Merubah Istri Gendut

Merubah Istri Gendut
BAB 69 : Pergi


__ADS_3

Pagi harinya.


"Pa, kamu harus memberikan pelajaran pada Kanzia, dia sudah berani menyakiti putri kita," ucap Maya pada Rudi.


"Berhenti menyalahkan Kanzia atas kesalahan yang kalian perbuat, Clara mendapatkan hal itu karna perbuatannya sendiri dan aku yakin itu semua pasti saran darimu," ucap Rudi sambil tetap fokus dengan korannya.


"Pa, apa kamu sadar dengan tindakanmu saat ini? Kamu bisa melukai putrimu jika kamu terus terusan bersikap seperti ini," ucap Maya lalu duduk sambil menyilang kan kakinya di hadapan Rudi.


"Aku sangat sadar Maya, jadi berhenti membuat masalah dengan Kanzia."


"Rudi apa kamu ingin putrimu mengalami apa yang aku lakukan pada ibunya?"


Rudi melipat koran yang dibacanya dan menaruhnya di atas meja. "Maya, kali ini aku tidak akan membiarkan kamu melakukan hal itu pada putriku," ucap Rudi sambil menatap Maya.


"Rudi, Rudi ... sepertinya kamu merasa sudah di atas awan setelah mengetahui jika orang yang menikahi putrimu itu adalah tuan Jonathan, tapi jangan kamu pikir aku akan takut hanya karna hal itu, aku bisa saja melenyapkan nyawa putrimu kapanpun aku mau," ancam Maya pada Rudi.


Maya tidak terima saat melihat sikap Rudi yang kembali berani menolaknya, bahkan saat ia melihat Kanzia memberikan pelajaran pada Clara ia sama sekali tidak peduli dan bersikap acuh pada Clara.


"Berhenti mengancam ku dengan kata kata itu Maya!" Bentak Rudi dengan rahang yang sudah mengeras.


"Sudahlah Rudi kamu tidak perlu bersikap seperti ayah yang baik untuk Kanzia, karna sampai kapan pun Kanzia tetap akan membencimu, apalagi kalau sampai dia mengetahui jika kamu telah mengkhianati ibunya dan mengetahui fakta jika Clara adalah putri kandungmu, apa kamu pikir ia akan baik baik saja, putri kesayanganmu itu pasti akan sangat terluka," ucap Maya dengan senyum liciknya.


"Apa kamu pikir aku diam karna pasrah membiarkanmu melakukan apapun pada putriku, kamu salah besar Maya selama ini aku mencari bukti yang kuat untuk membuatmu mendekam di penjara atas kematian istriku dan aku akan pastikan kamu membayar semuanya."


"Cih, kamu terlalu percaya diri Rudi ... sampai kapanpun kamu tidak akan pernah bisa melakukan hal itu padaku, karna sebelum kamu memenjarakan ku, aku akan membuatmu kehilangan putri kesayangan mu itu," ucap Maya tanpa ada sedikitpun rasa takut dan penyesalan atas perbuatannya.


"Sayangnya sebelum kamu melenyapkan istriku, aku yang terlebih dahulu membuatmu mendekam di penjara bersama kekasihmu itu," ucap Abian yang tiba tiba saja muncul di ruang tamu.


Tentu saja Maya tersentak kaget saat melihat Abian yang masih ada di rumahnya, ia pikir Abian dan Kanzia langsung pulang setelah kejadian tadi malam.


"Tuan ini—" perkataan Maya terputus, karna ucapan Abian.


"Aku telah menyuruh orang ku untuk mencari semua bukti kejahatan mu selama ini dan mereka sudah menyerahkannya ke pihak berwajib, jadi bersiaplah sebentar lagi polisi akan datang untuk menjemput mu," ucap Abian dengan ekspresi datar.


"Tuan apa maksud anda?" Maya tiba tiba saja merasa takut saat mendengar ucapan Abian.


"Apa ucapan ku barusan masih kurang jelas?" Abian kembali bertanya.


"Tapi tuan anda tidak bisa menuduh saya tanpa bukti, saya bisa saja menuntut Anda kembali," ucap Maya berusaha berkilah dari kejahatannya.


"Sekarang tidak ada lagi yang akan menutupi semua kejahatan mu nyonya, karna kekasihmu juga sudah menunggumu di dalam penjara," ucap Abian.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu polisi tiba tiba saja sudah masuk ke rumah tuan Rudi bersama asisten Kevin.


"Nyonya Maya anda kami tangkap atas tuduhan pembunuhan berencana terhadap nyonya Renata lima belas tahun lalu dan percobaan pembunuhan terhadap Nona Kanzia." Polisi langsung saja memborgol tangan Maya dan hendak membawanya ke kantor polisi.


"Lepaskan! Beraninya kalian menangkapku tanpa ada bukti, kalian pasti akan menyesal telah melakukan ini padaku!" Maya terus berontak saat polisi menyeretnya untuk ke luar dari rumah tuan Rudi.


