Merubah Istri Gendut

Merubah Istri Gendut
BAB 92 : Jebakan


__ADS_3

Setengah jam kemudian mobil yang di kendarai pak Muh telah sampai di sebuah gedung kosong. Pak Muh membukakan pintu mobil tersebut dan mengangkat tubuh Kanzia yang sudah tidak bertenaga masuk ke dalam bangunan kosong tersebut. Pak Muh mendudukkan tubuh Kanzia di sebuah bangku dan mengikatnya di sana.


Tidak lama setelah itu masuklah Tuan Bara dan Nyonya Sinta ke dalam gedung tersebut dengan senyum penuh kemenangan.


"Wah, wah Kanzia akhirnya aku dapat menyaksikan ketidakberdayaan mu malam ini," ucap nyonya Sinta sambil tersenyum mengejek pada Kanzia.


"Kalian benar benar manusia manusia licik tidak berperasaan!" ucap Kanzia dengan penuh emosi.


"Ternyata kamu masih bisa meninggikan suaramu dengan tubuh lemah itu," ucap Tuan Bara sambil mendekat ke hadapan Kanzia dengan membawa sebuah map coklat.


"Sekarang lebih baik kamu tandatangani kertas ini," ucap Tuan Bara sambil menyodorkan kertas tersebut di hadapan Kanzia.


"Cih, jangan mimpi, sampai kapan pun aku tidak akan pernah melakukan hal itu," ucap Kanzia dengan senyum sinisnya.


"Dalam keadaan seperti ini kamu masih saja bersikap angkuh, apa kamu pikir suamimu yang hebat itu akan datang menolong mu? kamu salah besar jika berpikiran seperti itu, karna aku yakin suamimu saat ini sedang berada di perjalanan untuk menemui klien pentingnya."


"Jadi pertemuan itu adalah bagian dari rencana kalian untuk mengecoh suamiku, kalian benar benar sangat licik."


"Bahkan aku mampu membuat orang kepercayaan suamimu itu berkhianat padanya Kanzia, jadi cepat tandatangani saja surat pengalihan aset ini jangan terlalu banyak berharap kalau suamimu akan datang menolong mu," ucap Tuan Bara Kembali. Ia menyodorkan pulpen ke tangan Kanzia dan memaksanya untuk menandatangani berkas tersebut.


"Lepaskan, aku tidak akan pernah menyerahkan apa yang telah dipertahankan kakek ku selama ini pada orang orang serakah seperti kalian."


Kanzia berusaha melawan Tuan Bara tapi tenaganya tidak mampu untuk menandingi tenaga laki laki paruh baya itu. Seandainya saja bukan karna pengaruh minuman yang diberikan pak Muh ia pasti sudah menghajar kedua orang itu.


"Ayolah Kanzia jangan mempersulit kami," ucap nyonya Sinta.


Nyonya Sinta memaksa Kanzia untuk memegang pulpen dan menandatangani kertas tersebut, Kanzia tidak bisa melawan dan akhirnya mereka pun berhasil mendapatkan tandatangan Kanzia, tuan Bara dan nyonya Sinta tersenyum puas saat melihat tandatangan itu.


"Sekarang saatnya kita membuatmu berkumpul dengan ibu dan kakek mu," ucap Tuan Bara.


"Kamu cepat berikan apa yang tadi aku berikan padamu," perintah nyonya Sinta pada pak Muh.


"Baik Nyonya," ucap pak Muh patuh, dan ia pun mengeluarkan sebuah botol kecil dari saku celananya dan meminumkannya pada Kanzia yang terlihat pasrah menerima sesuatu dari botol kecil itu.


"Apa yang akan kalian lakukan padaku, bukankah kalian telah berhasil mendapatkan apa yang kalian inginkan," ucap Kanzia.


"Kamu juga harus mencicipi racun andalan kami, karna kakek mu berakhir dengan cara ini," ucap nyonya Sinta mengingat kembali saat ia memberikan racun itu pada makanan Tuan Raksa Wiguna, saat di rumah sakit waktu itu.


"Bagaimana apa rasanya enak? Aku sangat penasaran bagaimana reaksi suami sombong mu itu ketika menemukan istri tercintanya sudah tidak bernyawa," ucap tuan Bara yang tidak sabar ingin melihat reaksi Abian.


"Jadi benar kakekku tidak meninggal karna gagal jantung? Tapi semua itu karna perbuatan kalian?"


