
“Ri, bisa kita bicara sebentar?” tanya Yura. Riana menghentikan langkahnya, menatap sahabat sekaligus seniornya itu dengan sorot heran. Kantor D FM, malam hari, dan Riana baru saja merampungkan programnya. Ya, gadis itu masih aktif menjadi penyiar radio sampai sekarang ; sampai menuju waktu wisudanya yang tinggal satu minggu lagi.
“Kenapa Mbak Yu?” tanya Riana.
“Kita ke ruangan gue, ya, disana udah ada Tita juga...” jawab Yura. Meski keheranan, gadis itu tetap mengangguk dan mengikuti langkah Yura menuju ke ruangannya.
“Duduk,” titah Yura lagi. Riana mengangguk. Ia segera menjatuhkan bobot tubuhnya di sebelah Tita yang sepertinya juga kebingungan, sama seperti dirinya.
“Jadi gini, Ri, sebelumnya ada dua berita ya. Yang pertama, mungkin bisa dibilang berita baik, soalnya gue lagi hamil anak ke dua...” kata Yura.
“Iyakah? Selamat, mbak...” kata Riana antusias seraya memeluk Yura.
“Thanks, Ri. Tapi berita buruknya, kehamilan kali ini adalah kehamilan berrisiko, karena pas hamil kedua ini gue emang lemah banget, hampir sebulan lebih gak bisa ngapa-ngapain. Dan karena gue udah sempat mengalami pendarahan ringan juga, dokter kandungan menyarankan gue untuk bener-bener istirahat di rumah dan gak kerja lagi...” kata Yura sedih.
“Ya ALLAH!” Riana menutup mulutnya, tak percaya. Dia nggak nyangka kalau kondisi Yura bisa separah ini, padahal berita yang ia dengar tentang calon ibu dua anak itu cuma izin karena sakit.
“Makanya, dan gue udah rundingan sama Tita dan anak-anak lain juga tentang siapa yang cocok untuk menggantikan posisi yang gue pegang sekarang. Dan berdasarkan kesepakatan bersama, mereka semua memilih elo untuk menjadi leader...”
“Haaa?” Riana auto terjengkang dari kursi yang ia duduki, karena tidak siap dengan berita yang begitu mengejutkan dan tiba-tiba seperti ini. Tapi Yura tidak memberikan reaksi lain, ia tetap menatap Riana dengan sorot penuh permohonan.
“Please, cuma elo yang bisa...”
“Ta-Ta-Tapi...” ucap Riana, sesaat setelah ia bisa kembali ke posisinya yang benar.
“kami tau elo mampu. Tolong, Ri, tanpa Yura, D FM akan mati. Tapi sinar kehidupan itu ditemukan kembali setelah kita berpikir-pikir tentang lo dan kinerja lo...” kata Tita menimpali.
__ADS_1
“Gu-Gu-Gue...” Riana gemetaran, shock. Kenapa kabar yang ia terima harus seperti ini.
“Ri, gue mohon... D FM gue besarkan dengan susah payah, dan gue mau radio ini tetap berjalan di tangan orang yang tepat dan semestinya. Dan orang itu adalah elo, Ri. Jujur, andaikan saja kehamilan ini tidak mengancam keselamatan gue, gue pengen banget nerusin ada disini...” pinta Yura sambil menangis. Riana jadi serba salah. Ia memijat pelipisnya, merasakan kepalanya pening seketika. Tapi sepertinya tidak ada pilihan lain ; ia harus melakukannya, untuk Yura dan untuk D FM juga yang telah membesarkan namanya. Lagian sekarang, siapa sih yang nggak kenal sama DJ Riri?
“Ok, mbak.
Gue coba semampu gue...” kata Riana akhirnya. Yura mengucap syukur. Kelegaan mengisi penuh-penuh rongga dadanya.
“Thanks, Ri, lo emang sahabat terbaik yang paling baik yang gue punya... Suatu hari, ketika gue nggak ada, biar Adam dan calon dedek ini tau siapa aunty mereka yang baik kayak malaikat...”
“Husss, apa sih mbak, jangan pesimis gitu, lo pasti selamat, kok, kehamilan kedua ini juga akan baik-baik aja, sama seperti waktu lo hamil Adam dulu.” kata Yura.
“Aamiin, do’ain aja. Jadi resmi ya, mulai senin depan, lo adalah leader di D FM ini. Karena ini hari terakhir gue boleh masuk kerja.” kata Yura.
“Iya, mbak. Mohon bimbingannya ya tapi, gue kan orang baru...” kata Riana.
