Merubah Istri Gendut

Merubah Istri Gendut
BAB 38 : Ketakutan Kanzia


__ADS_3

Kanzia yang baru saja selesai membersihkan diri telah berpakaian rapi, ia duduk di sofa kamarnya sambil termenung dengan tatapan kosong lurus ke depan. Ia berusaha memahami kejadian yang baru saja terjadi, Abian benar benar memberikannya kejutan yang luar biasa.


Air mata kembali keluar dari pelupuk matanya, ia takut jika Abian hanya ingin mempermainkan dirinya, apalagi setelah ia mengetahui siapa Abian, ia merasa tidak pantas untuk bersanding dengan seseorang seperti Abian, sementara dirinya yang hanyalah dari kalangan orang rendahan tidak sebanding dengan Abian.


"Apakah begitu sulit untuk mengatakan yang sebenarnya pada ku Bian," gumam Kanzia yang merasa kecewa.


"Seandainya saja tadi pagi aku tidak bangun lebih dulu mungkin aku tidak akan pernah tahu kebenaran tentang Abian, aku akan tetap menjadi orang bodoh yang tidak tahu apa apa tentang suamiku sendiri."


"Kamu terlalu tinggi untuk aku jangkau Bian, wanita terbuang sepertiku sangatlah tidak pantas untuk pria hebat sepertimu," gumam Kanzia.


Pikiran pikiran buruk mulai bermunculan di otak Kanzia.


Rasa takutnya lebih besar dari pada rasa kecewanya.


"Bagiamana dengan keluarga Abian, apakah mereka dapat menerimaku sebagai istri Abian?


bagaimana jika aku dicampakkan lagi seperti dulu, apa yang harus aku lakukan?" Batin Kanzia, yang terus melamun sampai ia tidak menyadari kedatangan Abian di kamar itu.


Ceklek!


Abian masuk ke dalam kamarnya karna mendapatkan telpon dari asisten Kevin jika hari ini ia ada jadwal meeting yang tidak bisa ditinggalkan, sebenarnya ia berencana untuk tidak datang ke kantor hari ini, ia ingin menyelesaikan kesalah pahamannya dengan Kanzia dan menjelaskan alasan ia melakukan semua ini pada istrinya itu.


Saat ia masuk ke kamarnya lagi lagi ia harus melihat pemandangan yang membuat jantungnya seperti di remas melihat tatapan kosong Kanzia yang terus melamun, bahkan ia sama sekali tidak menyadari keberadaan dirinya disana.


Abian pun langsung menghampiri Kanzia dan berjongkok di hadapan Kanzia.


"Aku tau kamu sangat kecewa padaku Zia, tapi aku mohon jangan seperti ini lebih baik kamu marah dan manamparku, kamu bisa melakukan apapun pada tubuhku ini untuk melampiaskan kemarahan mu tapi jangan terus diam seperti ini, karna itu sangat menyiksaku Zia," ucap Abian sambil terus menciumi tangan Kanzia dan menghapus sisa sisa air mata di pipi mulus istrinya, tapi Kanzia sama sekali tidak bergeming dan tetap menatap ke depan.


Ponsel Abian kembali berdering dan ia pun terpaksa membiarkan Kanzia dan segera bergegas untuk bersiap siap ke kantor.


"Aku tidak marah padamu Abian, aku hanya takut kenangan buruk itu terulang kembali, dicampakkan dan tidak diinginkan oleh orang orang di sekitarku," ucap Kanzia dalam hati.


Setelah menggunakan setelan rapinya, Abian kembali menghampiri Kanzia yang masih duduk di sofa dengan tatapan yang masih terlihat sama.


"Zia aku berangkat ke kantor dulu, aku sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan sarapan untuk mu, jangan lupa untuk sarapan, walaupun kamu sedang marah denganku tapi aku mohon jangan menyiksa dirimu sendiri," ucap Abian sambil mengelus kepala Kanzia.


Abian beranjak meninggalkan Kanzia, tapi sebelum ia sampai di depan pintu ia kembali menghampiri Kanzia.


"Ingat kamu harus menghabiskan sarapanmu jika tidak, aku akan pulang untuk menyuapi mu dengan caraku," ucap Abian sambil memberikan ciuman di kening istrinya lalu berlalu meninggalkan Kanzia yang sudah memerah karna kelakuan Abian yang tiba tiba menciumnya.


"Ish,,, dasar pria mesum pamaksa, kenapa aku bisa tidak menyadari jika mereka adalah orang yang sama, aku memang benar benar bodoh," gumam Kanzia setelah kepergian Abian.


Tidak lama setelah itu masuklah bik Sofi ke kamar membawa nampan berisi menu sarapan untuk Kanzia.


"Selamat pagi Nona,,, sarapannya sudah siap," sapa bik Sofi sambil menaruh nampan yang berisi berbagai jenis makanan di atas meja depan Kanzia.

__ADS_1


"Terimakasih bik,,,"


"Tapi kenapa makanannya banyak sekali?" Tanya Kanzia yang melihat menu sarapannya.


"Iya Nona ini semua permintaan tuan, dan saya harus memastikan nona menghabiskan semua makanannya," ucap bik Sofi memberitahukan pesan tuannya dan mulai melayani Kanzia.


"Astaga,,, apa ia ingin membuat ku kembali menjadi gadis gendut, dengan begitu ia bisa membuang ku ke jalanan," gumam Kanzia mulai berpikiran konyol.


Saat Kanzia mengambil makanan yang disiapkan bik Sofi Kanzia melihat sebuah kertas diatas nampan tersebut, Kanzia pun mengambil kertas itu dan ternyata itu pesan dari Abian.


