
Hari dengan begitu cepat berlalu, dan keadaan saat ini sudah kembali normal. Abian sudah merasa tenang karna sudah tidak ada lagi orang yang akan melukai istrinya, mereka semua telah mendapatkan hukumannya masing masing atas semua kejahatannya.
Hanya saja Abian harus lebih bersabar dalam mengahadapi kemauan bumil cantiknya yang suka sekali meminta dirinya melakukan sesuatu yang aneh aneh.
Seperti pagi ini Abian yang sangat tidak menyukai susu dengan terpaksa harus meminum susu yang dibuatkan Kanzia, karna kalau tidak istrinya itu pasti akan ngambek dan mendiamkannya, bahkan ia bisa sampai menangis, jadi dari pada hal itu terjadi Abian lebih baik menuruti permintaan sang istri.
Bukan cuma itu Kanzia juga memintanya untuk membawa kotak bekal makan siang, berwarna pink dengan motif princess. Bahkan suatu ketika Kanzia pernah menyuruhnya menggunakan daster saat di rumah dan mendandaninya. Abian benar benar harus ekstra sabar dalam menghadapi mood Kanzia selama masa kehamilannya.
"Ayo sayang habiskan," ucap Dira, sambil terus menatap Abian penuh kagum.
Abian hanya bisa mematuhi semua yang di katakan Kanzia, dan menghabiskan susu yang telah dibuat Kanzia, sementara kakek Abian tersenyum miring menyaksikan hal itu, ia sangat puas melihat cucunya yang angkuh dan dingin itu tidak dapat melakukan apa apa di hadapan istrinya.
"Akhirnya sekarang kamu memiliki lawan yang sepadan," ucap kakek Abian tersenyum mengejek kearah cucunya itu.
Abian hanya melirik sang kakek, tanpa membalas ucapan kakeknya, ia tetap cuek sambil terus menyuapi Kanzia.
Di tengah tengah sarapan, Bik Sofi tiba tiba saja menghampiri Abian dan Kanzia di meja makan.
"Maaf Tuan mengganggu, tapi di depan ada seorang wanita yang sedang mencari Nona Kanzia."
"Siapa Bik?" tanya Kanzia sambil menatap Bik Sofi, karna tidak biasanya ada orang yang mencarinya, apalagi ia tidak mempunyai teman atau kerabat dekat kecuali satu orang teman, yaitu Tania. Kalau itu Vita pasti dia sudah langsung menemuinya.
"Saya juga tidak tau Nona, dia hanya mengatakan kalau dia adalah teman Nona," jawab Bik Sofi.
"Kalau gitu suruh dia masuk, aku akan menemuinya di ruang tamu setelah selesai sarapan."
"Baik Non," ucap Bik Sofi dan ia pun langsung beranjak dari sana untuk menemui tamu itu kembali.
Setelah sarapan Kanzia segera menemui orang yang mencarinya dan ia sangat terkejut saat mengetahui kalau orang itu adalah Tania, karna sejak kejadian penangkapan Bara dan Sinta, ia tidak pernah bertemu atau pun bertukar kabar dengan Tania, bahkan sebelum kejadian itu dia telah mengundurkan diri dari perusahaan Pramudya grup.
"Tania," ucap Kanzia sambil melangkah mendekat kearah sofa tempat Tania menunggunya.
"Zia," ucap Tania sambil berdiri menyambut kedatangan Kanzia.
Kanzia langsung memeluk Tania, ia sebenarnya merasa bersalah pada teman sekaligus sepupunya itu, karna dirinya orang tua Tania harus dipenjara, tapi ia tidak bisa melakukan apa apa untuk membantunya karna mereka harus tetap mempertanggung jawabkan perbuatannya, seandainya saja mereka mau berubah dan meminta maaf padanya pasti ia akan berusaha untuk melupakan semuanya, tapi sayangnya hati mereka telah dipenuhi oleh keserakahan.
"Kamu ke mana saja selama beberapa hari ini Tania?" tanya Kanzia begitu ia sudah melepaskan pelukannya.
"Aku gak kemana mana, hanya di rumah saja," jawab Tania sambil tersenyum.
"Tapi kenapa tidak mengabari ku, aku khawatir aku pikir kamu membenciku," ucap Kanzia terlihat sendu.
