
Kediaman Abian
Kanzia yang sudah bosan hanya berdiam diri di kamarnya akhirnya memutuskan untuk keluar kamar, apalagi lukanya juga sudah mulai terlihat mengering, sepertinya obat yang diberikan dokter marcel benar benar ampuh.
Sekalian ia juga ingin melakukan sesuatu untuk mendinginkan hati dan pikirannya, karna setelah Clara menghubunginya membuat suasana hatinya menjadi kurang baik.
“Bagaimana kalau aku mencoba resep kue yang baru saja aku tonton di youtube,” ucap Kanzia setelah keluar dari kamarnya.
“Nona anda mau kemana?” Tanya bik Sofi terdengar panik saat melihat nona mudanya melangkah kearah dapur.
“Karna ini arah ke dapur, tentu saja aku mau ke dapur bik,,,” jawab Kanzia.
“Tapi nona untuk apa anda ke dapur?”
“Aku ingin pipis bik,” jawab Kanzia asal.
“Pipis?”
“Astaga bibi tentu saja aku ke dapur untuk masak,” ucap Kanzia yang melihat kebingungan bik Sofi mendengar jawabannya.
“Maaf nona tuan sudah berpesan jika hari ini nona harus beristirahat, jadi nona bisa meminta pelayan untuk melakukannya, nona tinggal bilang saja ingin dimasakin apa,” ucap bik Sofi menghalangi jalan Kanzia untuk ke dapur sambil menundukkan kepalanya.
“Aku sudah terlalu banyak istirahat hari ini bik, lagi pula aku sudah baikan bibi tidak perlu khawatir jadi kali ini biarkan aku ke dapur,” ucap Kanzia.
“Tapi tuan bisa marah kalau tau saya membiarkan nona melakukan sesuatu yang melelahkan, apalagi sampai memasak,” ucap bik Sofi yang merasa takut dengan tuannya.
“Bibi tenang aja kalau urusan tuan aku jamin dia tidak akan berani memarahi bibi,dan kalau hanya sekedar masak tidak akan membuatku sampai kelelahan,” Kanzia berusaha meyakinkan bik Sofi.
“Tapi nona,,,” ucapan bik Sofi terpotong oleh Kanzia.
“Sudah bik percaya sama aku tuan pasti tidak akan berani memarahi bibi, kalau sampai dia memarahi bibi apalagi sampai berani memecat bibi aku akan buat dia puasa empat puluh hari empat puluh malam,” ucap Kanzia.
“Tapi Non,,,” lagi lagi ucapannya dipotong oleh Kanzia.
“Percaya sama aku bik,,,” ucap Kanzia sambil menepuk pundak bik Sofi.
Akhirnya bik Sofi pun membiarkan saja Kanzia melakukan apa yang ia inginkan, bik Sofi sudah pasrah jika harus mendapatkan kemarahan tuannya.
Sementara Abian yang sedang memantau apa yang dilakukan Kanzia melalui CCTV hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan istrinya itu.
“Dasar keras kepala,,, bisa bisanya ia ingin mengancam ku dengan membuatku puasa selama itu,” gumam Abian sambil menopang dagu melihat usaha Kanzia melalui layar ponselnya yang terhubung dengan CCTV di rumahnya.
__ADS_1
*****
Kanzia pun mulai mencampurkan satu persatu bahan bahan yang telah ia siapkan ke dalam wadah sesuai dengan resep yang ia lihat di youtobe. Sementara para pelayan yang berada di dapur hanya menyaksikan saja apa yang dilakukan nona mudanya, sambil membantunya untuk menyiapkan bahan bahan yang dibutuhkan nona mudanya.
Setelah menunggu selama beberapa menit akhirnya kue buatannya sudah bisa dinikmati, Setelah mengeluarkannya dari open, Kanzia meminta pelayan untuk mencobanya.
“Apakah rasanya enak?” Tanya Kanzia pada 2 orang pelayan yang ada di dapur saat mencoba kue buatannya.
“Iya nona, rasanya benar benar sangat enak,” ucap mereka dengan jujur.
“Benarkah?” Tanya Kanzia sambil ikut mencicipi kue buatannya.
“Mmm ternyata beneran enak,” ucap Kanzia yang tidak menyangka jika kue buatannya bakalan seenak ini.
“Kalau gitu tolong di potong potong dan bagikan kepada yang lainnya,” perintah Kanzia pada dua orang pelayan itu.
“Baik nona muda,” ucap pelayan itu lalu melakukan apa yang di suruh oleh Kanzia.
*
*
Malam harinya
“Apa dia berniat untuk menggodaku dengan baju seksi ini agar aku tidak memarahi bik Sofi?” Gumam Abian sambil mengelus pipi Kanzia, lalu menangkat tubuh istrinya dan memindahkannya ke atas ranjang.
“Kamu membagikan kue buatanmu pada semua orang di rumah ini, tapi sama sekali tidak menyisakan sedikitpun untukku, kamu memang harus dihukum," ucap Abian bicara sendiri karna Kanzia sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran Abian.
