
"Kanzia!"
Jleb ...
Kanzia menutup matanya saat Clara mengarahkan benda tajam itu tepat pada ulu hatinya, ia pasrah karna rasa sakit di perutnya membuatnya tidak bisa menghindar dari serangan Clara. Tapi entah dari mana datangnya Noah yang tiba tiba menghalangi benda itu mengenai dirinya.
"Noah!" Clara sangat terkejut saat menyadari orang yang ia tusuk bukanlah Kanzia.
Setengah jam yang lalu sebelum kejadian.
Noah yang baru saja selesai meeting di luar, tanpa sengaja melihat Clara dengan seorang pria berpakaian serba hitam terlihat sedang membicarakan sesuatu di restoran tempatnya makan siang, ia yang penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan mantan istrinya akhirnya memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka. Noah sangat terkejut saat mendengar jika Clara sedang merencanakan sesuatu untuk menghabisi nyawa Kanzia.
"Aku tidak boleh membiarkan Clara kembali menyakiti Kanzia, sudah cukup orang sebaik dia terus disakiti oleh orang orang seperti Clara," gumam Noah sambil memperhatikan Clara dari jauh.
"Kali ini aku akan melakukan apa pun untuk melindungi mu Zia, agar aku bisa menebus kesalahan yang pernah aku lakukan di masa lalu," batin Noah, dan ia pun mengikuti ke mana arah Clara pergi.
Walaupun Kanzia telah memaafkan dirinya, tapi entah kenapa rasa bersalah itu masih saja menghantui Noah.
Ia terus mengikuti ke mana Clara pergi dan tetap memantau gerak gerik Clara, sampai akhirnya Clara berhasil mengalihkan perhatian anak buah Abian dan memancing Kanzia untuk menjauh dari orang orang yang melindunginya.
Saat Clara mulai mengarahkan senjatanya pada Kanzia yang terlihat tidak berdaya sambil memegangi perutnya. Noah pun segera menghampirinya untuk mencegah perbuatan jahat Clara.
"Kanzia!" teriak Noah yang tanpa pikir panjang memeluk tubuh Kanzia, melindunginya dari serangan Clara. Sehingga benda tajam itu sedikitpun tidak menyentuh Kanzia.
"No–ah," ucap Clara terputus saat menyadari orang yang ditusuknya.
"Noah," ucap Kanzia dengan suara lemah, karna ia masih menahan sakit pada perutnya.
"Zia, maafkan aku," ucap Noah masih memeluk Kanzia.
"Noah kamu berdarah," ucap Kanzia yang melihat tubuh Noah mulai berdarah akibat tusukan itu.
"Aku tidak apa apa, Zia tolong maafkan semua kesalahanku di masa lalu, a–ku benar benar menyesal, aku melakukan hal ini untuk mene–bus dosa dosa ku di masa lalu," ucap Noah dengan suara terbata bata, bibirnya mulai terlihat pucat akibat darah yang terus keluar dari lukanya, belum lagi reaksi dari racun pada benda itu semakin membuat kondisi Noah tidak bisa dikatakan baik baik saja.
"Aku sudah memaafkan mu Noah, kamu tidak perlu melakukan hal ini," ucap Kanzia. Ia merasa bersalah melihat kondisi Noah yang semakin melemah karna melindunginya.
"Terimakasih Zia ..." ucap Noah dan ia pun sudah mulai kehilangan kesadarannya dan pingsan dipangkuan Kanzia.
"Tolong ... ada yang terluka di sini," Kanzia berusaha meminta tolong walaupun ia tau jika tidak akan ada yang mendengarnya.
"Clara cepat lakukan sesuatu, jangan diam saja! Bawa Noah dari tempat ini!" bentak Kanzia yang melihat Clara hanya diam mematung dengan tatapan kosong.
__ADS_1
"Noah bangun!" Kanzia berusaha menyadarkan Noah.
"Siapa pun tolong kami," lirih Kanzia. Ia juga semakin merasakan tubuhnya tidak bertenaga akibat rasa sakit di perutnya.
"Clara cepat bawa Noah ke rumah sakit," Kanzia berusaha meminta bantuan pada Clara yang masih tetap diam.
"Ini bukan yang aku inginkan? Aku ingin melenyapkan Kanzia, bukan Noah," gumam Clara, sambil menatap ke arah Noah yang sudah berlumuran darah.Ternyata orang yang ia tusuk adalah Noah mantan suami yang masih ia cintai.
"Sayang ...!" Abian yang baru saja tiba langsung menghampiri Kanzia.
"Bian ..." panggil Kanzia lirih.
