
Dengan perasaan gugup Kanzia berdiri di depan pintu rumah ayahnya, Abian menggenggam tangan sang istri untuk meyakinkan Kanzia.
"Percaya padaku semuanya akan baik baik saja," ucap Abian yang melihat keraguan di mata Kanzia.
Kanzia yang mendengar ucapan Abian menarik napas dalam dalam meyakinkan dirinya, jika keputusannya saat ini sudah benar, ia harus bisa melupakan perlakuan buruk ayahnya dan memaafkannya apa pun alasannya nanti.
Baru saja Kanzia hendak memegang handle pintu, seorang pelayan terlebih dahulu membukanya untuk Kanzia.
"Nona Kanzia ..." ucap pelayan itu sambil menundukkan kepalanya hormat.
"Aku ingin menemui ayahku," ucap Kanzia datar.
"Silahkan masuk Nona, biar saya panggilkan Tuan besar."
Kanzia duduk di sofa ruang tamu sambil menelisik setiap sudut rumah yang pernah ia tinggali itu, dan memang sejak kematian bundanya tidak ada satupun bagian dari rumah ini yang diubah, bahkan letak barang barangnya pun masih sama, karna bundanya lah yang menata semuanya.
"Sebenarnya apa alasan ayah sampai mengkhianati bunda ..." batin Kanzia.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Abian yang melihat Kanzia kembali melamun. "Jika kamu masih belum siap bertemu dengannya kita bisa pulang sekarang," ucap Abian, ia tidak ingin memaksa Kanzia untuk bertemu dengan ayahnya.
"Aku tidak apa apa, hanya melihat lihat saja dan aku baru sadar ternyata tidak ada yang berubah dari rumah ini," jawab Kanzia sambil tersenyum ke arah Abian, menunjukkan jika ia baik baik saja.
"Zia ..." ucap tuan Rudi menatap Kanzia dengan mata yang sudah mulai berkaca kaca. Ia tidak menyangka putrinya akhirnya mau menemui dirinya, ia yang tadi sedang berada di ruang kerjanya langsung saja meninggalkan pekerjaannya saat pelayan memberitahunya jika Kanzia menunggunya di ruang tamu.
Kanzia tetap dengan wajah datarnya menatap ayahnya yang berjalan semakin mendekat ke arahnya.
"Silahkan duduk tuan," ucap Rudi pada Abian.
"Apakah anda bisa menjelaskan semuanya padaku tentang apa yang sebenarnya terjadi selama ini?" tanya Kanzia pada ayahnya. Ia tidak ingin terlalu banyak basa basi ia ingin langsung mendengar penjelasan dari Rudi dan alasan kenapa ayahnya itu sampai tega mengkhianati Bundanya.
__ADS_1
Apakah ini memang saatnya Kanzia tau tentang semua kebenaran di masa lalu, apakah Kanzia akan memaafkannya setelah mengetahui semuanya, Rudi hanya menatap Kanzia tanpa mengatakan apa pun.
"Apa anda akan diam saja seperti itu? Aku ingin mendengar penjelasan darimu agar aku mempunyai alasan untuk memaafkan anda Tuan," ucap Kanzia karna ayahnya hanya diam saja sambil menatapnya.
"Zia maafkan Ayah yang selama ini selalu menyakiti perasaanmu, Ayah melakukan hal itu untuk melindungi mu dari Maya dan keluarga ibumu, laki laki tua ini terlalu pengecut untuk menghadapi orang orang licik itu, cukup ayah kehilangan bunda mu ayah tidak akan sanggup jika harus kehilangan dirimu juga Zia," ucap tuan Rudi, ia pun menjelaskan pada Kanzia alasan kenapa ia bisa menikah dengan Maya dan memiliki Clara, ia juga menceritakan bagaimana awal pertemuannya dengan Renata ibu kandung Kanzia sampai akhirnya mereka menikah.
Kanzia hanya diam saja mendengar kan penjelasan Ayahnya, ia tidak ingin melewatkan sedikit pun cerita masa lalu keluarganya.
"Ayah tidak tau apakah kamu akan mempercayai semua ucapan ayah Zia, tapi ayah menyembunyikan identitas mu bukan karna ayah malu untuk mengakui mu, tapi semua itu Ayah lakukan agar orang orang yang mengincar nyawa bunda mu tidak dapat mengetahui keberadaan mu, karna mereka pasti akan melakukan hal yang sama padamu karna kamu adalah satu satunya pewaris dari keluarga Wiguna," jelas Rudi pada Kanzia, ia menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewatkan, karna sekarang ada sosok pelindung yang akan melindungi putrinya dari orang orang serakah itu.
