
Ini cerita tentang obrolan santuy keenam sahabat yang lagi ngopi-ngopi jelek di sebuah cafe yang dekat dengan kos-kosan. Riana sama Hanum masih satu kost, tapi mereka jarang ketemu karena kesibukan masing-masing ; Riana dengan skripsinya, sementara Hanum dengan pekerjaannya di sebuah sekolah. Kebetulan hari ini mereka semua sedang ada waktu free, jadi bisa deh ketemuan.
“Ya ALLAH, kangen kalian...” ucap Hanum seraya matanya berkaca-kaca. Dirangkulnya satu-persatu sahabatnya.
“Gimana Han, rasanya jadi guru musik? Seneng?” tanya Dian.
“Seneng bangeeet... Lu kenapa sih Yan pake pulang dan ngajar di Solo segala? Wisnu kesepian tau gak ada lo...” kata Hanum.
“Heh, si mbak...” kata Wisnu malu-malu.
“Nanti gue juga bakal ngikut Wisnu tinggal disini kok, paling nggak dalam waktu dekat lah...” jawab Dian.
“Hah? Wait! Kok bisa gitu? Jadi gimana maksudnya?” Riana cepat memotong. Tapi baik Dian maupun Wisnu, keduanya sama-sama cuma tersenyum penuh misteri, sehingga memancing rasa penasaran teman-temannya.
“Yan, Nu, ada apa sih sebenernya?” tanya Riana lagi.
“Ada, deh!” jawab keduanya kompak.
“Heh, kalian berdua jangan bikin temen-temennya pada jadi arwah penasaran gini dong...” omel Muara. Keduanya hanya tertawa, dan mereka mengeluarkan sebuah undangan berwarna gold dari dalam tas. Riana melihat undangan itu dengan saksama ; dan dia memekik, nyaris berteriak.
“Aaaaaa, seriiiuuuuusss?” mendengar teriakan setinggi hampir tiga setengah oktaf itu, sontak saja Muara yang lagi serius mantengin HP jadi kaget sendiri dan bertanya.
“Apa tho yang?” Riana tidak menjawab, tapi langsung menunjukkan kartu undangan itu.
“Anjrit, kok lo mendahului sih? Wah gak sopan!” seru Muara seraya memukulkan undangan hard cover ke kepala Wisnu. Sekarang tinggal Ganesh dan hanum yang planga-plongo.
“Kalian pada ngeributin apa, sih?” tanya Hanum akhirnya.
“Oh iya, sorry, Han, ini lho, Wisnu sama Dian mau nikah...”
“Uhuk-uhuk!” Ganesh auto tersedak mendengar berita yang disampaikan oleh Muara. Hanum auto menepuk-nepuk punggungnya, dengan martil *ya nggak lah wkwk.
“Kok bisa?” aduh, ini respond macam apa lagi? Orang udah mau nikah, bukannya dikasih selamat malah ditanyain.
“Ya bisa lah mbak, kan pacarannya udah lebih dari empat tahun...” jawab Wisnu.
“Iya juga sih, tapi nanti habis nikah kalian mau ngapain?” tanya Hanum lagi. Duh nih anak, asli minta dikutuk jadi sayuran kalau udah gini. Polos banget.
“Nah kalau udah gitu, kita nggak bisa jawab mbak,” kata Wisnu lemah. Riana dan Muara cuma ngakak.
__ADS_1
“Kapan kalian nikahnya, Yan?” tanya Riana akhirnya.
“Dua minggu lagi mbak. Yang nanganin pernikahan kita itu temennya Mas Jeremy, kita nikah di Sakura Hotel yang ada di Solo...” jawab Dian.
“Ya allah, alhamdulillah. Selamat ya, Yan, semoga lancar nanti pernikahannya...” ucap Riana tulus seraya memeluk sahabatnya tersebut.
“Aamiin, makasih mbak. Pokoknya kalian semua wajib datang ya, ingat wa-jib, nggak boleh enggak...” kata Dian mengultimatum.
“Iya-iyaa, solo kan?” tanya Riana.
“Iya mbak...”
“Gila lo Yan, kok bisa ngebalap kita gini sih?” omel Hanum.
“Nggak ngebalap, Han, gue juga gak tau, tiba-tiba Wisnu datang ke rumah untuk ini...” jawab Dian seraya menunjukkan cincin yang melingkar di jarinya.
“Terus keluarga lo gimana, Nu? Setuju?” ganti Ganesh yang bertanya.
