
Di sebuah kamar rumah sakit. Abian tidak henti hentinya mengulas senyum menatap wajah pucat Kanzia yang terbaring di atas ranjang, Abian berkali kali mencium kening dan tangan Kanzia, perkataan dokter yang tadi memeriksa istrinya terus terngiang membuatnya tidak bisa berhenti untuk mengulas senyum. Perasaannya saat ini seakan akan ingin meledak saat mendengar jika Kanzia positif hamil. Seandainya ia tidak sedang di rumah sakit ingin rasanya ia berteriak saking bahagianya mendengar kabar kehamilan Kanzia.
"Zia hamil, ia sedang mengandung buah cinta kami, aku akan menjadi seorang ayah," gumam Abian sambil terus menciumi tangan Kanzia.
"Kamu harus selalu sehat, jangan membuat mamamu kesusahan, hm," ucap Abian sambil mengelus perut Kanzia yang masih rata.
Sementara seseorang yang berdiri di samping Abian terlihat membeku saat mengetahui kabar mengejutkan yang baru saja ia dengar.
"Jadi kamu dan Kanzia sudah menikah beberapa bulan yang lalu?" tanya Diki masih dengan keterkejutannya, ternyata wanita yang ia kagumi adalah istri dari Abian sepupunya.
"Iya. Sepertinya kamu begitu penasaran sampai mengikuti ku dan istriku ke sini," ucap Abian pada Diki tapi tatapannya tidak lepas dari wajah Kanzia.
Jadi setelah Kanzia pingsan Diki mengikuti Abian yang membawa Kanzia ke rumah sakit untuk memastikan apa yang baru saja ia lihat.
Abian pun menceritakan semuanya pada Diki soal hubungannya dengan Kanzia, karna ia bukanlah orang bodoh yang tidak bisa melihat jika sepupunya itu tertarik dengan istrinya.
Abian yang sangat bahagia dengan kabar kehamilan istrinya, sementara Diki sedikit merasakan kecewa karna wanita yang ia incar ternyata adalah milik sepupunya, ia sudah seperti seorang pejuang yang kalah sebelum berperang.
Abian menatap Diki yang masih belum beranjak. "Apa kamu tidak ke kantor? Sampai kapan kamu akan menyaksikan kemesraan kami," ucap Abian dengan ketus.
"Cih, dasar kamu memang tidak pernah berubah, dari dulu suka sekali mengusirku," ucap Diki sambil berdiri dari duduknya.
"Aku tidak suka diganggu saat sedang bersama istriku," ucap Abian sengaja menekankan kata istri.
"Baiklah Tuan muda, aku akan segera pergi," ucap Diki lalu beranjak meninggalkan Abian dan Kanzia di ruangan itu.
Setelah kepergian Diki Abian mendengar suara lenguhan Kanzia. Ia segera mendekat ke ranjang, Kanzia mulai mengerjapkan matanya, ia masih belum mencerna apa yang baru saja terjadi padanya.
"Sayang ..." ucap Abian sambil mengelus pipi istrinya.
"Bian ... ini di mana?" tanya Kanzia yang merasa asing dengan tempat ini.
"Kita lagi di rumah sakit sayang, tadi kamu pingsan," jelas Abian.
"Aku pingsan ..." gumam Kanzia.
Sampai ia ingat dengan kejadian yang membuat ia pergi meninggalkan rumah Ayahnya. Kanzia kembali menumpahkan tangisnya mengingat tentang kematian bundanya dan penghianatan yang dilakukan Rudi.
"Sayang," ucap Abian. Ia membawa tubuh lemah itu ke dalam pelukannya, membiarkan Kanzia menumpahkan perasaan sedihnya sambil terus mengusap punggung Kanzia untuk membuatnya tenang.
Abian melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Kanzia dengan penuh kelembutan. "Jangan menangis lagi, mulai sekarang aku tidak mengizinkanmu untuk menangis kecuali itu adalah air mata kebahagian," ucap Abian sambil menghapus sisa air mata di pipi Kanzia.
"Berjanjilah untuk tidak membohongi ku lagi," ucap Kanzia. Ia juga merasa heran dengan perasaannya saat ini yang mudah sekali kebawa perasaan, padahal ia yakin jika Abian melakukan hal itu untuk kebaikan dirinya.
"Iya aku janji, mulai sekarang aku tidak akan menyembunyikan hal apa pun padamu, kita akan menjalani semuanya bersama sama dan terimakasih karna kamu sudah memberikan kebahagian yang tidak tertandingi ini sayang, sebentar lagi putri kecil kita akan hadir," ucap Abian lalu mencium tangan Kanzia lembut bergantian dengan perut ratanya.
__ADS_1
Kanzia masih belum dapat mencerna maksud dari ucapan Abian hanya bisa melongo kebingungan.
"Putri kecil ..." gumam Kanzia sambil menatap Abian.
"Iya, disini sudah ada putri kecil kita, kamu sedang mengandung anak kita, sebentar lagi kita akan menjadi orang tua sayang," ucap Abian sambil kembali mengusap perut Kanzia.
