Merubah Istri Gendut

Merubah Istri Gendut
BAB 90 : Rencana Nyonya Sinta


__ADS_3

"Jangan kurang ajar kamu Kanzia, biar bagaimana pun aku adalah tante mu," ucap nyonya Sinta, berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak, apalagi melihat tiga orang bertubuh kekar yang tiba tiba saja masuk dan berdiri di samping Kanzia.


"Aku sudah bersikap sopan pada anda, tapi anda malah membahas tentang harta peninggalan kakekku, bukannya menanyakan keadaanku, dan hal itu menjelaskan bagaimana serakahnya dirimu Tante," ucap Kanzia menyebut kata Tante sambil tersenyum sinis kearah nyonya Sinta.


"Kanzia kamu hanya anak kemarin sore yang tidak mengerti apa apa, kamu hanya akan mengacaukan perusahaan ini, jadi sebaiknya kamu serahkan saja padaku secara baik baik, karna itu bukan hak mu," ucap nyonya Sinta. ia dengan tidak tau malunya menyuruh Kanzia menyerahkan perusahaan padanya.


Setelah mengatakan hal itu lalu ia mendekatkan wajahnya ke telinga Kanzia. "Aku mampu menyingkirkan ibu dan kakek mu, apalagi dirimu yang tidak tau apa apa," bisik nya pada Kanzia.


"Maaf Nyonya Sinta yang terhormat, tidak ada yang perlu aku serahkan padamu, karna kamu sama sekali tidak memiliki hak apapun dengan perusahaan milikku, kecuali kamu memang sudah tidak memiliki rasa malu," ucap Kanzia tetap terlihat santai menghadapi nyonya Sinta.


"Gadis sialan!" ucapnya sambil mengangkat tangannya hendak menampar Kanzia. Ia sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya apalagi saat melihat ekspresi Kanzia yang tetap santai dan datar tidak ada sedikit pun raut ketakutan di wajahnya.


Tapi sebelum lima jari Nyonya Sinta menyentuh pipi mulus Kanzia, tangan kekar salah satu pengawal Kanzia mencengkram kuat tangan wanita paruh baya itu, membuat nyonya Sinta mengaduh kesakitan.


"Jangan coba coba menyentuh Nyonya muda kami jika tidak ingin tanganmu ku patahkan."


Kanzia maju ke hadapan nyonya Sinta. "kamu mungkin berhasil menyingkirkan kakek dan bundaku, tapi tidak denganku karna kali ini aku akan membuatmu mendekam di penjara sebelum semua yang kamu inginkan tercapai, jadi nikmatilah waktumu sebelum aku mengantarmu ke tempat yang seharusnya," bisik Kanzia lalu ia pun melanjutkan langkahnya menuju ruangannya meninggalkan Tantenya itu.


Kanzia berusaha untuk menenangkan pikiran dan perasaannya, ini kali pertamanya bertemu dengan seseorang yang sangat ingin menyingkirkannya, dan merebut apa yang saat ini ia miliki, ia pikir apa yang di ceritakan Abian dan orang orang kepercayaan kakeknya tentang keluarga ibunya itu terlalu berlebihan, tapi setelah bertemu langsung ia dapat melihat dengan jelas keserakahan di mata wanita yang harusnya ia panggil Tante itu.


"Sepertinya aku terlalu berharap kalau mereka akan berubah dan meminta maaf atas semua perbuatannya," gumam Kanzia sambil melangkah masuk ke dalam lift.


Sementara itu di tempat lain, Tuan Bara berhasil membuat Tania pulang, ia berusaha untuk membujuk putrinya agar mau membantu rencananya.


"Tania kamu putri papa, seharusnya kamu lebih percaya dengan ucapan papa dari pada Kanzia. Ia pasti sudah tau kalau kamu adalah putri papa, makanya dia bersikap baik padamu," ucap Tuan bara.


"Maaf Pa, bukannya aku ingin melawa mu, tapi aku sekarang sudah dewasa, aku sudah tau mana yang baik dan buruk, siapa yang sebenarnya berbohong papa atau Kanzia," ucap Tania menjeda ucapannya.

__ADS_1


"Maaf Pa kalau aku lebih percaya pada Kanzia dari pada Papa dan Mama," ucap Tania.


Tuan Bara langsung berdiri mendengar ucapan Tania yang lebih percaya dengan Kanzia daripada dirinya. "Tania!" bentak tuan Bara.