"Iya, dan tidak ada satu pun orang yang tau tentang hal itu, begitu juga dengan mu yang malam ini juga akan berakhir sama seperti kakek mu," ucap Nyonya Sinta.

__ADS_1


"Uhuk! Uhuk! Kenapa kamu begitu tega melakukan hal itu padanya, bukankah dia adalah pa–manmu?" ucap Kanzia sambil memegangi lehernya yang mulai terasa panas.


Hal itu membuat Tuan Bara dan Nyonya Sinta semakin tersenyum senang melihat Kanzia yang mulai terlihat kesakitan, sepertinya racun yang ia berikan sudah mulai bereaksi pada tubuh Kanzia.


"Dia memang pamanku, tapi sayangnya hidupnya jauh lebih baik dibandingkan dengan ayahku yang brengsek itu, aku sangat iri pada ibumu yang memiliki keluarga yang begitu sempurna dan ayah yang sangat menyayanginya, dan aku mulai berencana untuk merebut apa yang dimiliki ibumu. Apa kamu tau, aku berhasil masuk ke dalam keluarga Wiguna bahkan kakek mu telah menganggap aku sebagai putri kandungnya, dia memperlakukan ku sama seperti dia memperlakukan ibumu," ucap nyonya Sinta. Ia mendekat ke hadapan Kanzia dan kembali berucap.


"Tapi sayangnya satu hal yang tidak mungkin bisa aku dapatkan darinya yaitu kekayaan keluarga Wiguna, karna semuanya telah diberikan kepada putri satu satunya yaitu ibumu, dan aku mulai sadar bagaimana pun dia menyayangiku, tetap saja aku hanya orang lain, sejak saat itu aku mulai membuat rencana untuk mendapatkan semua harta Kakek mu yaitu dengan melenyapkan ibumu, dan dengan bantuan suamiku aku berhasil melakukan hal itu dan berharap setelah itu kakek mu akan mewariskan semuanya padaku, tapi sayangnya laki laki tua itu malah berniat untuk menyumbangkan semua kekayaannya, dan aku pun terpaksa harus melenyapkannya, dan sekarang masih tersisa cucunya yang sebentar lagi akan bernasib sama sepertinya."


Tanpa ragu nyonya Sinta mengungkapkan semua kejahatannya di hadapan Kanzia yang ia anggap sebentar lagi akan berakhir di tangannya.


"Apa kamu juga yang telah membunuh Ayah suamiku? Kamu melakukan hal yang sama seperti yang kalian lakukan pada bundaku?" ucap Kanzia sambil menatap kearah Tuan Bara, karna ia pernah mendengar cerita tentang kecelakaan ayah mertuanya dari Abian, tapi Abian tidak mempunyai cukup bukti untuk memenjarakan mereka.


Tuan Bara ikut mendekat kearah Kanzia dan menundukkan kepalanya menatap wajah Kanzia.


"Benar sekali, tapi tidak ada yang tau soal itu, bahkan orang hebat sekelas suami mu belum bisa mendapatkan bukti atas perbuatan ku 20 tahun lalu. Bisa jadi setelah 20 tahun berlalu nanti tidak akan ada yang tau kalau aku membunuh mu dan juga keluargamu. Hahaha ..." ucap Tuan Bara lalu ia pun tertawa di hadapan Kanzia.


Kanzia yang mendengar semua pengakuan tuan Bara ikut tertawa sambil menundukkan kepalanya, dan hal itu langsung menghentikan tawa Tuan Bara. Ekspresinya tiba tiba berubah dan dia langsung menatap istrinya, yang juga ikut kebingungan melihat ekspresi suaminya.


"Apakah menurut kalian seperti itu?" tanya Kanzia mendongakkan kepalanya menatap pasangan licik itu sambil tersenyum.


"Prok ... prok ... prok ..." Abian tiba tiba saja keluar dari persembunyiannya.


"Akhirnya kalian telah mengakui sendiri semua kejahatan kalian kali ini, padahal aku sudah lama sekali mencari bukti bukti, tapi malah kalian sendiri yang mengungkapkannya. Keluarlah!" ucap Abian dan beberapa polisi tiba tiba keluar dari persembunyiannya, dan Abian pun mendekat kearah kanzia dan segera membuka ikatan pada tubuh istrinya.


"Apa apaan ini? Kalian siapa beraninya kalian menyentuhku!" teriak tuan Bara.


