
Clara yang baru pulang setelah mengurus urusan perceraiannya dengan Noah, tanpa sengaja menyaksikan perdebatan antara ibu dan ayah sambungnya, ia yang penasaran dengan apa yang membuat kedua orang tuanya ribut pun bersembunyi di balik tembok mendengarkan perdebatan mereka dan tanpa diduga ia pun mengetahui sebuah fakta yang sangat mengejutkan, fakta jika ternyata dirinya bukanlah anak sambung tuan Rudi tapi merupakan anak kandung yang tidak pernah diakui keberadaannya.
Clara mengepalkan tangannya mendengar semua itu, dengan langkah pelan Clara keluar dari rumah orang tuanya agar tidak diketahui oleh mama dan ayahnya jika ia mendengar semuanya, ia tidak ingin mendengar lebih jauh lagi tentang kebenaran itu.
"Jadi benar jika aku adalah anak haram, selama ini mama membohongiku dengan mengatakan jika ayah kandungku telah meninggal waktu aku masih dalam kandungan," gumam Clara sambil terus melajukan mobilnya.
“Jaga ucapanmu itu Rudi karna biar bagaimanapun Clara tetap putri kandungmu darah dagingmu sendiri.”
“Sampai kapanpun aku hanya menganggap Kanzia sebagai satu satunya putriku, buah cintaku dengan wanita yang kucintai, bahkan sekarang setelah beberapa tahun ini hidup denganmu aku semakin tau bagaimana liciknya dirimu membuatku ragu jika Clara adalah putri kandungku, bisa saja kamu merekayasa hasil tes DNA waktu itu."
Kata kata itu terus terngiang di telinga Clara, apalagi saat mendengar ucapan ayahnya yang tidak mau mengakui dirinya, dan hal itu membuatnya semakin membenci Kanzia.
"Ini semua karna Kanzia, semua penderitaan yang aku alami saat ini semuanya karna perempuan sialan itu, karna dirinya pernikahanku yang masih baru berjalan beberapa bulan harus hancur."
"Karena kedatangannya di kota ini semua yang telah aku bangun dengan susah payah telah hancur, dan sekarang Noah benar benar akan menceraikan ku, dan karna dia juga ayah tidak mau mengakui ku," gumam Clara Tetap menyalahkan Kanzia sambil meremas dengan kencang setir mobilnya karna emosi.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup bahagia Kanzia, seperti yang selalu dikatakan mama kalau aku akan merebut semua yang kamu miliki karna akulah yang lebih pantas mendapatkan semua itu," gumam Clara, yang tetap fokus mengendarai mobilnya menuju apartemennya.
Dulu Clara adalah gadis yang baik dan sangat menyayangi Kanzia, ia yang selalu hidup sendiri hanya ada ia dan ibunya merasa sangat kesepian apalagi teman temannya selalu mengatakan jika dirinya adalah anak haram, sampai akhirnya Rudi datang dan membawanya ke rumah ini dan mengenalkannya dengan Kanzia, ia begitu senang saat ayah sambungnya memperkenalkan Kanzia sebagai adiknya.
Hidup Clara perlahan berubah semenjak datang ke rumah mewah itu.
Tapi Maya selalu mengatakan pada Clara agar putrinya itu merebut apapun yang dimiliki Kanzia jika tidak ingin kehilangan semua yang ia miliki saat ini sementara Clara yang masih sangat polos mengikuti saja apa yang dikatakan Maya dan mulai mengubah sedikit demi sedikit sifat Clara.
Karna semua pengaruh buruk yang selalu diberikan Maya pada Clara membuatnya perlahan mulai menjauhi Kanzia, dan sejak saat itu hubungan Clara dan Kanzia semakin tidak baik, Maya selalu mengatakan kata kata yang memicu kebencian Clara pada Kanzia dan sejak saat itu Clara mulai merebut mainan yang dimiliki Kanzia sampai merebut tunangan adiknya sendiri, Maya benar benar telah berhasil mendidik putrinya menjadi seperti dirinya.
*****
Clara melempar tasnya asal begitu masuk di apartemennya. Ia merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Kehadiran anak ini juga semakin menambah beban dalam hidupku, bahkan aku tidak tau ini milik siapa,,,," gumam Clara, ia selalu menganggap kehamilannya sebagai kesialan baginya.
"Sepertinya aku harus menggugurkannya, bagaimana jika anak ini memang benar bukan milik Noah bisa bisa Noah akan semakin merendahkan ku," gumamnya kembali.
