Merubah Istri Gendut

Merubah Istri Gendut
BAB 40 : Pelaku penculikan


__ADS_3

Abian segera bergegas untuk menemui Kanzia, ia benar benar tidak kepikiran jika Kanzia di bawa oleh kakeknya sendiri.


"Dasar kakek tua, berani beraninya ia membawa istriku ke rumahnya tanpa meminta persetujuanku, sepertinya ia memang sengaja membuatku kelimpungan mencari Kanzia," gerutu Abian sepanjang jalan.


Sementara seseorang yang sudah membuat semua orang panik seharian ini karena ia tiba tiba menghilang sedang asik menonton acara pertandingan bola ditelevisi bersama sang kakek.


Flashback on


Kanzia yang penasaran dengan orang yang ingin bertemu dengannya akhirnya setuju untuk mengikuti dua orang berjas itu dan masuk ke dalam mobil mewah yang terparkir di pinggir jalan dekat taman.


"Akhirnya aku bisa bertemu langsung denganmu, sepertinya cucu kurang ajar ku benar benar menyembunyikan mu dengan sangat baik," ucap kakek Abian saat Kanzia sudah duduk di sampingnya, sementara Kanzia masih bingung dengan ucapan yang dilontarkan laki laki tua itu.


"Maaf tuan saya tidak mengerti maksud ucapan anda, apa tuan mengenaliku? Atau mungkin tuan salah mengenali orang?" Tanya Kanzia yang masih bingung.


"Benar benar sangat mirip dengan Renata," ucap kakek Bagas yang malah memperhatikan wajah Kanzia, bukannya menjawab pertanyaan Kanzia yang sedang kebingungan dengan sikapnya itu.


"Tuan mengenal bundaku? Apa tuan kerabat bundaku?" Tanya Kanzia kembali yang sudah dilanda rasa penasaran dengan laki laki tua di sampingnya.


Kakek Bagas tersenyum mendengar ucapan Kanzia.


"Ternyata pria dingin itu tidak pernah menceritakan soal kakeknya pada istrinya, benar benar cucu kurang ajar, tunggu saja pembalasan ku bocah," gumamnya yang masih bisa didengar Kanzia.


"Maksud tuan?" Kanzia semakin bingung mendengar gumaman kakek Abian.


"Baiklah sepertinya aku harus memperkenalkan diriku terlebih dahulu agar kamu tidak terus terusan bingung,"


"Aku adalah Bagas Pramudya kakek dari suamimu Abian Jonathan Pramudya," ucapnya memperkenalkan dirinya pada Kanzia.


Kanzia lagi lagi dibuat terkejut dengan pengakuan pria tua di sampingnya, karena ternyata orang yang ingin menemuinya adalah kakek dari suaminya, pikiran pikiran buruk tentang nasib hubungan pernikahannya dengan Abian kembali bermunculan di otaknya.


"Apakah kakek Abian menemui ku untuk memintaku meninggalkan Abian? Atau ia ingin menyingkirkan ku dari sisi cucunya? Apa yang harus aku lakukan jika hal itu benar benar terjadi?" Batin Kanzia.


"Kenapa kamu hanya diam saja? Apa kamu tidak senang bertemu denganku?" Tanya kakek Bagas yang melihat Kanzia hanya diam mematung tanpa merespon ucapannya.


"Maaf tuan,,," ucap Kanzia gugup.


"Kamu adalah istri Abian bukan?" Tanya kakek Bagas kembali.


"I,,, iya tuan," ucap Kanzia sambil menundukkan kepalanya karna gugup.


"Jika kamu istri dari cucuku, itu artinya kamu adalah cucu menantuku, jadi berhenti memanggilku dengan sebutan tuan, panggil aku kakek sama seperti suamimu memanggilku," ucap kakek Bagas.


Kanzia yang mendengar ucapan kakek Bagas mendongakkan kepalanya menatap sang kakek tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Apa tu,, maksudku apa kakek tidak keberatan jika aku menjadi istri Abian?" Ucap Kanzia gugup.


