
Esok harinya
Seperti biasa Kanzia terlihat sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk suaminya dibantu oleh pelayan, walaupun ia sudah mulai sibuk di kantor tapi ia tetap ingin melayani kebutuhan suaminya sebelum berangkat kerja.
"Bik tolong lanjutkan goreng ayamnya ya, lalu pindahkan semuanya ke meja makan, aku mau siap siap dulu," ucap Kanzia pada salah satu pelayan yang sedang membantunya di dapur.
"Baik nona," pelayan itupun mulai melakukan apa yang diperintahkan nona mudanya.
Kanzia pun naik ke lantai dua sambil membawa teh hijau racikannya sendiri untuk suaminya.
Sementara itu di balkon kamarnya Abian nampak sibuk melakukan pembicaraan melalui sambungan telpon, asisten Kevin memberitahunya jika tuan Rudi menghubunginya dan ingin menemui Abian siang ini.
"Baiklah, kalau begitu katakan saja padanya untuk datang ke perusahaan nanti siang," Abian menyetujui keinginan tuan Rudi yang ingin bertemu dengannya, karna kebetulan ia juga ingin menanyakan sesuatu soal istrinya pada mertuanya itu.
Ceklek!
Kanzia masuk ke kamarnya, ia mendapati Abian yang berada di balkon terlihat sedang menelpon seseorang, Abian melirik kearah kedatangan Kanzia dengan membawa segala teh ditangannya langsung mematikan sambungan telponnya. Abian menghampiri Kanzia sambil memberikan dasinya pada Kanzia untuk dipasangkan.
"Ini di minum dulu mumpung tehnya masih hangat," ucap Kanzia sambil menyodorkan secangkir teh buatannya kepada Abian, lalu mengambil dasi dari tangan Abian.
Abian pun langsung mengambil teh tersebut dari tangan Kanzia lalu meminumnya.
"Bagaimana? Apa rasanya cocok dengan seleramu?" Kanzia menanyakan pada Abian bagaimana rasa teh racikannya itu.
"Mmm,,, rasanya beda dari biasanya yang ini lebih enak, aku suka rasa tehnya sangat cocok dengan lidahku," jawab Abian sambil kembali meminumnya.
"Syukurlah kalau kamu menyukainya, soalnya itu teh hasil racikan ku," ucap Kanzia lega karna suaminya itu menyukai teh racikannya.
"Wah, benarkah?" tanya Abian sambil menatap Kanzia.
"Iya," ucap Kanzia.
"Kalau begitu mulai sekarang buatkan aku teh yang seperti ini," ucap Abian sambil menegak sisa teh di gelasnya.
__ADS_1
"Menunduk!" Kanzia menarik bahu Abian agar ia bisa dengan mudah memasang dasi untuk Abian.
"Nah, sekarang suamiku sudah rapi, sekarang giliran ku untuk bersiap siap," ucap Kanzia sambil menepuk dengan lembut dada Abian untuk merapikan penampilan suaminya itu.
Kanzia keluar dari ruang ganti dengan menggunakan setelan kerja dengan warna coklat susu yang membuat penampilannya semakin terlihat sempurna dengan pakaian formal yang ia gunakan.
"Bisakah kamu berdandan biasa saja kalau berangkat ke kantor?" tanya Abian yang melihat penampilan Kanzia.
"Ini memang biasa saja aku tidak menggunakan make-up yang berlebihan," jawab Kanzia merasa heran dengan pertanyaan Abian padahal ia menggunakan make-up yang Biasa ia gunakan selama ini.
"Kenapa kamu bisa secantik ini, aku jadi ingin mengurung mu saja dirumah supaya hanya aku yang bisa menikmati kecantikan mu itu," keluh Abian, ia tidak rela jika para lelaki diluar sana ikut menikmati kecantikan istrinya, seandainya bisa ia ingin sekali mengurung Kanzia agar tidak dilirik siapapun, tapi ia tidak boleh egois jangan sampai Kanzia merasa terkekang dengan sikap posesifnya.
"Gak usah lebay, udah ayok mending kita segera turun untuk sarapan jangan sampai kita telat ke kantor," ucap Kanzia.
