MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2

MENTARI UNTUK MUARA SEASON 2
BAB 8, DOLAN KE KAMPUS (TRIPLE DATE)


__ADS_3

-Pov Author


“Halooo, dengan kantor polisi yang tidak ada polisinya, ada yang bisa saya bantu?”


“Halah, mesti sih kamu nek ditelpon kayak gitu. Mbak Riri mana? Kok HP-nya gak bisa dihubungi?” tanya Ganesh beruntun dari seberang telepon.


“Oh, mandi paling, tadi sih pamitnya gitu, tapi kalau HP-nya gak bisa dihubungi, aku gak tau...” jawab Hanum.


“Kamu jadi ke kampus kan hari ini?” tanya Ganesh lagi.


“Lho, ya jadi dong. Kamu?”


“Iya sama... Ya udah, aku siap-siap dulu ya,” kata Ganesh.


“Iya, habis ini aku juga siap-siap kok, bye, sayang.”


“Bye...”


***


Jadi inilah mereka ; Riana, Muara, Wisnu, Ganesh, Mayang dan Hanum. Di antara mereka, sebenernya Hanum ini kakak tingkat, karena sudah memasuki semester dua. Itu sebabnya dia misah sama teman-teman dan pacarnya, dia mau ketemu teman-teman seangkatannya.


“Wah, ini rupa kampus kita mbak? Apik yo!” kata Ganesh seraya mengamati seluruh tempatnya akan menimba ilmu itu dengan perasaan senang.


“Iyo Nesh, apik yo. Dulu mbak kan pengen banget masuk sini, tapi...”


“Sssssttt, udah ya mbak, jangan diinget-inget lagi. Kan sekarang mbak kuliah sama aku, ya...” kata Ganesh lembut.


“I feel you, mbak. Dulu aku juga ngerasa gitu kok, yang lain masih pada muda, aku udah kepala dua sendirian... Tapi tenang aja, lambat-laun pasti perasaan semacam itu hilang kok,” kata Hanum. Riana tersenyum. Alhamdulillah, dia dikelilingi oleh orang-orang yang begitu baik kepadanya, sama seperti ketika pertama kali ia datang ke Jakarta dulu. Sayangnya, ternyata mereka semua harus berpisah sebentar dengan Hanum, karena dia sudah bertemu dengan teman seangkatannya, dan sepertinya mereka akan mengadakan rapat untuk suatu kegiatan.


***


Restoran cepat saji, siang hari. Ah senangnya, karena mereka bisa berkumpul bersama lagi, makan siang dan bercanda bersama-sama lagi. Soalnya, lima orang mahasiswa baru itu berasa jadi anak ilang sepeninggal Hanum tadi.


“Kampus kita gede banget ya,” Ganesh memecah kesunyian.


“Iya, aku ngerasa keren lho bisa masuk situ. Dan apa lagi, ini kali pertama aku kesini juga setelah setahun kemarin online,” kata Hanum.


“Eh, ngomong-ngomong, tadi kamu rapat bahas apa, Han?” tanya Riana.


“Persiapan ospek, mbak,” jawab Hanum. Kelima orang di sekitarnya mendadak ngeri. Sepertinya bayangan mereka tentang ospek adalah seperti sesuatu yang benar-benar buruk dan mengerikan. Hanum tersenyum. Ini persis seperti apa yang dibayangkannya dulu, pas awal-awal masuk kuliah.


“Ospek tidak se-mengerikan itu kok guys... Memang sih kita bakalan jadi zombie gara-gara terpaksa harus ngerjain tugas sampai larut malam. Apa lagi waktu itu aku online ya, berapa jam itu ngadepin zoom dan laptop, Ms. Word dan teman-temannya... Waduh, tak terkatakanlah ya. Tapi kalau yang ada di bayangan kalian adalah tentang senior-senior yang sok galak dan petantang-petenteng, menindas yang lemah, itu nggak ada sama sekali... Ospek zaman now itu lebih kayak ke edukasi sih,” jelas Hanum.


“Nanti kalau jadi senior pas ospek jangan galak-galak ya, mbak,” ucap Ganesh pelan.


“Hahahaaa, bukan aku Nesh panitianya.” Hanum tertawa.


“Terus tadi rapat segala buat apa?” Riana heran.


“Oh, itu buat koordinasi, tahun ini, di angkatan bawah ini, madif alias mahasiswa difabel-nya ada berapa, soalnya aku kan relawan untuk disabilitasnya mbak, jadi nanti aku koordinator gitu, sama relawan-relawan lain juga sih.” JelasHanum.


“Serius itu ada wadahnya? Buat relawan-relawan gitu?” tanya Riana antusias.


“Ya serius mbak, kenapa? Tertarik ta?” tanya Hanum.


“Iyaa, aku tertarik bangeeeet. Nanti masukin yaaa,” kata Riana antusias. Hanum mengangguk kencang. Ia senang, karena itu artinya, akan bertambah lagi relawan yang akan membantu teman-teman yang senasib dengannya.


