
“Ibarat esuk mendung
Awan aku kudanan
Sore mbok larani
Bengi tak tangisi” (Happy Asmara – Pingal)
***
[Mbak, selo nggak?] pagi hari, usai Riana merampungkan aktifitasnya bersih-bersih kosan, ia mendapatkan chat dari Mayang. Sambil meletakkan sapu terbang *eh, bukan, sapu lantainya kembali ke tempatnya, ia segera membalas chat tersebut.
[Sore ini selo. Aku mau ke radio dulu, ada rapat. Gak papa tah? Kamu butuh berdua doang sama mbak apa gimana?] Mayang is typing.
[Kalau memungkinkan sih, aku pengen ramean, sak Wisnu, sak Muara, Ganesh sama Mbak Hani pisan...]
[Weh, ono opo tho ki?]
[Ora mbak, mau ngomong suatu hal wae... Yowes nanti sore aku tak ke kost ya...]
[Yo, tak enteni.]
***
“Heh? Serius Mayang mau ke kost-mu?” tanya Muara, saat mereka bertemu di waktu makan siang. Kebetulan Muara lagi ada kerjaan, dan lokasinya dekat sama kantor radio tempat kerja Riana. Jadi ya bisa aja ketemu.
“Iya, tapi nggak cuma sama aku doang dia mau ketemu. Dia mau ketemu sama kita berlima pokoknya...”
“Wiii, bakal ada huru-hara opo iki ngko?” Muara nyengir.
“Hus, lek ndungo lho elek, semoga aja semuanya berakhir baik ngono lho, dasar...” omel Riana.
“Iya-iya, cantiiiik. BTW, mau pesen apa ini? Kamu belum mesen kan dari tadi?” tanya Muara seraya membolak-balik daftar menu di hadapannya.
“Belum, aku nunggu kamu...” jawab Riana.
“Ealah nduk... Maaf ya lama... Yowes aku pesen nasi rawon iki ki, karo es jeruk. Kamu mau apa?” tanya Muara seraya menunjukkan nota pesanannya kepada Riana.
“Aku tak nasi soto wae, tapi minumnya samain sama kamu, ya...” kata Riana. Muara mengangguk. Dan begitulah akhirnya. Kejadian selanjutnya gak usah diceritain ya, nanti author digugat readers gara-gara mereka pada baper. Hihihi.
***
Hanum gelisah di kamarnya. Sejak pulang kuliah tadi, dia dikasih tahu sama Riana, kalau sore ini Mayang akan berkunjung ke kost mereka, guna menyampaikan sesuatu hal yang penting katanya. Kalau dari bau-baunya, kayaknya yang mau dibahas ini super serius sih. Dan Hanum selalu gelisah sendiri kalau mau ada pembahasan serius kayak gini. Dia jadi ingat peristiwa setahun lalu, antara dirinya, Ganesh, dan mantannya. Peristiwa itu, setahun lalu, beberapa hari jelang usianya yang ke-20 tahun. Yap, benar. Hari-hari perjalanannya menuju usia kepala 2 sama sekali tidak mudah. Tapi kini, gadis itu mampu mengenangnya dengan senyuman. Karena rintangan demi rintangan yang telah dilaluinya itu, ternyata malah membawanya ke arah jalur bahagia yang tidak pernah ia kira sebelumnya.
“Yeeee, menang lagiiii!” teriakan Muara yang berhasil mengalahkan Riana dalam permainan kartu mengejutkan Hanum yang tengah asyik dengan pikirannya sendiri. Dasar deh tuh orang dua, nggak ada tegang-tegangnya sama sekali, malah pada mojok, padahal, bentar lagi bakalan ada peristiwa berdarah lho.
[Nesh, kowe ki nang ndi tho?] tulis Hanum pada pesan singkat, lengkap dengan emotikon wajah cemberut yang bertengger tiga biji di akhir kalimat.
[OTW, cantik... Sabar ya, ini aku naik taksi online, Wisnu belom stabil, belom berani bawa motor katanya. Tapi dia ikut kok, kan seperti yang dibilangin sama Mbak Riana tadi...]
[Iya, bener. Tapi kenapa feeling-ku gak enak ya?] Ganesh is typing.
[Kamu itu sukanya overthinking lho... Udah, fokus ke Mayang sama Wisnu-nya, bukan ke masalah yang akan terjadi nanti. Kebiasaan banget...]
