
Stasiun Kota Baru, Malang. Riana merapatkan long cardigan abu-abu yang dikenakannya. Biar bagaimanapun, Malang ternyata masih tetap sama ; dingin. Selama apapun ia tidak menginjakkan kakinya di kota kelahirannya ini, udara akan tetap sama, hembusan angin tak akan berhenti berubah-ubah, matahari juga masih akan tetap terbit pada tempat dan jalurnya. Yang berubah itu sebenarnya manusia itu sendiri ; berubah karena masa, berubah karena keadaan yang memaksa.
Seorang laki-laki dengan kemeja yang lengannya tergulung melambaikan tangannya ke arah Riana, dan gadis itu segera mempercepat langkahnya, lalu menyambut laki-laki itu.
“Halo, pa,” sapanya. Dan beberapa detik kemudian, tubuh sintalnya sudah menempel erat pada dekapan lelaki cinta pertamanya tersebut.
“Sehat, pa?” tanya Riana, sesaat setelah pelukan mereka terurai.
“Sehat, sayang. Kamu gimana? Selamat ya, jadi sarjana seni kamu sekarang. Luar biasa anak papa...” Riana tersenyum kecil menerima pujian papanya. Ya, dua hari sebelum pulang, Riana sudah resmi menjadi sebuah *eh, seorang sarjana, bersama sang adik Ganesha.
“Makasih, pa. Tapi papa nonton kan live streaming-nya?” tanya Riana.
“Nonton, bareng-bareng sama karyawan kantor juga. Dan speech-nya Ganesha itu... Ah, unforgetable, semua karyawan jadi auto semangat tau gak gara-gara itu anak. Positive vibes-nya dapet banget...” kata papa. Riana tersenyum semakin lebar. Ganesha sempat hampir tumbuh ke arah yang salah. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya seorang anak laki-laki berusia 14 tahun ketika itu harus kehilangan ibunya, ibunya, orang selain Riana yang percaya bahwa anak buta itu bisa memiliki masadepan yang terang meskipun kegelapan akan tetap menjadi bayang-bayang hidupnya selamanya. Di samping itu, kakaknya (Riana), juga meninggalkannya tanpa kesan apa lagi pesan. Beruntung selama ini – selama Riana meninggalkannya, ternyata Ganesh telah memiliki dua malaikat sendiri, terlepas dari saudara-saudara yang ternyata tak tulus dan tak ikhlas menjaganya, ternyata dia masih punya Wisnu (sang sahabat, yang menganggap berteman itu adalah semudah kita bernapas setiap hari, berteman harus murni karena alasan “aku hanya ingin berteman”, bukan “aku ingin berteman dengannya karena”. Makanya, sampai sekarang persahabatan mereka masih awet). Lalu Hanum... Ah, dia jadi penasaran, gimana ya reaksi papanya kalau tau dirinya dan sang adik sama-sama sudah punya pendamping dan sama-sama sudah siap untuk melangkah ke proses kehidupan yang berikutnya?
“Oiya, Ri, papa mau tanya. Sosok Hanum yang diceritakan sama Ganesh di pidatonya itu yang ini bukan sih? Soalnya, kayaknya papa pernah tau. Waktu ulang tahun cabang perusahaan di Surabaya, dia tampil sebagai bintang tamu...”
“Mana, pa?” tanya Riana. Sang papa memberikan ponselnya, dan menunjukkan potret Hanum yang begitu cantik dengan long dress berwarna peach yang ia kenakan. Dan benar, itu adalah Hanum yang sama ; Hanum yang masih berbagi apapun dengannya hingga saat ini, Hanum yang benar-benar ia sayangi.
“Iya, pa, ini dia anaknya. Sama-sama penyanyi kayak Ganesha, kadang-kadang, Tari juga sepanggung sama dia...” jawab Riana.
__ADS_1
“Serasi ya mereka. Papa sih setuju kalau mereka nikah, juga kamu dengan... Siapa itu? Muara?” Deg! Alamat disidang habis ini. Tapi kayaknya papanya nggak nuntut macem-macem soal kriteria pasangan untuk anaknya. Yang penting kan soal apa yang dirasakan mereka sekarang, bahagia atau tidaknya. Dan yang menjalani semua itu juga mereka, jadi kenapa nggak dibiarkan saja mereka memilih hal yang baik dan tepat untuk diri mereka sendiri?
“Kalian sama-sama pasangan ideal. Papa suka,” Alhamdulillah, lampu hijau tuh Ri. Sikat!
***
Riana memasuki kamar pribadi di rumahnya dalam keadaan yang sangat lega dan bahagia. Lega, karena ternyata pertemuan kembali dengan ayahnya tak sesulit seperti yang ia bayangkan. Bahagia, karena penataan barang-barang di tempat itu masih sesuai dengan seleranya, tidak pernah berubah, hanya semua jadi lebih teratur dan terurus. Mungkin karena sering dibersihkan oleh para pelayan disini.
“Selamat datang kembali di istana ini, Non Tari. Sering-sering lah berkunjung ke sini, ini kan istananya non juga, jangan sampai deh ini istana kemasukan penyusup lagi...” ucap Mbok Pinem yang merupakan ART paling senior di rumah ini. Makanya, dia juga ikut-ikutan panggil Riana dengan nama kecilnya, karena dia jugalah yang mengasuh Riana pas kecil dulu. BTW, author baru tau lho kalau Riana pernah kecil juga wkwkwk.
