MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 49, THE REAL WINNER


__ADS_3

    Alhamdulillah, babak final sudah dilalui oleh semua peserta pada hari ini. Sekarang, mereka sedang melakukan kegiatan masing-masing untuk melepas penat. Yang cowok-cowok memilih bermain air di kolam renang, sementara yang cewek-cewek perawatan pol-polan di salon yang juga merupakan fasilitas hotel ; mereka creambath, facial, luluran, bahkan ada yang spa juga. Gak papa lah, ya, yang penting mereka udah usaha. Soal hasil, biar nanti kita serahkan sama tuhan dan juga pengumuman.


***


“Ya Allah, delok-en iku arek-arek, renang gak mari-mari...” Riana melongo begitu mereka berempat (Riana, Hanum, Dian dan Laras), melewati kolam renang sepulang mereka dari salon.


“He rek, gek ayo mentas, ngko masuk angin lho...” kata Dian.


“Mama pulaaaang!” seru mereka semua – yang cowok-cowok, seraya berlarian menuju tepi kolam.


“Mama-mama, udah, ayok pada naik, nanti malam masih pengumuman...” omel Dian akhirnya. Semua mengangguk.


“Eh, Ganesh gak ikut renang ta?” tanya Riana yang baru sadar kalau personel mereka kurang satu.


“Nggak mbak, dia di kamar, tidur...” jawab Andre.


“Feeling-ku gak beres nih kalau jam segini bocah udah tidur. Ya udah kunci kamar di siapa?” tanya Riana.


“Di aku yang, ada di tas kecil di atas meja. Tau kan?” tanya Muara.


“Iya tau. Tapi mending kita rame-rame aja sih ke sana, udahan berenangnya, udah tau Malang dingin kayak gini. Udah mau maghrib juga...” kata Riana. Muara mengangguk.


“Kamu ke kamar duluan aja, kita cowok-cowok mau pada bilasan...” kata Muara.


“Oh, ya udah kalau gitu. Kuncinya tak bawa ya, ini renang pada bawa salin kan?” tanya Riana.


“Bawa kok...” jawab Muara.


“Yowes... Ayok, bestie, kita ke atas. Biarkan para kodok sawah ini bilasan dulu...” kata Riana. Ketiga perempuan di sekitarnya mengangguk. Aduh, peribaratannya lho gak enak banget. Harus banget kodok ya?


***


“Ganesh, bangun, udah mau maghrib nih...” bujuk Riana seraya mengguncang pelan tubuh anak itu yang ada di dalam selimut.


Tapi anak itu tidak meresponds, padahal sudah berkali-kali Riana membangunkannya.


“Dek, bangun po-o...” katanya sekali lagi. Tetap tak ada responds. Riana jadi gemas. Ditariknya paksa selimut yang menutupi tubuh sang adik. Maksudnya sih biar cepetan bangun gitu. Tapi begitu memegang tubuh sang adik yang ternyata super panas, dia malah jadi panik.


“Eh, kamu demam dek?” tanya Riana. Hanum yang tadinya ada di dekat pintu jadi ikutan masuk karena kaget.


“Kenapa mbak?” tanyanya.


“Ini Ganesh demam... Gimana dong?” tanya Riana panik.


“Lah, eh, Nesh, habis nelen kompor apa nelen setrikaan kamu?” tanya Hanum refleks.


“Duh mbak, suwek kamu. Aku serius nih...” sungut Ganesh.


“Eh, iya, sorry...” Hanum menutup mulutnya. Riana meringis. Kalau saja dia tidak mengenal kepribadian Hanum yang super koplak kayak gini, pengen banget rasanya dia ngejitak anak itu. Eh tapi tadi udah, deh, ada perpanjangan tangan, karena jitakannya diwakilin sama Dian, hehehe.


“Bentar, aku tak ke kamar dulu, obatnya ada di tasku...” kata Hanum seraya menarik tongkatnya. Iya, Hanum gak pakai tongkat lipat yang biasanya itu. Dia pake tongkat kekinian yang cara gunainnya ditarik dan didorong, persis kayak tongsis buat selfie. Kabarnya, gadis itu rela impor tongkat itu supaya dia terlihat lebih stylish, hehe. Eh, tapi bukan Cuma itu ding. Dia juga berharap, semoga dengan semakin banyak alat penunjang untuk tunanetra diciptakan dan dimodifikasi dengan bentuk yang kekinian, stigma tentang “disabilitas (tunanetra khususnya), adalah beban keluarga dan masyarakat” segera berganti, dan perlahan-lahan menghilang.


“Ya udah, ini kuncinya dek. Awas nyasar...” kata Riana.


“Insya ALLAH enggak, udah hafal aku. Tunggu bentar...” kata Riana. Semua mengiyakan.


***


Ballroom hotel, malam hari. Semua orang berduyun-duyun datang kesana untuk menyaksikan malam puncak Pekan Seni Mahasiswa tingkat nasional ini.


