini nggak ada jadwal kan, elo sama Alif?” tanya Yura.
“Nggak ada, mbak. Kenapa?” tanya Sammy.
“Temenin kita investigasi ya...” kata Yura.
“Mbak yakin pengen tau kebenaran itu sekarang?” tanya Alif tiba-tiba.
“Eh, bentar...” kata Yura.
“Apa mbak?” tanya Alif.
“Lo juga bisa lihat itu, ya?” Yura membuat tanda kutip dengan jarinya, dan Alif mengangguk sebagai pengganti jawaban.
__ADS_1
“Sudah kuduga... Jadi gimana?” tanya Yura.
“Ya ayo aja, gas!” seru Alif. Semuanya mengangguk.
***
Mereka kembali menelusuri ruang demi ruang di gedung D FM yang sangat besar ini. Dan mereka semua – termasuk Yura, terkejut, karena banyak ruangan-ruangan kosong yang sama sekali tidak terpakai disana, dan begitu dibuka, semuanya berbau lembab, pengap dan gelap.
“Ini kayaknya bekas ruang produksi gak sih?” tanya Yura pelan.
“Kalau dilihat-lihat dari barang-barang yang ada di ruangannya, kayaknya sih iya...” jawab Sammy.
“Ssssttt, jangan terlalu ribut ya,” bisik Alif.
“Kenapa, Lif?” tanya Riana.
“Poikoknya jangan dipancing sekarang, belum saatnya. Yang jelas, dia tau kita ada disini dan lagi penasaran...” jelas Alif. Ke delapan orang di sekitarnya mengangguk.
“Aduuuh kalau bukan demi Hanum, sebenernya gue malas nih kesini, gue kan gak ada sangkut-pautnya sama semua ini...” keluh Dian.
“Sorry ya Yan, soalnya kita baru kelar latihan aja tadi sih...” kata Hanum tak enak.
“Santai, Han, lu mah kebiasaan, nggak enakan mulu...” kata Dian.
“Yowes lanjut ayo, ini mau nyalain senter gak sih? Kok gelap ya?” kata Muara.
“Yo ndang dinyalain talah, peteng yo!” protes Riana. Muara mengangguk, dan bergegas mengambil senter yang ada di tasnya. Kebetulan gedung ini memang sudah separuh kosong, karena sedang akan direlokasi ke gedung yang baru.
“Eh, apaan nih?” tanya Riana, yang kakinya terantuk sesuatu.
“Coba aja diangkat,” usul Wisnu. Semua mengangguk. Maka dengan perlahan dan hati-hati, Riana mengangkat koper besar, usang dan berat tersebut
; membawanya ke tempat yang sedikit lebih diterangi cahaya. Tapi begitu Yura menyentuh koper yang ada di bopongan Riana, tiba-tiba, keanehanpun terjadi. Yura langsung terduduk di bawah, sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya. Kontan semua anak-anak jadi heran, bingung, dan ketakutan.
“Mbak Yu... Mbak, lu kenapa mbak?” panggil Riana pelan.
“Mbak Yu... Mbak...” Muara ikut-ikutan. Dalam sekejap, admosfer ruangan berubah menjadi penuh kepanikan.
“Jangan dipanggil lagi, ini bukan Bu Yura!” seru Alif seraya merangsek maju ke depan, memegang pundak Yura – yang tubuhnya sedang dikendalikan oleh makhluk lain.
“Akhirnya... Kalian datang juga...” suara Yura terdengar lebih mirip sebuah bisikan. Tapi jelas, itu bukanlah Yura yang sesungguhnya. Gerak-geriknya juga beda.
“Siapa ini?” tanya Alif yang berusaha tetap tenang. Di satu sisi dia benar-benar penasaran dengan sosok yang satu ini, sekaligus bertanya-tanya ; apakah dia (yang meminjam tubuh Yura saat ini), adalah penghuni gedung ini, yang akan menjadi petunjuk sekaligus kunci terkuaknya misteri paling besar dari tempat ini? Atau justru, dia adalah hanya makhluk iseng yang sekadar ingin mengganggu ketenangan mereka.