"Cepat tangkap wanita itu!" teriak Abian pada anak buahnya dengan penuh emosi. Ia benar benar merasakan jantungnya akan copot saat menyaksikan keadaan istrinya. Apalagi saat melihat darah segar memenuhi bajunya.
Beberapa anak buah Abian yang baru saja tiba bersamanya langsung saja membekap Clara yang tangannya gemetar, bahkan benda yang ia gunakan untuk menusuk Kanzia sudah jatuh ke tanah.
"Sayang," Abian memeriksa tubuh Kanzia, sampai sampai ia tidak menyadari Noah yang berada di pangkuan istrinya saking paniknya.
"Bian tolong Noah, ia terluka karna melindungi ku ucap Kanzia dengan suara lemah dan ia pun tidak sadarkan diri.
"Sayang!" Abian semakin panik saat melihat darah mengalir dari kaki istrinya.
"Tuan," ucap Kevin yang baru saja tiba di tempat itu setelah membereskan para anggota motor bersama yang lainnya.
"Cepat! Bukakan pintu mobil!" ucap Abian panik.
Kevin pun segera membukakan pintu mobil dan melajukan mobil Abian dengan kecepatan tinggi. Ia juga merasa bersalah karna gagal melindungi Nona mudanya, ia tidak menyangka kalau segerombolan Genk motor itu hanyalah pengecoh agar Clara bisa dengan leluasa menyakiti Nona mudanya.
"Sayang maafkan aku karna datang terlambat, aku mohon kamu harus baik baik saja," ucap Abian memeluk tubuh Kanzia dengan erat.
"Lebih cepat lagi Kevin, aku tidak ingin istri dan anakku sampai kenapa kenapa." Abian sangat khawatir melihat wajah Kanzia yang semakin memucat.
Kevin pun menuruti perintah tuannya dan menyetir lebih cepat.
Beberapa menit kemudian mobil yang membawa mereka telah sampai di rumah sakit terdekat milik Pramudya grup, kemudian di susul oleh mobil yang membawa Noah.
Petugas medis yang telah dihubungi sebelumnya oleh Kevin, sudah menunggu di depan rumah sakit dan segera membawa Kanzia dan Noah ke ruang UGD. Beberapa dokter langsung menangani Noah dan Kanzia.
"Kevin biar aku yang mengurus istriku, sebaiknya kamu lihat keadaan Noah, walaupun aku tidak menyukainya, tapi aku berhutang nyawa padanya karna ia telah menyelamatkan istriku," ucap Abian pada Kevin.
"Baik Tuan," ucap Kevin dan ia pun beranjak meninggalkan Abian.
__ADS_1
"Tuhan tolong selamatkan anak dan istriku," ucap Abian berusaha tetap tenang.
Beberapa menit kemudian dokter yang menangani Kanzia ke luar. "Bagaimana keadaan istriku? Apa dia baik baik saja? Bagaimana dengan kandungannya?" tanya Abian yang sudah dipenuhi oleh kekhawatiran tentang keadaan Kanzia.
"Syukurlah itu hanya pendarahan ringan Tuan, jadi Nona muda baik baik saja ia hanya perlu istirahat total selama beberapa hari," jelas dokter pada Abian.
"Syukurlah," ucap Abian, akhirnya ia bisa bernapas lega setelah mendengar penjelasan dokter tentang keadaan istri dan calon bayinya.
Ia sangat bersyukur apa yang ia takutkan tidak terjadi. Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan anaknya.
Sementara itu di tempat lain, para petugas medis sedang melakukan pertolongan pada Noah. Keadaannya saat ini semakin kritis.
"Siapa keluarga pasien?" tanya dokter.
"Saya," ucap Kevin yang ada di sana, karna keluarga Noah masih belum sampai.
"Pasien sudah kehilangan banyak darah, saya khawatir dia tidak dapat di selamatkan, apalagi benda yang digunakan untuk menusuknya sepertinya mengandung racun yang sangat mematikan."
"Selamatkan dia bagaimana pun caranya," ucap Abian yang baru saja tiba dan mendengar penjelasan dokter tentang kondisi Noah.
Melihat siapa orang yang memberikan perintah membuat dokter tersebut menjadi ciut. "Ka–mi akan berusaha untuk membantu sebisa kami tuan," ucapnya sambil menundukkan kepalanya.
"Aku percayakan keselamatannya padamu, buktikan kalau kamu benar benar dokter terbaik di rumah sakit ini," ucap Abian sambil menepuk bahu dokter yang menangani Noah.
"Baik Tuan."
.
.
.
Bersambung . . . . . .
Jangan lupa like👍
Komen
Favorit
Vote😉
__ADS_1