"Apakah itu alasan Anda dan Bunda tidak pernah membuat pesta ulang tahun untukku?" tanya Kanzia menatap ayahnya.
Walaupun Kanzia masih belum menyebut kata ayah untuk Rudi, tapi tatapan Kanzia sudah tidak sedingin tadi sebelum ia mendengar penjelasan tuan Rudi.
"Iya," jawab Rudi lirih.
Tuan Rudi yang melihat hal itu langsung duduk di lantai menghadap putrinya. "Maafkan ayah Zia, jangan pernah mengatakan hal seperti itu kamu tetaplah putri Ayah yang sangat berharga, ayah menyetujuinya agar kamu bisa terbebas dari Maya, ayah tidak ingin melihatmu selalu di perlakukan tidak adil di rumah ini, sementara ayah tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikannya."
"Maaf Zia ... tolong maafkan ayah," ucap tuan Rudi sambil memegang kedua tangan Kanzia.
Kanzia berusaha menyembunyikan air matanya dengan kepala menunduk, sementara Abian membiarkan istrinya mengeluarkan semua rasa sakitnya yang telah lama ia simpan sendiri selama beberapa tahun ini.
"Zia maaf kan Ayah ..." hanya itu yang bisa ia katakan saat ini walaupun Kanzia tidak akan pernah memaafkan dirinya, kesalahannya sudah terlalu fatal, niatnya untuk melindungi putrinya ternyata telah menorehkan luka yang begitu dalam padanya.
"Ayah ..." ucap Kanzia sambil menatap Ayahnya.
Rudi yang mendengar Kanzia memanggilnya dengn kata itu tertegun di tempatnya, ia merasa semuanya seperti mimpi saat Kanzia mengucapkan kata Ayah untuknya, ia terus meyakinkan dirinya jika apa yang ia dengar barusan adalah nyata.
"Ayah, aku akan memaafkan mu tapi aku mohon jangan lakukan hal itu lagi, sekarang aku sudah bisa menjaga diriku sendiri, maaf jika selama ini telah membuatmu tersiksa karna harus me–" Kanzia tidak dapat melanjutkan ucapannya, saat sebuah pelukan hangat dari ayahnya membuatnya terpaku, tubuhnya tiba tiba saja kaku, ia tidak dapat menggerakkan tubuhnya, sebuah isakan terdengar dari mulut Rudi dan ia pun membalas pelukan ayahnya.
__ADS_1
Kanzia pun ikut terisak dalam pelukan sang ayah, akhirnya setelah sekian lama ia kembali merasakan pelukan hangat dari Ayahnya.
"Terimakasih telah memaafkan Ayah Zia ... Ayah janji tidak akan menyakitimu lagi dan jangan meminta maaf pada Ayah, karna semua itu adalah salah Ayah, sekali lagi maafkan Ayah," ucap tuan Rudi sambil menghapus sisa air mata di pipi putrinya dan kembali memeluknya dengan erat.
"Ayah sudah lama merindukan momen ini ..." ucap Rudi sambil mengelus rambut Kanzia dengan sayang.
Sementara Abian yang sebenarnya tidak rela melihat istrinya di peluk oleh orang lain walaupun itu ayah kandungnya sendiri, hanya bisa menghela napas ia tidak ingin merusak momen bahagia antara ayah dan anak itu.
"Awas saja setelah ini aku tidak akan membiarkanmu memeluk istriku, enak saja Kanzia hanya milikku," gerutu Abian dalam hati.
Rudi sangat bersyukur akhirnya Kanzia telah memaafkannya, ia tidak pernah sebahagia ini putri kecil kebanggaannya telah kembali ke dalam pelukannya. Mulai sekarang ia dapat menunjukkan kasih sayangnya dengan bebas tanpa ada rasa takut putrinya dalam bahaya.
Sementara Clara yang melihat pemandangan penuh haru antara Kanzia dan ayahnya hanya bisa mengepalkan tangannya, ia menatap Kanzia penuh kebencian sampai kapanpun ia tidak akan rela membiarkan Kanzia hidup bahagia.
.
.
.
Bersambung . . . . .
Jangan lupa Like
Komen
Favorit
Vote
__ADS_1