“Aku Jenny, aku akan menunjukkan sesuatu pada kalian...” kata sosok itu lagi.
“Tapi bisakah jangan meminjam tubuh orang ini? Aku yakin dia takkan sanggup berjalan kalau kamu masih ada di sini...” kata Alif.
“Oke aku akan keluar, tapi lalu bagaimana cara aku menjelaskan semuanya kepada kalian?” tanya sosok bernama Jenny itu lagi.
“Minta POV sama author-nya, tuh, kasihan kan kalau kamu masuk-masuk ke badan orang begitu, nanti kalau penceritaannya gak maksimal gimana?” usul Muara. Duh buset dah, ni anak belom pernah digetok pake sepatu tentara ya? Asal njeplak aja kalau ngomong. Untung cast utama, nih. Yowes Jen, keluar aja dari badannya Riana. Aku akan coba menggunakan sudut pandang kamu untuk menguak semua ini.
***
Tiga puluh tahun yang lalu...
__ADS_1
Pov Jenny
“Hari ini stock lagu baru udah datang tuh, buruan disusun sana!” suara Mbak Lidia – pemimpin produksi saat itu mengejutkanku yang baru saja meletakkan ransel di atas sofa. Malam hari ini, entah kenapa, yang bertugas di dalam studio adalah perempuan semua, tidak ada satupun laki-laki yang menemani kami bertugas.
“Mbak Lid, kok ini cewek thok sih yang ada disini? Cowoknya kemana?” tanyaku seraya menata kaset-kaset berisi rekaman lagu baru itu ke tempatnya.
“Nggak ada, kan emang lagi gilirannya kkita. Udah deh, mending cepetan diberesin, udah malem ini!” ketus Mbak Lidia. Aku mengangguk, patuh menuruti perintahnya. Tapi tetap saja, feeling-ku mengatakan ada yang akan terjadi setelah ini.
***
Aku terbatuk-batuk, tak siap menghadapi kepulan asap yang datang begitu tiba-tiba. Tuhan, apa yang sebenarnya telah terjadi?
“Hey, buka pintu! Kebakaraaan! Kebakaraaaan!” jeritku panik. Tapi tidak ada yang menggubris, malahan kobaran api semakin besar, dan aku gagal terefakuasi. Akses pintu dan jendela, semuanya gagal kubuka. Tuhan, inikah takdirku, apakah aku harus mati di sini? Tapi apa salahku tuhan?
“We’re done, guys. Tugas kita ngebunuh penyiar tengik itu selesai sudah. Yang penting, gue, Lidia Lestari, tidak akan kehilangan pamor gara-gara kehadiran Jenny Augustine, penyiar remaja tengik yang mau coba-coba merebut posisi gue sebagai senior...” kata seorang gadis ber kuku tangan merah menyala, seraya melemparkan jerigen bensin yang isinya sudah kosong.
“Sukses sih sukses, Lid, tapi lihat nih, malah jadi kebakaran satu gedung,” komentar salah seorang cowok seraya tetap membiarkan gedung itu terbakar dan musnah tanpa melakukan apa-apa.
“Ck, Cuma kebakaran gedung ini. Media nggak akan tahu, kan bisa dianggap kecelakaan, korsleting arus listrik, dan lain-lain. Buat alibi semacam itu aja, lalu kelar perkara...” gadis itu – Lidia. Tidak! Tuhan, rasanya aku ingin tutup mata saja atas kejadian ini. Tapi tanpa dimintapun, aku yakin, kematian ini akan segera menjemputku juga. Meninggalkan api abadi di tempat ini, api yang selamanya tak akan mati kecuali ada yang berhasil melakukan sesuatu yang baik untukku, yang terpaksa meregang nyawa di atas ketidak adilan.
***
Kembali ke masa kini.
Yura terduduk di atas lantai dalam keadaan megap-megap, seperti seekor ikan yang terpaksa dikeluarkan dari air.
