
Taman kampus, siang hari. Muara sebel banget, soalnya dia udah menyiapkan diri, hati dan pikiran untuk datang ke kampus di siang hari yang panas membara begini. Tapi ternyata, setelah jam pertama tadi (Psikologi Musik), dua jam berikutnya untuk matkul kedua dan ketiga semuanya kosong. Seharusnya dia bisa langsung pulang, tapi dia udah janji mau barengan sama Riana yang masih menyelesaikan kelas terakhirnya (mereka beda kelas).
BRUKK!
“Adaaaawww!” seruan seseorang mengejutkan Muara yang sedang asyik mengamati ulat yang sedang memakan dedaunan di taman tersebut. Ya ampun, kamu terlalu rajin, anak muda.
“Kenapa mbak?” tanya Muara seraya menghampiri sosok yang mengaduh tadi, yang ternyata seorang perempuan.
“Anu mas, keserimpet tali sepatu sendiri...” jawab gadis itu seraya meringis. Ia berjongkok sebentar, mengikat kembali tali sepatunya, lalu bangkit berdiri. Dan sebentar kemudian matanya membulat sempurna, terkejut.
“Eh, kamu Muara kan?” tanyanya. Merasa tersebut namanya, Muara menoleh.
“Siapa?” tanya Muara.
“Celine, anak SMA Tridharma... Angkatan 19. Inget?” tanya gadis itu lagi. Muara mengernyitkan dahinya, tampak berpikir. Kemudian...
“Ce... Celine Alinia Raharja...” ucapnya pelan, nyaris dalam bisikan.
“Nah tu inget. Kamu apa kabaaar?” tanya Celine heboh seraya memeluk Muara. Muara tidak sempat menghindar, dia nggak mau Celine jatuh kedua kalinya, di tempat umum pula. Jadi terpaksa saja ia menerima pelukan gadis itu, dan membalasnya. Tanpa ia tahu, bahwa ada sepasang mata dan sepasang telinga yang tengah memperhatikan dari kejauhan.
“Aku baik Cel. Kamu gimana?”
“Baik juga dooong... Kuliah disini juga akhirnya kamu?” tanya Celine lagi seraya menguraikan pelukan mereka.
“Iya Cel, jurusan Seni Musik, kayaknya kita satu fakultas gak sih? Aku sempet lihat kamu pas ospek fakultas kemarin sebagai pemandu, tapi sangsi itu beneran kamu apa bukan...”
“Ho oh, aku anak Sastra Inggris nih, jalan semester 5 sekarang. Ah piye tho kowe ki, karo mantan garuanne dewe iso lali ki lho...” goda Celine.
“Halah wong jenenge wae mantan og yo, mbok dilalekno wae... Yowes yo, Cel, aku duluan...” kata Muara. Celine mengangguk. Ia melambaikan tangannya kepada Muara. Muara tidak sempat membalas, karena ia sudah mendapat peringatan tanda “bahaya”, dari notifikasi ponsel yang bergetar terus-terusan.
“Udah selesai riuniannya?” tanya Riana seraya berdiri berkacak pinggang.
“Kamu ngeliat ta sayang?” Aduh. Pertanyaan yang salah, wahai. Kamu gak lihat apa ekspresinya Riana udah kayak siap perang gitu?
“Aku pulang sendiri aja ya,” ketus Riana.
“Lho, kita kan udah janji ba...”
“Sana! I don’t want you!” serunya seraya berlari. Dia berlari menghampiri Wisnu yang masih asyik nongkrong sama teman-temannya. Keliatannya dia bakal pulang sore nih.
“Nu, pinjem motor!” seru Riana.
“Hah? Minjem motor? La kok gak bareng Mas Ra?”
“Ck, wes talah jo kakean takon, tak nyilio sek!” seru Riana, masih dalam mode ngegas. Dan begitu melihat ekspresi Riana yang horror seperti The Secret Riana beneran, Wisnu baru sadar, pasti ada sesuatu yang salah dengan kakak dari sahabatnya tersebut.
“Yowes gawanen mbak, gawanen pedaku. Ngko Ganesh tak kon ngojol wae, sek sore yoan awak dewe leh muleh ki...” kata Wisnu seraya menyerahkan kunci motornya kepada Riana.
