Merubah Istri Gendut

Merubah Istri Gendut
BAB 70 : Mencari Kanzia


__ADS_3

Abian segera mengajak Kevin untuk mencari Kanzia dan tujuan pertamanya adalah pemakaman.


"Kevin kita langsung ke pemakaman," ucap Abian pada Kevin yang langsung melajukan mobil menuju makam bunda Kanzia.


Abian semakin dibuat panik saat ia tidak menemukan keberadaan istrinya di tempat itu, ia kembali menghubungi anak buahnya, tapi mereka belum menemukan keberadaan Kanzia.


"Arghh ... sial! Kanzia pasti mendengar semuanya," ucap Abian sambil meremas rambutnya prustasi.


Abian telah menelusuri semua tempat yang biasa di datangi oleh Kanzia, tapi ia tetap tidak menemukan keberadaan istrinya, bahkan ia menemui Tania satu satunya sahabat Kanzia untuk menanyakan keberadaan istrinya.


"Kamu Tania bukan?" tanya Abian yang baru saja tiba di kantor dan langsung menemui Tania di ruang divisinya.


"Iya tuan," jawab Tania gugup sekaligus heran, karna untuk pertama kalinya bosnya itu mengajaknya bicara.


"Apa kamu tau sekarang Kanzia ada di mana? Atau tempat yang sering ia kunjungi?" tanya Abian dengan raut wajah yang terlihat panik.


"Maaf tuan sudah beberapa hari ini Kanzia tidak pernah menghubungi saya," jawab Tania.


"Berarti kamu tidak tau dia ada di mana sekarang?"


"Iya tuan," jawab Tania.


"Kamu di mana Zia ... jangan buat aku khawatir seperti ini," gumam Abian sambil melangkah pergi dari ruangan itu.


"Kevin ke mana aku harus mencari istriku?" tanya Abian pada Kevin setelah ia kembali ke mobilnya.


"Maaf tuan bukankah Anda telah memasang alat pelacak di cincin nikah Nona muda, tuan bisa melihat keberadaan nona Kanzia jika ia tetap menggunakannya." Kevin memberikan saran pada Abian.


"Astaga ... kenapa aku bisa melupakan hal itu," ucap Abian sambil menghela napas, saking paniknya ia sampai tidak bisa berpikir jernih. "Terimakasih sudah mengingatkan ku," ucap Abian pada Kevin.


"Sudah menjadi tugas saya tuan," jawab Kevin lalu ia pun kembali melajukan mobilnya untuk mencari Nona mudanya.


******


Sementara itu di sebuah taman hiburan yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah ayahnya. Tampak seorang wanita cantik tengah duduk dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


Ya, jadi Kanzia melarikan diri dari orang orang ke tempat yang dulu sering ia datangi bersama kedua orang tuanya, setiap akhir pekan Ayah dan Bundanya pasti akan mengajaknya untuk ke tempat ini.


"Bunda, kenapa bunda membiarkan Zia sendiri, kenapa bunda tidak mengajakku ikut denganmu ..." gumam Kanzia sambil menghapus air mata yang tidak henti hentinya keluar.


"Aku sudah lelah ..." gumamnya kembali, entah kenapa saat ini ia benar benar tidak bisa mengontrol emosinya.


"Ternyata wanita galak sepertimu bisa menangis juga," ucap seseorang yang tiba tiba saja sudah berada di samping Kanzia sambil menyodorkan sapu tangan, tapi Kanzia tidak memperdulikan keberadaan orang itu.


"Hapus air mata mu Nona," ucapnya kembali.

__ADS_1


"Pergilah," ucap Kanzia ketus.


"Saat seperti ini pun kamu masih bisa bersikap jutek Nona ... ini sebaiknya hapus ingus mu," ucapnya sambil terkekeh.


Kanzia pun mengambil sapu tangan itu dengan kasar, tanpa melihat orang yang berada di sampingnya.


Sruttss!!!


Kanzia benar benar menggunakan sapu tangan itu untuk membersihkan hidungnya.


"Terimakasih ..." ucap Kanzia sambil mengembalikan sapu tangan itu.


"Tenyata kamu bukan hanya galak tapi kamu adalah wanita jorok," ucap laki laki tersebut.


Kanzia pun langsung berdiri. "Kalau tidak ikhlas menolongku jangan lakukan! Kenapa semua laki laki sama saja, semuanya menyebalkan!" bentak Kanzia, yang entah kenapa perasaannya saat ini mudah sekali berubah ubah.


"Astaga Nona kenapa marah marah padaku?" tanya pria itu yang terkejut dengan bentakan Kanzia.


"Loh bukannya anda pak Diki?" tanya Kanzia.


Ternyata orang yang dari tadi duduk di sebalahnya adalah Diki, atasannya waktu ia masih bekerja di Pramudya grup.