"Kamu harus menghabiskan sarapannya aku tau kamu pasti telah menghabiskan banyak tenaga setelah kegiatan kita semalam, jadi makanlah yang banyak agar tenaga mu kembali dan kita bisa mengulang malam panas kita," tulis Abian pada kertas tersebut.


Wajah Kanzia kembali memerah membaca tulisan tangan Abian di kertas itu.


"Apa apaan dia ini, wah sepertinya mulai sekarang aku harus menghadapi tingkah mesumnya setiap hari," keluh Kanzia, sepertinya ia mulai melupakan kekecewaan yang ia rasakan berganti dengan perasaan kesalnya pada Abian, bahkan ia tidak menghiraukan keberadaan bik Sofi di kamarnya dan terus menggerutu.


"Astaga sebelumnya aku pernah berpikir mengasihani perempuan yang akan menjadi istri bos mesum itu, tanpa aku sadari ternyata aku sedang mengasihani diriku sendiri." Gumam Kanzia, sambil meremas kertas ditangannya.


Bik Sofi hanya diam saja mendengar celotehan Nona mudanya.


"Silahkan di makan nona, keburu makanannya dingin," ucap bik Sofi mengingatkan Kanzia, karna melihat Kanzia belum mulai menyentuh makanannya.


"Eh iya bik," ucap Kanzia baru sadar jika ia tidak sendiri di kamarnya.


Bik Sofi merasa lega melihat nona mudanya menghabiskan semua makanannya, dengan begitu ia akan terhindar dari kemarahan tuannya.


"Susunya Nona," bik Sofi memberikan segelas susu yang biasa diminum Kanzia di pagi hari.


"Kalau begitu saya permisi dulu Nona," ucap bik Sofi sebelum keluar membawa bekas sarapan Kanzia.


"Wah sepertinya aku benar benar akan berubah menjadi gendut setelah memakan semua makanan tadi.


Apa dia sengaja melakukannya?" Ucap Kanzia setelah kepergian bik Sofi sambil mengelus perutnya yang kekenyangan.


"Lebih baik aku keluar untuk jalan jalan di sekitar sini, agar makanan tadi tidak mengendap di tubuhku," gumam Kanzia berencana untuk keluar rumah.


Ia pun keluar dari kamarnya tanpa membawa ponselnya, para pelayan yang melihat Kanzia keluar menundukkan kepalanya memberi hormat padanya dan Kanzia yang masih belum terbiasa dengan hal itu tentu saja merasa risih, tapi ia tetap berusaha terlihat cuek.


Ia mengingat ucapan Abian ketika ia baru sampai di kota ini.


"Ingat jangan pernah terlihat lemah dan merendahkan dirimu di hadapan orang lain di sekitarmu, karna dengan begitu mereka akan menganggap remeh dirimu dan tidak akan segan melukaimu, bersikap lembut dan rendah hati memang bagus, tapi ada kalanya kamu perlu untuk bersikap angkuh untuk melindungi dirimu," pesan Abian.


"Ishhh,,, dalam keadaan kesal saja aku masih mengingat semua peringatannya padaku," gumam Kanzia lalu keluar dari rumah mewah itu.


"Nona anda akan pergi kemana, biar saya antar," ucap seorang laki laki botak bertubuh besar tiba tiba menghampirinya.

__ADS_1


"Maaf kamu siapa?" Tanya Kanzia bingung.


"Saya Gery nona, orang yang diminta untuk menjaga Nona," jawab pria itu sambil menunduk hormat pada Kanzia.


"Pasti ini kerjaan pria mesum itu,,," gumam Kanzia yang masih dapat di dengar oleh Gery.


"Maaf nona barusan anda bilang apa?" Tanya Gery mendengar gumaman Kanzia samar.


"Tidak ada," ucap Kanzia lalu melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan orang suruhan Abian yang terus mengikutinya.


Untuk pertama kalinya Kanzia berkeliling komplek perumahan tempatnya tinggal selama ini, ia menghabiskan waktunya pagi ini dengan berjalan santai, sampai akhirnya ia pun berhenti di sebuah taman yang berada di sekitaran perumahan itu untuk beristirahat, ternyata berjalan kaki mengelilingi lingkungan ini lumayan melelahkan dan membuatnya haus.


"Gery bisakah kau belikan aku minum, aku merasa haus," pinta Kanzia pada Gery yang dengan setia mengikuti dirinya.


"Baik Nona kalau begitu tetap tunggu saya disini, Nona tidak boleh kemana mana sebelum saya kembali," ucap Gery sebelum meninggalkan Kanzia di taman itu.


Saat ia sedang menunggu Gery yang membelikannya minum tiba tiba dua orang dengan setelan jas rapi datang menghampirinya.


"Maaf Nona bisakah anda ikut dengan kami?


Tuan besar ingin bertemu dengan Nona," ucap orang tersebut sambil menunjuk seseorang yang berada di dalam mobil mewah.


"Maaf tapi saya sama sekali tidak mengenal anda tuan, jadi saya tidak bisa mengikuti permintaan anda itu," tolak Kanzia tetap cuek.


"Percayalah pada kami Nona kami bukan orang jahat yang berniat untuk menyakiti Nona, jadi kami mohon untuk mengikuti perintah kami" ucap orang tersebut.


Kanzia yang melihat tidak ada kebohongan di mata laki laki tersebut akhirnya mengikuti orang orang itu dan entah kenapa ia juga tiba tiba merasa penasaran dengan orang yang ingin menemuinya itu.


.


.


.


Bersambung . . . . . . .


Jangan lupa di like👍🏻


Komen


Favorit


Vote


...Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan...

__ADS_1


__ADS_2