“Lalu bagaimana kondisi Ganesha, Esmeralda? Apa dia baik-baik saja?” Halah! Iya, Ganesh baik-baik aja. Demamnya turun setelah diberi obat hati *eh, obat penurun panas.

__ADS_1


“Mbak, aku deg-degan...” ucap Laras yang duduk persis di sebelah Hanum. Syukurlah, setelah dalam beberapa episode ini anak dua kayak udah siap buat cakar-cakaran, akhirnya mereka berdua bisa akur juga.


“Eh, sama Ras, aku juga deg-degan ini, sama...” kata Hanum.


“Ini masih opening kok, kaayaknya deg-degan kita akan diperpanjang gak sih,” celetuk Riana dari belakang.


“Emang pajak kendaaraan? Pake diperpanjang segala? Duh, bentar ya, aku ke toilet dulu...” kata Hanum seraya bangkit berdiri.


“Butuh diantar gak?” tanya Dian.


“Gak usah wes, deket kok. Tunggu ya...” kata Hanum. Semua mengiyakan.


***


Pada akhirnya, Hanum gak Cuma sekali itu ke toilet. Dan pada akhirnya, dia malah kenalan sama mahasiswa lain yang juga bernasib sama sepertinya, bolak-balik ke ruang penuh inspirasi itu.


“Kamu diare, ya? Kok bolak-balik toilet terus?” tanya gadis itu.


“Nggak tau mbak, efek cemas aja kok...” jawab Hanum pelan.


“Kamu duduk di deretan depan itu ta?” tanya gadis itu lagi.


“Iya mbak, sama teman-teman...”


“Barengan ta? Aku juga mau balik ke ballroom nih...” tawar gadis itu.


“Boleh mbak...” jawab Hanum sopan.


“Oh iya, nama kamu siapa?” tanya gadis itu lagi.


“Namaku Hanum, mbak. Nama mbak siapa?”


“Aku Celine, kita satu kampus dan satu fakultas dek, Cuma beda prodi dan jurusan doang...” DEGH! Hanum merasa jantungnya seperti ditarik keluar semua. Apa kabar kalau dia datang ke ballroom bersama ini cewek dan Riana melihatnya? Bakal perang gak ini?


“Eh, iya mbak, yuk...” Hanum tergeragap. Ia segera mengambil tongkatnya yang tersandar di tembok wastafel, lalu menggandeng tangan Celine.


***


Riana memelototkan matanya. Hampir-hampir tak percaya iia melihat Hanum yang sedang bergandengan dengan...


“Ra!” Riana menyikut kekasihnya yang duduk persis di sebelahnya.


“Opo tho yang?” Muara kaget.


“Itu, lihat, arah jam dua belas...” Bisik Riana.


“Iya, Hanum kan?”


“Ck, duduuu, sebelahe...” kata Riana gemes.


“Lho, Celine?”


“Hayo!” Riana segera menyentil telinga Muara, sampai si empunya meringis kesakitan.


“La piye tho yang bener sayang? Tadi aku disuruh lihat. Aku udah lihat ke sana sekarang malah disentil. Jadi harusnya aku lihat apa enggak?” Muara nyengir, tanpa rasa bersalah. Dan itu malah bikin mata Riana jadi tambah menyala, bukan hanya karena efek glitter dari eye shadow yang dipakainya, tapi juga karena rasa marah dan cemburu gadis itu juga.


“Ya ngeliatnya biasa aja, nggak usah pake napsu. Wes, menengo kene, tak parani Hanum!” sungut Riana. Muara menghela napas. Salah lagiiii, salah lagi. Dasar cewek emang. Yowes, pasrah dia kalau udah begini.


“Hanum!” seru Riana.


“Eh, opo-o mbak?” Hanum kaget.

__ADS_1


“Sini!” serunya. Hanum buru-buru mendekati sumber suara, karena dia khawatir akan terjadi huru-hara.


“Kamu kok bisa barengan begituan, sih?” protes Riana.


“Apa? Mbak Celine?” tanya Hanum polos. Kalau nggak inget dia sayang dan ini pacarnya adiknya, rasanya pengeeeen banget dia telen ini anak bulet-bulet ; utuh tanpa dikunyah.


“Oh, iya mbak. Sorry, tadi Cuma barengan aja kok pas dari toilet...”


“Di jalan dia tanya apa aja?” tanya Riana menyelidik.


“Nggak ada mbak, diem aja dia sepanjang jalan...” jawab Hanum tak enak.


“Yowes, gek ayo, kembali ke kursimu...” titah Riana. Hanum mengangguk. Duh elah, sepanjang beberapa part ini kenapa isinya jadi cemburu-cemburuan begini sih? Kesel sendiri jadinya. Padahal aku-aku juga kan ya yang nulis? Ah tauk, ah, yuk lanjut ke cerita aja.


