MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 35, PASCA TRAGEDI (MISTERI BANGUNAN TERKUTUK)


__ADS_3

-Pov Hanum


Setiap pekerjaan pasti memiliki risiko dan bahaya yang harus dihadapi, bahkan untuk pekerjaan paling ringan dan paling santai sekalipun. Aku sendiri paham betul tentang risiko dan segala bahaya itu, terlebih, aku sendiri baru saja mengalaminya.


Seperti yang sudah diceritakan sebelum-sebelumnya, aku adalah seorang announcer/penyiar radio, di salah satu radio di kota ini. Aku memegang beberapa program, diantaranya Zona Curhat (setiap malam minggu), dan yang baru-baru ini kujalani adalah salah satu program horror milik radio tersebut yang baru saja “comeback” berjudul “The Gost Hunter”.


Awalnya semua berjalan biasa saja – bahkan sangat biasa, bahkan sampai tak terbayangkan olehku, betapa mengerikannya genre program yang kubawakan itu.


Tiga hari lalu adalah jadwalku untuk recording, karena metode siaranku khusus program itu adalah seminggu life, seminggu recording. Awalnya semua berjalan seperti biasa ; di dalam studio, aku ketemu Kak Samuel atau yang akrap disapa dengan Kak Sammy – si operator khusus program malam. Cuma memang ada yang tak biasa dari sambutan cowok berwajah oriental itu ketika aku datang, tapi aku tidak mempedulikannya, karena kupikir, paling dia sedang ingin iseng padaku.


Proses rekaman berjalan seperti biasa, aku membacakan cerita – yang biasanya based on true story dari pendengar, sesuai dengan alur program. Tapi di tengah-tengah program, semua menjadi kacau, karena di tengah-tengah pembacaan cerita, tiba-tiba listriknya padam. Berusaha tetap tenang dan berpikir positif, aku segera beranjak bangkit dari kursi, dan memutuskan untuk keluar ruangan, mencari Kak Sammy atau yang lain untuk diajak bicara, lalu masuk dan melanjutkan semuanya setelah listrik menyala. Dan yang baru kusadari bahwa itu merupakan sebuah kejanggalan adalah, pintu studio mendadak terkunci. Ya, aku terjebak di dalamnya. Masih berusaha berpikir positif, aku mencoba memanggil operator yang menemaniku bertugas pada malam itu.


“Kak Sammy, kak...” hening, tidak ada jawaban. Dan demi Tuhan, pikiranku pada saat itu adalah salah satu dari mereka yang menungguiku bertugas hari ini – entah Kak Sammy, atau bahkan Mas Muara sedang iseng dan mengerjaiku.


“Ya ALLAH, Kak Sammy, Mas Ra, Ganesha, buka pintunya!” seruku putus asa di depan pintu yang tetap saja terkunci. ALLAH, baru aku menyadari semuanya, bahwa ini ternyata bukan sebuah prank. Dan satu-satunya hal yang bisa membuatku auto marah pada saat itu juga adalah, ponselku yang kehabisan baterai. Ah, aku benar-benar lupa mengisi dayanya tadi, sebelum berangkat.


“Kamu, jangan membuatku marah...” entah kapan dan darimana datangnya, tiba-tiba aku mendengar suara – sepertinya perempuan, berada di belakangku.


“Hah? Astaga! Ini apa lagi?” Aku semakin tak karuan. Dan demi apapun, meskipun aku tak dapat melihat, aku betul-betul dapat merasakan bahwa perempuan – yang sepertinya hantu itu tengah mendekat ke arahku. Aku yang panik mencoba usaha terakhirku dengan sekali lagi menggerakkan handle pintu, berusaha membukanya. Dan berhasil! Ya, aku berhasil membuka pintu. Dengan perasaan lega, aku keluar dari dalam studio yang gelap itu, lalu berjalan pelan-pelan mencari tangga. Tapi kurasakan ada sesuatu yang mengikutiku dari belakang, lengkap dengan suara tawanya yang menyeramkan. Dan tanpa pikir panjang aku langsung berlari, dan aku sama sekali tidak sadar bahwa di depanku itu adalah tangga, dan aku terus berlari, sampai aku terjatuh di anak tangga ke delapan, hingga ke bawah. Benturan demi benturan tak terhindarkan, hingga akhirnya, hening dan gelap kemudian.