"Hei, kenapa aku harus membencimu? Aku yang seharusnya berpikiran seperti itu, karna perbuatan orang tuaku kamu harus mengalami banyak kesulitan bahkan mereka hampir saja membuat kamu celaka. Tapi kamu masih mau menemui ku, bahkan kamu masih bisa mengkhawatirkan putri dari orang yang selalu ingin melenyapkan mu," ucap Tania. Ia lah yang merasa bersalah pada Kanzia, ia tidak menghubungi Kanzia bukan karna ia membencinya tapi karna ia merasa malu dengan Kanzia atas apa yang pernah dilakukan Mama dan Papanya.
"Zia aku kesini ingin meminta maaf atas nama keluargaku, walaupun itu tidak akan bisa mengubah segalanya. Maaf atas semua perbuatan kedua orang tuaku dan jangan pernah merasa bersalah padaku. Sekalian aku juga ingin berpamitan padamu Zia," ucap Tania.
"Berpamitan? Memangnya kamu mau pergi kemana?" tanya Kanzia dengan ekspresi bingung.
"Aku ingin mengejar mimpiku yang sempat tertunda, karna aku harus mengikuti semua keinginan kedua orang tuaku, aku ingin pergi ke negara B, beberapa hari yang lalu aku mendapatkan tawaran dari sebuah agensi besar di sana, aku akan memulai impianku menjadi seorang model internasional di tempat itu memulai semuanya dari awal," jelas Tania, mengutarakan keinginannya selama ini.
"Jika itu memang yang kamu inginkan, aku hanya bisa mendukung keputusanmu itu, dan mendoakan yang terbaik, tapi jangan lupa untuk selalu mengabariku," ucap Kanzia sambil tersenyum.
__ADS_1
"Terimakasih Kanzia, aku janji aku pasti akan sering sering mengabari mu, aku bolehkan menganggap mu sebagai keluargaku Zia?"
"Tentu saja, bukankah kita memang keluarga," jawab Kanzia.
"Terimakasih Kanzia ..." ucap Tania langsung memeluk tubuh Kanzia. Ia benar benar terharu mendengar ucapan Kanzia yang mau menganggapnya sebagai keluarga.
"Udah lepasin kamu memelukku terlalu erat, kasian keponakanmu," ucap Kanzia pada Tania yang langsung melepaskan pelukannya.
"Astaga, keponakan aunty maaf ya ..." ucap Tania sambil mengelus perut Kanzia yang sudah mulai terlihat membuncit.
Mereka tertawa bersama di ruang tamu, menghabiskan waktu sebelum Tania berangkat ke bandara.
Sementara Abian hanya tersenyum dari jauh saat melihat senyum Kanzia, ia berjanji untuk selalu membuat sang istri selalu tersenyum. Ia tidak akan membiarkan siapa pun membuat istrinya sedih apalagi sampai terluka.
"Apa pun akan aku lakukan untuk melindungi mu dan selalu membuatmu bahagia Kanzia Ayudia Renata, itulah janjiku padamu dan permintaan almarhum kakek untuk menjaga cucu cantiknya," batin Abian sambil terus menatap sang istri yang terlihat tertawa bahagia.
*
*
Beberapa bulan kemudian.
Abian yang baru saja selesai meeting mendapatkan telpon dari Bik Sofi kalau Kanzia sepertinya akan melahirkan dan saat ini sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.
"Kevin, bisakah kamu lebih cepat lagi membawa mobilnya!" saking paniknya Abian sampai membentak Kevin.
"Iya Tuan," jawab Kevin hanya bisa mengiyakan ucapan Abian, padahal ia telah membawa mobil dengan kecepatan paling tinggi.
Beberapa menit kemudian mobil yang membawa Abian telah sampai di rumah sakit tempat Kanzia dibawa oleh orang orang rumahnya.
Abian turun dari mobil dengan tergesa gesa, ia berlari melewati koridor rumah sakit menuju ruang bersalin dengan wajah diliputi oleh kecemasan, ia menyesali dirinya yang tidak peka dengan kondisi istrinya, padahal tadi pagi Kanzia sudah mulai mengeluh tentang perutnya, seharusnya ia tetap di rumah menemani Kanzia dan tidak meninggalkannya.