“Mbak Ri, sejak dulunya, Mbak Hanum itu sering banget bantu orang, dia ngajar, selain ngajar resmi di sekolah, dia juga sering jadi tutor gitu, aku aja dulu banyak dibantu sama dia pas SMA,” kata Ganesh.


“Dan Mbak Hanum juga bagus mbak suaranya, aku lho ditunjukin sama Ganesh pas kapan hari itu...” timpal Wisnu.


“Kalau soal suaranya Hanum, sih, aku udah tau. Cuma bodohnya tuh baru sadar pas kenal, ternyata aku sama Hanum udah follow-follow-an IG itu dari dua tahun yang lalu, tapi baru notice kalau Hanum itu tuh Hanum yang sama gitu kan...” Riana ketawa.


“La iya e, aku ya baru nyadarnya kemarin, sama-sama baru nyadar lah intinya,” Hanum tertawa. Dan setelah mereka menyelesaikan agenda makan siang itu, Muara memutuskan untuk mengajak mereka semua jalan-jalan keliling Kota Surabaya. Sengaja mereka memutuskan untuk naik taksi online, karena Ganesh dan Hanum kan tidak bisa berboncengan naik motor seperti Riana dan Muara, atau Wisnu dan Mayang.


***

__ADS_1


Masih di Surabaya, sore hari. Setelah lelah berjalan-jalan, akhirnya mereka berenam memutuskan untuk singgah sebentar di sebuah cafe dengan konsep outdoor. Ini adalah tempat makan terdekat dari destinasi terakhir mereka tadi ; Tugu Pahlawan. Hihihi. Kalau dilihat-lihat sekilas, mereka malah jadi kayak triple date ya ; Riana dengan Muara, Ganesh dengan Wisnu, eh, Hanum, lalu Wisnu dengan Mayang. Yang dua sih udah resmi tuh, Ganesh-Hanum, Wisnu-Mayang. Tapi kenapa Riana dan Muara ikut-ikutan ada di garis ini? Padahal kan mereka belom resmi, ya? Ya udah, positive thinking aja, siapa tau, dengan ngeliat begini, kedua anak tuyul, eh, anak manusia itu jadi terinspirasi dan termotifasi *halah.


“Gesss, seneng a jalan-jalan?” Muara memecah kesunyian seraya menghempaskan diri tepat di sebelah Riana.


“Seneng banget, mas, makasih yaa,” kata Ganesh seraya memainkan kepangan rambut Hanum yang ada di sebelahnya, sehingga mengusik gadis itu yang lagi asyik dengan ponselnya.


“Ck, arek i lho tangannya gak isok meneng,” sungutnya.


“Lagian, ngapain sih dari tadi HP-an terus?” tanyanya.


“Ada kerjaan sayang, aku perform dua hari lagi. Nih, dengerin aja,” kata Hanum seraya menyerahkan ponsel pintarnya kepada Ganesh.


“Aku percaya kok, tapi jangan terlalu fokus gitu sayang,” pintanya. Hanum Cuma mengiyakan. Meskipun hampir ada sedikit ketegangan, tapi mereka tetap terlihat romantis, bikin iri, deh.


“Dan pada akhirnya mbak jadi mikir, Nesh, cewek mana ya yang nggak auto nyaman sama kamu kalau caranya begini...”  kata Riana.


“Gini gimana mbak?” Ganesh kurang paham.


“Semua yang kamu lakukan ke cewekmu itu, kayak apa yang diinginkan hampir semua cewek di luaran sana gitu ; dilembutin, kalau ceweknya salah, ditegur dan diajak ngomong dengan cara baik-baik, nggak egois gitu jadi cowok... Kira-kira jodohku nanti kayak gitu nggak ya?” Riana menatap ke langit yang luas dan tak bertepi di atasnya. Tiba-tiba saja ia mempertanyakan perihal jodoh yang sudah dipersiapkan untuk dirinya kelak. Adakah ia akan mendapatkan lelaki yang sesuai harapannya? Drttt... Ponsel di sakunya mendadak bergetar. Sambil tetap tidak fokus, Riana membaca isi chat itu yang ternyata dari sang adik.


[Aku yakin Mas Muara adalah orang yang tepat dan sesuai harapan mbak. Semoga kalian berjodoh.] Riana tersenyum, ia segera membalas chat sang adik.


[Mbak nggak tau, entah mbak akan berjodoh dengan siapa nantinya. Do’anya aja...]


“Ri, ngapain kamu main HP sambil senyum-senyum?” tanya Muara.


“Astagaaa ni orang, kan gak usah pake ngagetin kan bisa yak!” ketus Riana.


“Lagian, fokus bener... Eh mau pesen apa? Tanyain sama anak-anak sekalian,” kata Muara. Riana mengangguk.


“Guys, kalian mau pesan apa?”


“Nasi goreng aja, mbak,” ucap Wisnu, dan diikuti dengan anggukan oleh yang lain.


