
Beberapa hari kemudian
Sore ini Kanzia yang baru saja pulang dari perusahaan memutuskan untuk mengunjungi makam ibunya sebelum pulang ke rumah, ia juga sudah meminta izin pada Abian sebelum ia berangkat, seperti biasa ada Vita yang selalu menemani Kanzia kemanapun ia pergi.
Setelah menempuh perjalanan kurang dari satu jam mobil yang membawa mereka telah sampai di tempat tujuan.
Vita pun segera turun untuk membukakan pintu mobil untuk nona mudanya itu.
"Terimakasih,,," ucap Kanzia sambil tersenyum.
Vita hanya menanggapi dengan menundukkan kepalanya pada Kanzia.
Kanzia hanya bisa menghela napas melihat sikap asistennya itu yang tidak beda jauh dengan suaminya yang suka bersikap datar.
"Apa kamu akan ikut masuk ke pemakaman?" Tanya Kanzia sebelum ia melangkahkan kakinya untuk memasuki area pemakaman.
"Iya nona," jawab Vita singkat.
Kanzia yang mendengar jawaban singkat asistennya pun langsung melangkah masuk ke tempat makam bundanya, begitupun dengan Vita yang selalu setia mengekor di belakang Kanzia.
"Aku benar benar seperti datang sendiri," gumam Kanzia karna Vita yang benar benar irit bicara dan selalu menjawab dengan jawaban yang singkat padat dan jelas.
Kanzia duduk di hadapan makam bundanya sambil menaruh bunga kesukaan bundanya yang ia bawa, sementara Vita tetap berdiri dengan jarak yang tidak terlalu dekat dengan Kanzia sambil tetap mengawasi situasi di tempat itu, karna entah kenapa ia seperti merasakan ada seseorang yang sedang mengawasi Nona mudanya.
"Bunda Zia datang lagi mengunjungi bunda, tapi sayang sekali Zia lagi lagi belum bisa bawa mantu bunda kesini soalnya dia orangnya sangat sibuk," ucap Kanzia dihadapan batu nisan bundanya.
"Bunda,,, sekarang Zia sudah mulai belajar untuk memimpin perusahaan milik kakek, dulu bunda sering bilang ke aku kalau suatu hari nanti, bakalan banyak orang orang jahat yang bakalan mencelakai Zia,,," cerita Kanzia di sambil memegang nisan bundanya, ia terlihat sedih saat mengingat kenangannya bersama ibunya.
"Tapi sekarang bunda tidak perlu khawatir karna sekarang aku bukanlah wanita lemah lagi, seperti yang selalu bunda katakan dulu jika aku harus tetap menjadi wanita tangguh dan yang paling penting sekarang aku memiliki seseorang yang akan selalu melindungi ku," ucap Kanzia kembali.
"Maaf nona sepertinya hari sudah semakin sore, kita harus segera kembali ke rumah," ucap Vita mengingatkan nona mudanya, apalagi saat ini perasaannya semakin tidak enak, seperti ada sesuatu yang akan menimpa nona mudanya.
"Ia sebentar," ucap Kanzia.
"Bunda Zia pulang dulu, lain kali aku akan datang ke sini dengan membawa suamiku, Zia akan mengenalkannya pada bunda." Ucap Kanzia sebelum beranjak dari makam ibunya.
Kanzia keluar dari kawasan pemakaman itu, sementara Vita tetap terlihat waspada.
*****
Disaat mobil yang membawa mereka melewati jalanan yang sepi, tiba tiba saja dua buah mobil terlihat seperti sedang mengejar mobil mereka.
Vita yang menyadari hal itu langsung saja mempercepat laju mobil yang dibawanya, dan hal itu membuat Kanzia tersentak kaget.
__ADS_1
Ternyata dugaannya benar dari tadi saat ia dan nona mudanya masih di pemakaman ia sudah merasakan seperti ada bayangan yang menguntit mereka, tapi ia tetap berusaha bersikap tenang agar Kanzia tetap merasa nyaman.
"Ada apa Vik?" Tanya Kanzia yang merasakan jika Vika melajukan kecepatan mobilnya semakin kencang.
"Sepertinya ada yang ingin bermain main nona," jawab Vika.
Kanzia pun langsung menoleh ke belakang dan benar saja dua mobil itu memang terlihat seperti mengajar mobilnya.
"Astaga ini apa lagi, kenapa hal seperti ini harus terjadi lagi, sepertinya aku harus bersiap jangan sampai keningku yang jadi korbannya seperti waktu bersama pak Muh," ucap Kanzia sambil menutupi keningnya dengan bantal leher.
"Nona tenang saja saya tidak akan membiarkan mereka menyakiti nona," ucap Vita sambil tetap fokus dengan setir mobilnya.
Vita masih berusaha untuk menghindar dari dua buah mobil itu, tapi mobil itu semakin mendekat dan berusaha untuk menyalip mobil yang dibawa oleh Vita.
"Pegangan yang erat nona," ucap Vita tetap terlihat tenang sambil terus menambah kecepatan mobilnya.
"Apa sebaiknya kita turun saja untuk menghadapi mereka Vita," ucap Kanzia pada Vita.
"Tidak bisa nona, kita belum tau siapa musuh kita kali ini, takutnya mereka berjumlah banyak dan hal itu bisa membahayakan nona." Jawab Vita masih terus berusaha menghindari mobil yang mengejarnya.
"Tapi ini jauh lebih bahaya Vit,,,"
"Nona tenang saja,"
"Astaga kenapa mereka begitu gigih, sebenarnya apa yang mereka inginkan?" Gumam Kanzia.
"Ternyata nona jauh terlihat lebih tenang dari pada yang aku pikirkan, aku pikir ia akan berteriak histeris, tapi ia malah terlihat sangat santai dalam situasi bahaya seperti ini," gumam Vita dalam hati.
Setelah beberapa waktu aksi kejar kejaran itu terjadi, akhirnya mobil yang mengejar mereka berhasil menyalipnya dan mau tidak mau Vita pun menghentikan mobilnya, untung saja kali ini Kanzia lebih siap jadi keningnya tidak menjadi korban kepala jok mobil.
"Syukurlah kali ini keningku selamat,,," ucap Kanzia bukannya takut ia malah mengkhawatirkan nasib keningnya.
Vita hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah nona mudanya yang jauh dari perkiraannya, wanita tuan Jonatan memang benar benar berbeda dengan wanita wanita diluar sana.
"Nona bisa tunggu saya disini biar saya yang turun menghadapi mereka," ucap Vita sebelum keluar dari mobil.
"Sepertinya kau terlalu meremehkan ku, kita turun sama sama dan hadapi mereka bersama sama juga." Ucap Kanzia sambil membuka sabuk pengamannya.
"Tapi nona," ucapan Vita di potong oleh Kanzia.
"Kamu terlalu lama Vita," ucap Kanzia yang langsung turun dari mobilnya.
Vita pun tidak bisa mencegah nona mudanya untuk ikut keluar dari mobil.
__ADS_1
Kanzia dan Vita melangkah maju ke arah orang orang itu, saat para preman itu maju ke arah Kanzia, dua wanita itu langsung menerjang orang orang bertubuh besar itu.
Perkelahian antara dua wanita cantik dan orang orang bertubuh besar sudah tidak dapat di hindari lagi.
Orang orang itu terus berusaha untuk mendekat kearah Kanzia, tapi Vita tidak membiarkan hal itu terjadi, ia memberikan tendangan pada salah satu pria yang hendak menyerang Kanzia.
"Ishh,,, Vita kenapa kamu malah mengambil bagian ku, kamu jangan serakah!" Ucap Kanzia, sementara Vita dibuat melongo dengan ucapan nona mudanya yang malah memarahinya karena menyerang orang yang hendak menyerangnya.
"Sebaiknya kita bagi dua saja, supaya adil," ucap Kanzia.
Orang orang bertubuh besar itu dibuat emosi, mereka merasa seperti sedang diremehkan oleh ucapan Kanzia.
"Baik nona." Ucap Vita dari pada urusannya semakin panjang.
Kanzia dan Vita terus memberikan serangan serangannya kepada orang orang tersebut membuat 4 orang preman itu mulai terlihat kewalahan menghadapi kedua wanita itu, mereka tidak menyangka bisa dikalahkan oleh dua orang perempuan, mereka pikir mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan mudah, karna mengira dua orang itu hanyalah wanita wanita lemah.
Kanzia memutar tubuhnya dengan indah lalu memberikan tendang terakhirnya pada tengkuk lawannya yang langsung tersungkur ke aspal.
Tapi tanpa di sadari oleh Kanzia dan Vita jika salah satu dari mereka mengeluarkan pisau dari jaketnya, dan dengan gerakan cepat pria itu mengarahkan pisaunya pada Kanzia, Kanzia yang saat itu tengah lengah tidak bisa menghindari serangan dari pria itu, hingga mengenai lengan kanannya.
"Nona!" teriak Vita dan langsung menghampiri Kanzia, bertepatan dengan itu terlihat mobil Abian baru saja tiba di lokasi.
"Zia!" Abian langsung bergegas turun dari mobilnya menghampiri istrinya yang sudah mulai mengeluarkan darah pada lengannya.
Sementara orang orang yang menyerang mereka sudah kabur saat melihat kedatangan Abian di tempat itu.
.
.
.
Bersambung . . . . . . .
Jangan lupa di like👍🏻
Komen
Favorit
Vote
...Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan...
__ADS_1