"Hei lepaskan aku! Jangan kurang ajar! Lepaskan aku! Kanzia beraninya kamu menipu kami!" teriak nyonya Sinta, saat menyadari kalau semua ini adalah jebakan.


"Wah lihatlah dirimu Nyonya, dan anda Tuan Bara bukankah tadi anda dengan percaya dirinya mengatakan kalau semua kejahatan kalian tidak akan pernah terbongkar, tapi sayangnya yang kalian hadapi saat ini adalah aku dan suamiku," ucap Kanzia dengan senyum yang meremehkan.


"Aku sudah merekam semua pengakuan kalian di sini," ucap Kanzia sambil mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada polisi.


"Awas kamu Kanzia begitu aku keluar aku akan langsung menghabisi mu!" ancam tuan Bara saat polisi menyeretnya keluar.


Kanzia dan Abian hanya menanggapi ucapan tuan Bara dengan tersenyum.


"Cepat borgol dia dan bawa mereka!" perintah ketua polisi pada anak buahnya.


"Lepaskan! Lepaskan aku! Hei Kanzia awas kau aku pasti akan membunuhmu!" Nyonya Sinta terus berontak dan berteriak saat polisi menyeretnya keluar dari bangunan tua itu.


Sementara tuan Bara terlihat pasrah, sepetinya ini adalah akhir dari semua usahanya untuk mendapatkan kekayaan. Ia telah kalah oleh Abian ia tidak menyadari kalau tempat itu ternyata telah dikepung dan semua itu adalah rencana Abian.


*

__ADS_1


*


Flashback On.


Pak Muh yang tiba tiba saja mendapatkan tawaran dari Tuan Bara saat ia sedang berada di rumah sakit tempat anaknya di rawat, langsung saja menceritakan semuanya pada Abian.


"Tuan tadi saya bertemu dengan Tuan Bara di rumah sakit, dan ia memberikan saya tugas untuk membawa Nona muda ke hadapannya, dia menjanjikan bayaran yang besar pada saya tuan untuk pengobatan anak saya."


"Lalu apa kamu menerimanya?" tanya Abian.


"Saya menolak Tuan, tapi dia mengancam akan menghabisi anak dan istri saya, tapi Tuan tidak perlu khawatir saya tidak akan pernah menghianati anda, saya akan berusaha untuk melindungi keluarga saya." Pak Muh menceritakan semuanya pada Abian.


"Terima saja tawarannya," ucap Abian datar.


"Maksud Tuan?" tanya pak Muh dengan ekspresi bingung.


"Lakukan apa yang dia katakan," ucap Abian kembali.


"Tapi Tuan–"


"Lakukan saja aku memiliki rencana untuk mengakhiri semua perbuatan mereka, sekarang temui laki laki itu dan ikuti semua ucapannya. Nanti aku akan memberi taumu apa yang perlu kamu lakukan selanjutnya."


"Baik Tuan," Pak Muh mengerti apa yang dimaksud Abian lalu ia pun segera menemui Tuan Bara.


Abian juga telah memberi tau tentang rencananya pada Kanzia dan menyuruh mereka berakting karna mereka telah memasang penyadap pada mobil yang dibawa pak Muh. Sementara obat yang diberikan Tuan Bara telah diganti dengan Vitamin milik Kanzia.


Flashback Of.


"Apa kamu baik baik saja?" tanya Abian sambil memeriksa tubuh Kanzia tanpa terlewatkan.


"Kamu tidak usah khawatir, bukankah itu tujuanmu selama ini melatih ku dengan keras, agar aku bisa menjadi wanita yang kuat, jadi kamu tidak perlu khawatir aku tidak mungkin membiarkan diriku terluka," jawab Kanzia sambil menatap Abian.


"Syukurlah," ucap Abian, lalu mencium kening sang istri tanpa memperdulikan orang orang yang sedang menatapnya.


"Mari Tuan kita keluar dari tempat ini," ucap Kevin, menyadarkan pasangan suami istri itu.


Mereka pun segera keluar dari gedung tersebut. Sementara Nyonya Sinta masih terus memberontak meminta untuk dilepaskan dan ia berhasil lepas dari pegangan kedua polisi dan dengan gerakan cepat ia merampas pistol milik salah satu polisi yang tadi memegangnya.


"Kanzia!"


Dor!


Bersambung . . . . . . .

__ADS_1


__ADS_2