
"Ayah terlihat sangat bahagia bersama putrinya, tanpa memperdulikan perasaan mama dan aku," gumam Clara mengepalkan tangannya.
Clara masuk ke kamarnya, ia tidak tahan melihat pemandangan penuh bahagia antara Rudi dan Kanzia, apalagi saat ia mengingat nasib ibunya yang sekarang berada di penjara.
"Aku tidak akan membiarkanmu mengambil semuanya dariku Kanzia, jika aku tidak bisa merebutnya kembali maka aku akan membuatmu tidak bisa menikmati semuanya," gumamnya sambil tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin, entah apa yang akan ia lakukan pada Kanzia.
Sementara di ruang tamu Abian terlihat menahan kesal karna yang Kanzia masih terus menempel pada tuan Rudi. "Ayah apa aku boleh menginap di sini?" tanya Kanzia yang masih menyandarkan kepalanya pada dada ayahnya yang mengelus puncak kepala Kanzia dengan sayang. Momen seperti inilah yang sangat di rindukan oleh Rudi saat putrinya bersikap manja padanya.
"Tidak bisa! Lagi pula kamu akan ikut denganku ke kantor," ucap Abian yang langsung menolak keinginan Kanzia sebelum Ayah mertuanya menjawab pertanyaan Kanzia.
"Tapi aku sangat ingin menginap dan menghabiskan waktu seharian dengan Ayah ... kamu bisa ke kantor sendiri, biar aku di sini saja, aku juga ingin sekali tidur dengan ayah," ucap Kanzia dengan santainya, tanpa menyadari raut kekesalan di wajah suaminya. Sebenarnya ia bercanda mengatakan ingin tidur dengan ayahnya, Kanzia hanya ingin menggoda Abian.
"Jangan melewati batas mu Zia ... kamu hanya boleh tidur denganku," ucap Abian dengan suara dinginnya.
Ia sudah tidak bisa bersikap lebih sabar lagi melihat Kanzia yang dari tadi terus menempel pada tuan Rudi dan tidak memperdulikan dirinya.
"Bian ... ." Kanzia berusaha membujuk Abian dengan mengeluarkan ekspresi sendu.
"Ayo kita harus segera pergi dari sini, pekerjaan ku di kantor masih banyak," ucap Abian tanpa ingin dibantah. Sudah cukup untuk hari ini Kanzia mengabaikannya, ia tidak akan mengizinkannya untuk menginap bagaimana kalau nanti dia malah benar benar ingin tidur bersama ayahnya, Abian tidak akan pernah rela membiarkan hal itu walaupun orang itu adalah ayah kandung istrinya, Kanzia hanya miliknya.
Kanzia pun dengan patuh menuruti ucapan Abian, walaupun ia sangat ingin untuk tetap tinggal di rumah ayahnya, tapi tatapan dingin Abian membuatnya tidak berani untuk membantah.
"Ayah Zia pulang dulu, kapan kapan datanglah ke rumah kami," ucap Kanzia saat berpamitan pada ayahnya.
"Apakah boleh?" tanya Rudi.
"Tentu saja boleh, iya, kan sayang?" Kanzia menatap Abian.
"Hm..." ucap Abian.
"Terimakasih tuan," ucap ayah Kanzia yang masih canggung dengan menantunya itu.
"Ayah kenapa terus memanggilnya dengan sebutan tuan?, panggil saja dia Bian karna dia adalah menantu ayah," ucap Kanzia yang meminta tuan Rudi mengganti panggilannya pada Abian.
Tuan Rudi menatap Abian untuk meminta persetujuannya, apakah tidak apa apa jika ia memanggilnya seperti kata Kanzia.
"Panggil aku seperti yang diucapkan istriku," ucap Abian tetap dengan ekspresi datarnya.
"Ayo," ucap Abian.
"Ayah Zia pamit," ucap Kanzia hendak memeluk Ayahnya, tapi Abian terlebih dahulu menarik lengan Kanzia.
__ADS_1
"Berhenti memeluk laki laki lain, aku tidak suka kamu hanya boleh memelukku saja."
"Tapi dia Ayahku Bian ..." ucap Kanzia memutar bola matanya.
"Tetap tidak bisa."
"Astaga ..." gumam Kanzia, ia tidak habis pikir dengan sikap posesif Abian, padahal yang akan ia peluk adalah ayah kandungnya sendiri.
Tuan Rudi yang melihat hal itu bukannya merasa tersinggung tapi ia malah tersenyum bahagia melihat sikap Abian yang terlihat jelas jika laki laki itu sangat mencintai putrinya.
"Sudahlah, kamu turuti saja apa kata suamimu jangan sampai dia benar benar meratakan tempat ini karna kecemburuannya," bisik tuan Rudi pada Kanzia.
