
Kanzia hampir saja terlambat sampai kantor dan semua itu karna ulah Abian yang memberikannya hukuman pagi ini, sepanjang perjalanan Kanzia terus menggerutu.
"Dasar, katanya cuma sebentar, awas saja kalau sampai aku terlambat ini semua gara gara kamu," ucap Kanzia sambil cemberut.
"Siapa suruh kamu dari semalam terus menggodaku, lagi pula kamu juga terlihat sangat menikmati hukuman yang aku berikan tadi," ucap Abian.
"Bian," ucap Kanzia sambil memberikan tatapan tajam pada Abian.
"Iya maaf," Abian akhirnya mengalah dan mengucapkan kata maaf, dari pada harus disuruh puasa empat puluh hari empat puluh malam.
Sementara Kevin yang sedang menyetir hanya bisa diam saja menyaksikan perdebatan tuan dan Nonanya yang tidak menghiraukan keberadaannya itu.
"Wah nona anda sungguh sangat luar biasa, bahkan anda mampu membuat seorang CEO Pramudya tunduk hanya dengan tatapan anda," ucap Kevin dalam hati, yang melihat tuannya langsung meminta maaf saat mendapatkan tatapan tajam dari nona mudanya.
Setelah beberapa menit mobil yang membawa Abian dan Kanzia akhirnya sampai di gedung perusahaan Angkasa grup, setelah memberikan ciuman pada suaminya, Kanzia segera turun dengan terburu buru dan melangkah masuk ke dalam gedung perusahaan.
Abian pun meminta Kevin untuk kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke perusahaannya setelah Kanzia memasuki perusahaan Angkasa grup.
Seperti biasa Vita selalu setia menunggu kedatangan Nona mudanya.
"Selamat pagi Nona," sapa Vita sambil menundukkan kepalanya.
"Pagi," jawab Kanzia lalu melanjutkan langkahnya menuju lift khusus diikuti oleh Vita di belakangnya.
Siska yang melihat kedatangan nona mudanya berdiri memberi hormat pada Kanzia.
"Selamat pagi Nona," sapa Siska pada Kanzia.
"Pagi," Kanzia menjawab sapaan sekretarisnya sambil tersenyum, lalu masuk ke ruangannya.
Kanzia mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya. "Siska apa jadwalku hari ini?" Tanya Kanzia pada sekretarisnya.
"Hari ini anda ada pertemuan dengan pihak Sanjaya grup sebelum jam makan siang nona," ucap Siska.
"Sanjaya grup," gumam Kanzia, ia baru ingat jika itu adalah perusahaan milik keluarga Noah, itu artinya ia akan bertemu dengan mantan kekasihnya itu.
"Baiklah kalau begitu, kamu boleh keluar dan melanjutkan pekerjaan mu," ucap Kanzia setelah di beritahukan jadwalnya hari ini.
"Baik nona," ucap Siska lalu keluar dari ruangan Kanzia.
Setelah kepergian Siska, Kanzia pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karna kemarin ia tidak datang ke kantor.
*****
Mobil yang membawa Kanzia kini telah tiba di depan restoran yang cukup mewah.
Seperti yang dikatakan Siska jika sebelum jam makan siang ia memiliki jadwal pertemuan dengan pihak Sanjaya grup.
Kanzia melangkah memasuki restoran mewah itu dengan tetap di dampingi oleh siska dan Vita yang berjalan di belakangnya.
"Siska apa pihak Sanjaya grup sudah tiba disini?" Tanya Kanzia.
__ADS_1
"Sepertinya sudah nona, karna tadi waktu saya menghubungi sekretarisnya mereka sudah di jalan," beritahu Siska.
"Hm," ucap Kanzia sambil menganggukkan kepalanya.
Siska pun menuntun Kanzia ke meja yang sudah disiapkan dan disana terlihat dua orang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Selamat siang tuan, maaf membuat kalian menunggu terlalu lama," ucap Kanzia begitu sampai di meja tempat pertemuan mereka.
Noah begitu terkejut ketika melihat orang yang akan ia temui adalah Kanzia, wanita yang sudah ia sia siakan kehadirannya.
"Zia!" Mata Noah dipenuhi oleh keterkejutan sambil menunjuk Kanzia, sementara Kanzia terlihat biasa saja, karna ia sudah tau siapa yang akan ia temui hari ini.
"Selamat siang tuan, nona, sapa Kanzia kembali pada Noah dan sekretarisnya.
"Zia kenapa kamu bisa ada disini?" Tanya Noah.
"Maaf tuan nona Kanzia adalah pemilik perusahaan Angkasa grup yang selama ini jarang di ketahui orang, jadi kita sangat beruntung bisa bertemu secara langsung dengan nona muda Wiguna," ucap sekretaris Noah menjelaskan tentang siapa Kanzia.
"Silahkan duduk nona," sekretaris Noah mempersilahkan mereka untuk duduk.
Kanzia dan Siska pun segera mengambil tempat untuk duduk, sementara Vita memilih tetap berdiri di tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat nona mudanya untuk mengawasi keadaan sekitar, ia tidak ingin kejadian dua hari lalu terulang kembali.
Noah yang masih dalam keterkejutannya tetap berdiri dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan, ternyata ia telah menyia-nyiakan sebuah berlian hanya untuk mendapatkan bongkahan batu kali.
