
Liburan semester satu sudah di depan mata, dan setiap mahasiswa (yang bukan harapan mahasiswi), sudah merencanakan agenda terbaik untuk mengisi air, eh, mengisi waktu liburan mereka. Seperti Riana, yang katanya akan berkabar sebentar ke Jakarta, sowan sama ibu-bapak kost dan sahabat-sahabat perempuannya yang ada disana. Hanum tidak mau ikut, dia sudah sibuk dengan banyak tawaran kerja yang belum sempat diambilnya selama kuliah berlangsung kemarin. Gadis itu agaknya adalah seorang workaholic, dia lebih suka bekerja daripada berdiam diri di rumah.
“Dek Hani, selama mbak gak ada, maemnya yang teratur lho ya. Kamu malah milih kerja daripada libur terus jalan-jalan, atau balik ke Jakarta gitu lho minimal...” kata Riana seraya menutup dan mengunci kopernya.
“Iyo mbak iyo, percoyo aku ta... Lagian kerjaan ini peluangnya gede-gede juga, yo eman tho nek gak diambil...” kata Hanum seraya menyempurnakan riasan terakhirnya dengan lipstik berwarna nude yang membuatnya tampak begitu elegant.
“Tenang mbak, alarm makannya kan aku. Tak tinggal sehari aja wes ngerengek kok dia ni...” ledek Ganesh yang juga tampak keren dengan kemeja dan jeans hitam, serasi dengan Hanum dan long dress hitamnya.
“Bisa jangan bahas urusan per-rengek-an disini gak Nesh?” omel Hanum. Ganesh cuma ketawa.
“Halah yowes yo, mbak berangkat dulu. Kalian jangan nakal, kalau lagi bersama di tempat yang gak ada siapa-siapa, usahakan pintunya terbuka ya...” pesan Riana.
“Siap, mbak. BTW, mbak naik apa ke Jakarta?” tanya Ganesh.
“Naik kereta, dek, ini Mas Ra udah siap mengantar ke stasiun, dia minjem mobil temennya, soalnya bawaanku banyak e...” kata Riana seraya satu tangan memegang koper, satunya lagi memegang kardus berisi oleh-oleh.
“Oke deh mbak, hati-hati ya, salam sama Mbak Selena...” kata Ganesh. Dan sesaat kemudian, ia mengaduh kesakitan karena telinganya telah ditarik dengan tidak berperi kemanusiaan oleh Hanum.
“Pisan meneh ngomong ngono, dadi kelinci kowe...” ledek Riana. Ganesh cuma nyengir. Deru klakson mobil terdengar di depan, pertanda bahwa Muara sudah datang, dan itu artinya, Riana harus segera berangkat.
“Mbak duluan, good luck buat perform kalian...” kata Riana seraya menyalami kedua adiknya tersebut.
“Iya mbak, hati-hati...” kata Hanum seraya mencium takzim tangan Riana, dan diikuti dengan Ganesh. Riana menepuk pundak mereka dan lalu berjalan keluar dengan bawaan sarat muatan di tangan.
“Aku bantu naikin dulu ya,” kata Muara seraya mengambil alih barang-barang Riana. Gadis itu cuma mengangguk dan tersenyum. Setelah semua siap, mereka berpamitan sekali lagi – mengucapkan salam perpisahan sementara, sebelum akhirnya mobil membelah jalanan Kota Surabaya yang begitu terik pada siang hari.
“Berapa lama nanti di Jakarta sayang?” tanya Muara seraya memegang kendali mobil dengan hati-hati.
“Paling seminggu lewat dikit lah. Gak usah lama-lama, toh aku ngambil job akhir tahun juga yang sama kamu itu kan,” jawab Riana seraya menyandarkan kepalanya di pundak Muara.
“I will miss you...” rajuk Muara.
“Hah? Bisa merajuk juga ya kamu?” Riana heran.
“Hmm, males ah sama Riri, nakal,” Muara mencebikkan bibirnya. Dan hal itu membuat Riana ngakak sejadi-jadinya.
“Halah-halah, sayaaang... Tenang aja, aku gak bakal susah dihubungi kok nanti,” kata Riana seraya menggoda Muara dengan kepangan rambut yang dibuatnya.
