
Mobil yang membawa Kanzia dan Abian memasuki gerbang halaman rumah tuan Rudi.
Setelah pak Muh memarkirkan mobilnya mereka pun turun. Seorang pelayan membukakan pintu untuk Kanzia dan Abian.
"Bibi!" Kanzia langsung memeluk tubuh bik yanti. Ia sangat merindukan wanita paruh baya itu, satu satunya orang yang memperlakukan Kanzia dengan baik di rumah ini, bahkan Kanzia sudah menganggap bik Yanti seperti ibunya sendiri.
"Nona muda," ucap bik Yanti membalas pelukan Kanzia.
"Zia sangat merindukan bibi," ucap Kanzia masih memeluk tubuh bik Yanti.
"Ini beneran nona muda Kanzia kan?" ucap bik Yanti melepas pelukannya pada Kanzia. Ia terus memperhatikan wajah nona mudanya itu.
"Iya bik ini aku," ucap Kanzia sambil tersenyum.
"Nona muda semakin cantik," ucap bik Sofi.
"Tentu saja aku semakin cantik bik, lihat saja lemak yang dulu menumpuk di perutku sudah hilang," ucap Kanzia sambil tertawa.
"Tapi nona Kanzia Memang sudah cantik dari dulu," ucap bik Sofi.
"Hm,,, sayang kamu begitu asik dengan pelayan itu, sampai melupakanku," ucap Abian yang dari tadi tidak dihiraukan oleh dua orang itu.
"Astaga sayang maaf, aku terlalu senang bertemu dengan bibi," ucap Kanzia sambil mengelus lengan Abian.
"Maaf nona siapakah laki laki ini? Bukankah nona sudah menikah?" tanya bik Yanti terlihat panik, ia khawatir jika nona mudanya melakukan sesuatu yang tidak seharusnya, apalagi ia pernah mendengar pembicaraan antara tuan Rudi dan Clara yang mengatakan jika Kanzia berselingkuh.
"Bibi tenang saja ini adalah pria yang dulu menikahi ku dua tahun yang lalu, jadi bibi tidak perlu khawatir." ucap Kanzia yang mengetahui apa yang dipikirkan bik Yanti.
"Maaf, tidak seharusnya bibi berpikiran buruk tentang nona Kanzia." ucap bik Yanti meminta maaf, ia merasa bersalah karena telah berpikir yang tidak tidak tentang Kanzia.
"Iya bik," ucap Kanzia tetap tersenyum pada bik Yanti.
"Kalau begitu mari kita masuk nona, tuan." ucap bik Yanti mempersilahkan Kanzia dan Abian untuk masuk. Saking senangnya bertemu dengan Kanzia ia sampai lupa mengajaknya masuk.
"Ayo sayang," Kanzia menggandeng lengan Abian.
Baru saja mereka masuk, tuan Rudi, Maya dan Clara ikut menyusul untuk menyambut kedatangan mereka.
Semua pelayan menatap kagum pada sosok cantik dan tampan di samping bik Yanti.
"Selamat datang tuan Jonathan, terimakasih karna anda sudah berkenan untuk datang ke rumah kami," ucap Maya tersenyum ramah.
"Terimakasih Zia sudah mau datang di hari ulang tahun ayah," ucap Clara sambil tersenyum.
"Aku datang karena permintaan istriku," ucap Abian dengan wajah dinginnya, sementara Kanzia hanya diam saja tidak menanggapi ucapan Clara dan Maya.
"Zia ajak suamimu ke meja makan," ucap tuan Rudi, yang merasa tidak enak dengan menantunya.
"Ayo sayang," Kanzia melangkah melewati ayahnya menuju meja makan.
"Dasar tidak tahu sopan santun," gumam Clara yang melihat sikap cuek Kanzia.
"Tahan amarah mu jangan sampai rencana kita gagal," bisik Maya pada putrinya, lalu mereka ikut menyusul Kanzia dan yang lainnya ke meja makan.
"Bik kalian terlihat sangat akrab, apakah bibi mengenal wanita cantik itu?" tanya salah satu pelayan.
__ADS_1
"Tentu saja dan bukan hanya aku kalian semua juga sangat mengenal wanita cantik itu, dia adalah nona Kanzia," ucap bik Yanti, membuat ketiga pelayan itu terkejut.
"Si nona buruk rupa itu?" ucap salah satu pelayan yang dulu sering ikut menindas Kanzia atas perintah Maya.
"Berhati hatilah dalam berucap, jangan sampai kalian menyesalinya," ucap bik Yanti memperingati ketiga pelayan tersebut.
Setalah acara makan malam selesai tuan Rudi mengajak Abian untuk mengobrol sebentar.
"Maaf tuan Jonathan, bisakah kita mengobrol sebentar, ada hal penting yang ingin saya katakan," ucap Rudi yang masih merasa canggung dengan menantunya.
"Tentu saja," ucap Abian.
"Kalau begitu mari kita keruangan saya tuan," ucap tuan Rudi.
"Sayang kamu tunggu di sini dulu," ucap Abian lembut sambil mengusap kepala Kanzia.
