Merubah Istri Gendut

Merubah Istri Gendut
BAB 87 : Tania


__ADS_3

Satu Minggu kemudian.


Tuan Rudi yang melihat keadaan Clara yang begitu memprihatinkan hanya bisa menyesali sikapnya selama ini, seandainya saja ia bisa lebih berani dan tegas pada Clara mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi, mungkin Clara tidak akan melakukan hal jahat seperti yang dilakukan Maya.


"Maaf, semua ini salah ayah," gumam tuan Rudi sambil menatap Clara yang tangan dan kakinya di ikat di sebuah ruangan. Ia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah menimpa putri putrinya, ia merasa telah gagal menjadi seorang ayah untuk Kanzia dan Clara.


*****


Sementara itu di kediaman Tuan Bara.


"Dasar gadis bodoh! Sampai kapan kamu akan selalu membantah ucapan kami!" ucap nyonya Sinta penuh emosi. Ia sangat kesal karna lagi lagi Tania menolak keinginannya untuk membantunya menyingkirkan Kanzia.


"Tapi kenapa kalian begitu ingin menyingkirkan Kanzia bukankah dia adalah keluarga kita? Apa kalian tidak takut menjadi seorang pembunuh?" ucap Tania. Ia berusaha untuk menghentikan rencana kedua orang tuanya yang ingin melenyapkan Kanzia.


"Ingat Tania wanita itu bisa kapan saja merebut semua yang kita miliki saat ini tanpa tersisa, jadi sebelum hal itu terjadi, akan lebih baik kalau kita menyingkirkannya," ucap Tuan Bara yang lebih terlihat santai dibandingkan istrinya.


"Sekarang aku semakin mengerti, alasan kenapa kalian sangat ingin menyingkirkan Kanzia," ucap Tania tersenyum sinis pada kedua orang tuanya.


"Apa maksud ucapan mu Tania?" nyonya Sinta sangat tidak suka melihat senyum putrinya yang memandangnya seakan ia adalah seorang penjahat.


"Aku sangat yakin semua yang kita nikmati saat ini pasti bukan sepenuhnya milik kalian bukan? tapi milik keluarga Kanzia, makanya kalian sangat takut jika Kanzia segera menyadarinya dan ia akan datang untuk merebut semua miliknya," ucap Tania sambil menatap kedua orang tuanya bergantian.


"Jaga ucapan mu Tania!" bentak Tuan Bara yang kesabarannya sudah habis mendengar ucapan putrinya.


"Apakah semua yang aku katakan benar? Tapi kalian tenang saja Kanzia tidak akan mungkin melakukan hal itu, jadi hentikan saja rencana jahat kalian, karna sampai kapan pun kalian tidak akan pernah bisa menyakiti Kanzia selama ada tuan Jonathan di sisinya," ucap Tania tanpa rasa takut sedikit pun dengan kemarahan papanya.


"Dasar anak kurang ajar! Beraninya kamu membantah ucapan kami! Kalau kamu sudah tidak bisa mengikuti semua perintah kami sebaiknya angkat kakimu dari rumah ini!" ucap tuan Bara dengan emosi yang sudah tidak dapat ia bendung, melihat sikap putrinya.


"Dengan senang hati aku akan pergi dari rumah ini, aku harap Mama dan Papa menyadari kalau apa yang kalian lakukan saat ini salah."


Setelah mengatakan hal itu Tania langsung beranjak meninggalkan kedua orang tuanya dan hal itu semakin membuat Tuan Bara sangat marah padanya, tapi ia tidak peduli dan tetap melangkah keluar dari rumah mewah itu dengan penuh keyakinan bahkan ia sama sekali tidak membawa apapun dari rumah itu.


"Pa, bagaimana ini Tania benar benar pergi, bagaimana kalau ada orang jahat di luar sana apalagi ini sudah sangat larut," ucap nyonya Sinta khawatir. Walaupun Tania selalu membantah ucapannya tapi nyonya Sinta sangat menyayangi putri semata wayangnya itu.


"Biarkan saja, dia pasti akan kembali, dia seperti itu karna kamu terlalu memanjakannya."


"Maaf jika aku belum bisa menjadi anak yang baik untuk kalian, tapi sampai kapan pun aku tidak akan pernah melakukan rencana jahat kalian," gumam Tania entah ke mana arah tujuannya karna ia tidak memiliki teman selain Kanzia.

__ADS_1


*


*


"Ayah bagaimana kondisi Clara apakah ada perubahan?" tanya Kanzia lewat sebrang telpon.


Kanzia juga merasa kasihan saat beberapa hari yang lalu ia datang untuk melihat keadaan Clara yang di kabarkan kondisi mentalnya tidak dalam keadaan baik. Ia sangat membenci semua perbuatan jahat Clara padanya, tapi biar bagaimana pun Clara adalah kakaknya.


