
Pagi harinya disebuah kamar mewah, terlihat Kanzia yang masih berbaring di tempat tidur sambil menyembunyikan tubuhnya dalam rengkuhan tubuh tegap Abian.
Pagi ini Abian sengaja membiarkan Kanzia tetap melanjutkan tidurnya, karna melihat kondisi istrinya yang masih belum stabil, bahkan semalam ia dengan sekuat tenaga menahan diri agar tidak menyerang istrinya.
Kanzia tiba tiba saja bangun saat ia merasakan tidak nyaman karna gejolak di dalam perutnya. Ia langsung mendorong tubuh Abian dan berlari ke kamar mandi sampai melupakan kondisinya yang saat ini yang sedang hamil, Abian pun ikut terbangun saat merasakan pergerakan dari Kanzia.
"Zia hati hati!" teriak Abian panik melihat Kanzia yang tidak berhati hati, ia takut kalau Kanzia sampai terjatuh.
Kanzia tidak memperdulikan ucapan Abian dan langsung masuk ke kamar mandi di sana Kanzia langsung mengeluarkan isi perutnya. Ia benar benar merasa mual dan pusing, ia terus memuntahkan isi perutnya di wastafel. Rasa tidak nyaman yang terus bergejolak di perutnya membuatnya merasa cukup tersiksa.
Keringat dingin telah membasahi dahinya, ia juga merasakan tubuhnya lemas tidak bertenaga dan wajahnya pun terlihat memucat.
Abian yang mendengar suara Kanzia yang sedang muntah langsung melompat dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.
"Sayang ..." ucap Abian khawatir.
Ia membantu Kanzia mengikat rambutnya yang tergerai dan memijat halus tengkuk istrinya. Setelah merasa sedikit baikan Kanzia pun berkumur dan membasuh wajahnya secara perlahan.
"Apa sudah selesai?" tanya Abian pada Kanzia.
"Hm,,," jawab Kanzia terlihat tidak bertenaga.
Abian langsung saja mengangkat tubuh lemas Kanzia ke dalam gendongannya dan membawanya keluar dari kamar mandi.
"Apakah rasanya masih tidak nyaman?" tanya Abian sambil membaringkan tubuh Kanzia di ranjang dengan ekspresi yang terlihat sangat khawatir melihat wajah pucat Kanzia.
Kanzia tidak menjawab pertanyaan Abian, ia hanya menganggukkan kepalanya dan menelusupkan wajahnya pada dada Abian untuk mencari kenyamanan dengan menghirup aroma tubuh Abian yang mampu mengurangi rasa tidak nyaman di perutnya.
"Maaf ..." ucap Abian.
Kanzia yang mendengar suaminya tiba tiba meminta maaf mendongakkan kepalanya menatap Abian, begitupun dengan Abian yang menatap lekat wajah cantik Kanzia yang terlihat sedikit pucat itu.
"Kenapa kamu tiba tiba minta maaf?" tanya Kanzia.
"Karna mengandung anakku kamu jadi tersiksa seperti ini, apa rasanya sakit? Kamu tadi terlihat sangat menderita," ucap Abian merasa bersalah.
"Kenapa kamu berkata seperti itu, kejadian seperti ini adalah hal yang wajar untuk dialami oleh setiap wanita hamil, jadi kamu tidak perlu minta maaf atau merasa bersalah, karna ini adalah salah satu nikmat dari sebuah kehamilan," ucap Kanzia sambil tersenyum untuk meyakinkan Abian kalau ia baik baik saja.
"Tapi aku tidak tega melihatmu tersiksa seperti tadi sayang ..." ucap Abian masih saja khawatir.
"Kamu tidak usah terlalu khawatir, aku baik baik saja, ini hanya untuk sementara sayang, gejala seperti ini memang sering terjadi diawal kehamilan, jadi percaya padaku semua akan baik baik saja ..." ucap Kanzia meyakinkan Abian, sambil menatap lembut wajah tampan itu yang masih saja terlihat cemas dan tidak tenang dengan kondisinya.
Abian yang di tatap seperti itu oleh Kanzia mengangkat dagu Kanzia dan mencium bibir manis sang istri yang sudah menjadi candunya dengan lembut menyalurkan perasaan cintanya yang semakin besar pada wanita yang ada di hadapannya ini.
"Terimakasih sayang," ucap Abian begitu melepaskan tautannya, lalu mencium pelipis Kanzia.
Kanzia tersenyum mendengar ucapan Abian. "Aku juga ingin mengucapkan terimakasih padamu, karna kamu telah merubahku menjadi seperti sekarang ini," ucap Kanzia lalu kembali memeluk Abian.
__ADS_1
"Apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Abian sambil mengelus puncak kepala Kanzia, yang sedang mengendus dada polos Abian, karna Kanzia membukanya.
"Iya, wangi tubuhmu membuatku merasa nyaman aku suka, jangan mandi dulu ya ... kamu tidak keberatan kan?" ucap Kanzia.
Abian yang mendengar ucapan Kanzia hanya bisa terkekeh. "Tubuhku ini milikmu sayang ... lakukan apapun yang kamu inginkan," ucap Abian membiarkan Kanzia terus menciumi dadanya, walaupun ia merasakan tubuhnya yang mulai memanas karna sentuhan Kanzia, tapi ia berusaha untuk menahan gejolak hasratnya.
Tidak lama setelah itu terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamarnya, dan ia pun melepas pelukannya pada Kanzia. "Tunggu sebentar, sepertinya pelayan sudah mengantar sarapan mu," ucap Abian lembut lalu beranjak untuk membuka pintu setelah ia menggunakan bajunya, dan benar saja seorang pelayan sudah menunggu di depan pintu kamarnya dengan membawa menu sarapan untuk Kanzia.
