
Kanzia pun sudah bisa langsung pulang karna memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang kondisinya, dokter hanya menyuruhnya untuk istirahat yang cukup dan tidak melakukan pekerjaan yang berat.
Di sepanjang jalan pulang Kanzia terus menempel pada Abian menghirup aroma tubuh sang suami yang membuatnya merasa nyaman, bahkan rasa mulanya langsung hilang saat mencium aroma tubuh Abian.
"Bian nanti sampai rumah kamu jangan langsung mandi ya ..." ucap Kanzia yang sudah berulangkali mengingatkan Abian.
"Iya," jawab Abian singkat.
Kanzia melepaskan pelukannya sambil mendongakkan kepalanya menatap Abian.
"Kenapa? ..." tanya Abian dengan lembut yang melihat tatapan Kanzia yang terlihat kesal.
"Kamu tidak senang aku terus menempel padamu ya ..." ucap Kanzia dengan ekspresi kesalnya.
"Astaga aku salah apa lagi ini ..." batin Abian.
"Kenapa kamu berkata seperti itu sayang, tentu saja aku senang jika istriku ini ingin selalu di dekatku ..." ucap Abian berusaha membujuk Kanzia yang moodnya mudah sekali berubah.
"Kamu gak bohong, kan?" tanya Kanzia menatap Abian penuh selidik.
"Hm, kemarilah," ucap Abian dengan lembut, sambil merentangkan tangannya agar Kanzia kembali memeluknya.
Kanzia pun langsung menelusupkan wajahnya kembali pada dada bidang Abian dan memeluknya dengan erat, sampai akhirnya ia pun tertidur dalam pelukan suaminya itu.
Abian yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia benar benar gemas melihat sikap manja Kanzia.
"Cepat sekali tidurnya, hormon wanita hamil benar benar tidak bisa di tebak, sepertinya aku harus bersiap untuk menghadapi tingkah aneh bumil ini," gumam Abian sambil mengelus wajah Kanzia yang terlihat sangat lelap.
Ia teringat dengan keinginan Kanzia waktu menginginkan mie ayam sampai menangis, tapi malah menyuruh dirinya untuk memakannya. Abian tersenyum mengingat hal itu.
Mulai hari ini Abian harus lebih bersabar dan banyak mengalah dalam menghadapi tingkah Kanzia selama masa kehamilannya. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk istrinya itu dan tentunya ia harus lebih ketat lagi dalam menjaga Kanzia karna orang yang ingin menyakiti istrinya belum benar benar menunjukkan taringnya.
"Kevin tambahkan penjagaan untuk istriku mulai sekarang, karna masih ada lagi sampah yang ingin menyingkirkan istriku untuk menguasai Angkasa grup," perintah Abian pada Kevin.
"Baik tuan, lalu bagaimana dengan perempuan bernama Clara itu tuan?" tanya Kevin mengingat bagaimana kemarahan Clara saat melihat Maya dibawa polisi dan wanita itu terus menyalahkan semuanya pada Nona mudanya.
"Tentu saja wanita itu tidak akan tinggal diam setelah melihat apa yang terjadi pada ibunya tadi pagi, jadi tetap awasi dia jangan sampai ia melakukan sesuatu yang dapat membahayakan istri dan anakku," ucap Abian sambil mengusap perut rata Kanzia yang sudah di tempati oleh calon anaknya.
"Baik tuan," ucap Kevin lalu kembali fokus dengan kemudinya.
__ADS_1
Setelah beberapa menit kemudian mobil yang membawa mereka pun telah sampai di halaman rumah mewah milik Abian.
Kanzia pun terbangun dari tidurnya saat Abian hendak menggendongnya.
"Apakah kita sudah sampai?" tanya Kanzia sambil mengucek matanya.
"Iya kita baru saja sampai," jawab Abian, lalu melanjutkan niatnya menggendong tubuh Kanzia.
"Aa ... Bian apa yang kamu lakukan! Aku bisa jalan sendiri!" jerit Kanzia yang kaget dengan apa yang dilakukan Abian.
"Sudah tanggung, aku tadi memang ingin menggendong mu saat tidur," ucap Abian.
"Tapi sekarang aku sudah bangun, cepat turunkan aku, malu kalau sampai diliat pelayan," Kanzia terus meronta dalam gendongan Abian, tapi Abian tetap melangkah tanpa menghiraukan protes Kanzia.