“Yaaah, lu kan tau maseh, keluarga gue mah peduli gak peduli sama gue. Nyokab sakit parah sekarang aja mereka lepas tangan, katanya mending dilepas aja itu alat bantunya di rumah sakit, ngabis-ngabisin biaya aja, padahal yang ngebiayain semuanya gue. Gue ngamen sejak SMA emang buat apaan kalau bukan buat bunda gue?” jawab Wisnu getir. Teman-temannya auto menghela napas. Yah, pada akhirnya, kedekatan dan kebersamaan mereka yang terjadi bertahun-tahun lamanya telah membawa mereka kepada cerita tentang kegetiran hidup masing-masing yang sengaja tak sengaja terceritakan dalam setiap aliran obrolan mereka. Salah satunya soal Wisnu ini.
Wisnu lahir di Malang, dua puluh dua tahun yang lalu. Di usianya yang ke-16, ia terpaksa menjadi tulang punggung keluarga akibat kecelakaan parah yang diderita ibunya ; kecelakaan parah yang menyebabkan sang ibu lumpuh total dan hanya bisa terbaring di tempat tidur. Sementara sang ayah telah hidup bahagia entah dimana bersama wanita lain selingkuhannya sejak Wisnu masih kelas enam SD. Sebelum sakit parah, Bunda Warda (Ibunya Wisnu), memiliki usaha toko roti dan kue yang dikelolanya sendiri, sampai akhirnya kecelakaan parah di jalan licin sehabis hujan itu menghancurkan segalanya. tapi beruntung, ibunda Wisnu itu telah menyediakan bekal tabungan untuk putra satu-satunya itu, jaga-jaga seandainya terjadi apa-apa kepadanya. Dan Om Chandra (orang kepercayaan yang selama ini mengelola toko roti itu), sudah pergi ke notaris, menyerahkan kepemilikan W Bakery And Cake itu kepadanya. Dan ia akan mengambil ini sebagai aset dan usaha milik ibunya tersebut akan ia kelola bersama dengan Dian – yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
“Permisi, ini pesanannya ya,” mereka semua langsung tersadar dari lamunan panjang itu, ketika sesosok pelayan datang membawakan makanan yang sudah dipesan sebelumnya. Mereka mengangguk dan mengucapkan terima kasih, sebelum akhirnya memulai aktifitas makan dan melanjutkan bercerita-cerita lagi.
***
Dian yang dulu bukanlah Dian yang sekarang *kenapa malah jadi kayak lirik lagu sih? Tapi serius, Dian yang dulu tidak sepercaya diri saat ini. Lahir dan besar di keluarga seniman tradisional Jawa membuat gadis itu dikucilkan di lingkungan pergaulan ; dianggap tak gaul oleh anak-anak sebayanya yang rata-rata Kpopers. Selain soal keluarga dan darah seni yang mengalir di tubuhnya, gadis itu juga insecure parah soal bentuk fisik dan kondisi wajahnya. Dian remaja adalah gadis yang bisa dikatakan memiliki tubuh yang cukup padat dan berisi, atau bahasa Jerman-nya : Gen-dads alias gendut. Dan karena karakter kulit wajah gadis ini juga berminyak, jadi dulu, dia sering banget tuh jerawatan. Dian insecure parah karena terus-menerus di-bully (dan pacarnya sebelum Wisnu, meninggalkannya juga karena itu ; karena Dian yang “tak cantik” menurut pandangan matanya). Tak kuat bersaing di sekolah reguler, keluarganya memutuskan untuk memberikan Dian kegiatan home schooling sambil memperbaiki kondisi psikisnya, sampai dia siap bergabung di masyarakat kembali. Hingga akhirnya pada SMA kelas dua dia kembali ke sekolah reguler – tapi masih tetap berada dalam pengawasan psikolog karena dia masih trauma. Namun berkat full support dari keluarganya, Dian Marisa Ayu lebih cepat bangkit dari yang diharapkan. Selama SMA, prestasi gadis itu terus meningkat, dan hal itulah yang membawanya menjadi penerima beasiswa untuk kuliah musik hingga lulus. Dan Dian tetaplah Dian dengan tubuhnya yang tetap padat berisi (tapi wajahnya udah gak jerawatan, ya, dia udah ngerti karakter kulitnya dan mampu mengatasi itu), matanya yang bulat bundar, rambut panjang sebatas pinggang serta dua buah lesung pipi yang akan tampak ketika ia tersenyum membuat visual gadis itu terlihat begitu menawan.
“Sampai sekarang, gue masih gak nyangka kalau seseorang yang memilih gue adalah Wisnu, yang bisa dikatakan good looking lah kayak Mbak Ri, kayak Hanum, Ganesh dan Muara. Apalah aku yang bentukannya kayak gini ya kan...” ucap Dian seraya menutup lembar memoar luka yang tak sengaja harus terkuak lagi, karena sebuah flashback.