Mereka pun segera beranjak untuk sarapan lalu setelah itu mereka berangkat ke kantor dengan mobil masing masing, Abian di jemput asisten Kevin sedangkan Kanzia dijemput oleh Vika.
*
*
"Bagaimana apa yang kamu dapatkan soal kedua gadis itu?" tanya nyonya Sinta tidak sabaran.
"Maaf tuan nyonya kami sudah mengambil sampel DNA dari perempuan bernama Clara putri pertama tuan Rudi dan hasilnya dia memang putri kandung dari laki laki itu tapi dia bukanlah putri kandung dari nona Renata, ini tuan bisa melihatnya sendiri," Jawab orang suruhannya itu sambil menyodorkan kertas hasil tes DNA Clara.
"Lalu bagaimana dengan perempuan yang satunya lagi?" tanya tuan Bara.
"Maaf tuan untuk perempuan yang bernama Kanzia itu entah kenapa kami sangat sulit untuk mendekatinya, seperti ada seseorang yang melindunginya jadi setiap kami mulai beraksi pasti akan ada seseorang yang datang untuk menghentikan rencana kami," jelas laki laki bertubuh besar itu pada tuannya.
"Apa ada yang mencurigakan atau sesuatu yang spesial dari gadis itu?" tanya nyonya Sinta ikut menimpali.
"Tidak ada, ia terlihat seperti wanita pada umumnya tidak ada yang terlihat spesial darinya, kami sudah menyelidiki tentang wanita itu, dia hanyalah putri yang tidak dianggap oleh keluarganya dan dia hanyalah karyawan biasa di perusahaan Pramudya grup, dan satu lagi tuan ternyata perempuan bernama Kanzia itu sudah menikah dua tahun yang lalu dengan sosok misterius," ucapnya kembali menjelaskan tentang Kanzia pada tuannya.
Tuan Bara tetap fokus mendengarkan laporan anak buahnya sambil memasang dagunya terlihat seperti sedang berpikir.
__ADS_1
"Aku semakin merasa ada sesuatu yang disembunyikan tentang gadis itu setelah mendengar semua penjelasan mu," ucap tuan Bara.
"Tetap awasi wanita bernama Kanzia itu! sekarang aku malah semakin yakin jika dia adalah putri kandung dari Renata, dan ingat kali ini lakukan dengan hati hati," perintah tuan Bara pada orang suruhannya.
"Baik tuan," jawab pria bertubuh besar itu, lalu keluar dari ruangan tuan Bara setelah menyampaikan semua informasi yang ia temukan.
"Pa apa kamu yakin jika gadis itu adalah putri kandung Renata? Bagaimana jika Renata memang benar benar tidak memiliki seorang anak bukankah semua yang papa lakukan hanya akan sia sia?" ucap nyonya Sinta yang masih belum yakin tentang keberadaan putri kandung dari sepupunya itu.
"Jika kamu tidak mempercayaiku sebaiknya diam saja, sedikit saja kita lengah maka posisi putri kita akan terancam, apa kamu pikir kita akan bisa tetap menikmati semua yang kita miliki saat ini jika dugaan ku tentang keturunan asli Wiguna benar benar ada?" tanya tuan Bara pada istrinya yang hanya dijawab dengan gelengan kepala.
"Ia pasti akan mengambil kembali apa yang telah kita rebut dari orang tua dan kakeknya," ucapnya kembali, karna semua aset yang dimilikinya saat ini, mulai dari perusahaan sampai rumah yang ia tinggali saat ini merupakan milik Renata yang ia rebut dengan cara licik.
"Maaf aku tidak memikirkannya sampai sejauh itu, aku pikir dengan kita memilikinya saja semuanya sudah cukup tanpa ada yang perlu kita khawatirkan lagi," ucap nyonya Sinta.
"Maka dari itu ikuti saja semua yang aku rencanakan, karna aku juga melakukan semua itu untuk keluarga kita," ucapnya pada istrinya.
"Sepertinya pak tua itu menyembunyikan cucunya dengan sangat baik,,," batin tuan Bara yang benar benar yakin tentang keberadaan dari pewaris tunggal Angkasa grup.
.
.
.
Bersambung . . . . . .
Jangan lupa di like👍🏻
Komen
Favorit
Vote
__ADS_1
...Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan...