Merubah Istri Gendut

Merubah Istri Gendut
BAB 81 : Kebencian Clara


__ADS_3

Ma ... Mama ... jangan tinggalkan aku, aku mohon ..." Clara terus memeluk tubuh Maya yang terbujur kaku di atas brankar rumah sakit. Ia terus menarik kain yang menutupi wajah ibunya, ia belum bisa menerima kenyataan jika ibunya telah tiada.


"Clara, kamu akan membuat mama merasa sedih melihat mu seperti ini, kamu harus mengikhlaskan kepergian mama," ucap Kanzia sambil menarik Clara untuk menenangkan kakak tirinya, ia juga ikut prihatin melihat kondisi Clara saat ini.


Beberapa menit sebelumnya.


Kanzia yang hendak berangkat ke kantor bersama Abian begitu kaget saat mendapatkan telpon dari ayahnya dan mengabari soal kematian ibu tirinya, dan ia pun meminta Abian untuk membawanya ke rumah sakit karna seperti apa pun perlakuan mereka pada Kanzia, tetap saja mereka adalah keluarga, karna Maya masih istri dari ayahnya.


Sebelum jasad Maya di kembalikan ke pihak keluarga terlebih dahulu dilakukan otopsi untuk keperluan penyelidikan penyebab kematiannya.


Berdasarkan hasil visum Maya meninggal karna memotong urat nadinya dan meninggal sebelum ia dibawa ke rumah sakit karna kehabisan darah dan memang murni akibat bunuh diri tidak ada campur tangan orang lain.


"Ma ... sampai kapan mama akan diam saja, aku janji akan melakukan apa pun untuk mengeluarkan mama dari penjara, tapi mama harus bangun, jangan mendiami ku seperti ini," Clara masih saja memanggil ibunya.


"Clara jangan seperti ini, mama harus segera dibawa pulang, jika kamu terus bersikap begini itu hanya akan menyakiti mama," ucap Kanzia.


Clara langsung menatap tajam kearah Kanzia. "Ini semua gara gara kamu! Pasti kamu merasa senang, kan sekarang melihat kondisi mamaku yang seperti ini?! Kamu yang sudah membuat mama ku meninggalkanku!" teriak Clara sambil mendorong tubuh Kanzia, untung saja Abian dengan sigap menangkapnya.


Abian sudah tidak bisa diam saja membiarkan istrinya yang berusaha untuk menenangkan Clara tapi malah diperlakukan seperti itu. "Berani kamu menyentuh istriku kamu berurusan denganku," ancam Abian.


"Jangan selalu menyalahkan istriku, mamamu mengalami hal ini karna perbuatannya sendiri bukan karna istriku dan seharusnya kamu menyadari kesalahan mu dan memperbaiki diri agar kamu tidak berakhir seperti ibumu." Abian menatap Clara tidak kalah tajamnya.


"Ayo sayang kita pergi dari sini, percuma kamu bersikap baik pada manusia sepertinya, sudah cukup kamu melihatnya biarkan Ayahmu dan putrinya yang mengurus pemakamannya," ucap Abian lalu membawa Kanzia pergi dari sana setelah berpamitan pada Ayah mertuanya.

__ADS_1


Selama perjalanan Kanzia hanya diam saja sambil menatap ke luar jendela, ia memikirkan ucapan Clara yang mengatakan semua ini terjadi karna dirinya.


Abian yang menyadari sikap istrinya memelankan laju mobilnya. "Sayang ..." Abian menepuk halus pundak Kanzia yang terlihat melamun.


Kanzia menatap Abian. "Bian ini semua bukan salahku kan?" tanya Kanzia dengan suara sendu.


Abian yang mendengar pertanyaan Kanzia langsung meminggirkan mobilnya dan berhenti.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu sayang ... tentu saja itu bukan salahmu," ucap Abian menatap Kanzia.


"Aku hanya takut, bagaimana kalau apa yang terjadi pada Mama benar benar karna aku," ucap Kanzia menundukkan kepalanya.


"Sayang ..." ucap Abian lembut sambil mengangkat dagu Kanzia agar menatapnya.


Dan Kanzia pun menumpahkan tangisnya dalam pelukan Abian, ia benar benar merasakan ketakutan saat mendengar perkataan Clara yang menyalahkannya tadi.


Setelah perasaan Kanzia sudah membaik, Abian pun kembali melajukan mobilnya menuju perusahaan dan ia akan mengantar Kanzia terlebih dahulu ke kantornya.


*


*


Pemakaman Maya berlangsung penuh khidmat yang hanya dihadiri oleh beberapa keluarga dekat saja.

__ADS_1


Kanzia dan Abian langsung pergi setelah acara pemakaman selesai, Clara tidak berani melakukan apa pun pada Kanzia karna keberadaan Abian.


Sementara Clara masih tetap berada di makam ibunya setelah semua orang meninggalkan tempat pemakaman. Rudi terus membujuknya agar ia mau pulang tapi Clara tetap bersikeras untuk tetap berada di sana.


"Mama tenang saja aku pasti akan membalas semua perbuatan mereka terutama Kanzia, aku akan membuat wanita itu secepat mungkin datang menemui Mama," ucap Clara sambil menatap batu nisan ibunya.


"Bahkan jika aku harus berakhir seperti mama aku rela, asalkan aku dapat melenyapkan Kanzia," gumam Clara dengan tatapan penuh kebencian terhadap Kanzia.


.


.


.


Bersambung . . . . .


Jangan lupa Like


Komen


Favorit


Vote

__ADS_1


__ADS_2