"Kamu benar benar anak tidak tahu terimakasih, kami membesarkan mu untuk menjadi anak yang berguna dan dapat kami andalkan, bukannya malah membangkang seperti ini!" ucap Tuan Bara dengan emosi yang sudah meluap-luap.


"Pa, aku hanya ingin papa menyadari kalau apa yang papa lakukan selama ini itu salah, sebaiknya hentikan semua kegilaan kalian dan minta maaflah pada Kanzia karna dia pasti akan memaafkan kalian dan kita bisa hidup bahagia sebagai keluarga," ucap Tania. Ia masih berusaha untuk menyadarkan papanya.


"Tidak usah menggurui ku Tania, jika kamu tidak ingin membantu papa segera angkat kaki mu dari rumah ini, aku tidak butuh putri bodoh sepertimu, dan jangan pernah coba coba untuk memberitahu semua rencana ku dengan wanita itu, karna aku selalu memantau mu," ucap tuan Bara mengusir Tania yang tidak berhasil ia bujuk.


Tanpa mengatakan sepatah kata pun Tania segera keluar dari rumah itu, ia sudah berusaha untuk menyadarkan orang tuanya, ia sudah pasrah jika Kanzia dan Abian melakukan sesuatu untuk menghentikan kejahatan kedua orangtunya.


Nyonya Sinta yang baru saja pulang, melihat putrinya keluar dari rumah dengan tergesa gesa, dan membawa koper, ia pun menghampiri Tania karna ia sangat khawatir dengan keadaan putrinya yang pergi dari rumah malam malam tanpa membawa apa pun.


"Nia!" panggil nyonya Sinta sebelum Tania masuk ke taksi yang masih menunggunya.


"Kamu mau kemana? Kenapa buru buru sekali? dan kenapa kamu bawa koper segala?" tanya nyonya Sinta.


"Aku harus segera pergi dari sini, karna di sini bukan tempatku," jawab Tania.


"Apa maksudmu berkata seperti itu Nak, tentu saja di sini adalah tempat mu, karna ini adalah rumahmu," ucap nyonya Sinta.


"Itu dulu sekarang tidak lagi, mulai hari ini aku sudah tidak tinggal di rumah ini," ucap Tania.


"Tania mama mohon jika ada masalah kita bisa bicarakan baik baik, kamu tidak perlu keluar dari rumah," ucap nyonya Sinta yang tidak rela melihat putrinya pergi dari rumah.


"Maaf keputusanku sudah bulat, sebelum Papa dan Mama berubah pikiran dan berhenti mengusik hidup Kanzia aku tidak akan pernah pulang," ucap Tania, ia tetap pada keputusannya untuk keluar dari rumah apalagi papanya sendiri telah mengusirnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu selalu membela wanita itu Tania, asal kamu tau dia itu adalah musuh keluarga kita yang harus kita singkirkan."


"Apakah kalian selalu mengatakan kalau Kanzia adalah musuh kita, sementara dia selalu berkata kalau kalian adalah keluarganya, aku benar benar malu dengan sikap Mama dan Papa, aku harus segera pergi jaga diri kalian baik baik, aku masih berharap Mama dan Papa menghentikan rencana kalian dan meminta maaf pada Kanzia." Setelah mengatakan hal itu Tania segera masuk ke mobil dan meninggalkan nyonya Sinta.


"Wanita sialan itu sudah berhasil mempengaruhi putriku, aku tidak akan membiarkan hal ini aku harus segera menyingkirkannya," ucap nyonya Sinta mengepalkan tangannya menahan amarahnya pada Kanzia.


Ia masuk ke dalam rumah untuk menemui suaminya. "Papa! Pa!" teriaknya memanggil Tuan Bara.


"Ada apa Ma, kenapa kamu teriak teriak segala," ucap tuan Bara yang baru keluar dari kamar mandi.


"Ayo kita lakukan rencana kita besok malam," ucap nyonya Sinta sambil menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Apa kamu yakin kali ini kita akan berhasil," tanya tuan Bara.


"Bagaimana pun caranya kita harus berhasil," ucap nyonya Sinta dengan senyum misterius.


"Baiklah, kali ini kita harus berhasil merebut seluruh aset milik keluarga Wiguna," ucap tuan Bara sambil menatap istrinya, mereka tersenyum licik membayangkan hidup Kanzia akan berakhir sama seperti Ibu dan kakeknya.


Bersambung . . . . . . .


Jangan lupa dilike


Komen


Favorit


Vote

__ADS_1


__ADS_2