“Minum dulu, mbak,” kata Hanum seraya menyerahkan segelas air kepada Yura.
“Gue nggak sengaja masuk ke dimensinya Jenny pada hari itu. Dan dibakar hidup-hidup, itu kayak suatu hal paling tidak manusiawi yang gue tau, dan gue trauma banget ngeliat itu...” kata Yura seraya menangis. Tanpa diduga semuanya, di tengah-tengah mereka, tiba-tiba, muncul seorang gadis dengan wajah dan pakaian hangus, melayang di tengah-tengah mereka.
“Maafkan aku, karena aku mengganggu kalian. Tapi ada sesuatu yang harus aku selesaikan disini...”
“Apa yang kau punya selain dendam, Jenny?” tanya Yura seraya menghembuskan napas lelah.
“Setelah kejadian ini, belum ada yang mendo’akanku, kecuali keluargaku. Semua orang tutup mata atas semua kejadian ini, kejadian yang melibatkan aku, seorang remaja biasa yang awalnya hanya ingin mencari pengalaman, pengin tahu dunia kerja, malah terjebak di antara intrik-intrik yang tidak kuketahui sama sekali...” ucap gadis hangus itu sedih.
“Aku turut bersedih atas yang terjadi dan menimpa hidupmu, Jenny. Tapi kenapa kamu menggangguku waktu aku sedang bekerja?” meski awalnya takut, tapi Hanum memberanikan diri bertanya. Karena menurut feeling-nya, gadis yang mengganggunya dan membuatnya jatuh dari tangga adalah Jenny ini.
“Itu bukan aku, itu mungkin Lidia. Asal kalian tau saja, sebulan setelah tragedi pembunuhan berrencana itu (yang diberitakan sebagai sebuah musibah kebakaran), radio ini kembali beroperasi, dan Mbak Lidia adalah salah satu penyiar utama pada saat itu. Tapi dia bunuh diri seminggu kemudian, mungkin tak tahan dengan gangguan yang kutimbulkan, atau sudah terlalu gila akibat rasa bersalahnya...” jelas Jenny. Semua mengangguk-angguk, paham. Berarti, kasihan juga Jenny, karena selama ini dijadikan kambing hitam atas ulah orang lain. Dan lebih parahnya, sebenarnya posisi dia disini adalah korban kan?
“Aku harap setelah ini, kamu bisa tenang ya, Jenny,” ucap Hanum pelan, dan diiyakan oleh yang lain.
“Terus nasib Lidia gimana ini? Berarti dia kan pengganggunya? Bukan Jenny?” tanya Riana spontan.
“Sudah tak musnahkan mbak. Orang jahat gitu, ketika meninggal, biasanya bisa jadi sangat gampang membagi jiwanya dengan yang jahat-jahat lainnya, seperti iblis, misalnya. Jadi, ya gitu... Lagian, kata Jenny tadi, dia minta gedung ini dialih fungsikan aja jadi tempat ibadah, toh radio kita kan mau pindah juga...” kata Alif.
“Terus yoopo? Siapa yang mau membiayai perubahan bentuk tempat ini? Kita mau pakai alasan apa untuk pengajuan dana?” tanya Riana.
“Itu sudah gue pikirkan kok, Ri, dan yang lain. Yang penting, kita pindah dulu, dan urusan gedung ini, perusahaan Mas Jeremy yang akan ambil alih, biar ini jadi urusan mereka...” jawab Yura. Semua mengangguk setuju, seolah tak ada hal lain yang lebih baik lagi yang bisa diputuskan selain itu. Setelah dirasa masalah ini menemukan titik terangnya, Alif memimpin mereka semua untuk mendo’akan Jenny supaya tenang di alam sana. Have a nice sleep, Jenny. Dunia ini memang terlalu tidak adil untukmu. Tapi satu yang pasti, akhirnya semua misteri dan kengerian ini terungkap sudah.
(TBC).
Hi... Ini part terakhir horror ya, besok udah nggak lagi, horeeee 😂
Selamat membaca dan selamat ketakutan, semuanya...
__ADS_1