__ADS_1
[Iya-iya, ah, gak usah ngomel. Wes tekan ngendi kowe?]
“Di depan kamarmu, mbak...”
“Eh kutil unta! Ya ampun Ganesha Dwi Pradanaaaaa...” Hanum refleks melompat dari atas kasur seraya meletakkan ponselnya – dengan tangan gemetar, di atas meja. Setelah itu, dia membuka pintu, dan menjewer cowok itu habis-habisan.
“Ampun mbak, ampuuun... Oweeeeeekkk...” ucap Ganesh seraya perlahan-lahan melepaskan tangan gadis itu dari telinganya.
“Lagi kamu tu ya, usil banget!” seru Hanum.
“Udah, ah, jangan ngomel-ngomel mulu. Ayo ke depan, aku bawa terangbulan, tuh...” kata Ganesh seraya mengusap-usap telinganya.
“Okeee, siap... Thanks, my cutes,” kata Hanum girang seraya sekali lagi menarik telinga Ganesh.
“Satuuuu lagi aja ada orang modelnya kayak Mbak Hanum, aku bisa jadi kelinci, telinganya mencuat ke atas terus panjang!” gerutu Ganesh seraya buru-buru menyusul Hanum yang cuma tertawa. Ya udahlah yaa, setiap orang kan punya “love language” alias bahasa cinta yang berbeda-beda. Siapa tau caranya Hanum emang harus se-bar-bar itu. Yang sabar ya, Nesh.
***
Mayang duduk di tengah, di antara lingkaran anak-anak yang ternyata telah menunggunya. Ia mengusap wajahnya yang telah dibanjiri keringat. Tadi, ia sempat berpikir bahwa mungkin keputusan yang ia ambil itu salah. Tapi sesaat kemudian ia berpikir lagi, bahwa biar bagaimanapun, semua ini harus segera diselesaikan.
“Te-Teman-teman...” Mayang memecah kesunyian.
“Bicaralah, May...” titah Riana lembut.
“Terima kasih, Mbak Riri. Atau dulu, Bu Riri, karena dulu, mbak adalah guruku di SMA...” Mayang tersenyum, lalu memperbaiki posisi duduknya.
“Sebelumnya aku mau minta maaf dulu, karena udah dua mingguan ini aku ngilang dari kalian semua... Termasuk, kamu juga, Nu... Aku mau minta maaf...” kata Mayang pelan, seraya menatap satu-persatu orang-orang yang ada disitu. Ia memperhatikan ekspresi mereka. Tapi tidak ada yang aneh, hanya saja, mereka seperti tidak sabar menunggu kelanjutan cerita atau penjelasan Mayang berikutnya.
“Aku tau, sebenernya kalian pasti udah tau...”
“Cafe Sakura, beberapa hari yang lalu. Aku tau, Mbak Riri melihat aku pas aku baru masuk, terus Mas Muara juga, dan... Wisnu. Aku mengerti bahwa sejak saat itu, aku sudah ketahuan, dan aku harus menyelesaikan semuanya...”
“Dia siapa?” tanya Wisnu dingin.
“Maksud kamu, cowok yang bersamaku di cafe itu?” tanya Mayang. Wisnu mengangguk. Sementara itu, Riana mulai mengepalkan tangannya diam-diam di balik meja. Kok bisa-bisanya Mayang setenang ini, padahal posisinya udah jelas-jelas ketahuan, jelas-jelas pula salahnya. Tapi kenapa dia menuturkan semuanya hanya seperti ketika seseorang bercerita tentang cuaca pada temannya, panas atau hujan pada hari itu. Lalu bagaimana reaksi Hanum dan ganesh? Mereka juga keliatannya emosi, tapi nggak ditunjukkan aja. Sebisa mungkin mereka menjaga ekspresi agar tetap datar, supaya Mayang nggak panik dan menyelesaikan ceritanya.
“Dia Arvin, anak sahabat dari orang tuaku. Kami juga... Udah dijodohkan...”
WHAT? Semua kaget mendengar hal ini. Tapi Mayang tidak memberi jeda mereka untuk terkejut lebih lama, karena ia kembali melanjutkan kata-katanya.
