Merubah Istri Gendut

Merubah Istri Gendut
BAB 44 : Perasaan Abian


__ADS_3

Sementara itu di sebuah rumah yang cukup mewah seorang laki laki paruh baya terlihat memijit keningnya karna memikirkan sesuatu.


Orang itu adalah tuan Bara paman angkat Abian yang tidak tau balas Budi, ia sangat haus akan kekuasaan, ia akan melakukan segala cara agar tujuannya tercapai bahkan ia tidak segan segan untuk menyingkirkan siapapun yang menghalanginya, begitupun dengan istrinya nyonya Karin mereka sama sama memiliki sifat dan tujuan yang sama itulah yang membuat mereka bekerjasama untuk merebut dan menyingkirkan pewaris Angkasa grup, dan hal itulah yang mereka lakukan pada Renata ibu kandung Kanzia.


"Sebenarnya apa yang kamu takutkan pa?" Tanya wanita paruh baya yang merupakan istri dari laki laki tersebut.


"Aku hanya merasa jika Angkasa grup tidak benar benar bangkrut, aku rasa semua ini hanya akal akalan si tua Bangka itu agar kita mengira jika perusahaan miliknya telah bangkrut dan kita tidak lagi berusaha untuk merebutnya," ucapnya.


"Kamu berpikiran terlalu jauh, sebaiknya kamu memikirkan cara agar bisa mendapatkan posisi di Pramudya grup," ucap nyonya Karin.


"Pramudya grup bukanlah hal yang mudah, Jonathan bukanlah orang yang bisa kita remehkan dan soal angkasa grup aku benar benar curiga jika perusahaan milik pamanmu itu tidaklah benar benar bangkrut," ucap tuan Bara yakin.


"Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu?"


"Orang suruhan ku menemukan bukti tentang Renata yang selamat dari kecelakaan waktu itu," ucapnya kembali.


"Bagiamana bisa? Lalu dimana dia sekarang?" Tanya nyonya Karin yang terkejut dengan apa yang disampaikan suaminya.


"Seorang laki laki telah menolongnya dari kecelakaan waktu itu, tapi kabar yang ditemukan orang suruhanku jika Renata sudah meninggal 15 tahun yang lalu, tapi yang aku takutkan adalah bagaimana jika ia masih memiliki keturunan karna kabarnya Renata sempat menikah dengan laki laki yang menolongnya tapi sampai saat ini anak buahku belum menemukan kabar apakah Renata pernah melahirkan seorang anak sebelum ia meninggal." Jelas Bara.


"Dan aku rasa paman mu tau soal itu, coba kamu pikirkan bagaimana mungkin perusahaan sebesar Angkasa grup tiba tiba mengalami kebangkrutan dalam jangka waktu satu hari, aku rasa kita telah dibodohi selama ini," jelas tuan Bara tentang kecurigaannya selama ini.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya nyonya Karin.


"Kita harus mencari dimana keberadaan anak Renata, karna aku yakin ia pasti telah melahirkan seorang anak," ucapnya sangat yakin dengan dugaannya.


*


*


Malam harinya


Kanzia berdiri di balkon kamarnya sambil menatap lurus ke depan, ia masih merasa semuanya hanya mimpi, ia tidak pernah tau siapa keluarga ibunya selama ini karna bundanya tidak pernah menceritakan soal keluarganya, ia hanya bilang jika ia mempunyai seorang kakek, tapi sampai bundanya meninggal karena sebuah kecelakaan ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk bertemu dengan sosok kakek yang diceritakan bundanya.


"Apa ayah juga tidak tau tentang jati diri bunda yang sebenarnya selama ini?" Gumam Kanzia.


Abian yang baru saja masuk ke kamarnya setelah menyelesaikan pekerjaannya yang ia tinggalkan beberapa hari ini langsung menghampiri Kanzia yang berdiri di balkon kamarnya.


Abian memeluk pinggang Kanzia dari belakang.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Abian yang melihat Kanzia melamun.


