
Beberapa hari kemudian.
Setelah kejadian di restoran waktu itu, Maya dan Clara tidak lagi membuat masalah saat mereka bertemu dengan Kanzia, mereka lebih memilih menghindar dari Kanzia. Seperti saat ini Kanzia yang sedang menikmati hari liburnya tidak sengaja bertemu dengan Clara di sebuah pusat perbelanjaan saat ia sedang memilih sebuah gaun dan disaat yang bersamaan Clara juga memegang gaun tersebut, Clara yang biasanya tidak pernah mau kalah darinya malah dengan sukarela memberikan gaun itu pada Kanzia.
"Wah sungguh luar biasa! Tidak biasanya seorang Clara mau mengalah denganku," ucap Kanzia yang awalnya terkejut dengan sikap Clara yang tidak biasanya, lalu mengambil gaun tersebut dari tangan Clara.
"Aku hanya ingin berdamai dengan mu, lagi pula bukankah kita adalah saudara? Tidak baik jika kita terus berselisih," ucap Clara sambil tersenyum pada Kanzia.
"Syukurlah kalau kamu sudah menyadarinya," ucap Kanzia.
"Zia, kamu ingatkan jika hari ini adalah hari ulang tahun ayah?" Tanya Clara pada Kanzia.
"Tentu saja aku mengingatnya karna aku adalah putrinya," jawab Kanzia.
"Aku dan mama malam ini ingin membuat acara kecil-kecilan untuk merayakan ulang tahun ayah, jadi aku harap kamu dan suamimu bisa datang ke rumah malam ini," ucap Clara.
"Baiklah,,," ucap Kanzia mengiyakan undangan Clara.
"Kalau begitu aku pergi dulu, kami menunggu kedatangan mu dan tuan Jonathan nanti malam," ucap Clara lalu beranjak meninggalkan Kanzia.
Perubahan sikap Clara padanya yang tiba tiba itu tentu saja tidak membuat Kanzia lengah, ia tetap bersikap waspada karna orang orang licik seperti Clara dan ibunya tidak mungkin akan diam saja saat apa yang diinginkannya tidak tercapai sesuai rencananya.
"Aku sangat yakin mama dan juga Clara pasti sedang merencanakan sesuatu," gumam Kanzia saat melihat kepergian Clara dan ia pun kembali melanjutkan kegiatan belanjanya.
Sepertinya sudah cukup acara belanja hari ini, aku harus segera pulang sebelum tuan suami marah marah," ucap Kanzia, karna keasikan belanja Kanzia sampai lupa jika ia keluar rumah tanpa sepengetahuan Abian, ia hanya memberitahu bik Sofi karna ia tidak ingin mengganggu Abian yang terlihat sedang sibuk di ruang kerjanya.
Setelah membayar belanjaannya Kanzia pun segera beranjak dari mall tersebut sambil menenteng barang belanjaannya.
Baru saja ia sampai di pintu keluar, tiba tiba ponselnya berdering dan tertera panggilan masuk dari suami misterius.
"Baru juga diomongin," ucap Kanzia lalu ia pun menjawab panggilan dari Abian.
"Hallo,"
"Aku sudah di depan mall." ucap Abian.
"Hah?" ucap Kanzia bingung, sambil celinguk kan, dan benar saja Abian sudah ada disana berdiri di samping mobilnya sambil melambaikan tangannya.
Kanzia terpesona melihat ketampanan Abian dengan penampilan kasualnya, saat ini Abian menggunakan kaos warna putih yang dipadukan dengan kemeja warna biru langit dan celana pendek lalu sepatu warna putih.
"Sayang!" Panggil Abian sambil melambaikan tangannya menyadarkan Kanzia yang masih menatap Abian penuh kagum.
"Tampan," gumam Kanzia, lalu ia pun menghampiri Abian.
"Cepet masuk!" ucap Abian, begitu Kanzia sudah berada di hadapannya.
Tanpa membantah Kanzia pun masuk ke dalam mobil. "Bian, maaf aku keluar rumah nggak kasih tau kamu dulu," ucap Kanzia yang menyadari kesalahannya yang tidak meminta izin pada Abian untuk keluar rumah.
"Hm," jawab Abian tetap fokus melihat jalan.
"Bian kamu beneran marah?" tanya Kanzia.
"Bian maaf," ucapnya kembali tapi masih saja ia tidak mendapatkan respon dari Abian.
Kanzia menundukkan kepalanya, entah mengapa ia tiba tiba saja merasa sedih saat Abian mengabaikannya.
"Hiks,,, hiks,,, hiks,,," tiba tiba saja terdengar suara Kanzia yang sedang terisak membuat Abian menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
__ADS_1
"Sayang," ucap Abian terlihat bingung, ia langsung membawa tubuh bergetar Kanzia kedalam pelukannya.
"Kamu kenapa? Apa ada yang menyakitimu?" tanya Abian khawatir karna tidak biasanya Kanzia seperti itu.
"Kamu jahat Bian! Padahal aku sudah minta maaf tapi kamu tetap saja mendiamkan ku," ucap Kanzia sambil sesenggukan.
Abian semakin dibuat heran mendengar ucapan Kanzia, jadi istrinya itu menangis hanya karna ia mendiamkannya, padahal ia tidak menjawab ucapan Kanzia tadi karna sedang fokus dengan jalanan yang cukup ramai.
"Sayang, aku tidak pernah mendiamkan kamu, tadi aku sedang fokus dengan jalanan."
