
Kediaman Keluarga Pradana dihebohkan oleh jeritan seorang perempuan pada pagi buta ini. Ia menyadari bahwa salah satu tas koper yang ia simpan di kamar gudang bawah itu hilang. Gadis itu – Lisa namanya, memarahi seluruh ART dan pekerja di rumah itu, yang dinilainya sangat tidak becus bekerja.
“Pokoknya, itu koper harus ketemu gimanapun caranya!” seru gadis itu. Para pekerja rumah itu Cuma menunduk lemah. Mereka sudah tidak punya daya dan kuasa apa-apa lagi kalau majikan muda itu sudah main perintah.
***
“Mbok, yoopo, Non Lisa marah besar iki ngko...” keluh Wati – salah satu pekerja di rumah tersebut. Di sampingnya, duduk berturut-turut ada Mas Parjo (sopir pribadi), Marjuki (Pakbon alias bapak tukang kebon), dan... Mbok Pinem. Mbok Pinem adalah ART paling senior di rumah ini, dan dia tau segala cerita yang terjadi dari zaman para penghuninya masih pada kecil hingga sekarang.
“Wes talah, percoyo aku. Non Lisa nggak butuh-butuh banget sama koper itu, dia butuh isinya aja,” ucap Mbok Pinem tenang seraya menyeruput tehnya.
“Eh, emang isi dari koper itu apa tho?” tanya Wati – si paling kepo, penasaran.
“Wes, onok pokoke. Ngko tak ceritani, tapi ojok neng kene...” ucap Mbok Pinem. Marjuki dan Mas Parjo akhirnya merapatkan diri ke arah Mbok Pinem, tampaknya mereka juga penasaran.
“Heh yoopo seh aku dikerubuti ngene. Kerjo-o sek, ngko maneh lek arep nggibah!” ucap Mbok Pinem tegas. Meskipun masih berat – terganjal rasa penasaran, tapi ketiga pekerja junior itu mengangguk juga. Kondisi rumah sedang tidak baik-baik saja sekarang, kalau mereka menambah masalah dengan membuat ulah, habislah sudah.
***
Sementara itu, di Surabaya. Riana sedang bersenandunhg kecil seraya merapikan kamarnya. Gadis itu memang begitu. Dia suka sekali menata ulang kamarnya, paling enggak seminggu sekali – itupun kalau magernya lagi gak kumat. Nah sekarang kebetulan dia lagi ada di fase “waras” alias sembuh, alias lagi rajin, hehehe. Ditambah lagi suasana hatinya lagi bahagia banget karena kemarin dapet job manggung dengan honor yang lumayan gede. Maka langsung sajalah Riana – yang ternyata tetep kayak cewek kebanyakan (meskipun emang dua-tiga kali lebih bar-bar sih), langsung checkout beberapa barang yang sudah terpajang lama di troli aplikasi belanja online-nya. Dan syukurnya lagi, barang-barang itu masih dalam keadaan ready stock semua, maka jadilah kebahagiaan yang berlipat ganda (enggak pake putra, putri, apa lagi campuran), sedang menguasai hati dan pikiran gadis itu.
“Cieee mbak cantikku lagi happy banget kayaknya yak, nyanyi-nyanyi terus nih dari tadi,” goda Hanum seraya melambai-lambaikan bungkusan yang ada di tangannya.
“Ya dong, jaga mood sebelum back to Monday, haha. BTW, apaan itu yang kamu bawa?” tanya Riana penasaran.
“Ini pecel mbak, tadi aku jalan-jalan bentar ke depan. Mau a?” tawar Hanum.
“Lho, kon tuku piro?” tanya Riana seraya berjalan mendekat ke arah Hanum.
“Dua lah, aku inget mbak ini. Yuk makan,” ajak Hanum riang.
Riana mengiyakan. Ia segera meninggalkan kamarnya yang sudah setengah rapi ; menyusul Hanum menuju meja makan.
“Wah, pecelnya kok tetep kayak pecel ya, bentuk dan rasanya?” ucap Riana sekenanya saat mereka sedang asyik makan.
“Waduh, emang mbak pengen pecelnya jadi model apa?” Hanum ketawa.
“Ya nggak papa, iseng aja. Barangkali udah ada pecel kekinian, misalnya dibentuk seperti sushi atau malahan burger atau sandwich gitu...” kata Riana.