"Baiklah malam ini kamu selamat dari hukumanmu nyonya Pramudya,” ucap abian yang tidak tega mengganggu tidur istrinya, ia pun hanya mencium kening Kanzia sebelum ia beranjak ke kamar mandi.
“Enak saja ia ingin membuatku puasa selama empat puluh empat puluh malam,,,” gumam Abian sambil melangkah masuk ke kamar mandi.
*****
Sementara Maya dan Rudi sedang beradu mulut membahas tentang perceraian Clara dengan Noah, Maya yang tidak terima jika putrinya diperlakukan seperti itu dan Rudi yang terlihat tidak peduli dengan masalah rumah tangga Clara.
“Pa,,, seharusnya kamu melakukan sesuatu untuk Clara bukannya malah diam saja!” Ucap Maya yang melihat suaminya hanya pasrah saja melihat putrinya akan diceraikan, apalagi saat mengetahui jika Clara sedang hamil dan Noah tidak mau mengakuinya.
“Memangnya apa yang bisa aku lakukan?” Tanya Rudi sambil menatap istrinya.
“Jangan terlalu memanjakannya biarkan putrimu menyelesaiakan masalahnya sendiri, karna dia bukan anak kecil lagi sudah saatnya ia berubah menjadi lebih dewasa,” ucap Rudi melanjutkan ucapannya sebelum Maya kembali berucap.
__ADS_1
“Seharusnya papa melakukan pembelaan saat putrimu di perlakukan seperti tadi, bahkan Noah dengan terang terangan tidak mau mengakui anak yang sedang dikandung Clara, tapi kamu hanya diam saja melihat putrimu direndahkan oleh noah,” ucap maya kesal.
“Mungkin saja apa yang dikatakan Noah memang benar,” ucap Rudi dengan ekspresi dinginnya.
“Apa maksud ucapanmu itu Rudi!” Ucap Maya emosi mendengar ucapan suaminya yag seakan akan merendahkan putrinya.
Rudi tersenyum sinis melihat kemarahan istrinya itu.
“Tentu saja kamu lebih paham dengan apa yang aku katakana barusan, bukankah kamu dan putrimu itu tidak jauh beda, kalian berdua akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kalian inginkan,” ucap Rudi, ia sama sekali tidak terlihat takut seperti biasanya.
“Diam kamu!”
“Jangan kamu pikir selama ini aku tidak tau bagaimana sepak terjang putrimu dalam mencapai tujuannya untuk menjadi seorang model terkenal, bahkan dia rela menyerahkan tubuhnya pada pemilik agensi yang sudah berumur hanya untuk mendapatkan sebuah surat kontrak,” ucap Rudi tidak peduli dengan kemarahan Maya.
“Kurang ajar kamu rudi! Beraninya kamu menghina putriku!” ucap Maya dengan tatapan tajamnya.
“Putrimu memang hina karna dia terlahir dari rahim seorang perempuan hina dan licik sepertimu,” ucap Rudi dengan tatapan tidak kalah tajamnya, ia sudah tidak bisa menahan kemarahan yang selama ini ia tahan demi keselamatan Kanzia, karna Maya selalu mengancamnya akan melenyapkan putrinya seperti apa yang dilakukannya pada istrinya dulu.
“Jaga ucapanmu itu Rudi karna biar bagaimanapun Clara tetap putri kandungmu darah dagingmu sendiri,” ucap Maya.
“Sampai kapanpun aku hanya menganggap Kanzia sebagai satu satunya putriku, buah cintaku dengan wanita yang kucintai, bahkan sekarang setelah beberapa tahun ini hidup denganmu aku semakin tau bagaimana liciknya dirimu membuatku ragu jika Clara adalah putri kandungku, bisa saja kamu merekayasa hasil tes DNA waktu itu,” ucap Rudi.
“Sepertinya aku telah bersikap terlalu lunak padamu Rudi, apa kamu sudah tidak peduli dengan keselamatan putri kesayanganmu itu? Apa kamu sudah siap untuk meliahat putrimu bertemu dengan ibunya diakhirat.” Ucap Maya mulai mengancam Rudi.
“Coba saja kalau kamu mampu untuk melakukannya, jangankan untuk melenyapkannya, hanya sekedar menyentuh ujung rambutnya saja kamu tidak akan mampu, karna putri memiliki seorang suami yang tidak pengecut seperti ayahnya ini, yang mampu melindunginya dari manusia manusia licik sepertimu,” ucap Rudi yang selalu di buat emosi ketika mendengar ancaman Maya.
Sementara seseorang yang sudah tiba di rumah itu sejak tadi mengepalkan tangannya di balik tembok mendengar semua perdebatan antara Rudi dan Maya.
.
.
.
Bersambung . . . . . .
Jangan lupa di like👍🏻
Komen
Favorit
__ADS_1
Vote
...Selamat hari raya idul Fitri 1443 H mohon maaf lahir dan batin...