"Akhirnya kamu mengingatku juga," ucap Diki.


"Astaga, apa kamu memiliki banyak kepribadian Nona? sebentar menangis sebentar lagi marah marah dan sekarang kamu kembali bersikap dingin padaku," ucap Diki yang melihat perubahan sikap Kanzia.


Ia tersenyum samar menatap wanita cantik yang telah ia kagumi sejak pertama kali mereka bertemu di kantor. Sikap dingin Kanzia yang sulit untuk di dekati membuat ia semakin penasaran dengan wanita cantik di hadapannya ini.


Diki yang melihat Kanzia hanya diam saja tidak menanggapi ucapannya, kembali bertanya.


"Tapi kenapa kamu bisa ada di tempat seperti ini?, apa kamu baru saja putus dengan kekasihmu?" tanya Diki ingin tahu.


"Kenapa anda cerewet sekali tuan?" kesal Kanzia.


"Aku hanya merasa aneh saja melihat wanita galak dan jutek sepertimu menangis di tempat seperti ini," ucap Diki.


"Bukan urusan anda," ucap Kanzia lalu sambil beranjak dari duduknya.


Diki mengikuti langkah Kanzia yang terlihat seperti sedang menghindarinya. "Kenapa kamu selalu menghindar setiap kali aku mendekatimu?" tanya Diki.


"Apa aku boleh jujur tuan?" ucap Kanzia menghentikan langkahnya sambil menutup hidungnya.


"Tentu saja," jawab Diki sambil tersenyum.


"Anda sangat bau tuan," ucap Kanzia dengan jujur.

__ADS_1


Diki pun langsung mencium tubuhnya untuk membuktikan ucapan Kanzia. "Sepertinya hidungmu bermasalah Nona, bagaimana bisa kamu mengatakan kalau aku bau, tubuhku sangat wangi bahkan jika aku berkeringat saat ini tidak akan membuat tubuhku mengeluarkan aroma tidak sedap," ucap Diki karna ia sama sekali tidak mencium bau aneh di tubuhnya.


"Tapi tuan beneran bau, aku sampai ingin muntah mencium bau badan anda," ucap Kanzia masih menutup hidungnya.


Diki membelalakkan matanya mendengar ucapan Kanzia yang sampai ingin muntah mencium bau badannya, bahkan ia mengatakan hal itu dengan raut wajah yang sangat serius, padahal ia sangat yakin jika tubuhnya sangat wangi.


"Wah Nona jika ingin menghindari ku gunakanlah alasan yang lebih keren, alasanmu saat ini menyakiti perasaanku," ucap Diki semakin mendekat ke Kanzia.


"Stop! Jangan mendekat!" Kanzia benar benar merasa mual mencium bau badan Diki.


Diki tidak mendengarkan ucapan Kanzia dan terus mendekat, ia berpikir Kanzia mengatakan hal itu hanya untuk menghindari dirinya.


"Jangan coba coba menyentuh istriku!" suara dingin Abian menghentikan apa yang dilakukan Diki.


"Bian ..." gumam Diki yang melihat keberadaan Abian di tempat itu, yang membuatnya terkejut adalah kata istri yang terlontar dari mulut Abian. Sejak kapan sepupunya itu menikah, yang ia tau Abian selama ini tidak pernah dikabarkan dekat dengan wanita manapun.


"Siapa istrimu?" tanya Diki pada Abian.


Abian tidak menghiraukan pertanyaan Diki, tanpa mengatakan apa pun ia langsung mendekap tubuh Kanzia meluapkan perasaannya, mendengar kabar tentang kepergian istrinya yang tiba tiba membuatnya menjadi orang bodoh, rasa takut dan khawatir memenuhi kepalanya.


"Kenapa kamu suka sekali membuatku khawatir Zia ..." ucap Abian semakin memeluk erat tubuh Kanzia.


"Kamu merahasiakan hal penting padaku Bian, kamu membohongiku lagi ..." ucap Kanzia sambil terisak di dalam pelukan Abian.


"Maafkan aku sayang aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya tidak ingin membuat mu terluka jika mengetahui kebenarannya. Aku janji ini yang terakhir," ucap Abian sambil sesekali ia mencium puncak kepala Kanzia.


Abian terus memeluk Kanzia, tanpa memperdulikan seseorang di belakangnya yang sangat terkejut melihat adegan romantis mereka, sampai akhirnya Abian merasakan jika Kanzia melepas pelukannya dan ia tidak merasakan pergerakan pada tubuh Kanzia.


"Zia! Sayang!" pekik Abian yang menyadari jika ternyata istrinya sudah tidak sadarkan diri.


.


.


.


Bersambung . . . . . .


Jangan lupa di like👍🏻


Komen


Favorit


Vote

__ADS_1


__ADS_2