*
*
Abian melangkah memasuki perusahaannya dengan terus menggenggam tangan Kanzia dan hal itu membuat para karyawan yang melihatnya merasa heran dan bertanya tanya ada hubungan apa Kanzia dengan sang CEO.
Tapi Abian sama sekali tidak memperdulikan tatapan mereka, ia terlihat cuek seperti biasanya dan tetap melangkah dengan ekspresi datarnya. Sementara Kanzia hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Bian bisakah lepaskan tanganmu, semua karyawan terus melihat ke arah kita, aku tidak ingin mereka berpikir yang macam macam tentangku," ucap Abian sebelum memasuki lift khusus petinggi perusahaan.
Kanzia pun hanya bisa pasrah dan membiarkan Abian melakukan apapun yang diinginkannya.
"Bian aku hari ini lagi lagi harus bolos kerja, apakah tidak apa apa?" tanya Kanzia, sambil menunggu lift yang membawa mereka sampai di lantai tempat ruangan Abian.
"Aku sengaja membuatmu tidak bekerja hari ini agar kamu bisa istirahat seperti kata dokter, aku juga sudah menyuruh Bram untuk mengurus pekerjaanmu," ucap Abian.
"Ish... Bian kamu menyuruhku untuk beristirahat tapi malah membawaku ke sini," gerutu Kanzia lalu terlebih dahulu keluar karna bertepatan dengan itu pintu lift terbuka.
Kanzia melangkah menuju ruangan Abian sambil terus menggerutu. "Dasar tukang pemaksa, seenaknya saja menyuruhku libur kerja tapi dia malah mengajakku ke kantornya," kesal Kanzia, itu artinya ia akan terkurung di dalam ruang kerja Abian dan itu sangatlah membosankan.
"Zia!"
Kanzia sangat terkejut saat melihat orang yang memanggilnya ternyata adalah Tania teman kantornya dulu. "Tania, kok kamu bisa ada di sini?" tanya Kanzia begitu ia masuk ke ruangan Abian dan ia mendapati Tania ada di sana.
"Aku sekarang sudah naik jabatan menjadi sekretaris pak Jonathan, aku di sini lagi nyiapin berkas berkas untuk meeting hari ini, tapi ternyata pak Jonathan belum datang," jawab Tania.
"Oh ... selamat ya buat kenaikan jabatannya, berarti gaji kamu naik juga dong? kamu gak ada niatan buat traktir aku?" ucap Kanzia bercanda.
"Tenang aja nanti siang aku traktir kamu makan sepuasnya," jawab Tania. "Eh tapi kamu ada keperluan apa ke sini? Bukannya kamu sekarang udah gak kerja di sini?" tanya Tania merasa heran karna melihat Kanzia yang tiba tiba masuk ke ruang kerja CEO nya.
__ADS_1
"Dia ada urusan yang harus diselesaikan dengan saya, kamu sudah bisa keluar sekarang," ucap Abian dengan ekspresi dinginnya pada Tania.
"Baik pak," ucap Tania lalu keluar dari ruangan Abian dengan rasa penasaran.
Kanzia hanya diam saja saat melihat bagaimana sikap Abian pada Tania, ternyata rumor tentang CEO dingin dan kejam itu benar adanya.
"Kenapa melihat ku seperti itu?" tanya Abian yang melihat Kanzia terus memperhatikan dirinya.
"Tidak ada aku hanya merasa sedikit tenang, karna sekarang aku tidak perlu takut lagi jika kamu akan tergoda dengan perempuan seksi," ucap Kanzia. Ia sedikit merasa tidak nyaman saat melihat penampilan Tania yang sekarang terlihat lebih berani dengan pakaian seksinya, berbeda dengan Tania yang ia kenal sebelumnya. Tapi setelah melihat sikap dan ekspresi Abian yang terlihat tidak peduli dan sikap dinginnya pada Tania barusan membuatnya merasa tenang.
Abian yang mendengar ucapan istrinya mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"
"Tidak ada, kamu lanjutkan saja pekerjaanmu aku ingin istirahat," ucap Kanzia lalu beranjak meninggalkan Abian ke dalam kamar yang ada di ruang kerja Abian.
*
*
Sementara itu di perusahaan Angkasa grup seorang wanita paruh baya terlihat sedang memaksa untuk bertemu dengan Kanzia.
"Cepat biarkan aku masuk! Apa kalian tidak tau siapa aku! Jadi biarkan aku bertemu dengan pemilik perusahaan ini," teriak wanita tersebut pada seorang resepsionis.
"Maaf Nyonya tapi anda tidak bisa bertemu dengannya jika belum membuat janji dan kebetulan sekali untuk saat ini Nona Kanzia sedang tidak ada di kantor," jelas resepsionis itu.
"Awas saja kalian," ucap wanita paruh baya itu lalu beranjak dari gedung perusahaan.
.
.
.
Bersambung . . . . .
Jangan lupa Like
Komen
Favorit
Vote
__ADS_1