“Yang harus kalian tau, aku terpaksa nerima perjodohan ini, karena sebuah alasan... Mungkin alasan ini terlalu aneh, terlalu tidak masuk akal. Tapi semua akan terasa masuk akal kalau kalian semua berada di posisiku. Kalian tau mas Abhi?” tanya Mayang di tengah-tengah ceritanya. Semua terkejut dan menjengit kaget. Ada apa? Kenapa Abhi dibawa-bawa? Ada sangkut-paut apa antara Abhi, Mayang, Wisnu dan Arvin ini?
“Kalian tau se-sayang apa aku sama Mas Abhi, dan se-kehilangan apa aku ketika kakakku satu-satunya itu... Meninggal. Tapi dua bulan yang lalu, tepatnya, ketika Ganesh, Wisnu dan mas Ra datang ke rumah untuk ber-takziah, aku melihat Ganesh, seperti melihat Mas Abhi... Jujur aku sayang sama Ganesh, sayang banget, bahkan sampai detik ini, sampai akhirnya aku mengenal sosok Mbak Hanum yang merupakan kekasih hati Ganesh...” JGER! Penjelasan itu tidak hanya mengejutkan Wisnu, tapi juga Ganesh dan Hanum... Sementara Muara dan Riana biasa saja, karena diam-diam mereka telah punya hasil analisis sendiri, yang akan mereka utarakan nanti.
“Jujur, awalnya aku ngedeketin Wisnu, ya karena pengen deket sama Ganesh. Tapi kebodohan itu membawaku pada sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya, lama-lama, aku juga nyaman sama Wisnu. Tapi jadinya setelah itu, hatiku malah terbagi jadi dua. Satunya untuk Wisnu, dan satunya untuk Ganesh. Sayang, Ganesh-nya sudah terikat. Jadi...”
“Stop...” ucap Hanum lemah. Riana menepuk-nepuk pundak gadis itu, menguatkannya.
“Biarkan Mayang selesai dulu ya. Mbak bukan belain dia karena dia murid mbak, tapi, kamu mau kejelasan, kan? Kamu mau semuanya clear sekarang juga, kan?” tanya Riana pelan. Hanum mengangguk. Kini ia bersandar di bahu Ganesh, meminta diberi kekuatan. Ganesh menggenggam tangannya sebagai isyarat bahwa permintaan gadis itu telah dipenuhi.
“Jadi begitulah. Setelah aku pikir-pikir, semua yang kujalani saat ini udah terlalu salah, aku gak mungkin membiarkan hatiku menetap separuh-separuh pada dua tempat yang berbeda. Jadi, aku minta maaf... Buat kamu, Wisnu, dan kamu juga Nesh. Dan Mbak Hani... Aku emang terlalu jahat, aku akui itu. Padahal kamu selalu baik sama aku...”
“Terus hubungan semua ini sama Arvin itu apa?” tanya Wisnu.
__ADS_1
“Kurasa cuma dia yang bisa membebaskan aku dari situasi ini. Kupikir dengan aku menjauh dari kamu, aku juga bisa ngilangin perasaanku sama Ganesh. Tolong, pahami posisiku. Mencintai seseorang yang terikat itu terlalu menyakitkan buat aku...”
“Kamu gak usah ngerasa aku masih ngiket kamu, sejak aku lihat kebersamaan kamu dengan cowok itu di cafe, semuanya udah selesai...” kata Wisnu. Ia mulai emosi, dan Muara menenangkannya.
“Aku tau kok, aku salah disini. Makanya, aku mau minta maaf sama semuanya...” Mayang mulai menundukkan pandangannya, ia mulai tidak berani menatap semua orang yang masih melingkari dirinya. Mayang tau semua ini salah – tidak, sangat salah. Tapi yang membuat semuanya jadi tambah salah adalah, dia tetap meneruskan semua itu, tanpa mempertimbangkan akibatnya.
“Assalamu’alaikum...” ucapan salam dari seseorang memecah kesunyian. Riana langsung menoleh, dan ternyata, itu Arvin, cowok yang diceritakan oleh Mayang tadi. BTW darimana Riana bisa tau? Ya, dari postingan instagram gadis itu, sama dari nggak sengaja ngeliat waktu hangout di cafe.
“Waalaikum salam, masuk...” kata Riana seraya berjalan membuka pintu.
“Permisi mbak, saya kesini mau cari Mayang, karena dia dicari sama omanya. Apa dia sudah selesai?” tanya cowok bernama Arvin itu sopan.