"Ini tuan sarapan untuk Nona muda," ucap pelayan tersebut.
Abian menelisik makanan tersebut apakah sesuai dengan apa yang ia minta. "Baiklah, sekarang kamu boleh pergi," ucap Abian dingin sambil mengambil nampan dari tangan pelayan.
Abian menaruh nampan tersebut di atas meja. "Sayang bangun dulu kamu harus sarapan, aku akan menyuapi mu," ucap Abian.
"Tapi aku tidak berselera Bian ..." tolak Kanzia saat melihat makanan tersebut.
"Ayolah sayang, baby-nya juga butuh sarapan kalau kamu tidak sanggup untuk memakannya kamu bisa menghentikannya," ucap Abian dan ia pun mulai menyuapi Kanzia.
Kanzia dengan ragu ragu menerima suapan dari Abian, tapi anehnya ia sama sekali tidak merasakan mual saat makanan tersebut sudah masuk ke mulutnya.
"Apakah masih merasa mual?" tanya Abian setelah Kanzia menelan makanannya.
"Tidak lagi," jawab Kanzia ia malah terlihat sangat lahap menerima suapan dari Abian.
"Sepertinya wangi tubuh dan suapan ku sangat membantu untuk menghilangkan rasa mual mu itu ya ..." ucap Abian menggoda Kanzia sambil terus menyuapinya.
Akhirnya Kanzia menghabiskan sarapannya tanpa merasakan mual, Abian yang melihat hal itu tersenyum puas karna dengan suapan darinya berhasil membuat Kanzia menghabiskan makanannya.
*
*
Kanzia yang melihat Abian sedang bersiap siap membantu memasangkan dasi untuk Abian.
"Kamu yakin udah merasa baikan?" tanya Abian sambil menatap Kanzia yang dengan cekatan memasangkan dasi pada Abian.
"Iya aku udah gak apa apa Bian ..." ucap Kanzia yang memang sudah tidak lagi merasakan mual dan pusing, bahkan tubuhnya sekarang terasa lebih bugar dari sebelumnya.
"Aku tidak akan ke kantor jika kondisimu masih belum stabil sayang," ucap Abian kembali sambil mengelus rambut Kanzia.
"Aku beneran baik baik saja, bahkan sangat baik, jadi kamu bisa berangkat ke kantor lagian juga di sini ada banyak pelayan yang akan menjagaku kamu tidak perlu khawatir," ucap Kanzia meyakinkan Abian.
"Benarkah?" tanya Abian sambil membelit pinggang ramping Kanzia membuat tubuh Kanzia berjingkat sampai menyentuh wajahnya.
Kanzia hanya menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Arga.
"Jadi nanti malam aku sudah bisa bermain denganmu kan?" tanya Abian sambil menarik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Dasar mesum!" Kanzia mencubit pinggang Abian, karna tentu saja Kanzia paham maksud Abian yang pastinya bukan bermain pada umumnya, tapi bermain yang bisa membuatnya hamil seperti saat ini.
"Ayolah sayang ..." bujuk Abian.
"Sebaiknya kamu segera berangkat kamu sudah kesiangan," ucap Kanzia mengingatkan Abian.
"Sayang ..." ucap Abian dengan tatapan penuh permohonan.
"Kita lihat nanti, sudah sana berangkat bukankah kamu bilang ada banyak yang harus kamu kerjakan di kantor, apalagi nanti malam adalah acara penting di perusahaan," ucap Kanzia kembali mengingatkan.
Abian menarik napas sambil menatap wajah Kanzia.
"Sayang kamu benar benar telah membuatku gila, ingin rasanya aku membawamu kemana pun aku pergi agar aku bisa terus menatapmu sepanjang hari," ucap Abian sambil mengelus pipi Kanzia dengan gemas, ia benar benar telah jatuh ke dalam pesona istri gendutnya itu.
"Dasar gombal, udah cepat sana Kevin pasti sudah menunggumu dari tadi," ucap Kanzia gemas melihat sikap Abian.
"Baiklah, tapi ingat kamu harus tetap beristirahat jangan melakukan sesuatu yang dapat membahayakan mu."
"Iya ... ."
"Satu lagi kamu harus bersiap untuk acara nanti malam, nanti Kevin akan menjemputmu, aku akan menunggumu di sana."
"Apa aku juga harus datang?" tanya Kanzia.
"Tentu saja kau harus datang karna malam ini aku akan membuat dunia tau jika seorang Kanzia Ayudia Renata adalah istriku."
Kanzia bersemu merah mendengar ucapan Abian.
"Tapi Bian apakah aku pantas?" tanya Kanzia yang merasa sedikit ragu, ia takut jika orang orang akan membicarakan Abian yang memiliki istri sepertinya.
"Kenapa kamu berkata seperti itu sayang?" ucap Abian tidak suka mendengar ucapan Kanzia. "Kamu adalah wanita hebat dan sempurna di mataku Kanzia, kamu adalah pemilik jiwa dan ragaku jadi kamu adalah wanita yang paling pantas untuk menjadi istriku," ucap Abian menekankan ucapannya.
Kanzia yang mendengar ucapan Abian tersenyum bahagia dan memeluk tubuh Abian dengan erat. "Terimakasih Bian aku sangat beruntung memilikimu," ucap Kanzia.
"Akulah yang beruntung bisa memilikimu sayang ..." ucap Abian sambil membalas pelukan Kanzia tidak kalah eratnya.
.
.
.
Bersambung . . . . .
Jangan lupa Like
Komen
__ADS_1
Favorit
Vote