"Ah sudahlah nanti saja aku pikirkan soal itu, yang harus aku lakukan sekarang adalah memikirkan rencana bagiamana caranya membalas Kanzia," ucapnya dengan tersenyum licik.
*
__ADS_1
*
Sementara di tempat lain, terlihat Abian sedang menelpon seseorang di balkon kamarnya.
"Kalau begitu tetap awasi wanita itu jangan sampai ia melakukan sesuatu yang dapat membahayakan tuan Rudi, karna biar bagiamana pun dia adalah ayah kandung istriku," perintah Abian yang baru saja mendapatkan kabar dari orang suruhannya, yang ia perintahkan untuk memantau pergerakan Maya.
Abian masuk dan menutup kembali pintu balkon dengan hati hati agar tidak menggangu tidur istrinya.
Abian mendudukkan tubuhnya di samping Kanzia yang sedang terlelap.
"Kali ini aku tidak akan membiarkan Maya merenggut orang yang kamu sayangi, walaupun kamu selalu mengatakan sangat membenci ayahmu, tapi di dalam hati yang paling dalam kamu sangat menyayanginya dan selalu merindukan pelukannya." Ucap Abian pelan sambil mengelus rambut Kanzia.
"Selamat tidur istriku,,,," ucap Abian lalu mencium kening Kanzia dan ia pun membaringkan tubuhnya sambil memeluk tubuh Kanzia.
Pagi harinya
Kanzia menggeliatkan tubuhnya, ia merasa sesak karna tangan besar Abian yang menindih dadanya.
"Bian bangun,,,," ucap Kanzia sambil menyingkirkan tangan kokoh Abian yang bertengger di dadanya.
"Bian,,,," Kanzia mencubit lengan Abian yang membuatnya mengaduh kesakitan.
"Aw! sakit!" Abian pun akhirnya mengangkat lengannya dari tubuh Kanzia.
"Pagi pagi bukannya memberikan morning kiss tapi kamu malah memberikan cubitan andalan mu itu," gerutu Abian yang benar benar merasakan sakit akibat cubitan istrinya.
"Habisnya kamu dari tadi dibangunin, nggak bangun bangun makanya aku cubit," ucap Kanzia.
"Ini udah jam berapa?" Tanya Abian.
"Baru jam 6," jawab Kanzia.
"Berarti masih banyak waktu untuk menghukum mu," ucap Abian dengan seringai di bibirnya.
"Siapa yang mau dihukum?" Tanya Kanzia.
"Tentu saja kamu sayang,,," jawab Abian yang semakin mendekat kearah Kanzia.
__ADS_1
"Kenapa aku harus dihukum?"
"Karna kamu sudah melanggar ucapan suamimu kemarin, bukannya beristirahat kamu malah berkeliaran di dapur dan kamu malah membagikan kue buatan mu pada semua orang di rumah ini tapi sama sekali tidak menyisakan untukku," ucap Abian.
"Tapi aku tidak tau kalau kamu mau kue buatan ku makanya aku bagikan saja ke para pelayan di rumah ini dari pada mubazir," ucap Kanzia masih berusaha menghindari hukuman dari Abian yang akan berakhir di tempat tidur.
"Tetap saja kamu harus mengingat suamimu terlebih dahulu, mulai sekarang kamu cuma boleh memasak untukku," ucap Abian.
Kanzia hanya bisa menghela napas mendengar semua ucapan Abian.
"Baiklah suamiku, kalau begitu nanti aku akan buatkan kue khusus untukmu, kalau begitu sekarang lepaskan aku suamiku, jangan sampai kita telat ke kantor hari ini," ucap Kanzia hendak beranjak dari tempat tidur.
"Tidak bisa kamu harus tetap aku hukum, ini juga masih terlalu pagi untuk berangkat ke kantor," ucap Abian sambil menjepit pinggang Kanzia dengan kaki panjangnya yang membuat Kanzia tidak bisa bergerak.
"Tapi,,," ucapan Kanzia langsung dipotong oleh Abian.
"Kalau kamu terus membantah aku akan memecat bik Sofi karna sudah membiarkanmu memasak di dapur kemarin." Ucap Abian.
Kanzia pun pasrah dibawah kungkungan Abian, karna sejujurnya ia juga merindukan sentuhan lembut suaminya.
"Aku sangat merindukan mu sayang,,,," ucap Abian dengan suara serak, ia mulai mencium kening dan berakhir di bibir ranum Kanzia dan hukuman pun berlanjut.
.
.
.
Bersambung. . . . . .
Jangan lupa like👍🏻
Komen
Favorit
Vote😉
__ADS_1