"Iya," jawab Kanzia sambil tersenyum.
Tentu saja hal itu membuat Maya dan Clara semakin kesal melihat perlakuan lembut Abian pada Kanzia.
"Sial! beruntung sekali nasib si gendut ini bisa mendapatkan pria sekelas tuan Jonathan, bagaimanapun caranya malam ini rencana ku harus berhasil," batin Clara.
"Zia bagaimana kalau malam ini kamu dan tuan Jonathan menginap saja ini sudah terlalu malam, lagi pula kamu juga sudah terlalu lama tidak pulang ke rumah ini," Maya berusaha membujuk Kanzia agar mau menginap.
"Baiklah," ucap Kanzia menyetujui permintaan Maya untuk menginap.
"Benarkah!" ucap Clara terlihat antusias.
"Hm," ucap Kanzia tetap dengan ekspresi datarnya sambil menatap layar televisi.
Kalau begitu kalian mengobrol saja mama mau menyiapkan kamar untuk Kanzia dan tuan Jonathan." ucap Maya lalu beranjak meninggalkan Kanzia dan Clara.
"Zia apa tuan Jonathan benar benar mencintaimu?" tanya Clara.
"Kamu bisa melihatnya sendiri," jawab Kanzia.
"Apa kamu yakin? Bisa saja ia tidak tulus padamu, apa kamu tidak takut kejadian dua tahun lalu akan terulang kembali?" tanya Clara sengaja mengingatkan Kanzia dengan luka itu.
"Itu tidak akan pernah terjadi, suamiku tidak seperti mantan suamimu itu yang mudah tergoda dengan barang murahan," ucap Kanzia tanpa menatap Clara.
"Oh,,,," ucap Clara yang berusaha menahan amarahnya.
Tentu saja ia merasa tersinggung dengan ucapan Kanzia, tapi ia berusaha untuk menahan amarahnya demi kelancaran rencananya.
"Sial! kenapa mulut perempuan ini semakin tajam saja?" gerutu Clara dalam hati.
"Kita lihat saja, apakah malam ini kepercayaan dirimu itu masih berlaku Kanzia," batin Clara.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Abian keluar dari ruangan mertuanya entah apa yang mereka bicarakan.
"Sayang maaf membuatmu menunggu terlalu lama," ucap Abian.
"Iya, sayang malam ini aku ingin kita menginap di rumah ayah," ucap Kanzia.
"Kenapa tiba tiba kamu ingin menginap?" tanya Abian merasa heran, karna tadi saat makan malam Kanzia terlihat ingin cepat cepat pulang.
__ADS_1
"Boleh ya sayang, aku sangat merindukan rumahku, aku sudah terlalu lama meninggalkannya," ucap Kanzia sengaja menekankan kata rumahku, agar Clara dan Maya sadar jika mereka hanya menumpang di rumah orang tuanya.
Maya yang mendengar ucapan Kanzia mengepalkan tangannya menahan emosi.
"Sayang boleh ya,,," ucap Kanzia kembali membujuk Abian.
"Baiklah," akhirnya Abian menyetujui keinginan istrinya.
"Terimakasih suamiku," ucap Kanzia sambil mencium pipi Abian dihadapan mereka bertiga.
"Sial! Sepertinya dia sengaja memamerkan kemesraannya di hadapan kami," batin Clara.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita ke kamar saja sayang, aku juga ingin membayar untuk yang tadi siang," ucap Kanzia mengerling kan matanya genit, sambil menggandeng tangan suaminya menuju kamar yang sudah disiapkan Maya.
Dengan penuh semangat Abian mengikuti langkah Kanzia.
Ceklek!
Kanzia membuka pintu kamar yang terlihat sangat rapi dan luas. "Sayang apa ini kamar mu?" tanya Abian.
"Bukan, kamar ku dua kali lipat lebih kecil dari kamar ini," jawab Kanzia apa adanya, karna kamarnya tidak lebih baik dari kamar para pelayan di rumahnya.
Abian yang mendengar ucapan istrinya langsung memeluk istrinya, ia tidak bisa membayangkan bagaimana penderitaan Kanzia selama berada di rumah ini.
Tok!
Tok!
Tok!
Seseorang mengetuk pintu kamar, Kanzia pun melepas pelukannya dari tubuh Abian dan membuka pintu kamarnya, ternyata orang yang mengetuk pintu adalah Clara.
"Ada apa?" tanya Kanzia pada Clara, ia menatap penampilan Clara yang menggunakan jubah tidurnya.
"Zia tadi ayah menyuruhku untuk memanggilmu, sepertinya ada hal penting yang ingin ia katakan padamu, ayah sudah menunggu di ruang kerjanya." ucap Clara.
"Baiklah," ucap Kanzia lalu beranjak ke lantai bawah untuk menemui ayahnya di ruang kerjanya.
Clara yang melihat hal itu tersenyum puas melihat kepergian Kanzia.
.
.
.
Bersambung . . . . ..
Jangan lupa di like👍🏻
Komen
Favorit
Vote
__ADS_1