***


- Pov Author


Seorang gadis berjalan ke dalam kamar kostnya dengan didampingi beberapa orang yang masih tampak khawatir.


“Guys, mbok uwes, jangan dikawal terus akunya. Wong aku lho gak popo...” kata Hanum.


“Kamu kan baru pulang dari rumah sakit dek, ya kami khawatir lah,” kata Riana.


“Mbak, tasnya aku taruh di sebelah kasur,” kata Wisnu seraya membimbing tangan Hanum menuju ke meja dimana tasnya berada.


“Thanks, Nu. BTW, kemana Ganesh?”


“Nanti dia nyusul sama Mas Ra. Mereka masih rapat kayaknya...” jawab Wisnu.


“Ya udah kalau gitu, udah ya guys, aku tak nata barang-barang dulu, thanks banget ya, udah dijagain sampai segininya. Elo juga Yan, padahal lo nggak tau apa-apa kan?” ucap Hanum tulus seraya membuka tasnya, mengeluarkan isinya satu-persatu, lalu dikembalikan lagi ke lemarinya.


“BTW maaf ya dek, selama kamu dirawat kan mbak yang bolak-balik ambilkan bajumu, jadi mbak tau deh isi lemarimu, maaf ya,” kata Riana tak enak.

__ADS_1


“Santai mbak, nggak ada benda rahasia kok disini, jadi, semua aman terkendali,” canda Hanum. Riana ikut tertawa.


“Ya udah, kamu istirahat aja ya habis ini, mbak sama yang lain mau keluar dulu... Nggak papa kan kami tinggal?” tanya Riana.


“Nggak papa mbak, aku mau ngerjain....”


“Gak usah, Ri, nanti gue handle aja. Ini anak bawaannya udah mau megang komputer melulu, baru sembuh juga!” omel Dian.


“Iya deh, iyaaa, enggak komputeran dulu. Backup sementara ya Yan, paling besok gue udah normal lagi kok...”


“Kalau belom, jangan dipaksa, jitak nih yak!” omel Dian lagi.


“Adaaah galak bener dah nih bocah. Yowes iyo-iyo, tak istirahat!” sungut Hanum. Dian tertawa, merasa menang. Setelah menjawil pipi Hanum sebentar, ia segera bergabung dengan Wisnu dan Riana yang sudah ada di luar lebih dulu.


“Yoopo iki?” tanya Dian seraya mengambil tempat di sofa, di sebelah Wisnu,


“Gak tau, aku masih shock mbak...” jawab Wisnu.


“Aku ya shock ini, lagi enak-enak pulang bentar ke Solo, mbok telepon sambil panik, pake bilang Hanum ada di rumah sakit segala. Sempet tak kira prank lho itu...”


“Ya ampun enggak mbak, aku tu dikabarinnya siang-siang, pas Mbak Hanum-nya udah masuk rumah sakit, aku juga bingung tau...”


“Aku udah ngabarin, tapi gak ada responds.” Jawab Riana rada jengkel.


“Buset, parah amat!” komentar Dian. Riana Cuma mengangkat bahu. Tak lama kemudian, di tengah diskusi setengah gibah yang sedang mereka lakukan, muncullah dua ekor *eh, dua sosok yang sudah ditunggu kedatangannya oleh ratunya masing-masing. Ya, siapa lagi kalau bukan Muara dan Ganesh?


“Lama amat sih nih celengan ayam, pada kemana dulu tadi, hayo?” omel Riana, begitu keduanya menongolkan wajah di depan penghulu, eh, pintu.


“Nggak dari mana-mana sayang, look at this!” seru Muara seraya melambaikan kantung plastik di tangannya.


“Aaa, pentol dan sosis bakar? Sini, tak tata-e ndek piring sek!” seru Riana bersemangat, seraya mengambil kantung plastik itu dari tangan Muara – yang Cuma bisa nyengir. Hadeeeh, dasar cewek, cepet banget dah berubah mood-nya. Tadi udah siap nerkam, sekarang balik lagi jadi anak kucing yang manis-manja (enggak pake group, ya), dan penurut.


“Kamu beli semua ini banyak banget Ra, mau nraktir se-RT po?” tanya Riana seraya menata semua makanan enak itu di piring.