“Ck, mulai rese nih author-nya. Cerita yang bener napa, tak pecat jadi author nanti kamu.” Heh adonan rempeyek, kalau kamu memecatku sebagai author, yang mau nerusin cerita ini siapa hayo? Emang kamu tega ngegosting pembaca kita?
“Iya juga ya. Ayo, thor, semangat, tetap berkarya pake hati ya, meskipun... Mm, kayaknya tanpa kukasih tau, kamu sendiri udah tau deh.” Iya-iya, cerewet. Yuk, langsung lanjut ke cerita aja. BTW, makasih lho udah disemangatin.
***
“Ya adalah, special buat tuan putri yang kembali ke istananya setelah lelah berpetualang,” ucap Mbok Pinem seraya mengantarkan piring-piring berisi sajian lain, menghidangkannya juga di meja makan.
“Astaga mendol, sama ini juga, sambel yang kurindukan... Wah, bener-bener spektakuler ini sih,” Riana tertawa, lalu memeluk ART-nya itu dengan penuh rasa terima kasih.
__ADS_1
“Ih si non mah kebiasaan, sukanya main pelak-peluk aja. Kan si mbok kotor, non, bau bumbu dapur juga, gak enak...”
“Enak-enak aja tuh mbok, yang penting kan si mbok nggak ikut terlumuri bumbu-bumbunya, kalau sampe ikut kegoreng gimana? Repot yoan...” jawab Riana asal seraya mencomot sepotong mendol dari atas piring. BTW buat yang belum tau atau bahkan gak tau apa itu mendol, dikutip dari laman Wikipedia, Mendol adalah salah satu makanan khas Jawa Timur (selain rawon dan tempe kacang). Makanan ini terbuat dari bahan dasar tempe kedelai. Tempe mendol ini banyak ditemukan di daerah Malang baik untuk lauk maupun dimakan sebagai jajanan. Dan uniknya, ternyata mendol ini terbuat dari tempe kedelai yang sudah agak basi (atau orang Jawa nyebutnya “tempe bosok”). Kalau sekilas yang author baca sih, cara bikin mendol ini kalau secara proses mungkin agak mirip-mirip sama perkedel kentang ya, tempenya dilumat, dikasih bumbu, terus dibentuk (dikepal-kepal), cuma bedanya kalau perkedel kan pake telur, kalau mendol itu enggak, terus sebelum digoreng mendol ini harus didiamkan selama satu sampai dua jam untuk proses fermentasi. Tapi kata orang-orang yang udah pernah makan, mendol yang rasanya agak kecing/asam itu lebih enak, dan itu proses fermentasinya lebih lama lagi, bisa sampai enam jam. Tapi author sendiri belum pernah sama sekali ngerasain apa itu mendol, meskipun udah pernah beberapa kali ke Malang. Buat readers yang ada di Malang, bolehlah kapan-kapan masakin author-nya olahan itu kalau pas lagi berkunjung ke sana *hus, modus mulu si Zelda. Dah ah, lanjut aja yuk ke cerita.
“Yeee si non mah, emang si mbok ikan mas po-o main digoreng aja?”
“La makanya, cukup bau bumbunya aja, jangan sampe ikut berlumuran bumbu juga, bukan apa-apa, takut salah goreng...” kata Riana seraya terkikik. Mau tak mau, Mbok Pinem juga ikutan terkikik. Mbok Pinem pun akhirnya cuma bisa tertawa pasrah akan ulah majikannya.
“Ceria banget sih anak papa, ketawanya kedengeran lho sampai ke halaman depan...” ucap seorang laki-laki menginterupsi...
“Horeee, papa udah pulaaang!” seru Riana riang. Dan bak anak kecil, gadis 26 tahun itu langsung merangsek maju dan memeluk ayahnya dengan sangat manja.
“Hus, kayak bayi aja kamu ni. Udah ah, papa mau mandi bentar. Habis ini, kita makan sama-sama ya...” kata papanya seraya beringsut menjauh dari Riana. Ia meletakkan tas kantornya di atas kulkas, lalu beranjak naik ke kamarnya di lantai dua.
“Ya udah ya mbok, aku juga mau ke kamar sebentar, ambil HP,” pamit Riana.
“Monggo, non...” sahut Mbok Pinem sopan.
***
__ADS_1
Riana merebahkan badannya di atas bed king size berseprai pink itu dengan perasaan yang bahagia. Moment kepulangannya kali ini benar-benar unexpected banget, semua berjalan dengan begitu baik, ayahnya hangat kepadanya sepanjang hari, semua ART juga seperti tampak senang sekali menyambut kedatangan gadis itu, meskipun ia hanya punya jatah tiga hari stay disini. Pekerjaannya di D FM gak bisa ditinggal, ini aja dia terus memantau Tita (yang sekarang sudah berubah jabatan menjadi PA alias personal assistant-nya), lewat chat. Tapi ada sedikit kejanggalan deh. Kok penghuni rumah ini jadi cuma dikit, Riana merasa kayak ada sesuatu yang hilang. Kemana Mbak Lisa dan Tante Sarah? Kenapa mereka tak ada saat Riana kembali ke rumah?
(TBC).