
Festival Kuliner Nusantara sudah berlangsung di hari... Yap, tepat sekali, ini sudah memasuki hari ke sepuluh. Dan sesuai yang telah direncanakan dan dijanjikan di awal, Muara CS mengisi penuh hampir semua slot performing arts yang ditawarkan. Dan alhamdulillahnya, setiap hari, pengunjung semakin banyak berdatangan. Tapi tetep prokes kok, tenang aja. Dan mereka mengakui bahwa setiap suguhan yang ditampilkan oleh Muara CS tidak pernah mengecewakan dan membosankan. Bahkan, dalam beberapa hari menjelang hari terakhir malah ada-ada aja tuh kejadiannya ; ada pengunjung yang nembak pacarnya, ngelamar pacarnya, sampe mutusin pacarnya juga, semua ada disitu. Bahkan ada moment pengungkapan perasaan yang epik banget sampe-sampe bikin Hanum sama Ganesh jadi flashback.
BTW, bagaimana reaksi Hanum ketika dia tau dia akan bertemu idolanya dalam waktu dekat? Ya, senang, dia memeluk Ganesh dan mengucapkan banyak sekali terima kasih, sampe Ganesh sendiri bingung harus berreaksi kayak gimana.
“Terima kasihnya sama Mas Ra aja sayang, dia yang membuka jalan ini buat kita,” kata Ganesh seraya balas memeluk Hanum.
“Yeee, kalau sama Mas Ra ya gak bisa ekspresif gini akunya, padahal kan aku bahagia banget. Nanti ajalah, kalau sama Mas Ra, ngucapin terima kasihnya secara formal aja...” jawab Hanum polos. Ganesh tertawa, lalu memencet gemas hidung mancung gadis itu.
“Ah, kamu, ada-ada aja...”
***
Lokasi festival, sore hari. Mereka akan menjalankan rutinitasnya seperti biasa, menghibur para pengunjung. Tapi dari kelima orang itu (tapi tidak termasuk Mayang, ya, dia sedang ada urusan. Posisi Abhi digantikan oleh additional player-nya Muara), tidak ada yang bisa merasa tenang. Masalahnya, malam ini, di acara puncak, sesuatu yang besar tengah menanti mereka.
“Semua oke, Ra?” tanya Riana, usai dari mengantarkan Hanum ke toilet.
“Oke kok. Yuk, dibuka dulu acaranya...” kata Muara. Riana mengangguk. Dan live session itu berjalan seperti seharusnya.
***
“Disini ada yang bawa mantan gak?” tanya salah satu personel Kahitna, entah siapa. Tapi yang paling rame kalau konser, biasanya Om Hedi Yunus, seneng aja gitu dia ngegodain audiens.
“Gak adaaaaaa!” seru para penonton kompak. Muara CS ada di deretan sana, deretan penonton. Bukan, bukan karena mereka batal kolab, tapi konsepnya emang akan kayak gitu nanti. Mereka akan muncul dari lingkaran keramaian itu, dan naik satu-satu ke atas stage.
“Tapi pada punya mantan, kan?” tanyanya lagi. Disini mulai tercipta banyak kubu, ferguso. Ada yang bilang punya, ada yang bilang enggak, macem-macem. Dan akhirnya, mengalunlah lagu Mantan Terindah yang menjadi “sing along moment” bagi para penggemar mereka.
“Mau dikatakan apa lagi
Kita tak akan pernah satu
Engkau disana aku disini
Meski hatiku memilihmu
Ho-wo-oo
Engkau meminta padaku
Untuk mengatakan bila kuberubah
Jangan pernah kau ragukan
Engkau kan selalu dilangkahku
Wo-ho-oo
Mau dikatakan apa lagi
Kita tak akan pernah satu
Engkau disana aku disini
Meski hatiku memilihmu
Wo-oo oo-u-wu uu
Ye-ee aa
Engkau disana aku disini
Meski hatiku memilihmu
Yang t'lah kau buat sungguhlah indah
Buat diriku susah lupa...” gema tepuk tangan membanjiri area luas itu. Kemudian konser berlanjut lagi, dan persiapan kolab akan segera dimulai.
