MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 40, HARI PELAKSANAAN KOMPETISI


__ADS_3

Seru! Akhirnya Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Universitas (PEKSIMITAS), resmi dan sah digelar secara offline. Kampus kembali mengheboh. Auditorium (area terluas dan terbesar dari kampus), sudah seperti ruang karnafal, karena hampir semua mahasiswa dan mahasiswi tampil rapi, cantik dan ganteng dengan pakaian terbaik mereka.


Enam biji makhluk hidup kesayangan kita (Riana, Muara, Ganesh, Hanum, Wisnu dan Dian), ikut masuk ke dalam ruang auditorium itu. Sama seperti yang lain, mereka juga berpenampilan rapi dan memikat. Hanum dan Ganesh duduk di barisan tengah, didampingi oleh Dian. Sementara itu, Riana, Muara dan Wisnu berduyun-duyun di belakang mereka, bergabung dengan team vocal group.


“Ini kita semua nyimak arahan dulu, kan, sebelum dibagi?” tanya Ganesh.


“Iya... Nah itu dia yang gue khawatirin soal kalian, kalian aman ta di ruang lomba sendirian?” tanya Dian.


“Aman-aman. Ini putri sama putra dipisah yoan jare...” kata Hanum.


“Aaaa, ga kuat, takut kangen!” kata Ganesh seraya memeluk lengan Hanum, membuat si empunya lengan akhirnya mendaratkan “pencetan maut” ke telinga Ganesh.


“Ampun mbak, ampun. Duh, tambah dowo iki ngko kupingku...”


“Ben dadi kelinci sisan og...” kata Hanum setengah geli.


“Ya lord, masih sempet aja kalian tuh...” Dian ketawa.


“Halo semuanya...” Lagi-lagi, yang tak diinginkan datang. Kenapa sih dia selalu ada kapan dan dimana aja, udah kayak kotak P3K tau nggak.


“Hai Reno!” sapa Ganesh, sengaja dengan suara yang dikeraskan. Berharap kakaknya (Riana), ngeh dan dapat memindai wajah tukang bully ini.


“Mau coba-coba ngalahin gue?”


“Kenapa enggak? Daripada adu bacot kayak gini, kan mending adu bakat sekalian. Sorry, gue nggak pinter ngomong kayak lo, apa lagi, ngomong Cuma buat ngejatuhin orang lain...” Savage! Bagus sekali, Ganesha! Dalam bahasa Sansekerta, arti namamu adalah “pemimpin manusia”. Dan si lemah kini bertransformasi, si lemah berusaha menjadi pemimpin dan pelindung untuk dirinya sendiri. Ini permulaan yang bagus. Bukan tidak mungkin sebentar lagi kamu akan sangat mampu membalas orang-orang seperti yang ada di depanmu saat ini. Hanum sedang asyik bergosip dengan Dian, jadi ia tidak memperhatikan jalannya “pertarungan” skala kecil antara Ganesh dan si pengacau Reno, yang kini bersungut-sungut dan meninggalkan tempat mereka berada. Hadeeeh, lagian ada-ada aja. Orang sama-sama disabilitasnya kok tetepan suka nge-bully gitu ya? Yah, bener berarti kan, terlahir dan memeluk takdir sebagai disabilitas gak bikin kita otomatis jadi malaikat, bersih bersinar murni tanpa dosa. Buktinya masih ada aja orang penyandang disabilitas yang bisa-bisanya ngejatuhin rekan sesamanya kayak gitu.


***


“Sukses untuk kita semua ya. Hanum, gue tinggal dulu, kalau ada apa-apa  kabari ya,” kata Dian seraya mengantar gadis bergaun merah marun itu memasuki ruangan lombanya. Sementara itu, Ganesh diantar dan didampingi oleh sang kakak, Riana, ke ruangan lain.


“Siap, Yan. Good luck yaa lo juga...” Hanum memeluk sahabatnya.


“Oke bestie. Itu lima langkah dari sini ada kursi-kursi, cari yang kosong yang mana yak...”