“Alah, mbak ini lho ada-ada aja...” Hanum tertawa. Saat mereka lagi asyik-asyiknya makan, tiba-tiba handphone Riana berbunyi. Untungnya sih Cuma notif dari WA, jadi ia bisa melihatnya sambil lalu. Tapi isi pesan di dalamnya sedikit menarik perhatian gadis itu.
[Jangan main-main denganku] Sebuah kalimat singkat dari nomor asing, dengan foto profil seorang perempuan. Riana menelanjangi foto profil si perempuan itu dengan matanya, dan dia yakin seratus – tidak, seribu persen, tentang siapa perempuan dibalik pesan WhatsApp yang penuh ancaman itu.
***
[Mbak, lagi senggang nggak?] sebuah pesan singkat dari Ganesh di tengah-tengah kesibukan Riana yang sedang membuat proposal pengajuan dana untuk acara pagelaran angkatannya.
[Ini masih ngerancang proposal dek, la ngopo tho? Bukannya kamu sama Mas Ra Sie acara ya?] Ganesha is typing.
__ADS_1
[Iya, aku sama Mas Ra udah beres semua. Aku mau ketemu mbak tapi nggak di kostmu, ada hal internal yang harus kita bahas. Emang mbak gak dapet pesan ancaman dari Mbak Lisa ta?] Jreng! Benar sudah tentang apa yang diyakininya, ternyata itu adalah Lisa, kakaknya.
[Iya sih, katanya jangan main-main denganku gitu, la terus piye dek?] Riana membalas lagi. Kembali tulisan “Ganesha is typing” terpampang di layar.
[Aku terus malah ditelpon Mbok pinem lho mbak, ditanyain soal koper...] Riana terhenyak. Rupanya ini penyebab kakak perempuannya itu mau bersusah-susah menghubungi dirinya dan sang adik? Jadi tentang keberadaan koper misterius yang lenyap – juga secara misterius itu sudah disadari?
[Kamu nggak bilang sama Mbok Pinem kan kalau kita yang ambil koper itu dan membawanya?] tanya Riana lagi.
[Tanpa aku bilang pun, si mbok udah tau. Soalnya pas kita masih disana, dia ada rasan-rasan sama pekerja yang lain. Katanya habis diseneni Mbak Lisa kui. La si mbok itu bilang “La wong keturunan aslinya aja gak segininya kok”, berarti kan dia udah tau kan?] Riana mengerutkan keningnya. Ternyata rahasia besar ini tidak hanya dipegang oleh dirinya dan juga Ganesh. Sekarang, tindakan selanjutnya adalah dia harus mewanti-wanti para pekerja di rumahnya (yang kebetulan pro dengannya), untuk tetap membiarkan rahasia itu tetap tertutup rapat sampai waktu yang tepat ; atau lebih tepatnya : dia yang menentukan waktu itu sendiri.
[Njalok nomor-e si mbok, dek] kata Riana. Ia melihat notif, ternyata Ganesh sudah tidak online lagi. Baiklah, biar dia tunggu saja.
***
“Mbak, ada kiriman paket,” kata Hanum, sesaat setelah Riana membuka pintu dan keluar dari kamar.
“Paket? Aku baru checkout belanjaanku hari ini lho. Kok udah ada paket yang datang ya?”
“Ini gak ada nama pengirimnya mbak, tadi dicek sama ibu kost.” Kata Hanum.
“La, paket apaan ini terusan?” Riana heran.
“Mbuh, aku Cuma disuruh ngasih tau kok. Ya udah ya mbak, aku pergi dulu...” pamit Hanum seraya menjabat tangan Riana.
“Mau kemana?”
“Eh, lah, iya ya. Ganesh gimana itu?” Riana kaget. Dia baru inget kalau siang ini adalah sesi latihan bersama.
“Udah di lokasi sama Wisnu sama Mas Ra. La piye tho jane mbak?”
“Aku keasyikan ngerancang proposal i lho, Tuhan, hadeeeh... Bareng a?” tanya Riana.
“Nggak usah mbak, Dian udah di depan kok. Aku duluan ya,” pamit Hanum. Riana mengangguk. Tapi Hanum tetap bergeming, mungkin karena merasa belum dapat jawaban. Dan detik berikutnya, Riana baru sadar terus ketawa.