“Halah sak akeh-akeh-e, ngko lak bablas moro-moro entek,” kata Muara.


“Ho-oh yo, awak deweki do juara kabeh nek soal panganan... Ya udah aku tak bangunin Hanum dulu, dia pasti suka semua ini,” kata Riana. Muara Cuma mengangguk.


“Han, ngemil sek yuk, tuh, Mas Ra sama Ganesh bawa pentol sama sosis bakar...” ucap Riana seraya mengguncang pelan tubuh Hanum.

__ADS_1


“Woah... Cocok nek no, ayok, sek tak cuci muka...” katanya seraya bergegas ke kamar mandi.


“Pelan-pelan dek, kamu mah, baru sembuh juga udah bar-bar aja,” protes Riana. Hanum Cuma nyengir.


***


Sambil menikmati pentol dan sosis bakar yang dibawa Muara dan Ganesh (dan dilengkapi dengan es teh manis buatan Riana), mereka kembali melanjutkan diskusi, dan temanya gak jauh-jauh ; ini masih soal Hanum, radio, dan latar belakang dibalik semuanya.


“Jadi gimana, guys, apa kita perlu melakukan infestigasi?” tanya Riana akhirnya.


“Infestigasi yoopo?” Muara gak ngerti.


“Ya soal gedung studio radio itu, lah, masak sih kalian gak penasaran, gak pengin tau ada apa sebenernya disana...” Riana memperjelas maksudnya.


“Ya pengin, sih, tapi kalau dilakukan dalam waktu dekat dari sekarang kayaknya gak mungkin, mbak, soalnya, kan Mbak Hanum masih dalam proses recovery, nanti aja deh kalau semuanya udah stabil...” ucap Ganesh.


“Iya, mbak, aku setuju sama Ganesh, soalnya kalau sekarang, Mbak Hanum-nya juga pasti masih trauma...” kata Wisnu.


“Itu juga yang aku pikirkan, memang kita harus nyusun strategi sih buat ini semua...” kata Riana.


“Strategi gimana?” Muara penasaran.


“Ya strategi, gimana caranya kita melakukan penyelidikan ini, tapi tanpa menimbulkan kecurigaan sedikitpun. Masalahnya, aku ngerasa ada yang janggal dengan temenku satu itu, deh,” kata Riana lagi. Suaranya-pun kini terdengar lebih pelan, seakan takut bila semesta tahu tentang semua ini.


“Siapa? Yura?” dor! Pertanyaan Muara tepat mengenai sasaran.


“Iya... Yura itu sebenernya anaknya baik Ra, baik banget. Tapi dia ambisius, dan orangnya cenderung menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Dan kurasa, ada yang salah disini, dengan semua kejadian ini, dan kejadian-kejadian janggal lain yang sering terjadi di studio...”


“Tapi Mbak Yura waktu itu kayak yang sedih banget lho pas awal kejadian, mbak yakin sama analisa mbak? Nggak salah mbak mencurigai Mbak Yura?” Ganesh heran.


“Nggak tau juga sih, mungkin efek pikiran kalut juga kali, jadi ngaco begini analisaku.” Jawab Riana.


“Ya udah, kalau gitu biar dipikir nanti aja, kan masih ada banyak waktu... Kita biarkan semuanya berjalan normal dulu aja, sebelum kita bergerak lagi buat penyelidikan lebih lanjut,” usul Muara. Semua mengangguk setuju.


“Bener tuh kata Mas Ra, daripada mikirin gituan, mending kita pesta camilan aja sekarang, bentar lagi orderanku datang, tuh,” kata Hanum, seraya meletakkan ponselnya kembali ke dalam saku. Dan benar saja, dari kejauhan, tampaklah seorang pria dengan jaket ikonik yang menjadi ciri khasnya, datang mengetuk pintu pagar, lengkap dengan box besar yang ada di tangannya. Buset, pada mau mukbang itu, guys!


(TBC).


Halooo... Ya ALLAH lama banget novel ini tak tinggal, padahal udah banyak chapter yang jadi, tapi gara-gara terlalu sibuk aku lupa kesini wkwkwk. Masih pada setia ya sama cerita ini? Tenang setelah part horror yang kurang 2 part lagi ini aku akan posting normal, karena chapter horror-nya udah selesai 🤗

__ADS_1


__ADS_2