***
Muara membiarkan Riana bersandar di bahunya, sementara tangan lelaki itu bermain di antara helaian rambut panjang gadis itu yang telah tergerai.
“Kamu capek?” tanyanya lembut.
“Bukan capek sih, lebih ke pusing aja...” jawab Riana pelan seraya tetap bersandar di bahu kekasihnya tersebut.
“Lho, kamu sakit?” tanya Muara panik.
__ADS_1
“Enggaaak, bukan itu. Cuma... Gini...” akhirnya Riana menceritakan semuanya ; tentang pertemuannya di ruang pimpinan dengan Yura, tentang apa yang sedang terjadi pada ibu hamil itu, dan tentang keputusan terakhir yang diambilnya untuk D FM ke depannya.
“Yah, hidup kan emang penuh misteri, yang, banyak kejutannya, banyak rahasianya. Ya mungkin ini jawaban dari setiap pertanyaan dan protes kamu tentang Mbak Yura yang sering nyuruh-nyuruh kamu seenaknya, secara nggak langsung, dia udah ngajarin kamu,” kata Muara.
“Iya juga, aku baru kepikiran. Tapi terus aku harus gimana?” tanya Riana putus asa.
“Ya nggak gimana-gimana, dicoba untuk dijalani ya sayang. Toh keputusan final-nya kan sudah itu, anggap aja kamu sedang menapaki fase baru dalam karier kamu, biar nggak stuck dan gitu-gitu aja. Tau nggak, kadang-kadang, manusia itu memerlukan sesuatu yang baru dalam hidupnya, untuk memperbaiki dan meningkatkan qualitas dirinya...” kata Muara bijak. Riana menghela napas, merenungi dan meresapi baik-baik ucapan kekasihnya tersebut. Dan ia pun tersenyum kemudian. Benar juga, ini kan cuma sesuatu yang baru, seperti main game, pasti kita akan mengalami yang namanya “level up”, dan seperti game-game pada umumnya, dia hanya perlu menyelesaikan setiap challenge yang ada.
“Kamu bener, yang, aku hanya perlu menjalaninya,” kata Riana akhirnya.
“Nah, that’s it. Semangat, aku tau ini gak mudah, tapi, sepengetahuanku seorang Riana Mentari tidak akan menyerah sama apapun rintangan dalam hidupnya,” kata Muara menyemangati. Riana tersenyum, merangkulnya penuh rasa terima kasih. Kalau udah begini ceritanya, dia berani deh mengukuhkan diri sebagai wanita paling beruntung di dunia, karena setiap hari – tidak, setiap saat, Muara selalu memperlakukannya seperti itu.
***
Hari-hari berlalu, cepat sekali. Meskipun sempat merasa kesulitan, tapi pada akhirnya, Riana dapat menikmati pekerjaan barunya juga. Dia masih tetap memandu program Coffee Break (ya, listeners gak mau kehilangan suara si cantik ini), tapi tugas tambahannya juga banyak ; kadang ngisi training untuk penyiar baru, melakukan seleksi saat perekrutan, dll, dst. Hanum juga masih ngisi disana, tapi cuma weekend. Riana terus menikmati pekerjaannya, sampai sekarang telah tiba di bulan ke sembilan sejak keputusan itu ditentukan. Dan oiya, gadis itu juga masih tetap berkomunikasi dengan Yura, hanya saja, tiga bulan terakhir ini, kondisi bumil cantik itu melemah, sehingga jarang pegang ponsel. Dan di sore yang sedikit mendung ini, Riana masih berada dalam ruangannya, menunggu Muara yang berjanji akan menjemputnya selesai dia bimbingan. Tapi, kok sampai sekarang belom dateng juga itu anak?
“Mbak Riri!” jeritan Tita yang heboh seraya berlari-lari masuk ke dalam ruangannya mengejutkan gadis itu.
“Opo tho Mbak Tita?” tanya Riana keheranan.
“Mbak Yura... Mbak Yura!” ucapnya seraya terengah-engah.
“Sek leren sek, duduk dulu Mbak Ta. Mbak Yura kenapa?” tanya Riana seraya membawa perempuan itu ke kursi di sebelahnya.
“Mbak Yura... Me-Me-Me-Meninggal...”
__ADS_1
“Innalillahi!” Riana shock. Jantungnya serasa ditarik keluar semua. Apa katanya tadi? Yura? Nggak, nggak mungkin! Dan pekikan Tita adalah hal paling terakhir yang dia ingat, sebelum gelap berkuasa penuh atas dirinya.
(TBC).