“Janji?” katanya seraya memberikan jari kelingkingnya. Riana mengedipkan matanya sebentar, kemudian mengangguk, dan mengaitkan jari kelingking itu dengan kelingking miliknya sendiri. Selama beberapa bulan mereka pacaran, sisi lain Muara baru terlihat hari ini ; manja, tapi bukan mandi jarang kek author ya, haha.
“Baik-baik selama disana ya,” kata Muara seraya mengelus sayang puncak kepala Riana.
“Iya siap. Kamu juga ya...” kata Riana. Muara mengangguk. Tak terasa, mereka sudah sampai di stasiun, dan kurang dari satu jam lagi, mereka akan berpisah, karena Riana sudah harus memasuki kereta yang akan mengantarkannya menuju Jakarta.
***
“Weh rekkk, mmahasiswi kita pulaaang!” seru Milia seraya memeluk Riana dengan begitu heboh, sampai gadis itu nyaris terjungkal dari posisinya.
“Ya ALLAH dimbleki maneh... Yoopo sih nasibku...” Riana meringis, seraya balas memeluk Milia.
“Gimana kabar, Ri?” tanya Milia seraya membantu membawakan kardus besar milik gadis itu.
“Alhamdulillah, baik, baik banget. Kamu gimana, Mil?” tanya Riana balik.
“Sama baik jugaa, aku udah mulai kuliah lho, jurusannya PG Paud...” jawab Milia seraya tersenyum sumringah.
__ADS_1
“Alhamdulillah... Semangat belajarnya ya, berarti ini lagi liburan?” tanya Riana.
“Belum, aku baru UAS. Ya udah yuk naik, Bu Dian sama Pak Fakhry udah nunggu di mobil tuh...” ajak Milia. Riana mengangguk. Dan prosesi kangen-kangenan itu dilanjut ketika mereka sudah tiba di mobil Kijang berwarna silver yang telah menunggu mereka.
“Ya ALLAH anakku wedok wes muleh... Piye kabarmu nduk?” tanya Bu Dian seraya memeluk Riana sambil menangis.
“Alhamdulillah baik bu, ya ALLAH kangen...” rajuk gadis itu seraya balas memeluk wanita paruh baya di hadapannya itu.
“Ya ampun kamu tuh bawa apa tho nduk, kardus segitu gedenya mbok gotong-gotong...” kata Bu Dian seraya menatap heran kardus besar yang bersanding dengan koper Riana di bagasi belakang.
“Oleh-oleh, bu,” jawab Riana pelan.
“Walah nggowo oleh-oleh barang kowe ki... Yowes pak, ayo jalan, Riana pasti laper, kita makan malam di rumah nanti ya, ibu masak banyak buat kamu nduk...” kata Bu Dian dengan penuh semangat. Riana cuma mengangguk. Ia merasakan kasih sayang Bu Dian yang begitu tulus kepadanya, seperti seorang ibu kepada anaknya sendiri, yang kini sedang menyambut kepulangannya. Seandainya ibunya masih hidup...
“Lho nduk, kenapa kok matanya berkaca-kaca?” tanya Bu Dian heran seraya melirik Riana dari kaca spion tengah.
“Nggak papa bu, saya cuma keingetan almarhumah ibu saya aja. Alhamdulillah, ALLAH memberikan saya lagi kasih sayang yang sama dengan orang yang berbeda sekarang...” kata Riana seraya mengusap matanya. Bu Dian tersenyum, lalu mengelus telapak tangan Riana.
“Tenang aja, kamu anak ibu sekarang, sama kayak Selena, Milia, juga Maura...” kata Bu Dian. Riana balas tersenyum. Tak terasa, mobil yang mereka tumpangi telah sampai di pelataran rumah induk kos-kosan Srikandi. Riana melompat turun seraya membawa serta barang-barangnya. Dan sesampainya di ruang tamu kos-kosan, sambutan yang tak kalah meriah juga diberikan kepada Riana oleh kedua sahabatnya yang lain.
“Welcomeeee!” seru Maura heboh seraya memeluk (atau ngembleki, bahasa Jawa-nya), Riana.