Kanzia tercengang mendengar ucapan Abian.
"Bian, aku hamil ..." ucap Kanzia kembali menangis, tapi kali ini Kanzia menangis karna bahagia.
"Sayang kamu gak sedang bercanda, kan? kamu serius?" tanya Kanzia memastikan.
"Aku tidak bercanda sayang, di dalam perutmu buah cinta kita sedang tumbuh," ucap Abian sambil tersenyum.
Kanzia langsung menghambur ke dalam pelukan Abian, untuk menyalurkan rasa bahagianya. "Bian aku akan menjadi seorang ibu dan kamu akan menjadi seorang ayah," ucap Kanzia di dalam pelukan Abian.
"Iya, sayang aku tidak sabar menantikan kehadiran putri kecil kita," ucap Abian.
"Bian kenapa dari tadi kamu terus menyebutnya dengan putri kecil?" ucap Kanzia melepaskan pelukannya dari Abian.
"Aku yakin kalau dia adalah seorang putri," ucap Abian kembali mengusap perut rata Kanzia.
"Perutku saja masih rata, bagaimana kamu bisa tau kalau dia adalah seorang putri? Bagiamana kalau dia laki laki?" tanya Kanzia.
"Dia pasti seorang putri yang cantik sepertimu," jawab Abian dengan yakin.
"Kenapa kamu berkata seperti itu sayang, tentu saja aku sangat senang, mau dia laki laki atau perempuan aku akan menyayanginya karna dia adalah anak kita," ucap Abian yang menyadari perubahan ekspresi Kanzia.
"Benarkah?"
"Iya istriku sayang ..." ucap Abian sambil mencium seluruh wajah Kanzia dengan gemas.
"Sepertinya aku harus lebih bersabar dalam menghadapi istri yang sedang hamil," batin Abian.
Setelah mendengar penjelasan dokter tentang hormon kehamilan, ia sekarang bisa mengerti kenapa akhir akhir ini Kanzia suka bersikap aneh dan sangat sensitif, ia harus berhati hati dalam berucap dan bertindak jangan sampai merusak mood sang istri.
*****
Saat Kanzia dan Abian sedang di selimuti rasa bahagia, Abian mendapatkan panggilan masuk dari ayah mertuanya dan ia pun keluar dari ruang rawat untuk menjawab telpon.
"Halo tuan, apa anda sudah menemukan keberadaan Kanzia?" terdengar nada khawatir dari suara mertuanya.
"Hm, iya Kanzia sekarang sudah bersamaku," jawab Abian, ia masih merasa canggung dengan Rudi.
"Apa dia baik baik saja? Lalu di mana dia sekarang?" Rudi kembali bertanya, ia juga tidak kalah canggung dengan menantunya, tapi karna khawatir dengan Kanzia yang tiba tiba saja pergi dari rumah membuatnya memberanikan diri menghubungi Abian secara langsung.
__ADS_1
"Iya Kanzia baik baik saja dan kami sedang berada di rumah sakit," jawab Abian apa adanya.
"Kenapa kalian bisa di rumah sakit, Zia benar baik baik saja, kan?" tanya Rudi khawatir.
"Iya, Ayah tenang saja Zia hanya kelelahan, karna faktor kehamilannya," ucap Abian kaku saat menyebut mertuanya dengan kata ayah.
"Zia hamil!" suara Ayah Kanzia membuat Abian terkejut.
"Iya," jawab Abian.
"Tuan bolehkah saya bertemu dengan Kanzia?" tanya Rudi dengan suara pelan.
"Soal itu aku harus menanyakannya terlebih dahulu pada Kanzia, anda pasti tau bagaimana perasaan Kanzia saat ini apalagi saat ini kondisinya sedang hamil," ucap Abian.
"Baiklah tuan, saya harap Kanzia mau bertemu dengan Ayahnya yang pengecut ini dan terimakasih sudah melindungi Kanzia selama ini," ucap Rudi dengan suara lirih, lalu mengakhiri sambungan telponnya.
"Siapa?" tanya Kanzia saat Abian kembali masuk.
"Ayah mertua ..." jawab Abian.
"Ayahku?"
"Iya, dia meneleponku untuk menanyakan keadaanmu," jawab Abian.
Ekspresi Kanzia kembali sedih mendengar ayahnya menelpon, Abian pun segera memeluk Kanzia sambil menepuk pelan bahu istrinya.
"Sudah jangan terlalu banyak berpikir tentang hal yang bisa membuat mu sedih, nanti baby nya ikutan sedih," ucap Abian.
"Bian aku suka wangi tubuhmu, jangan mandi dulu ya ..." ucap Kanzia yang semakin menelusupkan wajahnya dalam pelukan Abian.
Abian dibuat melongo mendengar ucapan Kanzia.
.
.
.
Bersambung . . . . . .
Jangan lupa Like👍🏻
Komen
Favorit
__ADS_1
Vote