
Di sana sudah ada kedua orang tua Noah, wanita paruh baya itu sangat marah saat mengetahui Clara adalah pelaku penusukan itu.
Setelah menunggu selama tiga jam akhirnya lampu tanda di ruang operasi terlihat sudah mati dan tidak lama setelah itu dokter yang menangani Noah juga keluar dari ruang operasi.
"Bagiamana keadaan putra saya dokter?" tanya Mama Noah terlihat cemas menanyakan kondisi putranya.
"Syukurlah, operasinya berhasil dan untungnya Tuan Jonathan dengan cepat menemukan penawar racunnya, jadi putra nyonya bisa di selamatkan," jelas dokter yang juga terlihat lega.
Sebelumnya Abian telah memerintahkan Kevin beserta orang orangnya untuk mencari tau dari mana Clara mendapatkan racun itu, Abian yakin kalau orang yang membuat racun tersebut pasti memiliki penawarnya. Karna ia yakin walaupun Noah berhasil dioperasi belum tentu dia bisa selamat dari racun mematikan itu.
*****
Sementara itu sebuah kamar yang terlihat sangat luas di ruang VIP tempat Kanzia di rawat, terlihat Abian sedang menghubungi anak buahnya.
"Maaf Tuan menggangu waktu anda, saya hanya ingin menyampaikan kalau orang orang yang membantu wanita bernama Clara untuk menyerang Nona muda telah diasingkan ke tempat biasa sesuai dengan perintah Tuan," lapor anak buah Abian lewat telpon.
"Kerja bagus," ucap Abian pada anak buahnya.
"Terimakasih Tuan."
"Hem," ucap Abian lalu ia pun langsung mematikan sambungan telponnya.
Tidak lama setelah itu masuklah Kevin ke ruangan itu.
"Bagaimana keadaan laki laki itu?" tanya Abian menanyakan keadaan Noah pada Kevin.
"Operasi Tuan Noah berhasil dan ia telah melewati masa kritisnya, tapi untuk saat ini masih belum sadar akibat pengaruh obat bius." jelas Kevin.
"Baguslah, dengan begitu istriku tidak perlu merasa bersalah," ucap Abian.
"Besok pagi bawakan semua pekerjaanku ke sini, karna besok aku tidak akan ke kantor," perintah Abian pada asisten Kevin.
"Baik Tuan," ucap Kevin lalu ia pun keluar dari ruangan tersebut setelah diperintahkan oleh Abian.
Setelah kepergian sang asisten, Abian mendekat kearah ranjang Kanzia. Ia terus memperhatikan wajah istrinya yang sudah tidak terlihat pucat sambil mengelus pipinya. "Kenapa suka sekali membuatku takut sayang? Aku benar benar seperti akan mati saat mengetahui Clara ingin melukaimu," ucap Abian. Tatapannya tidak lepas dari wajah cantik yang terlihat sangat nyaman dalam tidurnya.
Cup!
"Tidurlah yang nyenyak istriku." ucap Abian setelah memberikan ciumannya pada kening Kanzia lalu ia pun naik ke atas ranjang dan ikut berbaring di samping sang istri sambil memeluknya.
__ADS_1
Pagi harinya.
Abian dengan telaten menyuapi Kanzia. "Bian kamu gak akan ke kantor?" tanya Kanzia pada Abian karna tidak ada tanda tanda kalau suaminya itu akan berangkat ke kantor.
"Aku tidak akan ke perusahaan hari ini karna aku ingin menemanimu, aku juga sudah menyuruh Kevin untuk membawa pekerjaanku ke sini," ucap Abian sambil tetap fokus menyuapi Kanzia.
"Oh ..." ucap Kanzia tidak ingin membantah ucapan Abian.
Setelah selesai menyuapi Kanzia, Abian juga membantunya untuk mandi. Kanzia sebelumnya sudah berusaha untuk menolak keinginan Abian untuk memandikannya, tapi Abian malah membopongnya ke kamar mandi tanpa mengatakan apa pun dan Kanzia pun hanya bisa pasrah membiarkan Abian melakukan apa yang dia inginkan.
Setelah rapi dengan pakaiannya Kanzia teringat dengan Noah yang menyelamatkannya kemarin. "Bian bagiamana keadaan Noah? Apa dia baik biak saja? Apakah lukanya parah?" tanya Kanzia khawatir.
"Sepertinya kamu begitu khawatir dengan mantan kekasihmu itu," ucap Abian. Entah kenapa ia masih saja kesal dengan Noah padahal dia telah mengorbankan dirinya demi keselamatan Kanzia.
"Bukannya begitu sayang ... aku hanya merasa bersalah padanya, gara gara aku dia sampai terluka," ucap Kanzia.
"Kamu tenang saja dia telah melewati masa kritisnya dan kondisinya saat ini semakin membaik," ucap Abian.
"Benarkah?" tanya Kanzia. Ia menatap Abian penuh selidik apakah Abian berbohong atau tidak.