“Ini semuanya nasi goreng?” tanya Muara. Mereka kembali mengangguk. Nuara mencatat semua pesanan makanan dan minuman mereka, lalu memberikannya kepada pelayan yang menghampiri meja mereka. Sambil menunggu pesanan datang, mereka memperhatikan suasana cafe yang tak seberapa ramai itu, mungkin karena ini masih hari kerja. Tapi yang menarik perhatian mereka adalah panggung yang ada di depan sana, karena beberapa orang tengah naik ke atasnya, untuk mempersiapkan sesuatu.


“Kayaknya begitu, ya udah kita dengerin aja,” kata Muara. Ganesh mengangguk. Sebagai pecinta musik sejati, dia langsung auto fokus begitu tau ada live music di tempat dimana dia berada sekarang.


“Kayaknya band lengkap tuh, banyak e orangnya,” kata Riana.


“Besok aku juga manggung lho, dan formatnya paling kayak gini juga,” ucap Muara.


“Kira-kira lagu pertamanya apa ya?” Ganesh antusias.


“Paling lagu-lagu kekinian yang simple, kayak Tri Suaka,” jawab Hanum.


“Ayok taruhan!” ajak Wisnu tiba-tiba.


“Maksudnya? Taruhan gimana?” Hanum bingung.


“Ini, alatnya beneran lengkap, sampai ada saxophone segala. Masak dia bawain lagu-lagu yang simple?” tanya Wisnu.


“Mbuh, deh, ya udah, kita dengerin aja kira-kira band ini bakal bawain lagu apa. Pokoknya, feeling-ku tetap Tri Suaka,” kata Hanum. Tergelitik dengan ajakan “taruhan” tanpa uang ini, anak-anak yang lain akhirnya ikut menyebutkan judul lagu yang kemungkinannya akan dimainkan oleh para musisi cafe itu pertama kali nanti, setelah semuanya beres. Maka kini ada dua hal yang ditunggu sama mereka di cafe ini ; menu yang dipesan, dan para musisi cafe yang akan beraksi. Kira-kira lagunya yang pertama apa ya?


“Suara hati kita bergema melantunkan nada-nada


Melagu tanpa berkata


Irama hati kita bernada, merayu tanpa bicara


Melagu tanpa berkata seperti syair tak beraksara


Seperti puisi tanpa rima, seperti itu aku padamu


(Setapak sriwedari denganmu) seperti itu aku padamu


(Setapak sriwedari denganmu) seperti itu aku padamu”

__ADS_1


“Jiaaaahhh, jawabanku dong yang bener!” seru Muara girang, sampai berdiri dari kursinya segala.


“Lho, aku juga mikir mereka kalau gak bawain lagu Malik D’essentials ya Discoria kok...” jawab Riana.


“Nah jodoh tuh kalian,” kata Wisnu asal.


“Hus! Ya udah, duduk lagi yuk, ayo terusin tebak-tebakannya, lagu apa lagi kira-kira?” kata Riana. Semua menurut. Mereka menunggu band tersebut melanjutkan lagu mereka. Tapi begitu intro dimulai, semua terkejut, tterhenyak dari posisinya, lebih-lebih Riana dan Muara serta Ganesh, yang tahu persis mengenai “history” atau sejarah dari lagu itu.


“Belahan jiwa


Dekatlah kepadaku


Ku ingin engkau tahu


Ku mengagumimu


Engkau dan aku


Bagaikan doa yang mengikat


Dalam setiap langkahku


Namamu ku sebut


Ku jatuh


Ku jatuh kembali padamu


Hanya denganmu


Ku lepas semua raguku


Hatiku


Hatiku jatuh kepadamu


Sungguh semangatku jatuh dan jatuh kepadamu


Kau nyali terakhirku


Hu hu hu


Ku jatuh


Ku jatuh kembali padamu


Hanya denganmu


Ku lepas semua raguku


Hatiku


Hatiku jatuh kepadamu


Sungguh semangatku jatuh dan jatuh kepadamu


Kau nyali terakhirku ho


Kau nyali terakhirku”


“Ya ampun, Nyali terakhir...” ucap Riana – nyaris berbisik. Ia mengingat dengan baik siapa yang menyanyikan lagu itu, yang sekaligus menjadi ajang pengungkapan perasaan, dan merupakan kali terakhir baginya juga untuk bisa melakukan itu.


“Mas Abhi...” Ganesh menimpali. Mayang sudah menangis di pelukan Wisnu. Ia tahu... Ia tahu betul dengan lagu itu, lalu sekelumit kisah dibaliknya.


“Sabar, Mayang... Jangan ditangisi lagi masmu, dia udah bahagia disana,” ucap Wisnu lembut. Tak dinyana, acara hangout sekaligus semi “triple date” ini bisa berakhir dengan suasana yang galau karena ulah para musisi cafe itu. Berarti bener ya ungkapan peribahasa “gara-gara nila setitik, rusak susu sebelahnya” *Eh.


(TBC).

__ADS_1


__ADS_2