“He bestie...” kata salah satu om-om personil Kahitna itu lagi. Dasaaar, tau-tauan dari mana itu kata Bestie? Padahal mereka group musik legendaris lho, hadeeeh.
“Di deretan kalian ada sejoli yang sama-sama malu-malunya, lho, coba diperhatiin deh,” ucapnya lagi. Sontak saja mata para penonton terpicing kemana-mana, mencari dua orang yang dimaksud itu.
“Nah, itu, itu, di baris kedua dari kanan!” serunya. Dan tatapan beralih kepada Riana dan Muara yang bukannya berreaksi cepat naik ke stage atau bagaimana, malah pegang-pegangan tangan. Duh, refleknya itu lhooo...
“Cieeee malah pegangan tangaaaan!” seru yang di atas stage lagi, heboh. Riana dan Muara baru sadar, kini semua mata nyaris tertuju ke arah mereka semua.
“Yuk yuk naik yuk...” ajak salah satu dari mereka. Dengan langkah pelan, Riana dan Muara naik ke atas panggung itu. Sementara mereka naik, mereka masih mencari-cari.
“Bestie... Di ujung satunya ada lagi tuh pasangan...”
“Yang mana? Yang cowok sama cowok itu?”
__ADS_1
“Bukaaaan!” gelak tawa membahana memenuhi tempat itu. Dan detik berikutnya, dengan dibantu para crew panggung, Hanum dan Ganesh dibawa naik ke atas.
“Kalau yang ini, saya tau!” seru Om Yovie – sang keyboardist Kahitna, tiba-tiba. Hanum dan Ganesh terdiam, mereka bingung, gak tau harus bagaimana.
“Ini followers setia saya di IG...” kata Om Yovie bersahabat. Bahkan dia rela turun dari singgasana kursi pianonya hanya untuk dua sejoli itu.
“I... I-Ini... Beneran, kan?” tanya Hanum pelan kepada Ganesh yang berada tepat di sebelahnya.
“Gak tau, kayaknya beneran deh,” jawab Ganesh lemah.
“Ini serius...” kata Om Yovie. Bunyi tepuk tangan terdengar lagi. Hanum menangis. Ia memegang tangan Ganesh erat-erat, seolah masih tidak percaya atas semua hal yang terjadi hari ini.
“Mas Yovie, tentang pasangan istimewa ini, kita lanjutin nanti ya. Sekarang, kita ternyata lagi terlibat dalam sebuah misi, nih...”
“Betul, tadi ada yang bisik-bisik sama kita soalnnya...” yang lain membenarkan.
“Misi apa ini? Wah seru!” kata Om Yovie seraya kembali lagi ke singgasananya.
“Biar jelas, kita nyanyiin lagu yang kira-kira pas aja, ya, gimana?”
“Boleh!” Dan intro-pun dimulai. Tepuk tangan penonton terdengar lagi.
“Bilakah dia tahu
Apa yang tlah terjadi
Semenjak hari itu
Hati ini miliknya...” Lalu para penonton bernyanyi bersama-sama lagi.
“Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Seperti apa yang kudamba
Bilakah dia mengerti
Apa yang tlah terjadi
Hasratku tak tertahan
Tuk dapatkan dirinya
Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Seperti apa yang kudamba
Tuhan yakinkan dia
Tuk jatuh cinta
Hanya untukku
Andai dia tahu
Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Seperti apa yang kudamba
Bilakah dia mengerti
Apa yang tlah terjadi
Hasratku tak tertahan
Tuk dapatkan dirinya
Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Seperti apa yang kudamba
Tuhan yakinkan dia
__ADS_1
Tuk jatuh cinta
Hanya untukku
Andai dia tahu
Andai dia tahu...” (Kahitna – Andai Dia Tau). Tiba-tiba musik berhenti, dan Muara ditarik maju, meninggalkan Riana yang kebingungan.
“Bro... Udah deh jujur aja sama kita... Kita kan temen... Eh temen bahasa jawanya apa?”
“Koncooooo!” jawab penonton serempak.
“Nah... Kita kan konco, teman ya. Gimana kalau kamu ngaku aja sama kita semua...”