“Suwun...” ucap Riana dingin, seraya berlari menuju sepeda motor milik Wisnu yang masih terparkir.
“Ati-ati mbak. Ojo kegowo emosi sek leh nyetir ki. Ngko aku dicaplok Ganesh nek mbak-e lecet-lecet tah piye...” ucap Wisnu pelan seraya memasangkan helm kepada gadis itu. Jujur saja, ia tidak tenang meninggalkan kakaknya Ganesh yang sedang dalam keadaan tak baik-baik saja seperti ini.
“Mbak... Tak terke wae po?” tanya Wisnu khawatir.
__ADS_1
“Iyo wes, boncengke wae, gak konsen aku...”
“Iyo mbak, yoh. Tak terke wae.” kata Wisnu seraya mengambil alih kendali motor. Wisnu deg-degan setengah mati. Dia baru lihat Riana semarah dan se-emosi ini. Penyebabnya apa juga dia nggak ngerti. Halah, ini habis berantem paling.
***
“Kok dianterin sama kamu Mbak Riri-nya? Kenapa?” tanya Hanum yang terheran-heran saat tau Riana sudah pulang ke kost, tapi tidak bersama pacarnya.
“Weh onok kasus mau ki mbak. La wong tiba-tiba Mbak Riana tuh lari nemuin aku, minjem motor sambil ngomel-ngomel. Kayaknya berantem deh itu dia sama Mas Ra...” kata Wisnu seraya meminum es sirup dingin yang dibuatkan Hanum.
“Weh? Padu? Berantem sama Mas Ra?” Hanum kaget.
“Iya... Coba aja ditemui dulu aja mbak, siapa tau butuh temen curhat. Aku tak istirahat dulu disini...” kata Wisnu seraya bersandar di sofa.
“Ya udah deh, coba aku ke kamarnya dulu... Bentar ya Nu...” kata Hanum. Wisnu cuma mengiyakan. Matanya cukup berat siang ini. Jadi mending dia tidur dulu bentar.
***
Hanum mengusap-usap punggung Riana yang masih terisak-isak di pelukannya. Gadis itu benar-benar terkejut menyaksikan Riana yang seperti ini.
“Wah Mas Muara ki, kacau... Kok bisa nggak ngerti kalau ceweknya tuh ngeliat... Iki ki kudu diberi pelajaran sih...” kata Hanum pelan seraya dengan hati-hati mengurai pelukan mereka.
“Mbak, maem sek yo. Kae, aku beli nasi bakar tadi pas pulang kampus. Tak panasin ya, maem sek, udah mau sore nih,” kata Hanum.
“Ra sah cah ayu, aku arep turu sek.” jawab Riana pelan seraya membenarkan posisi berbaringnya.
“Weh... Yowes mbak geleme opo, ngko sore tak belikan, kalau nggak tak masakin ya?” bujuk Hanum lagi.
“Yowes gek istirahat, aku tak metu sek mbak. Ojok nangis meneh...” kata Hanum. Riana cuma mengiyakan. Pintu kamarnya tertutup pelan sepeninggal Hanum. Riana memperbaiki posisi berbaringnya, lalu memejamkan mata. Sepertinya tidur adalah pilihan terbaik yang berguna untuk memperbaiki suasana hatinya.
***
“Riana mana Han?” tanya Muara yang baru saja sampai di kost dua gadis itu, bersama Ganesh.
“Ngapain nyari-nyari Mbak Riri? Wah, pelanggaran Mas Muara ki!” omel Hanum seraya melanjutkan aktifitasnya mengupas bawang.
“Alah kon iki, ojok memperkeruh suasana ta...” kata Muara.
“Ada mas ada, Mbak Riana tidur dari siang tadi...” jawab Hanum seraya mengambil bahan masakan selanjutnya untuk dieksekusi.
“Nggak bangun-bangun? Udah jam lima lho...”
“Delok-en dewe, mbuh wes tangi po urung...” jawab Hanum jutek.
“Welah, ojok jutek-jutek tho dek, aku ki butuh jawaban lho, khawatir aku sama Riana...”
“Yowes iku mau wes tak jawab, nang kamar wonge...” kata Hanum.
“Yowes, aku kesana dulu. Itu di atas meja ada cheesecake. Masukin kulkas ya...” kata Muara. Hanum cuma mengangguk. Kini ia mulai menumis. Ia ingin memasak sesuatu yang spektakuler untuk memperbaiki mood mbaknya tersayang.