“Kamu itu cantik sebagaimana yang terlihat pada dirimu, Dian. Jangan terlalu patuh sama kriteria orang lain, your life is your’s, dan nggak ada yang bisa mengganggu gugat itu. Dan sekarang, kamu adalah versi paling terbaik dari diri kamu...” ucap Riana seraya mengusap lembut rambut calon pengantin itu. Dan pernyataannya itu tadipun diangguki oleh Hanum.
“Thanks, guys...” kata Dian terharu seraya memeluk kedua sahabat terbaiknya tersebut.
“Iya sama-sama. Udah, tidur yuk, gak ilok calon pengantin kok begadangan...” kata Riana seraya mengambil posisi strategis di atas bed king size milik Dian, dan jejaknya tersebut diikuti oleh Hanum yang langsung melompat dan mendarat pada posisi yang tepat. Dian tertawa ; meletakkan kembali peranti kecantikan yang ia pakai ke tempat yang semestinya, sebelum bergabung bersama kedua sahabatnya.
***
“Saya terima nikahnya Dian Marisa Ayu dengan mas kawin tersebut, tunai!” ucap Wisnu lantang dan yakin. Dan keyakinan itu tetap tak goyah meski berpasang-pasang mata kini tengah tertuju padanya.
__ADS_1
“Bagaimana para saksi?” tanya pak penghulu.
“Sah!” Alhamdulillah... Baraka Allahu lakumaWa baraka 'alaykumaWa jama'a baynakuma fi khayr! Bersatulah secara resmi tautan dua hati yang telah terjalin selama beberapa tahun ini. Pintu langit terbuka selebar-lebarnya, para malaikat turun, semesta bersuka cita atas terikatnya dua hati anak-cucu Adam dalam mahligai suci bernama pernikahan.
Dian terharu, mencium tangan Wisnu dengan posisi baru sebagaisuaminya. Wisnu juga dilingkupi dengan rasa haru yang sama, mencium lembut kening Dian yang telah sah menjadi istrinya. Rombongan Riana CS naik ke atas pelaminan sambil bersorak-sorak riang. Sejujurnya ada rasa sedih saat harus melepas masa lajang bersama sahabat ; sedih karena masa-masa remaja nan penuh canda tawa sudah resmi berakhir ; berganti ke masa dewasa yang harus siap dijalani. Adalah benar bahwa sesuatu yang sama tidak akan mungkin terjadi dua kali, kecuali semua telah tersimpan rapi dalam keping memori, yang akan diceritakan kembali pada masanya nanti.
“Selamat... Samawa kalian,” ucap Riana seraya memeluk Dian dan menepuk pundak Wisnu.
“Selamat bro, udah jadi suami. Nanti ceritain ya gimana rasanya,” kata Muara setengah bar-bar, sehingga Riana harus menjewer telinganya. Selanjutnya giliran Hanum dan Ganesh yang mengucapkan selamat serta mendo’akan kedua raja dan ratu sehari tersebut, lalu sesi terakhir ditutup dengan foto bersama.
***
“Dia yang pertama membuatku cinta
Dia juga yang pertama membuatku kecewa
Kamu yang pertama menyembuhkan luka
Tak ingin lagi ku mengulang keliru akan cinta
Jadi kisah yang sempurna, wo-oh
Tuhan, yakinkan cinta ini, wo-oh-oh
Hati yang terkunci, terbuka kembali
Dia yang pertama membuatku cinta
Dia juga yang pertama membuatku kecewa
Kamu yang pertama menyembuhkan luka
Tak ingin lagi ku mengulang keliru akan cinta
ho-oh-oh
Dia juga pertama membuatku kecewa(Dia yang pertama)Kamu yang sembuhkan luka(Tak ingin lagi ku mengulang) ho-oh-oh
Ho-wo-ohKamu untuk selamanya...” (Mahalini – Kisah Sempurna). Hanum menyanyikan lagu request-an Dian itu dengan sepenuh hatinya. Pokoknya dari jauh-jauh hari (bahkan sebelum kabar pernikahannya menjadi kejutan untuk mereka), Dian udah request lagu ini sama itu anak.
__ADS_1
“Ini lagu relate banget sama gue, Han, gue dua kali jatuh cinta, dan Wisnu itulah ternyata orang yang bisa menyembuhkan luka gue...” dan semoga kalian berdua samawa selamanya, ya. Sekali lagi, happy wedding, Wisnu, Dian!
(TBC).