“Beres!” kata Hanum seraya mengayunkan tongkatnya, melangkah menuju deretan kursi-kursi yang tersedia.


***


“Nesh, semangat ya. Mbak tinggal dulu... Kalau butuh apa-apa kabari yaa,” kata Riana seraya merangkul pundak adiknya yang tampak ganteng dengan stelan serba hitamnya.


“Siap mbak. Mbak sukses yaa...” kata Ganesh seraya menggenggam tangan sang kakak.


“Iya sayang. Maju, sekitar 6 langkah dari kamu ada kursi ya. Duduk aja disitu. Mbak ke sana dulu ya...” pamit Riana.

__ADS_1


“Wo siap, mbak cantiiik!” seru Ganesh seraya memasang gestur hhormat ala-ala militer, dan itu tidak membuat Riana tidak menjewer telinganya. Nah, beneran kan, bisa jadi kelinci ini anak lama-lama, telinganya naik ke atas terus panjang. BTW, selamat berjuang ya buat semuanya.


***


Break session, usai kompetisi tahap pertama. Alhamdulillah, keenam sahabat baik itu bisa berkumpul lagi dalam satu kesatuan yang utuh, sambil menikmati makanan di cafe dekat kampus. Bukannya pengen hedon atau gimana, tapi di saat-saat seperti ini, kantin kampus itu amit-amit penuhnya. Tadi mereka udah coba kesana, dan sudah diduga hasilnya, mereka tidak kebagian kursi.


“Ah, lega, seneng banget bisa kumpul lagi...” kata Hanum seraya menghempaskan pantatnya di sofa empuk cafe.


“Iya, kangen kamu tau...” rengek Ganesh.


“Et dah bocah...” sekali lagi di hari itu, kuping Ganesh menjadi sasaran pencetan dan jeweran, kali ini dari dua orang sekaligus ; Riana dan Hanum.


“Oweeeeek kupingku dijewer oweeeeekkk...” rengek Ganesh lagi, kali ini sambil pura-pura jadi bayi.


“Ya ALLAH, punya adek ganteng tapi absurd minta ampun, mama ngidam apa sih dulu dek pas hamil kamu?” ledek Riana seraya membolak-balik daftar menu.


“Sop belut kayaknya mbak,” jawab Hanum.


“Hus, sembarangan aja... Iya ta Nesh?” kini ganti Muara yang ngeledek.


“Yah elah, sama aja kalian tuh...” sungut Ganesh.


“BTW, Nesh, itu ta yang namanya Reno?” tanya Riana tiba-tiba.


“Yah, itulah mbak...” jawab Ganesh sekenanya.


“Lah kamu kok malah ikut nge-bully tho yang?” Muara heran.


“Ya nge-bully tukang bully kan gak ada salahnya...”


“Yo ra isok ngono ta, itu sama aja kamu kayak ngegaremin air laut yang udah asin, gak ada gunanya. Jangan kamu balas tukang bully dengan perlakuan yang sama. Tungguin aja saatnya karma datang buat dia, setiap perbuatan itu akan ada konsekuensinya kok, sistem tabur-tuai namanya...” kata Muara bijak.


“Bener juga sih, tapi geregetan aku tuh yang...” rajuk Riana.


“Halah-halah cah ayuuu... Aku ngerti, tapi kamu tuh harus tahan emosi, karena kalau aku boleh bilang, sesungguhnya itulah yang dia mau, kamu terbakar, meledak, terus nyerang dia. Ngko ndak kepiye-kepiye malah awak dewe i isok mati...” kata Muara.


“Pikirku yo ngono, wes ben karep-karepe arep opo wae nang aku, kalau dilawan bisa jadi bumerang nanti...” timpal Ganesh.


“Yowes lah, wong ko ngono ae kok dipikir jeru. Tadi kethok-e satu lomba sama kamu ya dia?” tanya Riana.


“Iya...” jawab Ganesh singkat.