"Kenapa kamu berpikiran seperti itu?" Kakek Bagas mengernyitkan alisnya mendengar pertanyaan Kanzia.


"Tentu saja aku tidak keberatan, bahkan aku sangat senang akhirnya Abian menikah denganmu,"


Kanzia kembali menatap kakek Abian tidak percaya, dan kembali menundukkan kepalanya sambil berucap.

__ADS_1


"Aku hanyalah wanita terbuang tuan, bahkan keluarga ku sendiri tidak menginginkan kehadiranku, aku tidak memiliki apapun untuk aku banggakan atau membuat keluarga suamiku bangga padaku, mungkin saja kehadiranku hanya akan menjatuhkan citra suamiku dan keluarganya, Abian terlalu tinggi untukku gapai, ia tidak pantas bersanding dengan perempuan rendah sepertiku," jelas Kanzia yang merasa tidak pantas dengan Abian.


Kakek Bagas tersenyum mendengar semua ucapan Kanzia dan mengelus rambut Kanzia dengan sayang.


"Semua yang kamu pikirkan itu sama sekali tidak benar, di mata Abian kamu adalah hal yang paling ia banggakan, kamu adalah hal yang paling berharga untuknya ia akan melakukan hal apapun untuk selalu melindungi mu bahkan ia telah mengenalmu jauh sebelum kamu mengenalnya, jadi percayalah pada suamimu, ia pasti mempunyai alasan kenapa ia menyembunyikan siapa sebenarnya dirinya padamu," ucap kakek Bagas memberikan pengertian pada Kanzia, yang sudah mengetahui kesalahpahaman antara cucunya dengan Kanzia.


"Maksud kakek?" Tanya Kanzia.


"Sudahlah kita lupakan dulu soal itu, nanti kamu bisa menanyakannya langsung pada suamimu ia pasti akan menjelaskannya, tapi sebelum itu kita harus memberikan pelajaran pada suamimu itu biar dia tau rasa," ucap kakek Bagas tersenyum misterius,


"Maksud kakek?" Tanya Kanzia yang kembali dibuat bingung dengan ucapan sang kakek.


"Kakek sudah punya rencana untuk membalas rasa kesal mu itu," Kakek Abian membisikkan rencananya itu pada kanzia.


Ia memang telah menyiapkan rencana untuk membalas cucunya begitu tau jika Abian sedang urung uringan tidak jelas di kantornya, ia kesal pada Abian karena terlalu lama menyembunyikan cucu menantunya, bahkan seandainya saja ia tidak datang menemui Kanzia, cucunya itu pasti akan terus mengulur waktu untuk membawa cucu menantunya ke rumahnya.


"Pasti bocah kurang ajar itu akan kelimpungan seperti orang gila ketika tau kalau istrinya tiba tiba saja menghilang dari jangkauannya," batin kakek Bagas membayangkan kepanikan Abian mencari istrinya.


Kanzia awalnya merasa tidak tega dengan rencana kakek bagas untuk mengerjai suaminya, tapi ia juga merasa tidak enak menolak keinginan kakek Abian yang terus membujuknya dan akhirnya ia pun setuju dengan rencana sang kakek dan ia ikut pulang ke rumah kakek Bagas.


Apalagi setalah sampai di kediaman mewah itu Kanzia melakukan banyak hal yang disukainya bersama kakek Bagas, yang tidak pernah ia lakukan selama ini seperti memancing, berkebun bahkan mereka berdua menonton pertandingan bola tim favorit mereka bersama, hal itu membuat Kanzia lupa dengan suaminya yang pasti akan mengkhawatirkannya.


Flashback of


Goal!


Kedua orang beda generasi itu berteriak girang ketika tim yang mereka dukung berhasil memasukkan bola ke gawang lawannya.


Saking asiknya menonton acara pertandingan bola kesukaannya, mereka sampai tidak menyadari kehadiran seseorang yang telah dibuat kelimpungan karna ulah mereka.


Prok!


Prok!


Prok!


