Merubah Istri Gendut

Merubah Istri Gendut
BAB 59 : Tingkah Abian


__ADS_3

Abian berlari ke arah Kanzia dan segera mengangkat tubuh Kanzia yang dipapah oleh Vita.


"Kevin cari tau siapa yang memerintahkan mereka untuk mencelakai istriku! Telpon dokter Marcel untuk datang ke rumahku secepat mungkin!" Perintah Abian pada Kevin.


"Baik tuan,,," ucap Kevin.


Setelah memberikan perintah pada Kevin, Abian langsung membawa Kanzia masuk ke dalam mobilnya, lalu ia pun melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumahnya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kejadian.


"Bian aku gak apa apa ini hanya luka kecil," ucap Kanzia berusaha menyembunyikan rasa sakitnya untuk menenangkan Abian yang terlihat sangat khawatir.


Abian hanya diam saja dengan wajah dinginnya tidak membalas ucapan Kanzia dan tetap fokus melajukan mobilnya.


Sesampainya di rumahnya Abian langsung turun dari mobilnya sambil membawa tubuh lemah Kanzia dalam gendongannya.


Semua pelayan di rumah itu ikut dibuat panik melihat tuannya yang baru saja datang dengan membawa tubuh nona mudanya yang berdarah, tapi satu pun dari mereka tidak ada yang berani bertanya saat melihat wajah dingin Abian.


Sampainya di kamar Abian mendudukkan tubuh istrinya diatas ranjang.


"Bian ini beneran tidak apa apa, sungguh, ini hanya luka kecil, hanya tergores sedikit," ucap Kanzia.


Abian masih tetap terdiam, membuka jas kerja yang digunakan Kanzia, lalu menekan luka pada lengannya untuk menghentikan pendarahannya.


"Ishh,,,," kanzia meringis saat tangan Abian menekan lukanya.


Abian mendongakkan wajahnya menatap Kanzia dengan tatapan tajamnya.


"Apa ini yang kamu bilang hanya luka kecil yang tergores sedikit? Apa kamu pikir aku bodoh!" Bentak Abian, ia kesal karena Kanzia mengatakan jika ia hanya terluka sedikit dan ia terus memperlihatkan jika ia baik baik saja, padahal terlihat jelas jika ia sedang menahan rasa sakit.


Kanzia hanya diam saja sambil menundukkan kepalanya tidak berani melihat tatapan Abian.


"Jika itu sakit katakan padaku Zia,,, jangan berpura pura terlihat baik baik saja hanya untuk menyenangkan ku," ucap Abian sambil mengelus kepala Kanzia.


"Maaf,,,," Kanzia hanya bisa mengucapkan kata maaf, sebenarnya luka di lengannya memang tidak terlalu parah, tapi sikap Abian saja yang berlebihan.


"Kata maaf saja tidak cukup, kamu harus mendapatkan hukuman mu!" Ucap Abian.


"Apa kamu akan menghukum ku saat aku sedang terluka seperti ini?" Tanya Kanzia.


"Iya," jawab Abian singkat.


"Tapi,,,,,"

__ADS_1


"Cium aku sekarang!" Perintah Abian.


"Cium?" Tanya Kanzia bingung.


"Iya itu adalah hukuman untukmu karna kamu bertindak ceroboh, sehingga membuatmu terluka seperti ini," ucap Abian.


"Kamu serius?"


"Hm,,,,,"


"Cepat berikan aku ciuman Zia!" Ucap Abian yang melihat Kanzia masih diam saja.


Cup!


Kanzia mencium pipi Abian.


"Aku tidak meminta mu mencium pipi ku," ucap Abian sambil menunjuk bibirnya.


Cup!


Ciuman hangat mendarat di bibir Abian. "Sudah puas?" Tanya Kanzia sambil cemberut.


"Tentu saja belum itu hanya sebuah ciuman, aku akan puas jika kamu,,,," ucap Abian sambil menatap Kanzia dengan seringai mesumnya.


Tidak lama setelah itu datanglah bik Sofi bersama seorang dokter.


Tanpa menunggu lama dokter Marcel mulai mengobati luka di lengan Kanzia dan membalutnya dengan perban.


"Bagaimana dengan lukanya? Apa tidak terlalu parah?" Tanya Abian cemas.


"Syukurlah luka pada lengan nona Kanzia tidak terlalu dalam, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, hanya saja untuk beberapa hari ini jangan terkena air dulu," jelas dokter Marcel.


Abian bernapas lega mendengar ucapan dokter Marcel.


Setelah memberikan penjelasan tentang keadaan Kanzia dan memberikannya obat, dokter Marcel merapihkan kembali peralatan medisnya, lalu berpamitan pada Abian dan Kanzia.


"Tuan, nona kalau begitu saya pamit dulu, semoga nona Kanzia cepat sembuh," ucap dokter Marcel.


"Iya, terimakasih dokter, maaf merepotkan mu," ucap Kanzia sambil tersenyum.


"Sama sama nona, itu memang tugas saya jadi tidak ada yang direpotkan," ucap dokter Marcel lalu ia pun beranjak meninggalkan Kanzia dan Abian di kamar itu.

__ADS_1


Setelah kepergian dokter Marcel Kanzia sangat terkejut ketika menatap kearah Abian dan ia mendapati suaaminya sedang menatapnya dengan tatapan tajam.


"Kamu kenapa menatap ku seperti itu?" Tanya Kanzia.


"Apa kamu lupa?"


"Apa aku melakukan kesalahan?" Kanzia malah balik bertanya.


"Pikir saja sendiri," ketus Abian.


"Kalau dilihat dari ekspresi ini sepertinya aku telah melakukan kesalahan, tapi apa? perasaan dari tadi aku tidak melakukan sesuatu yang aneh," Gumam Kanzia dalam hati sambil terus mengingat ingat apa saja yang ia lakukan setelah kedatangan dokter tadi.


"Maaf sayang, kan gak sopan kalau aku harus memasang wajah cemberut pada dokter Marcel, lagi pula aku pernah dengar kalau senyum itu ibadah loh,,, suamiku,,," ucap Kanzia yang baru menyadari kesalahan apa yang membuat suami dinginnya itu merajuk, Kanzia berusaha untuk membujuk Abian.


"Aku tau, tapi tetap saja aku tidak suka, senyum itu hanya boleh kamu tunjukkan pada suamimu ini, tidak dengan pria lain," ucap Abian.


"Baiklah suamiku, mulai sekarang senyum indah ku ini hanya untuk suamiku tercinta saja," ucap Kanzia berusaha mengalah.


"Tapi tetap saja kamu harus aku hukum," ucap Abian.


"Hukumannya nanti saja ya,,, setelah aku sembuh," ucap Kanzia sambil menyembunyikan wajahnya pada dada Abian.


"Baiklah kali ini kamu lolos dari hukuman mu," ucap Abian, lalu melepaskan pelukan Kanzia pada tubuhnya.


"Kalau kamu tidak mau aku menghukum mu jangan menggodaku," ucap Abian lalu beranjak menuju kamar mandi.


Kanzia hanya bisa menghela napas melihat sikap aneh suaminya yang semakin menjadi.


.


.


.


Bersambung . . . . . .


Jangan lupa di like👍🏻


Komen


Favorit

__ADS_1


Vote


__ADS_2