“Masya ALLAH ping pindo lho aku ki dimbleki pas sampe di Jakarta ini... Nasiiib nasib...” Riana meringis seraya membaalas pelukan sahabatnya satu-persatu.
“Gimana Surabaya, Mbak Ri, masih panas?” tanya Selena.
“Polll! Tapi sekarang lebih sering hujan sih. Musimnya juga kali ya...” kata Riana. Selena mengangguk. Tapi Riana merasa ada sesuatu yang kurang. Kemana si Carissa? Bukannya pas dia mau pergi, itu anak nge-kost disini juga?
“BTW kok kayak ada personel yang kurang ya?” tanya Riana seraya matanya inspeksi ke sekeliling.
“Ho-oh. Kemana itu anak? Apa udah nggak disini?” tanya Riana.
“Udah pindah sejak tiga bulan lalu mbak, nggak cocok sama ibu, karena Carissa sendiri emang sak-karep-e dewe sih. Padahal kost ini udah ngasih banyak kelonggaran sama dia, tapi harusnya ya dimanfaatkan dengan baik lah, dan gak pulang jam satu malam dan bawa tamu cowok juga...”
“What? Segitunya? Terus sekarang dia dimana?” tanya Riana yang terkejut setengah mati.
“Nyewa apartemen, dia kan udah jadi model sekarang, lewat bantuan Maura juga sih,” jawab Milia. Riana manggut-manggut. Tapi terlepas dari itu, Riana cukup senang melihat kos-kosan ini semakin berkembang, terlihat dari banyak kamar yang sudah mulai terisi dan banyak sepeda motor yang terparkir di halaman kos-kosan ini.
“Ayo, ndang ditaro itu tasnya di kamar, habis itu maem ya,” titah Bu Dian kepada Riana yang masih sibuk mengamati sekitar dengan matanya. Riana mengangguk. Dengan langkah pelan, ia menaiki tangga menuju kamarnya. Yang dimaksud sebagai “kamarnya” oleh ibu kost-nya adalah kamar yang dulu disewanya selama ia nge-kost disana.
***
Riana tersenyum seraya berbaring sebentar di ranjang penuh kenangan ini. Ia mengingat semua perjalanannya dari Malang hingga tiba disini, hingga akhirnya ia harus pergi lagi ke lain kota – Surabaya, demi cita-citanya.
“Walah sing kangen kamare...” ucap Bu Dian seraya membuka pelan pintu kamar Riana.
“Owalah, ketiduran saya bu, maaf...” kata Riana seraya buru-buru membenahi rambutnya, mengucek mata, lalu duduk di pinggir tempat tidur.
“Maem sek nduk, nanti dilanjut lagi tidurnya,” kata Bu Dian lembut. Riana mengangguk, tersenyum. Kemudian ia kembali menuruni tangga, bersama Bu Dian.
***
“Alamak, aku udah lama nggak lihat makanan ini!” seru Selena girang begitu kardus oleh-oleh dari Riana di-unboxing secara berjamaah dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
“Podo, aku yo suwe nggak ndelok jajan model ngeneki...” kata Milia tak kalah girang. Riana tersenyum senang, melihat para sahabatnya bahagia menerima oleh-oleh yang ia bawa. Sambil menyelonjor di sofa bed yang sudah dialih fungsikan menjadi tempat tidur di ruang tengah, Riana meneruskan percakapannya dengan teman-temannya.
__ADS_1
“Yoopo, ada cerita baru yang terjadi gak selama hampir setahun aku gak disini?” tanya Riana.
“Banyak, alhamdulillah masing-masing dari kita udah pada berkembang semua, Ri. Maura mau persiapan kuliah sambil dia jadi model, aku sudah akan melalui semester 1 di jurusan PG Paud, dan Selena sudah akan sidang juga, kurang lebih sebulan lagi...” jelas Milia. Riana tersenyum. Ia begitu bersyukur dan bahagia ; bersyukur, karena masih bisa bertemu lagi dengan mereka, bahagia, karena mengetahui masing-masing dari mereka – para sahabatnya, juga telah meraih tujuan hidupnya.