"Bohong! Kamu pasti marah karna aku keluar rumah tanpa meminta izin," ucap Kanzia yang malah semakin terisak dalam dekapan Abian.
"Aku tidak marah sayang, aku hanya khawatir karna kamu tiba tiba sudah tidak ada di rumah," jelas Abian.
"Tuh kan beneran kamu pasti ingin memarahi aku kan?" tangis Kanzia semakin kencang membuat Abian semakin bingung bercampur panik, sebenarnya ada apa dengan istrinya ini.
"Baiklah kalau gitu aku minta maaf, tapi kamu jangan nangis lagi," ucap Abian berusaha mengehentikan tangis Kanzia.
"Beneran kamu gak marah?" tanya Kanzia sambil menatap Abian dan mengehentikan tangisnya.
"Iya, aku mana bisa marah sama istriku yang cantik ini," ucap Abian sambil menghapus sisa sisa air mata di pipi Kanzia.
"Bian,"
"Iya sayang,"
"Aku boleh minta sesuatu nggak?" tanya Kanzia pada Abian sebelum kembali melajukan mobilnya.
"Tentu saja boleh," jawab Abian.
"Bian aku ingin makan mie ayam yang ada di sebrang jalan itu," tunjuk Kanzia kearah gerobak yang ada tulisan mie ayam yang ada di sebrang jalan.
"Kamu beneran mau itu?" tanya Abian memastikan.
"Iya," jawab Kanzia.
"Tapi itu gak bersih sayang, nanti kamu malah sakit perut kita cari restoran didekat sini aja ya?" ucap Abian.
"Jadi kamu gak mau nurutin permintaan aku, padahal itu cuma mie ayam doang," ucap Kanzia dengan mata yang mulai berkaca kaca.
"Bukan begitu sayang, tapi,,," ucap Abian panik.
"Tapi aku ingin sekali makan mie ayam itu Bian," ucap Kanzia memotong ucapan Abian dan kembali terisak.
"Baiklah kamu tunggu di sini aku akan ke sana buat beli mie ayamnya," ucap Abian mengalah.
Kanzia pun menghentikan tangisnya, setelah mendengar ucapan Abian.
"Astaga ada apa dengan Kanzia? Kenapa ia tiba tiba menjadi cengeng?" gumam Abian sambil melangkah menyebrangi jalan.
*****
Setelah drama yang dilakukan Kanzia selama perjalanan akhirnya mereka pun sampai di rumah.
Dengan penuh semangat Kanzia menyeret lengan Abian untuk masuk ke dalam rumah dan mendudukkan suaminya di meja makan.
"Bik tolong ambilkan mangkok, garpu sama sendok!" ucap Kanzia pada pelayan yang ada di dapur.
__ADS_1
Pelayan yang mendengar perintah Kanzia segera mengambilkan apa yang diminta oleh majikannya itu.
"Ini nona," ucap pelayan tersebut.
"Terimakasih."
Kanzia memindahkan mie ayam yang dibelikan Abian ke mangkok, tidak lupa ia juga menaruhkan sambal.
"Sayang sambalnya jangan terlalu banyak, nanti kamu sakit perut," ucap Abian yang melihat Kanzia mencampur mie ayam itu dengan sambal.
"Ini," ucap Kanzia menyodorkan mangkok yang sudah berisi mie ayam ke hadapan Abian.
"Kenapa memberikannya padaku?"
"Sekarang kamu buka kemeja itu, lalu makan mie ayamnya," pinta Kanzia yang ternyata keanehannya belum berakhir.
"Ha?" ucap Abian menggaruk kepalanya yang tidak gatal bingung dengan tingkah istrinya.
"Aku ingin melihatmu berkeringat saat memakan ini, pasti bakalan terlihat seksi," ucap Kanzia yang membayangkan Abian dengan kaos putihnya berkeringat sambil memakan mie ayam pedas racikannya itu.
"Sayang kamu gak sedang bercanda kan?"
"Bian, ayolah nanti malam aku akan membayar untuk ini," ucap Kanzia yang tiba tiba bertingkah genit sambil mengusap dada bidang Abian, lalu membisikkan sesuatu yang membuat Abian semangat.
"Tepati janjimu itu," ucap Abian lalu ia pun mulai menyantap mie ayam yang disodorkan Kanzia.
"Sebenarnya ada apa dengan Kanzia, kenapa ia bertingkah aneh hari ini?" batin Abian sambil memakan mie ayam di hadapannya.
*
*
Malam harinya.
Kanzia dan Abian kini sudah bersiap siap untuk berangkat ke rumah orang tua Kanzia, untuk merayakan hari ulang tahun ayahnya. Selain itu Kanzia juga penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Maya dan Clara, ia sangat yakin jika mereka sudah merencanakan sesuatu untuknya.
"Apa kamu sudah menyiapkan hadiah untuk ayahmu?" tanya Abian.
"Sudah," jawab Kanzia.
"Sepertinya istriku sangat bersemangat malam ini, tapi ingat kamu harus menempati janjimu yang tadi siang," ucap Abian mengingatkan Kanzia.
"Kamu tenang saja," ucap Kanzia sambil mengerlingkan matanya.
Setelah selesai bersiap Abian dan Kanzia akhirnya berangkat ke rumah ayahnya dengan diantar sopir.
.
.
.
Bersambung. . . . . .
Jangan lupa like👍🏻
Komen
__ADS_1
Favorit
Vote😉