Merubah Istri Gendut

Merubah Istri Gendut
BAB 91 : Pengkhianat


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Sinta kemarin, kalau malam ini mereka akan melancarkan rencananya untuk menyingkirkan Kanzia. Semuanya telah mereka persiapkan dengan matang, mereka tidak ingin rencanannya kali ini gagal untuk mendapatkan semua aset keluarga Wiguna.


"Apakah semuanya sudah siap?" tanya nyonya Sinta.


"Sudah," jawab tuan Bara sambil menatap istrinya dengan senyum yang tidak bisa dibaca. "Setelah berhasil membuatnya menandatangani surat pengalihan aset ini, barulah kita melenyapkan gadis itu." Tuan Bara dengan penuh percaya diri mengatakan hal itu, ia sangat yakin rencana kali ini akan berhasil.


"Apa kamu yakin orang itu akan menerima tawaran itu dan mengikuti semua yang kita perintahkan? Ia tidak akan mengkhianati kita kan?" tanya nyonya Sinta.


"Kamu tenang saja dia pasti akan menerima tawaran itu dan akan aku pastikan dia tidak akan berani untuk mengkhianati kita."


"Syukurlah kalau kamu sudah memastikan hal itu, aku hanya tidak ingin rencana kita kali gagal, karna itu akan membuat semua usaha kita selama ini akan sia-sia."


"Kamu tidak perlu khawatir ini bukan pertama kalinya kita melakukan hal seperti ini, kita pasti akan berhasil, apalagi yang akan kita singkirkan kali ini hanyalah batu kecil yang tidak memiliki kekuatan apa apa," ucap Tuan Bara dengan sombongnya.


*****


Sementara itu di tempat lain, di perusahaan Pramudya grup, Abian sedang memeriksa sebuah berkas yang berisi informasi tentang Tania yang baru saja diberikan oleh assisten Kevin.


"Apa kamu yakin kalau semua ini benar?" tanya Abian sambil tetap fokus membaca semua yang tertera di kertas tersebut, memastikan kebenaran dari informasi yang di berikan Kevin.


"Iya Tuan, Nona Tania sama sekaliĀ  tidak terlibat dengan kejahatan kedua orang tuanya, bahkan sekarang ia sudah tidak tinggal bersama mereka," jelas Kevin.


Bukannya ia meragukan kemampuan Kevin, tapi ia hanya tidak ingin sampai kecolongan lagi soal keselamatan Kanzia, ia harus lebih waspada dari sebelumnya apalagi lawan mereka adalah pasangan suami istri yang sangat licik itu, mereka tidak akan pernah menyerah sebelum apa yang mereka inginkan di dapatkannya.


"Kita harus segera mengakhiri perbuatan mereka, pasangan suami istri itu sudah terlalu lama bermain main, sekarang sudah saatnya mereka membayar atas semua perbuatannya," ucap Abian pada Kevin.


"Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya Tuan?" tanya kevin.

__ADS_1


Bukannya menjawab pertanyaan Kevin, Abian malah tersenyum misterius kearah asistennya sambil memegang dagunya, entah apa yang sedang ia pikirkan.


"Jika tidak ada lagi yang ingin kamu sampaikan kamu boleh keluar dan lanjutkan pekerjaanmu," ucap Abian.


"Baik Tuan," ucap Kevin yang mengerti maksud ucapan Abian, dan ia pun keluar dari ruangan Tuannya.


Malam harinya.


Kanzia yang baru saja selesai dengan pekerjaannya mendapatkan telpon dari Abian.


"Hallo Bian kamu di mana? Aku dari tadi sudah menunggu kamu di kantor," ucap Kanzia. Ia sudah menunggu kedatangan Abian untuk menjemputnya tapi Abian tak kunjung datang.


"Maaf sayang, makanya aku menelpon mu, aku tidak bisa menjemputmu malam ini, karna aku harus bertemu klien penting, tapi aku sudah menyuruh pak Muh untuk menjemputmu," ucap Abian mengabarkan Kanzia, entah kenapa ia yang hendak menjemput Kanzia tiba tiba saja mendapatkan email dari salah satu klien pentingnya dan mengajaknya untuk bertemu malam ini.


"Baiklah, kalau begitu kamu hati hati," ucap Kanzia.