“Ngaku apa?” tanya Muara polos.
“Judul lagu barusan apa hayo?” tanya Om Yovie to the point.
“An-Andai dia... Tau...” ucap Muara pelan.
“Nyanyiin dong dikit. Sikat Mas Yovie!” seru yang lain.
“Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Seperti apa yang kudamba
Tuhan yakinkan dia
Tuk jatuh cinta
Hanya untukku
Andai dia tahu
...” Muara menyanyikan lagu itu, baid demi baid secara perlahan. Tapi demi apapun, suara itu terdengar begitu manis di telinga Riana.
“A-Aku sudah tau...” jawab gadis itu refleks, seraya mendekati Muara yang makin kebingungan di tengah panggung. Penonton makin histeris, dan para om-om legendaris tapi romantis itu makin gencar menggoda.
“Udah kebuka jalanmu, bro... Silakan,” ucapnya seraya menepuk pundak Muara. Meski terpatah-patah, cowok itu mengangguk juga. Dan dia langsung menatap lurus-lurus tepat ke mata Riana.
“Ja-Jadi... Begitulah. Itulah yang aku rasain sama kamu, setidaknya selama hampir setahun kita ketemu dan sering menghabiskan waktu bareng-bareng, sering dipertemukan secara ajaib. Jadi... Aku... Suka... Eh, bu-bukan, aku sayang sama kamu. Kamu... Mau gak ngabisin waktu kamu sama aku bukan Cuma buat hari ini?” tanya Muara. Penonton semakin rusuh.
“Terimaaaa! Terimaaaa! Terimaaaa!” jerit mereka tak terkendali. Kini ganti Riana yang menatap mata Muara, dan tanpa perlu menjelaskan apa-apa, gadis itu mengangguk. Ia mengangguk dengan begitu pasti, dan kini, hatinya telah dipegang dan dijaga oleh orang yang tepat.
“Terimakasih kau terima pertunangan indah ini
Bahagia meski mungkin tak sebebas merpati...” (Kahitna – Tak Sebebas Merpati). Lagu itu menjadi puncak dari pertunjukan mereka, dan kesempurnaan dari romantisme hari ini ditutup oleh single hits mereka yang paling kurang ajar (bukan apa-apa, masalahnya tiap author denger lagu itu sendiri pun suka kek tiba-tiba blushing, tiba-tiba senyum-senyum gak jelas, hadeeeh), berjudul Cantik.
“Tiada lagi, tiada lagi yang ganggu kita. Ini kesungguhan, sungguh aku sayang kamu...”
***
“Good job, guys!” seru seorang laki-laki, tepat dari bawah panggung.
“Mas Jeremy!” seru Muara, Riana dan Wisnu kompak. Mereka segera turun dari panggung dan menyalami laki-laki manager hotel tersebut.
“Gilaaaa... Se-sukses ini dong acaranyaaa... Salut gue!” kata Jeremy seraya menyalami mereka satu-persatu.
“Kesuksesan berlipat ganda itu Mas Jer, ada yang baru jadian juga...” kata Ganesh.
“Aiii, mana?” Jeremy penasaran.
“Tuu,” jawab Wisnu seraya menunjuk Riana dan Muara yang masih sama-sama speechless akan kejadian hari ini.
“Wiiiiihhh, PJ lu, jan lupa!” kata Jeremy seraya menoyor pelan kepala Muara. Muara Cuma mengangguk. Dan senyum mereka semua tetap terhias hingga beberapa jam berikutnya.
***
“Alhamdulillah, sukses...” kata Muara seraya mendudukkan pantatnya di sebuah kursi, persis di sebelah Riana.
“Aku bahagia...” ucap gadis itu pelan seraya menyandarkan kepalanya di pundak Muara.
“Aku lebih bahagia lagi, Ri. Thanks yaa...” kata Muara seraya memainkan rambut panjang Riana.
“You’re very welcome, sweetie...” jawab Riana. Kemudian hening lagi. Tapi semesta tahu, hati mereka telah berbicara lebih banyak dari apapun. Dan kini sudah jelas kan, bahwa Mentari, memang ditakdirkan untuk Muara.
(TBC).
__ADS_1