***


Admosfer haru, lega, dan bahagia melingkupi mereka semua. Delapan puluh persen delegasi kampus mereka dari setiap tangkai lomba telah mencapai hasil terbaik mereka. Meskipun gak semua menjadi juara pertama, tapi kampus mereka tercinta tetap membawa pulang banyak piala. Satu-satunya cabang lomba yang gak mendapat hasil terbaik adalah monolog yang diikuti oleh Celine. Tapi mahasiswi semester 5 jurusan Sastra Inggris itu tetap tersenyum senang menyaksikan kebahagiaan teman-temannya yang berfoto bersama dengan menggunakan almamater kampus mereka, sambil memegang piala.


“Mbak Celine, mau ikut foto?” tawar Hanum.


“Emang boleh?” tanyanya.


“Ya kenapa nggak, mbak kan juga masuk final... Ayo, semua delegasi kampus harus foto bareng. Come on...” ajak Hanum. Celine mengiyakan, meskipun hatinya terasa tidak enak, apa lagi karena Riana terus menatapnya dengan tatapan yang cukup tajam.


“Sini say, dampingin aku,” kata seorang cowok seraya menggandeng tangan Celine. Riana auto melihat ke arah si cowok dan Celine. Oh, ternyata Celine pacarnya Darrel, yang ikut keroncong putra. Syukurlah, dia bisa bernafas lega sekarang.


***


Hanum dan Ganesh keluar dari kerumunan wartawan dengan perasaan yang entah. Apa lagi Ganesh, dia berkali-kali hampir jatuh gara-gara shock menghadapi orang-orang yang memburu ; ribut sekali bertanya banyak hal. Suara mereka seperti dengung ribuan lebah di telinganya.


“Sssst, kita aman sekarang ya...” kata hanum seraya mengusap pundak Ganesh.


“Ganesh itu introfert, sama kayak aku. Dan kurasa, susah banget buat dia beradaptasi sama hal yang seperti tadi, apa lagi wartawannya tadi cukup banyak lho...” ucap Riana.


“Iya mbak... Makanya itu...” jawab Hanum.


“Yowes, kita istirahat semua aja yuk, udah mau jam 12 malem juga lho ini...” kata Muara.


“Nanti dulu!” seru Wisnu tiba-tiba.


“Opo-o?” Muara heran.


“Bentar!” seru Wisnu seraya berlari ke arah restaurant hotel, membuat Muara dan yang lain tidak mengerti. Tapi tiba-tiba...


“Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday Mbak Dian, happy birthday to you...”


“Lho, iya ya, lo ultah ya, Yan?” tanya Hanum.


“Eh, nggak tau, iya nggak sih, kok gue lupa ya?” tanya Dian.


“Iya mbak, ini hari ulang tahun kamu. Selamat ulang tahun sayang...” ucap Wisnu malu-malu seraya menyerahkan sebuah cake yang cukup besar kepada Dian yang tersenyum sumringah.


“Ini gimana ceritanya sih, aku aja lho nggak ingat sama ultahku sendiri...”


“Kamu terlalu sibuk sama lombamu, sayang. Ya udah, ayok make a wish dulu... Selamat menjadi dua puluh tahun ya mbak...” ucap Wisnu seraya mengecup puncak kepala Dian. Kontan saja banjir “cieeee” meluap di seluruh ruangan ballroom yang sudah hampir kosong, tinggal rombongan mereka.


“Selamat ulang tahun, Mbak Dian...” ucap Laras seraya menjabat tangan Dian.


“Happy birthday Mbak Di, wah, nggak tau e kalau mbaknya ultah, jadi gak nyiapin kado deh...” ucap Andre polos.


“Gimana aku mau bilang, Ndre, kalau nggak Wisnu yang ngasih tau aku sendiri mungkin bisa gak inget ini... So sweet juga ya itu anak...” komentar Dian seraya meloetakkan kue tersebut di atas meja.

__ADS_1


“BTW, ayo make a wish dulu lah... Nih, lilinnya...” kata Wisnu seraya memasangkan lilin ber-angka dua puluh itu di atas kue tart. Dian tersenyum. Ia menutup matanya sejenak ; memanjatkan do’a tentang banyak hal. Dari mulai do’a untuk dirinya sendiri (ya, tentu, kan dia yang lagi ulang tahun), do’a untuk keluarganya, ucapan rasa syukurnya atas kemenangan yang diraihnya, dan lain-lain. BTW, selamat juga deh buat semuanya, karena telah berhasil menjadi yang terbaik dari setiap tangkai lomba yang diikuti. Meskipun nggak semuanya jadi juara satu, tapi, terbaik itu kan nggak harus tentang angka satu, dua dan tiga. Dan kalian tahu, bestie, the real winner alias juara sejati itu sebenarnya adalah mereka-mereka yang mampu melawan dirinya sendiri ; melawan rasa malas, rasa takut, dan rasa rendah diri.


(TBC).


__ADS_2