Sementara Kanzia yang berada di ruang bersalin sedang berusaha untuk mengeluarkan buah hatinya. Kanzia tampak kehabisan tenaga serta wajahnya sudah terlihat memucat karna menahan sakit akibat dari kontraksi yang cukup lama.
"Kenapa rasanya sakit sekali," ucap Kanzia dengan suara lemah.
"Bian ..." gumam Kanzia, ia merasa saat ini sangat membutuhkan suaminya untuk menguatkannya, ia terus menatap pintu berharap Abian akan segera datang untuk menemaninya berjuang melahirkan buah hatinya.
Bersamaan dengan itu terdengar suara pintu dibuka dan muncullah Abian dengan keringat di wajahnya, karna ia berlari dari parkiran.
"Sayang, maaf aku datang terlambat," ucap Abian merasa bersalah sambil memeluk dan menciumi wajah Kanzia.
Kanzia tidak membalas ucapan Abian ,ia hanya menanggapi perkataan Abian dengan tersenyum kearahnya, ia sangat senang saat melihat kedatangan suaminya.
Kanzia kembali meringis, karna rasa sakit itu kembali datang, ia spontan mencengkram lengan kokoh Abian dengan sangat kuat.
"Sayang," ucap Abian dengan raut wajah di penuhi kecemasan saat melihat ekspresi kesakitan Kanzia.
"Bian, sakit ... aku gak kuat ... sshh ..." Kanzia terus meringis cengkeramannya pada lengan Abian semakin kuat.
"Baiklah kalau gitu kita mulai lagi ya buk sepertinya ini udah waktunya, kayaknya baby nya menunggu kedatangan papanya," ucap dokter dan mulai memberikan instruksinya pada Kanzia untuk mengejan.
__ADS_1
"Tarik napas dalam dalam, kemudian keluarkan perlahan, bagus Bu sekarang dorong yang kuat, terus dorong ... dorong lagi ..." ucap dokter terus memberikan instruksinya, sampai akhirnya bayi merah itu berhasil di keluarkan dari rahim sang ibu.
Akhirnya Kanzia berhasil, rasa sakit yang tadi ia rasakan seketika menghilang saat melihat bayi mungil dengan jenis kelamin perempuan itu.
Dokter menepuk halus pantat dan punggung sang cabang bayi, sampai akhirnya terdengar suara tangis dari bayi cantik itu.
Kanzia pun bernapas lega setelah mendengar suara tangis dari bayinya. Sementara Abian tidak henti hentinya memberikan ciuman pada sang istri sambil terus mengucapkan kata terimakasih.
"Terimakasih sayang ..." ucap Abian sambil mencium dan mengelus puncak kepala Kanzia. Ia benar benar terharu melihat perjuangan Kanzia dalam melahirkan buah hati mereka, bahkan ia sampai meneteskan air mata.
Abian dan Kanzia menatap takjub pada sosok mungil yang sedang di letakkan pada dada terbuka Kanzia.
Bayi mungil itu mulai bergerak halus dalam dekapan Kanzia dan mulai mencari sumber ASI-nya.
"Sekali lagi terimakasih sayang, kamu telah memberikan ku hal yang sangat berharga ini," ucap Abian kembali dan mencium bibir Kanzia.
Tatapan mereka kembali pada putri kecilnya yang terlihat sangat menggemaskan, bibir mungilnya terus bergerak berusaha mendapatkan apa yang diinginkannya.
Kanzia diam diam meneteskan air matanya, ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan sebahagia dan seindah saat ini, setelah melalui berbagai lika-liku kehidupan yang selalu membuatnya merasa sesak. Berkat suami misteriusnya yang tiba tiba datang dan meminta untuk menikahinya, Abian membantunya untuk merubah takdir hidupnya, menjadikannya wanita yang kuat. Abian Jonathan pramudya benar benar telah berhasil merubah istri gendutnya.
.
.
End
Author ucapkan banyak terimakasih pada para readers yang tetap setia dan selalu memberikan dukungan buat karya receh othor.
Dukungan kalian sangat berharga bagi author, sekaligus menjadi penyemangat untuk terus belajar supaya karya berikutnya bisa lebih baik.
Maaf kalau ceritanya kurang memuaskan dan masih banyak penulisan yang kurang tepat.
Sekali lagi terimakasih untuk semua dukungannyaππππ
Sayang kalianππππππ
__ADS_1