“Kangen kalian banget rek, asli...” kata Riana.
“Iya, sama, kangen juga... BTW partner kost lo disana gimana Ri? Katanya buta ya? Nyusahin lo gak tuh?” tanya Maura. Riana memelototkan matanya, tapi dia tidak ingin merusak hari pertamanya di Jakarta dengan ketersinggungan atas statement dari Maura tersebut. Asal kalian tau aja, Maura itu emang gitu orangnya, kalau bicara bener-bener seenaknya. Banyak orang mencap dia sombong dan gak punya empati gara-gara hal ini.
“Dia pacar adik gue, dan dia sangat baik, bahkan sering membantu meringankan pekerjaan di rumah juga,” jawab Riana.
“Bagaimana dia bisa melakukan itu semua? Dia kan...”
“Apa bedanya dia dengan adik gue? Sama aja kan? Adik gue nggak pernah lo tanya dengan nada se-merendahkan itu padahal dia juga... Buta?” Riana harus setengah mati menahan emosinya sebelum mengucapkan kata yang cukup terdengar kasar di telinga itu. Banyak bergaul dengan penyandang disabilitas (setidaknya dua orang ; Ganesh, sang adik, dan Hanum, partnernya di kost), membuat Riana sedikit-banyaknya memahami perasaan mereka, juga memahami keinginan mereka, bahwa mereka sebenarnya hanya ingin dihargai dengan mendapat panggilan dan julukan secara layak. Dan jelas, kata “buta” tidak masuk hitungan, kendati kata itu memang benar-benar aada dalam KBBI sekalipun.
“Maura ini emang dari dulu gak pernah berubah, kalimatnya lho selalu ngacooo, nggak mempertimbangkan perasaan orang lain sama sekali,” protes Milia.
“Sorry...” Maura meringis.
“Halah santai, untung wes suwi awak dewe temenan yo...” kata Riana.
“La iyo, nek ora paling Maura mbok tinju,” kata Milia.
“Gue udah lama gak latihan bela diri tuh, udah kaku paling. Lagian gue gak tamat juga dulu ekskul... BTW, Mbak Yura udah nikah lho,” kata Riana.
“What?” Tanya Milia dan Maura kompak.
“Ho oh, dua bulan yang lalu...”
“Weh, ra tau krungu nduwe pacar kok moro-moro wes rabi yo? Wes disek po piye?” tanya Maura setengah curiga.
“Hais lambemu lho, Ra!” kata Milia geregetan seraya melempar model cantik itu dengan bantal sofa.
“Ora, dia nikah sama temen SMP-nya, temen cowok gue juga sih...” jelas Riana.
“Lho, wes nduwe maneh kon, Ri?” Milia kaget.
“Wes suwi yoooo... Apik yoan sing saiki ki...” Riana tersenyum. Sesaat ingatannya melayang kepada pujaan hatinya yang ada di Surabaya. Lagi ngapain ya itu anak sekarang?
“Kok aku curiga ya?” kata Selena tiba-tiba.
“Apa?” tanya Riana.
“Jangan bilang sama Mas Muara?” tanyanya. Riana tidak menjawab. Tapi anggukan kepala itu, serta senyum lebarnya telah mewakilkan semuanya.
“Ooooo, yang pas kapan hari takziah di rumahnya Abhi bukan sih?” tanya Milia. Lagi-lagi, Riana cuma mengangguk.
“Halah ngangguk-ngangguk mulu lo, Ri. Udah kepengen sleep call ya?” goda Maura.
“Nggak, dia ada kerjaan malam ini. Nonton netfliks yuk, kita quality time as a girls... Gimana?” tanya Riana.
“It’s a good idea... Lagian aku baru beli mbak, ngejar Hometown Cha Cha Cha sampek mbelani tuku kui...” kata Selena.
“Ya udah cocok. Yoh sambil disambi camilannya...” kata Riana. Selena mengangguk. Ia segera pergi ke kamarnya, mengambil laptop dan kabel HDMI, biar bisa disambungkan ke TV. Dan resmilah hari pertama setibanya Riana di Jakarta, diakhiri dengan menonton netfliks berjamaah sampai pagi.
(TBC).
__ADS_1