"Bian turunkan aku ... ."
"Jangan terus bergerak nanti kamu bisa jatuh," ucap Abian mengingatkan Kanzia yang terus berontak dalam gendongannya.
"Tapi aku ma–"
Cup!
Ucapan Abian terputus saat bibir dibungkam Abian, Kanzia pun berhenti protes saat benda kenyal itu mendarat di bibirnya. Abian mencium dan ******* bibir Kanzia tanpa memperdulikan saat ini ia sedang di luar kamar, yang bisa saja pelayan melihat perbuatannya itu.
"Kakek," ucap Abian santai seperti tidak terjadi apa apa sambil mengusap bibir Kanzia yang basah karna ulahnya.
Sementara Kanzia hanya bisa menelusupkan wajahnya pada dada bidang Abian untuk menyembunyikan perasaan malunya, ia tidak peduli jika saat ini dikatakan kurang ajar, seandainya bisa ingin rasanya ia sembunyi ke dalam lubang semut saking malunya.
"Kapan kakek tiba di sini?" tanya Abian menghampiri kakeknya lalu duduk di sofa tanpa menurunkan Kanzia.
"Sudah setengah jam yang lalu kakek menunggumu pulang, tapi kakek malah disuguhkan pemandangan tidak senonoh mu itu," jawab kakek Abian.
"Salah kakek sendiri yang datang tanpa memberitahuku, lagi pula aku mencium istriku, jadi dimana pun itu tidak masalah, kan ..." ucap Abian tidak mau kalah.
"Dasar cucu kurang ajar, kasihan sekali istrimu pasti ia malu sekali memiliki suami mesum sepertimu," ucap kakek Abian yang melihat Kanzia menyembunyikan wajahnya pada Abian.
Kanzia benar benar ingin menghilang saat ini, ia tidak tau harus bersikap seperti apa dan ia pun tetap menelusupkan wajahnya di dada bidang Abian.
"Ada apa kekek tiba tiba datang ke rumahku?" tanya Abian tidak memperdulikan ucapan kakeknya.
__ADS_1
Tuk!
Abian langsung mendapatkan pukulan dari Tuan Bagas menggunakan tongkatnya.
"Aw!" rintih Abian mengusap kepalanya.
"Aku ke sini karna mendengar kabar jika istrimu masuk rumah sakit, apa yang telah kamu lakukan padanya? Apa kamu tidak menjaganya dengan baik? jika kamu tidak becus menjaga istrimu dengan benar biar kakek membawanya pulang ke rumah kakek," ucap Tuan Bagas mengomeli Abian, yang mendapatkan laporan dari orang suruhannya jika cucu menantunya masuk rumah sakit.
"Enak aja, sampai kapanpun aku tidak akan pernah membiarkan kakek membawa istriku, apalagi sekarang istriku sedang mengandung bibit unggul milikku," ucap Abian Menyombongkan diri pada kakeknya.
"Apa maksudmu istrimu saat ini sedang hamil?" tanya tuan Bagas dengan ekspresi terkejut mendengar ucapan Abian.
"Iya, aku akan menjadi seorang ayah bukankah aku sangat hebat," ucap Abian.
"Wah benarkah! Itu artinya aku akan mempunyai seorang cicit?" ucap Tuan Bagas kegirangan ia sampai berdiri dari duduknya saking senangnya, kalau saja ia tidak ingat umur ia pasti sudah lompat lompat saking bahagianya mendengar kabar tentang kehamilan Kanzia.
"Astaga, bisakah kakek pelan kan suara kakek, istriku sedang tidur," ucap Abian yang menyadari jika Kanzia kembali tertidur di pelukannya.
"Kalau begitu bawa istrimu ke kamar, lalu kita bicara lagi, kakek akan menunggumu di ruang kerjamu," ucap Tuan Bagas dengan ekspresi serius.
Abian pun segera membawa Kanzia ke kamar, sepertinya ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh kakeknya.
*****
Setelah menidurkan Kanzia Abian pun kembali menemui kakeknya yang sudah menunggunya di ruang kerjanya.
"Apa yang membuat kakek datang menemui ku?" tanya Abian yang sudah duduk di hadapan kekeknya.
.
.
.
Bersambung . . . . .
Jangan lupa Like
Komen
__ADS_1
Favorit
Vote