“Tadi aku mampir ke ruangannya Ganesh, pas kurang dua nomor sebelum Ganesh tampil, ada sebuah suara misterius yang tak terkatakan banget lah gimana itu. Aku terus tanya sama Ganesh. Ini suara siapa? La dijawab lah kemudian, itu Reno katanya. Aku sempat mengabadikan dikit sih...” jelas Hanum.

__ADS_1


“Eh, mana? Aku kok penasaran?” tanya Riana bersemangat. Hanum segera menunjukkan video story WhatsApp yang baru diunggah sejak satu jam yang lalu.


“Elokkk, iki suarane Reno? Mm... Speechless lho aku yoan...” Riana buru-buru menekan tombol back pada ponsel Hanum, mematikan tayangan story tersebut.


“Iki lho akeh sing komen, viral, sampe ditanya, ini bukan Ganesh kan?”


“Yo jelas bukan lah!” seru Muara, Riana, Wisnu dan Dian kompak.


“Ho oh, sampe pegel aku bolak-balik nulis “bukan”, di japrinya orang-orang...” keluh Hanum.


“Yowes ayo, dihabisin makanannya, dua puluh menit lagi pengumuman lho. Kita ngumpul di audit lagi...” kata Muara.


“Woke, siap!” seru semuanya kompak.


***


Hanum dan Ganesh megap-megap, seperti ikan lele yang dipaksa keluar dari air. Mereka bingung tentang tangan siapa, dan tubuh siapa yang merangsek memeluk mereka sedemikian rupa. Belum lagi jeritan, pekikan, dan tepukan super keras yang serasa akan meremukkan punggung mereka.


“Yeay, congratulation for us!” seru Riana seraya tangannya meninju udara.


“Yeah, selamat sih selamat mbak, neng yo ora dimbleki ko ngene yoooo, remek iki ngko!” seru Ganesh seraya mengusap-usap pundaknya.


“Woh, sorry dek sorry, saking bahagianya nih...” Riana ketawa.


“Kon yo ngono, Nu Wisnu, awakmu ki lemu yo, ndadak aku dimbleki, untung ra tugel!” omel Dian.


“Wes, duduk-duduk, ngapain kita berdiri dengan posisi yang berantakan gini?” kata Wisnu.


“Yowes, arep do go-food opo iki ki, dinggo syukuran?” tanya Riana.


“Pizza satu meter!” seru Ganesh seraya melompat ke sofa yang juga diduduki oleh Hanum.


“Woke, asyik tuh. Nanti ibu kose kene yo dibagi pisan, akeh lho pizza sak meter ki...” kata Riana. Semua mengiyakan. BTW, apa sih yang telah terjadi? Kau tak lagi sama, engkau bukan engkau *malah jadi lirik lagu kan., salah tuh. Jadi sebenernya ada apa sih? Kok bisa satu gank mengheboh gini? Baiklah, kukasih tau ya, Esmeralda. Mereka semua itu lolos ke tahap selanjutnya, mewakili kampus untuk PEKSIMIDA (Pekan Seni Mahasiswa Daerah), mewakili kampus. Ulala, bahagianya karena mereka bisa bareng-bareng terus ; Dian untuk keroncong putri, Hanum untuk pop putri, Ganesh pop putra, lalu Riana, Hanum dan Wisnu bersama team mereka untuk vocal group.


“Perjuangan belum berakhir bestie-bestie sekalian, harap diingat, bahwa kelegaan belum sepenuhnya mengisi rongga dada kita...”


“Ho-oh, latihan extra keras mariki...” kata Hanum.


“Ojok keras-keras nemen lah mbak, sek trauma pas jaman SMA aku,” keluh Ganesh.


“Oh, guru musik sing kae tah?” tanya Wisnu.


“Hus, saru, ah, ojok dibahas...” kata Ganesh.

__ADS_1


“Yowes lah, apapun itu, pokoknya, congratulation for us!” seru Riana, dan diikuti sorak-sorai yang lain. Ya, selamat ya untuk kalian semua. Tapi ingat, perjuangan belum berakhir.


(TBC).


__ADS_2