"Iya," jawab Abian sambil menganggukkan kepalanya yakin.
"Tidak bisa," ucap Abian datar.
"Bian izinkan aku ya ..." ucap Kanzia dengan menunjukkan ekspresi memelas.
"Baiklah," ucap Abian sambil menghela napas. Ia tidak bisa berbuat apa apa selain mengizinkan Kanzia bertemu mantan kekasihnya. "Tapi kamu harus datang bersamaku," ucap Abian kembali.
"Iya," ucap Kanzia tidak keberatan, karna ia hanya ingin mengucapkan terimakasih secara langsung dengan Noah.
Akhirnya Abian pun menemani Kanzia untuk menemui Noah, dan di sinilah mereka berada sekarang di ruang rawat Noah.
Abian berdiri di samping Kanzia dengan tetap memasang ekspresi datarnya. "Noah terimakasih sudah menolongku dan aku minta maaf karna gara gara aku kamu hampir saja kehilangan nyawamu," ucap Kanzia merasa bersalah.
"Kamu tidak perlu berterimakasih, aku melakukannya dengan sangat ikhlas Kanzia, karna dengan begitu aku bisa mengurangi sedikit rasa bersalahku padamu, jadi jangan terus terusan merasa bersalah, lagipula sekarang aku sudah baik baik saja dan itu semua berkat bantuan suami kamu," ucap Noah sambil tersenyum ke arah Abian. "Terimakasih Tuan atas semua bantuannya," Noah mengucapkan terimakasih pada Abian, karna berkat dia ia selamat dari maut.
"Saya hanya melakukan apa yang seharusnya, karna Anda telah menyelamatkan istri saya," ucap Abian tetap datar. Hal itu semakin membuat suasana di kamar itu semakin canggung.
Nyonya Rosa ibu kandung Noah hanya diam saja menyaksikan pembicaraan itu, ia ingin sekali mengucapkan kata maaf pada Kanzia tapi ia tidak punya keberanian untuk sekedar menyapa wanita yang pernah ia hina itu, apalagi melihat tatapan Abian yang terus mengawasi gerak geriknya.
__ADS_1
Setelah apa yang ingin di sampaikan Kanzia pada Noah sudah selesai, Abian pun mengajak Kanzia untuk segera ke luar dari kamar Noah.
"Zia tunggu!" akhirnya nyonya Rosa memberanikan diri untuk memanggil Kanzia.
"Ada apa nyonya?" tanya Kanzia menghentikan langkahnya sambil menatap nyonya Rosa l waspada, sementara Abian hanya mengawasi saja.
"Maaf," ucapnya.
Kanzia mengerutkan keningnya mendengar ucapan nyonya Rosa yang tiba tiba.
Melihat Kanzia yang masih diam saja tidak menanggapi ucapannya kembali bersuara. "Maaf jika dulu aku selalu menyakiti perasaanmu, aku benar benar tulus meminta maaf padamu Kanzia walaupun aku tidak pantas untuk mendapatkan maaf darimu," ucap Rosa menundukkan kepalanya, ia tidak sanggup menatap wajah Kanzia.
"Aku sudah memaafkan anda Nyonya, asalkan anda benar benar tulus dan jangan pernah ulangi lagi kepada siapa pun," ucap Kanzia dengan wajah tenang.
"Terimakasih Kanzia, aku benar benar bodoh pernah menyakiti wanita sebaik dirimu, sekali lagi maaf," ucapnya kembali, ia tidak menyangka ia akan mendapatkan maaf semudah itu dari wanita yang pernah ia hina.
"Ayo sayang kamu juga harus istirahat," ucap Abian mengingatkan Kanzia agar segera keluar dari tempat itu.
Kanzia pun menganggukkan kepalanya lalu melangkah keluar sambil menggandeng tangan Abian.
*
*
Sementara itu di tempat lain, terlihat seorang wanita terus berteriak seperti orang yang kehilangan kewarasannya dan wanita itu adalah Clara. Ia terus berteriak memanggil nama Kanzia, kadang kadang ia juga tertawa dan kembali menangis sambil memanggil mamanya. Hal itu membuat petugas kepolisian terpaksa harus membawa Clara ke rumah sakit jiwa, karna sepertinya wanita itu mengalami gangguan pada kejiwaannya akibat emosi mentalnya yang tidak stabil.
"Kanzia! Dasar wanita sialan aku pasti akan membunuhmu dengan tangan ku sendiri!" teriak Clara.
"Mama, mama tenang saja aku pasti akan segera mengirim Kanzia untuk menemanimu di sana, tapi aku malah menusuk Noah," ucapnya dengan wajah sedih.
"Hahaha!!! Aku pasti bisa membunuh Kanzia, aku juga akan merebut semua yang ia miliki seperti yang selalu di katakan Mama, aku pasti akan melakukannya, HAHAHAHA!" Clara terus tertawa, dan hal itu terus berlanjut sampai ia kelelahan dan tertidur.
.
.
.
Bersambung . . . . . .
__ADS_1