Clara yang baru saja keluar dari kamarnya dan melihat Maya digiring oleh orang orang berseragam, langsung berlari menghampiri ibunya.


"Apa yang kalian lakukan pada Mamaku! Ayah cepat lakukan sesuatu, jangan biarkan mereka membawa Mama pergi," ucap Clara meminta bantuan pada Rudi.


"Maafkan ayah Clara, Mamamu harus membayar atas semua kejahatannya," ucap Rudi dan membiarkan polisi membawa istrinya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Abian memberikan isyarat pada para petugas polisi untuk segera membawa Maya ke kantor polisi.


"Tidak! Jangan bawa mamaku!" teriak Clara sambil mengejar Maya yang dibawa oleh polisi.


"Berhenti bersikap seperti ini, yang harus kamu lakukan adalah membalas mereka semua Clara," bisik Maya pada Clara yang langsung dijawab anggukan olehnya.


Maya akhirnya membiarka polisi membawanya, ia terus menatap Rudi penuh benci. "Seandainya saja kamu menerima perasaanku semua ini tidak akan pernah terjadi, kamu terus menolak ku tapi dengan begitu mudahnya kamu menyerahkan hatimu pada wanita tidak jelas itu," batin Maya.


"Ini semua pasti gara gara Kanzia ... iya pasti gadis sialan itu yang telah melaporkan Mamaku," ucap Clara mengepalkan tangannya.


"Clara," panggil Rudi.


"Kanzia! Keluar kamu! Aku akan membunuhmu!" teriak Clara tanpa memperdulikan ucapan Rudi.


Sementara Kanzia yang dari tadi diam diam menyaksikan semua itu dari awal, meremas dadanya yang tiba tiba merasa sesak saat mengetahui fakta tentang kematian Bundanya ditambah lagi dengan satu fakta jika Clara adalah anak kandung ayahnya, itu artinya ayahnya telah mengkhianati Bundanya selama ini.


"Aku benar benar tidak bisa mencerna semua ini, takdir benar benar sedang mempermainkan ku," ucap Kanzia lirih, ia menutup mulutnya agar suara tangisnya tidak terdengar.


"Aku harus pergi dari tempat ini," gumam Kanzia sambil menghapus air matanya.


Ia pun diam diam keluar dari rumah itu lewat pintu belakang, saat ini ia hanya ingin sendiri, ia merasa semua orang mempermainkan hidupnya dan ia sangat yakin Abian juga pasti sudah mengetahui tentang hal itu.


*****


Di ruang tamu Clara masih terus berteriak memanggil Kanzia.


"Clara! Berhenti bertingkah seperti ini, semua ini terjadi karna perbuatan Mamamu sendiri, jadi berhenti menyalahkan Kanzia!" bentak Rudi yang mendengar ucapan Clara.


"Ayah bukankah aku juga putri kandungmu, tapi kenapa hanya Kanzia yang ada dipikiran ayah! Ini semua juga salah ayah, seandainya ayah menerima Mama semua ini tentu tidak akan pernah terjadi," ucap Clara.

__ADS_1


"Kamu sudah dewasa Clara, seharusnya kamu tau jika cinta tidak bisa dipaksa, ayah tidak pernah mencintai Mamamu tapi ia malah melakukan hal kotor untuk menjebak ayah."


"Tapi selama ini ayah tidak pernah menganggap ku," ucap Clara.


"Berhenti bersikap seolah olah kamu yang menjadi korbannya, istriku selama ini jauh lebih menderita akibat keserakahan kalian," ucap Abian.


"Satu lagi, jangan coba coba menyentuh istri, seujung kuku saja kamu melukainya aku akan membuatmu membayarnya dengan hidupmu," Abian memberi peringatan pada Clara.


Nyali Clara langsung menciut mendengar ancaman Abian.


"Tuan," ucap Bi Yanti terlihat cemas.


"Bik apa istriku sudah bangun?" tanya Abian.


"Tuan Nona Kanzia tidak ada di kamarnya," ucap Bi Yanti memberitahu Abian.


"Apa kamu sudah mencarinya di tempat lain?"


"Sudah tuan tapi salah satu pelayan sempat melihat Nona Kanzia keluar lewat pintu belakang.


Abian pun segera mencari Kanzia di kamarnya dan benar saja Kanzia sudah tidak ada di sana, ia hanya menemukan tas dan ponsel istrinya.


Abian segera mengambil ponselnya dan menghubungi anak buahnya untuk mencari Kanzia.


"Kevin cepat kita harus segera mencari istriku!" perintah Abian pada Kevin yang masih menunggunya di mobil.


.


.


.


Bersambung . . . . . .


Jangan lupa di like👍🏻


Komen


Favorit


Vote

__ADS_1


__ADS_2