Abian yang menyaksikan kedua orang yang sedang asik itu langsung bertepuk tangan. Ia sangat kesal dengan ulah kakeknya yang sudah membuatnya panik tujuh keliling karna mencari istrinya, sementara sang kakek sedang bersenang senang dengan istrinya menonton acara bola.


"Wah kalian sepertinya sudah terlihat sangat akrab padahal baru pertama kali bertemu, sepertinya nona muda dan tuan besar sangat menikmati waktu kalian berdua ya,,, sampai sampai tidak menyadari kedatanganku," ucap Abian sambil melangkah menghampiri kedua orang yang langsung terdiam begitu menyadari suara Abian.


"Pak jonathan,,,," ucap Kanzia yang melihat sosok tampan itu menemukan keberadaannya.


"Cih,,,, menggangu kesenangan orang saja,,," kesal kakek Bagas yang tidak menyangka jika cucunya berhasil mengetahui rencananya secepat itu.


Abian tidak menghiraukan ucapan kakeknya, ia tetap melangkah ke arah Kanzia dan langsung memeluknya dengan erat.


"Syukurlah kamu baik baik saja," ucap Abian lega melihat tawa istrinya tadi.


"Kenapa suka sekali membuatku khawatir,,, aku dari pagi mencari mu ke sana kemari seperti orang gila, tapi ternyata kamu disini malah bersenang senang dengan pak tua itu," ucap Abian sambil tetap memeluk Kanzia.


Bugh!

__ADS_1


Abian mendapatkan bantal sofa melayang mengenai kepalanya, karna ulah kakeknya.


"Dasar bocah bisakah kamu melepaskan Kanzia, acara pertandingan bolanya belum selesai jadi jangan menggangu kami," ucap kakek Bagas.


Tanpa mendengar protes sang kakek dengan gerakan cepat Abian langsung membopong tubuh Kanzia dan membawanya menuju kamarnya yang ada di rumah sang kakek.


Kanzia yang kaget dengan perlakuan tiba tiba Abian langsung melingkarkan lengannya pada leher Abian dengan erat.


"Dasar posesif,,,," gumam kakek Abian yang hanya bisa geleng gelang kepala melihat tingkah cucunya.


Kanzia yang malu pada kakek Abian hanya diam saja menerima perlakuan Abian. Sampainya di kamarnya Abian mendudukkan tubuh Kanzia dengan hati hati di sisi ranjang, Kanzia pun melepaskan tangannya yang melingkar pada leher Abian.


"Jangan lakukan hal ini lagi lain kali, ini bisa membuatku gila jika kamu tiba tiba menghilang seperti ini," ucap Abian duduk  jongkok di hadapan Kanzia sambil menatap Kanzia dan memegang tangannya, terlihat jelas sorot mata penuh kekhawatiran dari mata Abian.


"Maaf,,," ucap Kanzia merasa bersalah telah membuat Abian khawatir.


"Kamu tidak perlu meminta maaf, tapi kalau kamu benar benar merasa bersalah berikan aku pelukan, aku sangat merindukan,,,," Kanzia langsung menunduk dan memeluk Abian dengan erat sebelum Abian menyelesaikan ucapannya.


Abian tentu saja sangat senang mendapatkan pelukan dari Kanzia.


"Aku tidak akan mengampuni mu malam ini karna sudah membuatku panik dan tidak bisa tenang melakukan pekerjaanku seharian ini,"


Kanzia yang mendengar ucapan Abian langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Abian, ia tiba tiba saja merasakan jantungnya berdebar kencang.


Cup!


Abian langsung menyambar bibir manis Kanzia, semburat merah muncul di pipi Kanzia karna perlakuan Abian.


"Aku tidak akan melepaskan mu malam ini sayang,,,," ucap Abian dengan senyum mesumnya.


Wajah Kanzia langsung memerah mendengar ucapan Abian.


"Dasar mesum!"


"Mari kita buktikan bagaimana mesumnya suamimu ini," ucap Abian mendorong tubuh Kanzia ke ranjang.


.


.


.


Bersambung . . . . . . .


Jangan lupa di Like👍🏻


Komen


Favorit


Vote

__ADS_1


...Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan...


__ADS_2