“Astaghfirullah kok dodol banget yo aku... Lapo aku ngangguk-ngangguk tadi? Sorry Han...”
“Owalah, mbak, mbak, pantes, kok mbak gak jawab-jawab, makanya aku diem...” Hanum ikut ketawa.
“Iyaa itulah, tadi aku ngangguk-ngangguk aja i, sorry ya Han...” kata Riana sungguh-sungguh.
“Iya nggak papa, mbak. Ya udah aku berangkat dulu...” pamit Hanum sekali lagi. Kali ini, Riana melakukan hal yang benar dengan menjawab “ya”, tidak mengangguk-angguk lagi. Hanum Cuma tertawa dan buru-buru keluar, karena Dian sudah spam chat dari tadi.
***
Riana terkaget-kaget melihat isi paketnya yang berisi tumpukan sampah dan sebuah surat berisi kata-kata singkat : “Kembalikan koper itu, jal*ng”
“Astagaaa, sampai segininya ni orang...” Riana geleng-geleng kepala.
__ADS_1
“Aku dapet juga mbak, dengan isi kalimat yang sama, barusan dibacakan Wisnu...” ucap Ganesh.
“Orang kalau udah takut kehilangan bisa sampai segininya ya, sampai ikut kehilangan akal juga...” Riana mendesah.
“Segitu pengennya dia nguasain harta papa? Semiskin apa sih dia ini?” ketus Ganesh.
“Sssstt, gak usah terburu emosi Nesh. Biar kita dulu yang mempermainkan dia...” kata Riana misterius.
“Maksudmu piye, mbak?”
“Ya kalau dia neror kita, kita bisa teror dia balik lho. Malahan senjata kita lebih kuat...” ucap Riana.
“Rencanamu mesti diluar nalar ini. Wes aku tak nonton wae...” kata Ganesh.
“Lhooo jangan, be my partner, okay, dan kita akan bisa menendang gadis ular itu dari rumah. Dan oh iya, apa kamu nggak curiga soal keberadaan Tante Sarah?” Riana penasaran.
“Aku nggak punya ide lain sih selain soal dia itu istrinya papa sekarang,” jawab Ganesh.
“Kalau otak dan jiwa detektif mbak sih sudah mendeteksi adanya benang merah lho tentang ini semua. Lagian ya, ini orang udah terlalu enak, di atas terus, nindas kita terus, dia sekarang mulai kalangkabut dan kepanasan karena rahasianya yang paling besar justru kita pegang...” kata Riana puas. Bahkan seulas senyum kemenangan seperti otomatis tercetak di bibirnya.
“Menurutmu, kapan waktu yang tepat untuk membongkar ini semua?” tanya Ganesh serius.
“Empat bulan lagi itu ulang tahunnya si lampir itu kan, dan juga... Oh iya, aku denger dari papa dia mau nikah?” tanya Riana.
“Katanya nikah sama mantanmu...”
“Anjir mantanku yang mana lagi?” Riana heran.
“Mas Sakha itu apa bukan mantanmu ta?” ledek Ganesh.
“Heh, hus, Sakha itu Cuma temen ya, ngaco... Lagian dia kan emang seumuran sama Lisa. Tapi, apa iya cowok secerdas Sakha gak ngerti kalau Lisa itu...”
“Wes talah mbak, kalau patah hati ya patah hati aja, gak usah sok ngalihin gitu...”
“Siapa patah hati?” tanya Muara.
“Nah, saatnya aku lari...” kata Ganesh jahil.
“Heh, asem, tanggung jawab kon!” seru Riana.
“Moh!” katanya seraya berlari keluar seraya terkikik-kikik, memicu rasa penasaran dari Hanum yang dari tadi asyik aja skrol instagram.
“Ngopo je Nesh?” tanyanya.
“Ora, bar ngusili mbakku, ben dia ngebujuki Mas Ra...”
“Arek kucluk ki. Yowes kene, mau ngemil ta? Aku punya keripik kentang lho,” tawar Hanum. Ganesh mengiyakan. Terus bagaimana itu nasib Riana? Yah, biasa, kerja keras lagi ngebujukin Muara yang ngambek. Hihihi, selamat berjuang, anak muda.
__ADS_1
(TBC).