MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 5, JALAN-JALAN BERSAMA


__ADS_3

        “Arek kucluk yo model ngene ki, udah seminggu sampai di Surabaya baru ngomong sekarang, hadeeeh, untung nggak nyasar kamu nduk!” seru Muara jengkel seraya mengacak-acak rambut Riana. Kini mereka tinggal berdua, setelah mengembalikan Ganesh dan Hanum ke habitat eh, tempat kost mereka.


“Hahaha, santai dong Ra, nggak usah kayak orang kebakaran jenggot begitu. Meskipun nggak setahun sekali, aku pernah kok ke Surabaya, ya lumayan tau lah daerah sini dikit-dikit...”


“Ish tetep aja, dodol, Surabaya itu sama kayak Jakarta, kalau gak tau apa-apa tentang tempat ini, bisa kena masalah. Aduuuuh Rianaaaaa...” omel Muara lagi.


“Hadeeeh, ya tenang dong Ra, sekarang kamu lihat, aku baik-baik aja, kan?” tanya Riana. Mau nggak mau, Muara mengangguk juga.


“Tapi jangan diulangi lho ya, kamu kayak nggak punya temen aja disini, diem-diem bae udah sampai. Ya udah sekarang ikut aku mau nggak?” tawar Muara.


“Kemana?”


“Jalan-jalan, biar tau daerah sini. Ayo!” serunya. Riana mengikuti cowok itu menuju parkiran. Dan disana terlihatlah sepeda motor kesayangan Muara yang diberi nama “Si Jago”, kini ia tahu apa sebabnya motor Muara dinamai begitu, karena warna motor ini merah, seperti jengger ayam jago yang sedang diadu.


“Pake helm-nya, ngapain bengong? Terpesona, ya?” tanya Muara seraya menyerahkan helm kepada Riana.


“Ho oh je, tambah ganteng sih kamu... Ups!” Riana menutup mulutnya, ia keceplosan. Sejak tadi, memang itu yang menjadi fokusnya ; Muara yang kian hari kian tampan. Hadoooh kacau, bisa geger rimba persilatan. Apa kabar hati dan matanya  nanti kalau dipaksa ngeliat yang beginian setiap hari? Bisa sakit mata dia saking silaunya sama kegantengan ini cowok. Duh, hati, jangan berulah yaa, tolong tetep tenang di tempatnya. Dan buat kamu, mata, hati-hati, dijaga pandangannya.


***


Mereka berjalan-jalan ke banyak tempat yang menarik di Kota Pahlawan itu. Tidak hanya itu, mereka juga banyak mencicipi makanan khas suraboyoan, dari yang kekinian sampai yang tradisional. Hingga senja hampir merayap ke permukaan, akhirnya Muara mengajak Riana singgah ke tujuan terakhirnya, ya itu kediaman keluarganya. Nggak ada maksud apa-apa, Cuma pengen memperkenalkan Riana ke bapak, ibu, dan adik-adiknya aja.


“Eh, rumahku perbatasan deket Sidoarjo lho, kamu gak keberatan kan?” tanya Muara, sesaat setelah motornya berhenti di depan sebuah lampu merah.


“Enggak kok, seru lagi... Yuk, lanjut!” kata Riana kegirangan.


“Eh, gila nih anak. Doyan motoran juga ya?” tanya Muara seraya melajukan kembali motornya perlahan.


“Haha iyaaa, dulu waktu masih SMA dan tinggal di Malang, sering keliaran pake motor juga, ke Batu aja aku sendiri, naik motor...” jawab Riana.

__ADS_1


“Biyooohhhh, pantesan nekat aja ngebolang disini gak bilang-bilang... Emang udah biasa jadi petualang ternyata kamu. Ya udah, nanti kita singgah di warung martabak dulu, beliin buat keluargaku ya,” kata Muara. Riana Cuma mengangguk. Ia begitu menikmati perjalanan ini. Ia berharap semuanya tidak cepat-cepat berakhir.


***


“Kamu ini gimana sih, Ra? Nggowo cah wedok ra aturan, iki lho wes bengi, omah awak dewe ki adoh lho dari kota...” omel sang ibu, begitu Muara dan Riana sampai ke rumah tepat pada pukul tujuh malam itu.


“Maaf bu, seharusnya dari sore kita udah disini, tapi keasyikan jalan-jalan eh awan mau...”


“Hish... Arek njok dijewer tenan og kowe ki. Yowes ndang mlebu... Sek tak nyeluk bapak, sek nang kandang sapi paling... Paaak, reneo, kae lho anakmu muleh, nggowo wedok pisan!” Muara Cuma nyengir mendengar gerutuan panjang-pendek ibunya. Ia segera mengajak Riana masuk ke dalam, dan disambut sama Embun, salah satu adiknya.


“Wiii, Mas Ra pulang... bawa cewek lagi... Sopo kui, mas? Pacarmu a?”


“Heh ora yo, ngawur kon iku. Mbakyu-mu nang ndi?”


“Di dapur, katte ngenget jangan koyokane mau...” jawab Embun. Muara mengangguk. Langsung saja ia menyerahkan plastik berisi martabak telur dan trangbulan (martabak manis), yang dibelinya tadi di jalan. Embun melonjak-lonjak kegirangan, dan langsung mengabarkan “berita bahagia” itu kepada seisi rumah.


