Merubah Istri Gendut

Merubah Istri Gendut
BAB 93 : Ngidam


__ADS_3

"Aaa!" jerit nyonya Sinta, pistol yang ada di tangannya langsung terjatuh. Darah segar mengalir dari lengan kanannya.


Sebelum wanita paruh baya itu melesatkan tembakannya pada Kanzia, Kevin yang sejak tadi terus memperhatikan situasi di tempat itu menyadari pergerakan Nyonya Sinta dan ia pun terpaksa harus melesatkan tembakannya pada lengan wanita itu untuk melindungi Kanzia.


"Cepat bawa mereka, sebelum aku benar benar melenyapkannya dengan tanganku sendiri!" ucap Abian dengan penuh emosi, hampir saja istrinya dalam bahaya, kalau saja Kevin tidak sigap.


Polisi pun segera membawa kedua orang itu masuk ke dalam mobil, sebelum kemarahan pria dingin itu semakin tidak terkontrol dan ia benar benar melakukan apa yang baru saja diucapkannya.


Abian memeluk erat tubuh Kanzia. "Aku tidak akan membiarkan mereka lolos kali ini, mereka harus membayar semua perbuatannya seumur hidupnya. Kevin tetap awasi mereka jangan sampai lengah walaupun mereka sudah ditangkap, karna kedua orang itu terlalu licik," ucap Abian.


Kevin menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Tuannya.


"Bian aku baik baik saja, tolong lepaskan pelukanmu aku tidak bisa bernapas," ucap Kanzia yang merasakan pelukan Abian terlalu erat, membuatnya merasa sedikit sesak.


"Maaf sayang aku terlalu khawatir," ucap Abian melepaskan pelukannya. "Apakah putriku baik baik saja?" ucap Abian sambil berjongkok mengelus perut Kanzia.


"Bian kenapa kamu selalu menyebutnya sebagai seorang putri, bagaimana kalau dia seorang laki laki sepertimu, pasti ia akan sedih," ucap Kanzia.

__ADS_1


"Aku yakin dia adalah seorang putri yang cantik sepertimu, ayo sayang kita pulang," ucap Abian lalu tanpa aba aba ia mengangkat tubuh Kanzia membawanya dalam gendongannya.


"Kevin Ayo."


"Baik Tuan," jawab Kevin dan mengikuti langkah tuannya.


Mereka pun segera beranjak meninggalkan tempat itu. Di perjalanan pulang Abian tidak henti hentinya mencium kepala Kanzia yang sudah terlelap dalam dekapannya, sementara Kevin dari tadi ia hanya bisa menyaksikan kemesraan antara Tuan dan Nona mudanya, sambil tetap fokus menyetir.


"Semuanya sudah berakhir, sudah tidak ada lagi yang akan menghalangi kebahagiaanmu, walaupun itu masih ada selama aku masih bernapas aku akan selalu menjagamu aku tidak akan membiarkan siapa pun melukaimu, kamu sudah banyak mengalami kesulitan selama ini dan sekarang saatnya kamu bahagia." batin Abian sambil terus menatap wajah lelap Kanzia.


Pagi harinya.


"Selamat pagi istriku ..." ucap Abian lalu memberikan ciuman pada bibir merah Kanzia.


Kanzia yang mendapatkan ciuman tiba tiba dari Abian langsung mendorong dada suaminya itu, kemudian ia langsung menutup mulutnya setelah Abian melepaskan ciumannya, karna ia mulai merasakan tidak nyaman di perutnya.


"Kenapa sayang?" tanya Abian khawatir, saat menyadari wajah Kanzia terlihat tidak nyaman.

__ADS_1


"Ak–" ucap Kanzia menutup mulutnya.


Abian yang mengerti kalau istrinya sedang mual, dengan cepat mengangkat tubuh Kanzia dan membawanya ke kamar mandi.


Begitu ia sampai di wastafel Kanzia yang sudah tidak tahan dengan gejolak di dalam perutnya langsung saja mengeluarkan semua isi perutnya. Abian dengan telaten membantu Kanzia dan membersihkan sisa muntahan sang istri.


Abian harus mulai terbiasa dengan situasi ini, dimana ia harus menyaksikan istrinya yang setiap pagi terlihat sangat tersiksa dengan wajah pucat setelah menyelesaikan semua rasa tidak nyaman di perutnya.


Beberapa menit kemudian kondisi Kanzia sudah kembali stabil, tapi Abian tetap menyuruhnya untuk berbaring di tempat tidur, setelah sarapan.


Kanzia tidak henti hentinya tersenyum melihat penampilan Abian saat ini, tapi tidak dengan Abian yang terlihat memaksakan senyumnya pada Kanzia, ia berusaha menahan rasa kesalnya demi menuruti keinginan istri tercintanya.


Bagaimana tidak kesal penampilan Abian saat ini terlihat seperti artis idol, dengan setelan pink, sepatu warna putih dan rambut di kuncir, seandainya saja bukan Kanzia sudah pasti ia akan melenyapkan.


"Sayang hadap sini, kenapa kamu terlihat sangat tampan dengan baju itu, bagaimana kalau setiap hari kamu menggunakan setelan seperti itu setiap hari," ucap Kanzia dengan santainya.


Abian hanya bisa menghela napas mendengar ucapan Kanzia, ia berdoa semoga saja Kanzia tidak benar benar memintanya menggunakan baju seperti ini setiap hari, mau di taruh dimana wajahnya kalau setiap hari harus berpenampilan seperti ini setiap hari, bisa bisa pesonanya sebagai bos dingin akan hilang dan berganti dengan sebutan bos imut.

__ADS_1


"Baby tolong jangan minta papa melakukan hal yang aneh aneh lagi," batin Abian.


Bersambung . . . . . .


__ADS_2