"Iya istriku ... ingat kalau ada apa apa cepat hubungi aku," ucap Abian. Ia selalu khawatir setiap kali Kanzia tidak bersamanya apalagi dengan kondisi Kanzia yang saat ini sedang mengandung.


Setalah mematikan sambungan telponnya kurang dari tiga menit, mobil yang dikendarai Pak Muh telah tiba di depan perusahaan Angkasa grup.


"Maaf Nyonya muda saya terlambat," ucap Pak Muh sambil menundukkan kepalanya dan membukakan pintu mobil untuk Kanzia.


"Iya Pak, gak papa lagian aku juga baru saja selesai dengan pekerjaanku, jadi aku tidak terlalu lama menunggu," ucap Kanzia sambil tersenyum ramah pada pak Muh.


Setelah Kanzia masuk ke mobil, Pak Muh menawarkan Kanzia untuk minum. "Sebaiknya Nyonya Kanzia minum dulu, biar lebih segar selama perjalanan," ucap pak Muh menyodorkan sebotol air mineral pada Kanzia.


"Terimakasih Pak ..." ucap Kanzia lalu mengambil minuman tersebut dan Kanzia langsung meminum air yang diberikan pak Muh tanpa sedikit pun rasa curiga.

__ADS_1


Pak Muh tersenyum saat melihat Kanzia meminum air tersebut, dan ia pun kembali melajukan mobilnya untuk membawa Kanzia pulang.


Tapi di tengah perjalanan Kanzia merasa heran saat menyadari jalan yang mereka lewati bukanlah jalan biasanya. Ia merasa aneh dengan pak Muh tapi ia tetap berpikir positif dan mengira mungkin saja pak Muh sedang ada keperluan di tempat lain.


Tapi semakin jauh mobil melaju ia semakin merasa aneh, karna jalan yang mereka lewati semakin jauh dari jalan raya dan pemukiman penduduk.


"Loh Pak kenapa kita lewat jalan ini? Ini kan bukan jalan ke rumah?" tanya Kanzia mulai curiga.


"Maaf Nyonya muda saya harus menyerahkan anda pada seseorang," ucap Pak Muh tiba tiba, sambil tetap fokus dengan jalan.


"Apa maksud Pak Muh akan menyerahkan saya ke seseorang?" tanya Kanzia sangat terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan supir kepercayaan suaminya itu.


"Saya hanya diminta untuk membawa anda ke suatu tempat, Nyonya dan saya mendapatkan bayaran yang sangat besar untuk hal itu."


"Pak Muh apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan itu?"


"Saya sangat sadar Nyonya muda," jawab pak Muh.


"Apakah kamu telah mengkhianati suamiku Pak Muh?" tanya Kanzia kembali, ia berusaha untuk menghentikan pak Muh, tapi tubuhnya tiba tiba saja terasa lemah tidak bertenaga, dan ia baru menyadari jika penyebabnya adalah dari air yang baru saja diberikan oleh pak Muh.


"Apa yang kamu berikan padaku pak Muh?" ucap Kanzia dengan suara lemah.


"Maaf Nyonya anak saya sedang sakit dan saya membutuhkan biaya yang lumayan banyak untuk kesembuhan anak saya, jadi saya terpaksa menerima tawaran itu, anda tidak perlu khawatir soal apa yang baru saja saya berikan, karna obat yang di campurkan pada air itu hanya akan membuat anda kehilangan tenaga jadi itu aman untuk kandungan anda," ucap pak Muh.


"Bukankah kamu bisa mengatakannya pada suamiku, pasti ia akan membantumu kenapa kamu harus melakukan hal seperti ini," ucap Kanzia dengan suara lemah, karna ia benar benar tidak memiliki tenaga bahkan untuk sekedar bicara pun ia harus berusaha mengumpulkan tenaganya.


"Semuanya sudah terjadi Nyonya muda, jadi anda hanya bisa pasrah sekarang, karna saya tidak mungkin menghentikan semuanya karna keselamatan keluarga saya jadi jaminannya jika saya gagal."

__ADS_1


Kanzia pun hanya bisa pasrah membiarkan ke mana pak Muh akan membawanya dan ia sudah bisa menebak siapa orang yang telah merencanakan hal ini.


Bersambung . . . . . .


__ADS_2