***


“Semua karena kerja keras Muara, nduk, makanya hidup kami bisa dicukupkan hingga saat ini. Dan ketika dia mengabarkan kepada kami bahwa dia akan kuliah, kami begitu bahagia, karena itu memang salah satu hal yang dia impikan selama ini. Hanya saja, ia pintar menutupi hasrat dan inginnya itu, hanya karena ia ingin tetap menenangkan kami yang masih berkubang kesulitan waktu itu. Sekarang dia sudah kuliah, kami semua memintanya berhenti bekerja, tapi dia tidak mau. Katanya tak apa dia kuliah sambil bekerja, dia tidak ingin melupakan sejarah. Karena dari pekerjaannya itu jugalah jembatan menuju mimpinya terbentuk...” tutur Bu Asih – ibunya Muara, seraya mencuci piring-piring bekas makan mereka, dibantu oleh Embun, Binar, dan tentu saja Riana.


“Maasya Allah, hebat ya Muara...” kata Riana kagum seraya menata piring-piring yang sudah kering itu kembali ke raknya.


“Itulah dia, anak baik Muara itu. Kami sayang padanya, kami sekeluarga mencintainya, nduk... Dan kami berharap kelak, Muara mendapatkan jodoh yang sebanding dengan dirinya, bukan sebanding secara derajat dan kedudukan, tapi sebanding baik dan tulusnya...” kata Bu Asih lagi.


“Mbak iki lho buk, kethok-e cocok yo sama Mas Muara?” timpal Embun. Binar menginjak pelan kaki adiknya. Memang dibanding Embun, Binar terlihat lebih dewasa. Selain memang karena usia, secara kepribadian, Binar lebih bisa menjaga sikapnya sebagai perempuan, dibandingkan Embun yang energic dan ceplas-ceplos. Tapi Riana malah jadi lebih nyaman berbicara dengan Embun, karena ada beberapa persen sifat dirinya yang agak-agak mirip sama adik bungsunya Muara itu.


***


“Mau teh, Ri?” tawar Muara, begitu Riana menggabungkan diri dengannya dan sang ayah yang lagi asyik membicarakan sesuatu di kursi bambu panjang,  di teras rumah.

__ADS_1


“Nggak usah, Ra, makasih...” Riana menggeleng pelan seraya mendudukkan dirinya persis di sebelah kanan Muara.


“Yowes, kancani Riana yo, le, bapak masuk dulu,” kata ayah Muara seraya membetulkan sarungnya. Riana mengangguk dan tersenyum sopan begitu Pak Fajar – ayah dari Muara, melintas di hadapannya.


“Eh, sorry ya Ri, kemaleman ini jadinya kita sampai ke rumahku. Kamu mau nginep sini apa tak anter pulang aja?” tanya Muara, seraya melihat Riana yang tampak tetap cantik, meskipun guratan lelah tetap tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.


“Kalau kamu nganter pulang aku gak papa emang? Bisa sampe sini malem banget lho nanti...”


“Tapi kalau kamu nginep disini lebih berrisiko, Ri, kamu cewek masalae, sini masih rodok ndeso wilayahnya, nanti malah kamu jadi gunjingan tetangga, kan aku yang nggak enak...”


“Tega a mas bawa Mbak Riana mendaki gunung lewati lembah dari sini sampe ke kota? Turu mbek aku lak uwes, rampung perkoro...” kata Embun yang muncul tiba-tiba, lengkap dengan pakaian piamanya.


“Nggak papa kok Mbun, mbak juga pengen ngeliat kota Surabaya pas malam hari. Nanti kapan-kapan, mbak main ke sini lagi ya. Besok mbak mau interview di tempat kerja juga je masalahnya...”


“Astaga iya, ya? Kok kamu nggak ngomong sih Ri? Terlanjur tak ajak jalan jauh e, malah lupa aku kalau besok kamu ada interview... Wadah!” Muara menepuk jidat tetangga, eh, jidatnya sendiri.


“Ya udah cepetan pamit, nanti tambah malam malahan...” kata Riana. Muara mengangguk. Maka pada malam itu, sambil sekali lagi menerima omelan sang ibu, Muara membawa Riana kembali ke kota, naik motor. Riana sempet kaget juga, begitu mengintip di bagian depan sepeda motor, ada kantung plastik besar yang diberikan oleh ibunya Muara. Tapi gadis itu tak sempat bertanya, karena Muara keburu memacu motornya. Setelah saling melambaikan tangan, motorpun perlahan melaju, membelah jalan daerah perbatasan yang telah lengang.


***


“Dari mana mbak? Jam segini baru pulang, takut lho  aku sendirian disini,” kata Hanum seraya terkantuk-kantuk membuka pintu.


“Sorry, terlalu banyak yang terjadi tadi, Dek Hani. Oh iya, ini dikasih oleh-oleh sama ibu temennya mbak. Besok kita maem bareng ya. Yuk ndang bobok, wes bengi iki cah ayu,” kata Riana seraya membimbing Hanum menuju kamarnya. Sepertinya sejak mereka ketemu di pesawat itu, Riana jadi sayang beneran sama Hanum. Bukan semata hanya karena dia kekasih Ganesh, tetapi, ada sesuatu yang menarik dari dirinya, yang membuat dia (Hanum), mudah dicintai. Lovable, kalau kata orang.


***


[Ri, makasih buat hari ini, makasih udah memberikan kesan yang baik dan mengena buat keluargaku. Jangan kapok diajak jalan jauh, ya.] pesan WhatsApp dari Muara. Riana menutup botol pembersih kaca mobil, eh, pembersih wajahnya sebelum membalas pesan tersebut.


[Iya, sama-sama Ra. Makasih juga udah berani bawa aku masuk ke kehidupan keluargamu yang sungguh luar biasa, senang sekali bisa mengenal kalian...] Muara is typing.

__ADS_1


[Yowes, ndang turu yo cantik. Besok kan interview. Selamat malam... Mimpi indah ya?]


(TBC).


__ADS_2