"Aku hanya sedang memikirkan tentang kakek, apa kamu pernah bertemu dengannya?" Tanya Kanzia.


"Hm,,,.aku pernah bertemu dengannya waktu umur sepuluh tahun, waktu itu kakek mu datang ke rumahku untuk bertemu dengan kakekku, dan kau tau apa yang dia katakan waktu pertama kali kami bertemu?" Kanzia yang mendengar cerita Abian tentang kakeknya langsung membalikkan tubuhnya menghadap Abian.

__ADS_1


"Apa yang dikatakan kakek?" Tanya Kanzia penasaran.


"Kamu harus menikah dengan cucuku suatu hari nanti!" Abian menirukan suara berat Tuan Rasta pada Kanzia.


"Benarkah?"


"Iya, bahkan waktu itu ia menunjukkan padaku foto seorang anak kecil berumur sekitar 5 tahun yang terlihat sangat menggemaskan dengan pipi cabinya dan ternyata itu adalah foto mu," cerita Abian.


"Lalu apa yang kamu katakan waktu itu?" Tanya Kanzia mulai terlihat antusias dengan cerita Abian.


"Aku langsung menyetujuinya bahkan aku mengambil foto itu dari kakek Raksa, padahal itu foto satu satunya yang dimiliki kakek Raksa, tapi ia langsung memberikannya padaku karna aku berjanji akan menikahi cucunya," Abian tersenyum geli mengingat masa lalu dirinya yang sudah jatuh hati pada gadis gembul di foto waktu itu.


"Wah ternyata kamu memang sudah mesum sejak dini tuan,,, bagaimana bisa kamu berniat untuk menikahi seorang gadis kecil hanya dengan melihat fotonya," ucap Kanzia sambil menggelengkan kepalanya.


"Tapi buktinya gadis kecil itu sekarang sudah tumbuh menjadi wanita dewasa bahkan sangat besar," ucap Abin sambil matanya melirik dada Kanzia.


Plak!


"Aw!" Abian memegangi dadanya yang dipukul Kanzia.


"Apa yang kamu lihat?" ucap Kanzia sambil menyilang kan dadanya.


"Aku hanya melihat dirimu yang sudah tumbuh menjadi wanita dewasa,


memang apa yang kamu pikirkan? Astaga apa kamu sedang berpikiran mesum?" Abian malah membalikkan keadaan seolah oleh Kanzia lah yang sedang berpikiran mesum.


Abian pun mengikuti Kanzia masuk dan menutup pintu balkon, ia naik ke atas ranjang lalu mendudukkan tubuhnya di samping Kanzia yang sudah berbaring memunggunginya dengan posisi tubuhnya bersandar pada sandaran ranjang.


"Apa kau tidak ingin mendengarkan kelanjutan dari ceritaku?" Tanya Abian.


Kanzia yang penasaran dengan cerita Abian langsung bangun dari pembaringannya dan menatap Abian.


"Ceritakan padaku," ucap Kanzia lalu menyandarkan kepalanya pada dada bidang Abian yang sedang bersandar dan memeluk pinggang Abian.


Abian pun melanjutkan ceritanya. "Jadi waktu itu adalah pertemuan pertama dan terakhirku dengan kakek mu, sampai akhirnya ia dikabarkan jatuh sakit dan waktu itu kakekku segera bergegas untuk menemuinya di rumah sakit, sementara aku waktu tidak ikut dengan kakek jadi aku belum sempat bertemu kembali dengannya," Kanzia mendongakkan kepalanya menatap Abian.


"Lalu apa kakek juga tau soal kakek ku yang memintamu untuk menikah dengan gadis difoto itu?" Tanya Kanzia penasaran.


"Iya karna di saat terakhirnya dia meminta kakekku untuk melindungi mu dan meminta agar suatu saat aku bisa menikahi cucunya," Abian melanjutkan ceritanya.


Kanzia tetap mendengarkan kelanjutan cerita Abian tanpa memotong ucapan Abian.