Terdengar helaan napas dari tuan Rudi saat Kanzia menanyakan soal kondisi kakak tirinya, yang menggambarkan jika kondisi Clara semakin buruk. "Doakan saja yang terbaik untuknya," jawab tuan Rudi.


"Ayah apakah ini semua salahku?" ucap Kanzia terdengar sendu.


"Kenapa berkata seperti itu Nak, apa yang terjadi pada Clara atau pun Maya sama sekali bukan salahmu, tapi karna perbuatan mereka sendiri, mungkin semua ini adalah balasan atas semua kejahatan mereka, jadi jangan pernah merasa bersalah," ucap tuan Rudi, ia tidak suka saat Kanzia menyalahkan dirinya.


"Aku hanya–" ucapan Kanzia terpotong.


"Sudahlah yang perlu kamu pikirkan sekarang hanyalah fokus pada kebahagiaanmu dan juga kehamilan mu, jangan sampai kamu stres karna itu akan membahayakan cucu Ayah," ucap tuan Rudi.


"Iya ayah," jawab Kanzia.


"Kamu telponan dengan siapa?" tanya Abian sambil mengibas ngibaskan rambutnya yang masih basah.


"Oh ... itu aku tadi menelpon Ayah dan menanyakan soal kondisi Clara," jawab Kanzia apa adanya. Ia menghampiri Abian lalu mengambil handuk kecil di tangan sang suami dan membantunya untuk mengeringkan rambutnya.


"Hanya itu?" tanya Abian yang mendudukkan tubuhnya di ranjang, agar memudahkan Kanzia yang mengeringkan rambutnya.


"Iya," jawab Kanzia.


"Hari ini kamu jadi ikut ke kantor, kan?" tanya Abian sambil menempelkan kepalanya pada perut Kanzia yang sudah mulai terlihat menonjol.


"Iya jadi," jawab Kanzia. "Bian apa aku masih belum boleh kembali bekerja?" tanya Kanzia.


"Belum, maafkan aku bukannya aku ingin membatasi aktivitasmu sayang, aku hanya khawatir dengan keselamatan mu, apalagi saat ini aku sangat sibuk dengan urusan kantor," jawab Abian.


"Bukannya ada banyak anak buah mu yang akan menjaga dan melindungi ku," ucap Kanzia.


"Aku tidak bisa mempercayai orang lain lagi untuk menjaga mu, pokoknya kamu harus tetap berada di sampingku untuk sementara waktu," ucap Abian tidak ingin di bantah.

__ADS_1


"Tapi apa yang bisa aku lakukan di kantormu Bian ..." keluh Kanzia.


"Kamu bisa bertemu dengan Tania, nanti aku akan memintanya untuk menemanimu selama aku bekerja," ucap Abian sambil merapikan penampilannya.


"Ayo sayang kita berangkat," ucap Abian lalu menggandeng tangan Kanzia untuk turun dari kamarnya.


Kanzia pun hanya bisa pasrah menuruti semua ucapan Abian, apalagi semua itu untuk kebaikan dirinya dan calon anak mereka.


*****


Abian dan Kanzia telah sampai di perusahaan Pramudya grup. Abian melangkah dengan penuh wibawa memasuki gedung perusahaannya sambil menggenggam tangan Kanzia.


Setelah sampai di lantai paling atas tempat ruangan Abian, Kanzia langsung menghampiri Tania di ruang kerjanya, tapi ia tidak menemukan keberadaan temannya itu di sana.


"Bian ..." panggil Kanzia masuk ke ruangan Abian dengan langkah terburu buru.


"Hati hati sayang, ingat di perutmu ada anak kita," ucap Abian mengingtkan Kanzia agar ia tetap hati hati.


Kanzia tidak memperdulikan ucapan Abian. "Bian, kamu bilang hari ini Tania akan menemaniku, tapi kenapa dia tidak ada di ruangannya? Kamu tidak membohongiku kan?" tanya Kanzia dengan ekspresi kecewa.


"Aku tidak pernah membohongimu, aku juga tidak tau kalau Tania tidak ada di ruang kerjanya, mungkin saja dia belum datang, sebaiknya kamu tunggu saja di sini aku ingin menghubungi Kevin, tumben sekali dia belum datang sampai jam segini," ucap Abian.


Abian meraih ponselnya untuk menelpon Kevin. Tapi baru saja Abian hendak menekan nomor Kevin tiba tiba saja asistennya itu masuk ke ruangannya diikuti oleh Tania di belakangnya.


"Maaf Tuan saya terlambat," ucap mereka bersamaan.


Sementara Kanzia dan Abian hanya diam saja sambil saling menatap saat melihat dua orang yang menundukkan kepalanya di hadapan Abian.


"Sayang apakah kamu juga berpikiran yang sama denganku?" gumam Abian.


.


.


.


Bersambung . . . . . .

__ADS_1


__ADS_2