“Kamu tunggu sini dulu ya, biar saya yang sampaikan sama Mayang,” kata Riana dingin seraya buru-buru kembali ke ruang tengah tempat mereka berkumpul.
“Mayang, pacar baru kamu sudah menunggu di depan...” kata Riana.
“Iya, mbak, aku harus pergi sekarang. Sepertinya oma sudah mencariku...” kata Mayang pelan seraya merapikan barang-barang bawaannya.
“Hati-hati. Dia type pengatur, lama-lama, dia bisa minta sesuatu yang lebih dari seharusnya sama kamu...” ucap Riana tajam. Entah mengapa, dia merasakan “bad feeling” soal Arvin ini. Dari gesturnya, type-type-nya, dia mirip sama Rey. Ya, Rey. Sosok dari masalalunya.
“Aku pamit mbak, dan semuanya. Assalamu’alaikum...”
“Waalaikum salam...”
***
“Mbak, jangan nangis ya... Aku tetap milik mbak, insya allah selamanya seperti itu...” ucap Ganesh seraya membawa Hanum ke dalam pelukannya. Di kost Riana tinggal menyisakan lima orang, dan mereka masih terlalu speechless dan shock atas semua yang terjadi pada hari ini.
“Ya ampun, bisa gini ya...” ucap Riana.
“Mbuh... Eh, kamu mau ikut aku? Kita cari makan yuk, udah mau jam 7 lho,” kata Muara.
“Iya wes, aku melok ae... Wisnu, Ganesh, Hanum, mbak tinggal bentar gak papa ta?” tanya Riana.
“Gak papa mbak, kami aman disini.” kata Ganesh pelan seraya masih memeluk Hanum yang mulai kacau karena penjelasan Mayang barusan. Lagian bagaimana mungkin, kenapa rasanya seperti sebuah dejavu ; seperti pernah dialaminya dulu. Kalau dulu, dirinyalah yang terikat, lalu Ganesh masuk ke dalam circle itu. Lalu kini apakah... Apakah semuanya...
“Mbak, gak usah mikir macem-macem. Aku sayangnya sama mbak, aku kan memperjuangkan mbak, jadi, please, coba percaya sama aku...” pinta Ganesh seraya terus memeluk Hanum. Meskipun ia tidak dapat melihat, tapi ia merasakan kepala gadis itu yang bergerak di pelukannya.
“Gue nggak nyangka, kisah cinta gue bisa berakhir sehancur ini ya...” ucap Wisnu seraya mengusap kasar wajahnya. Kini di kost tinggal mereka bertiga, soalnya Riana pergi cari makan sama Muara.
“ini namanya takdir, Nu. Dan yang harus lo syukuri sekarang adalah, Tuhan secepatnya nunjukkin ke elo, seperti apa Mayang itu sebenernya. Coba aja kalau kalian nerusin ini sampai setahun misalnya, dan menganggap semuanya baik-baik aja, opo yo gak tambah loro, opo yo gak tambah ajur awakmu...” ucap Ganesh bijak.
“Iya sih, gue setuju... Tapi, kasian tuh Mbak Hanum, dia kayak yang trauma gitu sama situasi semacam ini ya...”
“Belum ada setahun dia ngalamin yang kayak gini, sama gue...” lirih Ganesh.
“Iya, gue masih inget kok ceritanya. Tapi kalau gue boleh nitip pesen sama lo, lo jaga deh tuh Mbak Hanum, masalahnya, kelihatannya dia tulus banget sayangnya sama lo. Gue bisa lihat dari pertama kali kita ketemu beberapa bulan yang lalu itu, betapa bahagianya dia ketika dia bisa menyentuh lo secara langsung dan utuh, nggak kehalang layar HP lagi. Dan sekarang, ketika si Mayang mengakui semuanya dengan santainya soal... Ealah gak oleh misuh po-o yo?” tanya Ganesh putus asa, seraya mengacak rambutnya.
“Gak oleh rek gak oleh, ngko diomelin sama author-nya lagi kita...” Etdah buset, aku lho diem aja yaaa dari tadi, malah kena lagi. Ya udah, kita sudahi dulu aja ceritanya sampai disini, ya...
“Eh, ampun mbak author, jangan ngambek...”
Lho, oraaa, kita ketemu di part selanjutnya nanti. Sekarang, author-nya mau tugas negara dulu, ya.
__ADS_1
(TBC).