"Setelah kepergian kakek Raksa, kakek selalu mengawasi kalian, tapi saat umur mu menginjak usia 10 tahun kami mendengar kabar jika ibumu mengalami kecelakaan dan tidak dapat diselamatkan, tapi kakek mencurigai jika itu bukan murni kecelakaan ia berpikir jika itu adalah ulah keluarga ibumu, jadi sejak saat itu kami berhenti mengawasi mu agar tidak menimbulkan kecurigaan," ucap Abian menjeda ucapannya sambil menatap Kanzia.


"Lanjutkan aku ingin mendengar semuanya," ucap Kanzia yang sedikit merasakan sakit mendengar cerita Abian tentang kecelakaan yang dialami bundanya.

__ADS_1


"Baiklah, tapi kamu tidak perlu terlalu memikirkan tentang kecelakaan itu, aku saat ini sedang mencari tau apakah itu murni kecelakaan atau sabotase seseorang dan aku akan pastikan jika itu perbuatan seseorang aku pastikan orang tersebut mendapatkan ganjarannya." ucap Abian yang melihat ekspresi Kanzia.


Abian pun melanjutkan ceritanya yang sempat terpotong.


"Saat itu aku diam diam tetap mengawasi mu tanpa sepengetahuan kakek, sampai akhirnya aku mendengar jika kamu menjalin hubungan dengan laki laki brengsek itu bahkan kalian sampai bertunangan, aku mengetahui rencana si brengsek itu yang hanya memanfaatkan kamu dan akan meninggalkan mu di hari pernikahan kalian, jadi aku menggunakan kesempatan itu untuk mengikatmu tanpa ada yang mencurigainya."


"Tapi apa kamu tidak merasa jijik dengan penampilanku waktu itu?" Tanya Kanzia.


"Aku sudah tertarik dengan mu sejak kamu masih berumur 5 tahun hanya dengan melihat fotomu."


"Lalu apakah kita pernah bertemu?" Tanya Kanzia penasaran.


"Hm,,, kita pernah bertemu dua kali di taman, apa kamu ingat dengan anak laki laki yang kamu kasih roti waktu di taman?" Tanya Abian.


"Oh kakak ganteng itu,,, tunggu tapi kok kamu bisa tau?"


"Tentu saja aku tau karna anak laki laki yang kamu panggil kakak ganteng itu adalah aku," ucap Abian sambil mencubit pipi Kanzia gemas.


"Benarkah?" kaget Kanzia sambil menatap Abian.


"Bahkan waktu itu kamu terus menatapku penuh kagum sambil mengatakan kalau kamu sudah besar kamu akan menikahi ku,,," ucap Abian menatap geli kearah Kanzia.


"Astaga jadi itu beneran kamu? kamu gak bohongkan?" Tanya Kanzia yang merasa malu mengingat kejadian itu.


"Iya, sapu tangan yang kamu kasih waktu pertemuan terakhir kita pun masih ada padaku," ucap Abian yang masih menyimpan sapu tangan pemberian Kanzia.


Kanzia hanya menatap Abian tanpa mengatakan apapun, ia benar benar mendapatkan banyak sekali kejutan hari ini.


"Kamu adalah wanita satu satunya yang membuat jantungku selalu berdebar, aku tidak pernah merasakan hal itu kepada wanita manapun, jadi aku tidak pernah memperdulikan bagaimana penampilan mu saat itu, yang aku tau kamu adalah gadis kecilku yang manis yang akan selalu aku lindungi, aku benar benar tulus mencintaimu Kanzia Ayudia Renata," ucap Abian sambil menatap dalam mata Kanzia, akhirnya setelah sekian lama ia bisa mengucapkan kata itu pada gadis gendutnya.


Kanzia merasakan aliran darahnya berhenti mendengar pernyataan cinta dari Abian.


.


.


.


Bersambung . . . . . . .


Jangan lupa di like👍🏻


Komen


Favorit

__ADS_1


Vote


...Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan...


__ADS_2