"Maaf tuan apa anda akan tetap berdiri seperti itu?" Tanya Kanzia pada Noah yang masih tetap berdiri.
"Eh, iya maaf," Noah pun tersadar dari keterkejutannya dan ia pun segera duduk.
Kanzia memeriksa berkas kontrak kerjasama yang diberikan Noah dengan teliti, sementara Noah terus memperhatikan Kanzia yang terlihat serius.
Setelah membaca dengan teliti isi kontrak kerjasama itu, Kanzia pun menyetujuinya, ia tetap bersikap profesional tanpa membawa perasaan pribadinya dalam urusan pekerjaan, jika ia mau ia bisa saja menolak kontrak kerjasama yang diberikan Noah.
Setelah semua urusannya selesai Kanzia pun berdiri hendak beranjak dari tempat itu, tapi suara Noah menghentikannya.
"Zia bisakah kita bicara sebentar saja, sekalian kita makan siang, ada yang ingin aku katakan padamu," ucap Noah.
"Bukankah kita sudah membahas semuanya tadi tuan, jadi sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, jika anda ingin menanyakan soal kerjasama kita anda bisa langsung menghubungi sekretaris saya," ucap Kanzia berusaha menolak ajakan Noah.
"Ini bukan tentang masalah pekerjaan, aku ingin membahas masalah pribadi, aku mohon sekali ini saja aku janji ini yang terakhir kalinya setelah itu aku tidak akan pernah mengganggumu lagi Zia," pinta Noah pada Kanzia.
Kanzia yang melihat kesungguhan dari ucapan Noah akhirnya menyetujuinya, lagi pula disana ada Vita yang terus mengawasinya jadi tidak ada yang perlu ia khawatirkan.
"Baiklah, tapi ingat dengan semua ucapan itu, setelah ini berhenti mengganguku lagi," ucap Kanzia lalu kembali duduk.
Sementara Siska dan sekretaris Noah menunggu di meja lain.
"Zia maafkan aku dan juga keluargaku, aku juga berterimakasih karna kamu telah menerima kontrak kerjasama perusahaan keluarga kami padahal kamu bisa saja menolaknya mengingat semua perlakuan ku dan juga keluargaku selama ini padamu." Ucap Noah penuh penyesalan.
"Sudahlah aku tidak ingin membahas masa lalu, hidupku sekarang sudah sangat bahagia, aku tidak perlu membuang waktuku hanya untuk mengingat masalalu dan untuk urusan kerjasama itu aku hanya bersikap sebagaimana mestinya, tapi kalau kamu kembali mencurangiku aku tidak akan segan segan untuk menghancurkan kalian semua," ucap Kanzia dengan suara dingin dan tegas.
Noah yang mendengar apa yang diucapkan Kanzia dibuat merinding, wanita di hadapannya ini benar benar telah berubah.
__ADS_1
"Sekali lagi terimakasih Zia," ucap Noah pada Kanzia.
"Hm," jawab Kanzia.
"Zia aku benar benar tidak menyangkan kalau ternyata kamu adalah cucu dari tuan besar Wiguna," ucap Noah berusaha mencairkan suasana.
"Aku juga baru mengetahuinya setelah kejadian kamu membawa ku ke hotel," ucap Kanzia.
"Maaf," ucap Noah mengingat perbuatannya yang hampir saja merusak Kanzia.
"Hm," lagi lagi Kanzia hanya menjawab dengan deheman.
"Zia apa ayahmu mengetahui tentang hal ini?"
"Entahlah, aku juga tidak peduli ia mengetahuinya atau tidak, semua itu tidak akan merubah semuanya." Jawab Kanzia tetap dengan ekspresi dinginnya.
"Jika sudah tidak ada hal penting yang akan dibicarakan, kalau begitu aku akan pergi," ucap Kanzia.
Baru saja kanzia akan beranjak dari tempat itu, tiba tiba saja Maya dan Clara sudah datang menghampiri meja yang mereka tempati.
Clara menatap Kanzia dengan tatapan penuh amarah, sementara Kanzia tetap terlihat santai melihat kedatangan dua wanita licik itu.
"Oh, jadi setelah merayu tuan Jonathan kamu juga masih berani merayu suami kakak mu, dasar murahan," ucap Maya tersenyum sinis kearah Kanzia.
"Maaf sepertinya anda salah orang nona, yang pantas disebut murahan adalah wanita cantik di samping anda itu," ucap Kanzia sambil melirik kearah Clara.
"Wanita kurang ajar!"
Maya yang sudah emosi sejak melihat Kanzia bersama menantunya itu langsung saja maju kearah Kanzia sambil mengangkat tangannya.
"Hentikan ma!" Noah menahan tangan mertuanya yang hendak menampar Kanzia.
Clara semakin menatap penuh kebencian pada Kanzia, yang melihat Noah melindungi Kanzia dari tamparan mamanya.
Sementara Maya yang tidak terima melihat putrinya yang tersakiti kembali menyerang Kanzia, tapi ia kembali membulatkan matanya melihat sosok gagah dan tegap yang tiba tiba saja datang memeluk Kanzia dan menahan tangannya yang kembali ingin menampar Kanzia.
"Jangan coba coba menyentuh istriku!"
.
.
.
Bersambung. . . . . .
Jangan lupa like👍🏻
Komen
Favorit
__ADS_1
Vote😉