***
Di meja depan kos-kosan mereka semua berkumpul kembali, menikmati masakan spektakuler yang dibuat sama Hanum tadi. Sebenernya dia masak apa sih? Sini guys, tak kasih tau. Ini namanya Mac N Cheese. Ini adalah salah satu olahan pasta yang enaaak banget *kan, jadi laper aku tuh. Hanum berusaha keras mempelajari resep ini selama dua minggu terakhir. Dan sepertinya ini berhasil ya, terlihat dari semua orang yang menikmati makanan tersebut dengan ekspresi yang bahagia.
__ADS_1
“Enak banget sayang masakanmu,” puji Ganesh tulus seraya memegang tangan Hanum yang ada di sebelahnya.
“Makasih yaa... Usahaku keras lho buat bisa bikin ini...” kata Hanum.
“Enak dek, mbak suka lho sama masakanmu,” timpal Riana.
“Ya ALLAH akhirnyaaa bisa denger suaranya lagiii...” kata Muara tiba-tiba.
“La ngopo mas?” tanya Ganesh seraya tersenyum geli.
“Wes talah rek ojo nggudo... Aku ki ngelu nek nyonya ki koyok arca hidup ngene... Serem yo...” sungut Muara.
“Mulo ojo digawe dewe masalah ki mas... Kan ngono dadine...” omel Hanum.
“Sebenernya tadi tuh kenapa sihh mas? Kok bisa heboh gini?” tanya Ganesh. Muara pun menceritakan semuanya. Tentang aktifitasnya menunggu di taman, tentang dia yang melihat seorang perempuan yang terjatuh karena lupa mengikat tali sepatunya. Dan perempuan itu ternyata adalah Celine, mantan pacarnya semasa SMA.
“Woah yo positif meresahkan nek iki... Ngopo sih akeh buangeeet wedok sing pengen karo nggone wong lio, ra kreatif, ra gelem nggolek dewe. Opo yo arek lanang iseh kurang tah nang planet iki? Jian, jembek aku!” omel Hanum. Sebagai seorang perempuan (yang punya kadar kecemburuan yang sama tingginya dengan Riana), dia ya ikut kesal menyaksikan hal ini. Author juga deng *eh.
“Lho kamu kok ikut ngamuk je sayang?” Ganesh meringis.
“Ya kesel aja. Kowe awas kowe nganti ketemu mantan ndek kene, tak tendang mental sampe Banyuwangi ngko...” ancam Hanum.
“Kenapa cewek kalau lagi pada cemburu tuh sadis gitu ya?” tanya Wisnu heran.
“Kayaknya hampir semua cewek gitu deh. Apa Mayang gak pernah cemburu sama kamu?” tanya Hanum.
“Ora i... Tapi nek dek-e sih tenanan ora sayang, makanya nggak onok cemburu-cemburu blas, gak onok rasa takut kehilangan...” Wisnu meringis.
“Makanya, kamu ngerti tho akhirnya, kalau cemburu itu bagian dari rasa takut kehilangan?” omel Hanum lagi.
“Iyo-iyo mbak. Beuh... Yoopo ki Nesh, aku diseneni karo mbakmu...” kata Wisnu.
“Kuapok... Mbak, nambah dong,” kata Ganesh seraya menyodorkan piringnya.
“Sek tak ambilin nanti. Mau bawa pulang gak itu? Aku masak kelebihan nih,” tawar Hanum seraya membawa piringnya Ganesh ke belakang, dan menyendokkan pasta tersebut lagi.
“Boleh dibawa mbak? Lumayan buat sarapan!” seru Wisnu kegirangan.
“Nyoh, gawanen. Kalian besok ada kelas gak?” tanya Hanum.
“Jumat besok mbak, kan libur,” jawab Ganesh.
“Oh ho-oh deng, yowes gila-gilaan besok. Nesh, kita harus menuhin keinginan subscribers yang pengen kita Q and A lho...” kata Hanum.
“Iya wes, jam berapa mau shooting-nya?” tanya Ganesh.
“Bar jumatan wae, ben aman...”
“Oke, nanti aku kesini sama Wisnu dan Mas Ra lagi paling...”
“Sip, beres...”
(TBC).
__ADS_1